PERTEMUAN DI ATAS ๐—Ÿ๐—”๐—ก๐—š๐—œ๐—ง

Cerpen Nomor 0110
Oleh: Adharta
Ketua Umum
๐—ž๐—ฅ๐—œ๐—ฆ

Cimahi, Rabu, 23 September 2026

๐—ฆ๐—ฒ๐—ฏ๐˜‚๐—ฎ๐—ต ๐—น๐—ฎ๐—ด๐˜‚ ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ
๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป

Terang bulan, terang di pinggir kali,
Buaya timbul disangka mati.
Jangan percaya mulut lelaki,
Berani bersumpah, tetapi takut mati.

Pagi itu, matahari belum sepenuhnya bersinar ketika kami berkumpul di Jalan Hemat I Nomor 17. ๐—๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฟ

Saya bersama Ibu Lena, Dokter Wenny, Ibu Sekjen Monic, dan Bapak Lendy Yustena bersiap melakukan perjalanan menuju Cimahi.

Rencananya, Bapak Budi Hidayat dan Ibu Hianawati Sutarli akan ikut bersama kami.

Namun sayang, pada pagi itu Bapak Budi Hidayat berhalangan hadir.

Akhirnya, kami berangkat hanya dengan satu mobil.
Tujuan perjalanan kami adalah Perumahan Tanamas Batos, Leuwigajah, Cimahi.

Di sanalah tinggal seorang tokoh istimewa yang sangat kami kagumi

Kakek Rahardja Chandra.

Sepanjang perjalanan melalui Tol Jakartaโ€“Purbaleunyi, kami terus bercerita tentang beliau.

Mengapa Kakek Rahardja begitu istimewa bagi keluarga besar KRIS, khususnya bagi Ibu Lena?

Jawabannya sederhana. Ibu Lena adalah salah seorang pengagum dan penggemar berat beliau. Hampir setiap pagi, Kakek Rahardja menyapa anak-anak muda dalam keluarga besar KRIS melalui lagu-lagu yang dinyanyikannya sendiri.
Lagu itu selalu disertai video klip sederhana dan pengantar mengenai maknanya.

Sapaannya menjadi penyemangat untuk memulai hari.

Kakek Rahardja mempunyai lebih dari 600 lagu dalam koleksi rekamannya. Bayangkan, jika setiap hari satu lagu ditayangkan, diperlukan waktu hampir dua tahun untuk mendengarkan semuanya.
Bahkan, jika beberapa lagu diputar kembali, tiga atau empat tahun pun rasanya belum tentu cukup untuk menikmati seluruh persembahan beliau.

Yang membuat kami semakin kagum, semua lagu itu dinyanyikan tanpa membaca teks. Lirik, nada, dan iramanya tersimpan dengan baik di dalam ingatan beliau.

Cuaca cerah menemani perjalanan kami. Jalan tol pun lancar tanpa kemacetan. Tepat pukul 09.00 pagi, kami tiba di rumah Kakek Rahardja.

Perjalanan itu hanya memakan waktu sekitar dua jam.
Begitu kami turun dari mobil, beliau menyambut kami dengan pelukan mesra. Kakek Rahardja didampingi oleh salah seorang cucunya, Leo. Suguhan pertama yang kami terima bukanlah makanan atau minuman, melainkan senyuman hangat yang membuat kami merasa seolah-olah sedang pulang ke rumah keluarga sendiri.

Di usianya yang telah mencapai 94 tahun, Kakek Rahardja masih terlihat kuat dan sehat.

Sorot matanya cerah, suaranya mantap, dan ingatannya sangat tajam.

Beliau adalah ayah dari tiga orang putri sekaligus kakek dari tujuh cucu.

Anak-anaknya telah menempuh pendidikan tinggi hingga pascasarjana
sebuah kebanggaan besar bagi keluarga.
Ketika beliau mulai bercerita dan bernyanyi, suasana rumah itu perlahan berubah.

Kami seakan-akan memasuki dunia dongeng karya Hans Christian Andersen
sebuah dunia yang dipenuhi keajaiban, kenangan, dan mimpi.
Saya membayangkan kisah kacang ajaib yang tumbuh menjulang ke angkasa.

Kami memanjat batangnya, menembus awan, lalu sampai di sebuah tempat indah di atas langit.

Di sanalah kami duduk bersama, siap mendengarkan lagu-lagu pilihan Kakek Rahardja.

Pertemuan tersebut dibuka dengan lagu โ€œWelcome to My World.โ€
Suara beliau mengalun lembut, seolah-olah benar-benar sedang membuka pintu menuju dunianya
dunia yang dibangun oleh musik, cinta, keluarga, persahabatan, dan kenangan panjang selama hampir satu abad.

Selanjutnya beliau menyanyikan โ€œBaby Blue,โ€ salah satu lagu kesenangan Ibu Lena. Wajah Ibu Lena tampak berbinar-binar. Ia mendengarkan setiap bait dengan penuh perhatian, seakan-akan tidak ingin satu nada pun terlewatkan.

Ada pula lagu โ€œYou Wonโ€™t Forget Me,โ€ lagu kesenangan Bapak Budi Hidayat. Walaupun beliau tidak dapat ikut hadir, namanya tetap terasa berada di tengah-tengah kami melalui lagu tersebut.
Kemudian mengalun lagu โ€œL-O-V-E,โ€ yang terkenal melalui suara Nat King Cole. Lagu itu membawa suasana ceria sekaligus mengingatkan kami bahwa cinta dapat hadir dalam berbagai bentuk: cinta kepada pasangan, keluarga, sahabat, sesama manusia, dan kehidupan.

Kakek Rahardja juga bercerita mengenai masa sekitar tahun 1930-an, ketika dunia sedang menghadapi keadaan sulit. Banyak orang kehilangan semangat dan menjalani hari tanpa senyuman. Namun, musik selalu mempunyai cara untuk menyalakan kembali harapan.
Beliau kemudian menyanyikan โ€œWhen Youโ€™re Smiling.โ€

Ketika lagu itu terdengar, kami semua ikut tersenyum. Benar sekali, senyuman itu menular.

Saat seseorang tersenyum dengan tulus, dunia di sekelilingnya seakan ikut tersenyum.
Suasana semakin meriah ketika terdengar lagu โ€œTake Me Home, Country Roads.โ€

Kami spontan ikut bernyanyi:
West Virginia, mountain momma,
Take me home, country roadsโ€ฆ

Meskipun kami sedang berada di Cimahi, lagu tersebut seolah membawa kami terbang jauh ke pegunungan West Virginia.

Namun pada akhirnya, makna lagu itu tetap sama: kerinduan untuk kembali ke rumah
ke tempat hati kita merasa diterima dan dicintai.

Satu demi satu lagu terus mengalir. Ada beberapa lagu Jim Reeves yang sangat indah, termasuk โ€œWelcome to My Worldโ€ dan โ€œSend Me the Pillow That You Dream On.โ€ Sebanyak dua belas lagu dinyanyikan Kakek Rahardja tanpa teks.

Semuanya mengalir lancar dari ingatan dan hatinya.
Kami benar-benar terpukau.

Bukan hanya karena suara beliau, melainkan karena setiap lagu mengandung kisah. Ada kenangan masa muda, perjalanan keluarga, persahabatan, harapan, serta rasa syukur kepada Tuhan atas umur panjang dan kesehatan.
Beliau tidak sekadar bernyanyi.

Beliau sedang membagikan perjalanan hidupnya kepada kami.
Di antara lagu-lagu itu, kami bercakap-cakap, tertawa, dan saling mengenang masa lalu.

Tidak ada jarak antara yang tua dan yang muda.

Musik telah menyatukan kami menjadi sebuah keluarga besar.

Pertemuan tersebut membawa kami mundur beberapa puluh tahun, menuju masa ketika kehidupan terasa lebih sederhana. Masa ketika orang-orang berkumpul bukan untuk sibuk memandang telepon genggam, tetapi untuk saling menatap, mendengarkan cerita, dan bernyanyi bersama.
Di tengah suasana penuh sukacita itu, tiba-tiba Kakek Rahardja berkata dalam bahasa Inggris:

โ€œTake me for a while.
I will send you a splendid song every day. If one day I do not come to you, it means something has happened to me.โ€
Nah Loooo
Pak Lenddy take care

Mendengar perkataan itu, hati kami seketika tersentuh.

Ada keheningan sesaat di antara kami.
Di balik ucapannya terdapat pesan mendalam tentang waktu, usia, dan perpisahan.

Namun Kakek Rahardja kembali tersenyum, seakan mengingatkan kami agar tidak larut dalam kesedihan.

Selama lagu-lagunya masih terdengar, kenangan tentang beliau akan tetap hidup.

Saya pun teringat sebuah judul lagu, โ€œLove Is a Many-Splendored Thing.โ€ Cinta memang sesuatu yang penuh keindahan.

Cinta membuat seseorang tetap hadir, meskipun suatu hari tubuhnya tak lagi berada di samping kita.

Cinta hidup dalam lagu, cerita, senyuman, dan kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Hari itu, rumah sederhana di Leuwigajah berubah menjadi panggung megah di atas awan dan langit cerah

Kakek Rahardja menjadi penyanyi utama, sedangkan kami menjadi penonton dan pendengar yang paling beruntung.

Kami datang untuk menjumpai seorang kakek berusia 94 tahun. Namun kami pulang dengan membawa pelajaran berharga
bahwa usia tidak pernah menjadi penghalang untuk terus berkarya, berbagi kegembiraan, dan memberi semangat kepada sesama.

Terima kasih, Kakek Rahardja Chandra.

Terima kasih atas pertemuan di atas langit.

Terima kasih atas dua belas lagu yang membawa kami menjelajahi waktu.

Terima kasih atas pelukan, senyuman, cerita, dan kasih sayang yang membuat kami merasa menjadi bagian dari keluarga besar beliau.

Beruntung sekali keluarga besar KRIS memiliki Kakek Rahardja Chandra.

Semoga Tuhan senantiasa menganugerahkan kesehatan, kebahagiaan, kekuatan, dan umur panjang.

Semoga setiap lagu yang beliau lantunkan terus menjadi cahaya yang menerangi hati banyak orang.

Aku mau memberi
Hadiah Puisi untuk Kakek Rahardja Chandra

Di rumah hangat,
di tanah Cimahi,
Mengalun lagu menyentuh nurani.
Usia panjang tak membatasi,
Semangat berkarya tetap abadi.

Enam ratus lagu tersimpan di hati,
Dinyanyikan indah setiap pagi.

Menyapa kami dengan kasih sejati,
Membawa bahagia sepanjang hari.

Jika kelak suara itu jauh di awan,
Lagunya tinggal menjadi kenangan.

Kakek Rahardja, insan kebanggaan,
Namamu hidup dalam persahabatan.

Terbanglah lagu menembus angkasa,
Membawa cinta sepanjang masa.
Selama nadamu tinggal di salam jiwa kami

Kakek Rahardja selalu bersama kita.

ย 

Adharta
Sahabat dalam Cita

Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS

Call Center
08119620888

www.kris.or.idย Iย www.adharta.com

ย 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *