Cerpen nomor 109
57 Tahun Menenun Kisah Cinta
Oleh : Adharta
Ketua Umum KRIS
Bulan madu tanpa impian
Sebuah lagu di lantun kan oleh Dewi Jul
Tapi kali ini di nyanyikan oleh Papi Budi Hidayat
Kau Bukan dirimu Lagi
Kau bukan yang dulu lagi
Kini kusadari sayang
Kau bukan dirimu
Lagu merdu yang jadi jadi favorite Papi Budi Hidayat ini menarik sekali karena hari ini Papi Budi Hidayat dan Mami Hianawati Sutarli
Merayakan Ulang Tahun Perkawinan ke 57
Sebuah angka yang fantastik
Kata Papi Budi Hidayat
Kau Bukan dirimu lagi
Tapi kau adalah Malaikatku
Kisahku
Papi Budi Hidayat dan Mami Hianawati Sutarli
Ada cinta yang hadir dengan gemerlap dan kemewahan.
Namun, ada pula cinta yang tumbuh sederhana, kemudian menjadi semakin kuat karena dijaga dengan kesetiaan cinta Kasih
Begitulah kisah cinta Papi Budi Hidayat dan Mami Hianawati Sutarli
Sebuah perjalanan panjang yang telah melewati 57 tahun kehidupan bersama.
Papi Budi Hidayat, yang akrab dipanggil Papi, lahir di Bandung pada
Tepat pada tanggal 1 Januari 1943.
Pas tahun baru
Sehingga kami selalu hadir setiap tanggal 31 Desember bersama anak dan cucu
Rame rame merayakan ulang tahun Papi Budi Hidayat
Masa muda Papi banyak dihabiskan di Kota Bandung.
Kemudian, Papi melanjutkan pendidikan sebagai Asisten Apoteker di Jakarta.
Perjalanan itu bukan hanya membawanya menuju masa depan, tetapi juga mempertemukannya dengan seseorang yang kelak menjadi teman hidupnya.
Mami Hianawati Sutarli, yang akrab dipanggil Mami, lahir di Jakarta pada 9 Desember 1948.
Mami tumbuh dan bersekolah di Jakarta serta tinggal di kawasan Mangga Besar.
Pertemuan mereka terjadi di Jakarta.
Pada masa itu, Papi aktif dalam kegiatan PMKRI
(Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia)
di daerah Mangga Besar.
Entah kebetulan atau memang rencana indah Tuhan, Mangga Besar juga menjadi tempat tinggal Mami. Dari perjumpaan yang sederhana, mulai tumbuh rasa saling mengenal, saling memperhatikan, dan akhirnya saling mencintai.
Mungkin mereka sudah tidak mengingat dengan tepat berapa lama masa pacaran
Kata papi sekitar 3 tahun pacaran
itu berlangsung. Namun, bukankah cinta sejati tidak selalu dihitung dari lamanya berpacaran?
Cinta justru terlihat dari keberanian untuk membuat keputusan, mengucapkan janji, dan menjalani kehidupan bersama sampai hari ini.
Papi dan Mami kemudian menikah di Jakarta.
Pesta pernikahan mereka diselenggarakan secara sederhana di rumah keluarga di Mangga Besar.
Pada masa itu, rumah bukan hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi tempat keluarga, saudara, dan sahabat berkumpul untuk merayakan kebahagiaan.
Tidak diperlukan gedung yang megah untuk membuat sebuah pernikahan menjadi berkesan.
Kehangatan keluarga, doa yang tulus, serta janji untuk saling setia jauh lebih berharga daripada segala kemewahan.
Sejak saat itu, Papi dan Mami mulai membangun rumah tangga. Tentu perjalanan selama 57 tahun bukanlah perjalanan yang selalu mudah.
Ada hari-hari yang penuh senyum dan tawa, tetapi ada pula masa-masa sulit yang harus dihadapi bersama.
Ada perbedaan pendapat, kekhawatiran, pengorbanan, dan mungkin juga air mata.
Namun, setiap suka dan duka justru menjadi benang-benang yang menenun kisah cinta mereka. Ketika yang satu lemah, yang lain menguatkan. Ketika menghadapi persoalan, mereka belajar bersabar dan mencari jalan keluar bersama.
Ketika kebahagiaan datang, mereka mensyukurinya bersama.
Cinta mereka pun semakin lengkap dengan kehadiran tiga orang anak: Natalia, Freddie, dan Olivia.
Mereka tumbuh dalam kasih sayang serta perjuangan Papi dan Mami. Ketiga anak itu kemudian membawa kebahagiaan baru bersama pasangan masing-masing: Michael, Olivia, dan Yustin.
Keluarga mereka kembali dipenuhi sukacita dengan hadirnya empat orang cucu tercinta: Theo, Gracia, Clarissa, dan Maxi.
Suara dan tawa para cucu menjadi warna baru dalam kehidupan Papi dan Mami. Melalui anak-anak dan cucu-cucu inilah cinta yang dahulu dimulai oleh dua insan kini bertumbuh menjadi sebuah keluarga besar.
Lima puluh tujuh tahun pernikahan bukan sekadar angka.
Di dalamnya tersimpan ribuan hari kebersamaan, begitu banyak cerita, pengorbanan, kesabaran, pengampunan, senyum, tawa, dan air mata.
Ada tangan yang tetap digenggam ketika langkah mulai melambat. Ada hati yang tetap setia meskipun usia terus bertambah.
Kini, ketika menengok kembali perjalanan panjang tersebut, Papi dan Mami mungkin menyadari bahwa cinta bukan hanya tentang kata-kata romantis.
Cinta adalah tentang tetap memilih orang yang sama, hari demi hari.
Cinta adalah kesediaan untuk saling menerima, merawat, menemani, dan bertahan dalam segala keadaan.
Kisah cinta Papi Budi dan Mami Hianawati mengajarkan kepada anak-anak dan cucu-cucu bahwa pernikahan yang indah bukanlah pernikahan yang tidak pernah mengalami masalah.
Pernikahan yang indah adalah ketika dua orang terus belajar berjalan bersama dan tidak melepaskan satu sama lain saat menghadapi masalah.
Selamat merayakan 57 tahun pernikahan,
Papi Budi Hidayat dan Mami Hianawati Sutarli.
Terima kasih telah menjadi teladan tentang cinta, kesetiaan, kerja keras, dan keluarga.
Semoga Tuhan senantiasa memberikan kesehatan, kebahagiaan, serta umur panjang.
Semoga Papi dan Mami terus bergandengan tangan, menikmati hari-hari yang penuh kasih, dikelilingi anak, menantu, dan cucu-cucu tercinta.
Kisah cinta ini belum berakhir. Selama tangan masih saling menggenggam, doa masih dipanjatkan, dan senyum masih menghiasi wajah,
kisah cinta Papi dan Mami akan terus hidup di dalam hati seluruh keluarga, dari generasi ke generasi.
Kami semua mencintai
Papi dan Mami
Adharta.com
Ketua Umum KRIS
Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS
Call Center
08119620888
www.kris.or.id I www.adharta.com
