Hasil koreksian

*Dua Belas Tahun Menunggu, Tiga Tahun Melepaskan*

Cerpen nomor 108

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Angke Heritage PIK 2
Sabtu
19 September 2026

Pagi pagi subuh saya sudah terbangun
Karena pada sibuk siap siap mau ikut Misa Perayaan Syukur 50 Tahun pernikahan
Bapak Hermes Thamrin dan Ibu Jane

Acara di selenggarakan di Restoran Angke Heritage PIK 2
Tamu yang datang banyak sekali baik keluarga dan sahabat bapak Hermes dan Ibu Jane

Misa dipimpin oleh Konselebran Pastor Yohanis Mamgkey MSC dan Pastor Ho Tombokan MSC

Acara dilanjut dengan lagu lagu dan game
Makan siang yang sungguh nikmat

Saya melamun
Luar biasa 50 Tahun Usia Perkawinan tentu tidak mudah
Penuh suka duka dan tantangan
Tetapi bapak Hermes dan Ibu Jane sungguh terberkati oleh Tangan Tuhan sendiri

Bisa kita saksikan kehidupan mereka anak anak mantu dan cucu cucu

Saya minum segelas teh dingin tapi pikiran dan lamunan saya melayang kepada putra putri seorang sahabat saya di Surabaya

Kisahnya akan saya tulis buat renungan kita bersama
Terutama bagaimana bisa mencapai usia perkawinan 50 Tahun seperti bapak Hermes dan Ibu Jane

Kisahku

Arga dan Laras

Mereka bertemu ketika hidup masih terasa sederhana.

Arga berusia dua puluh dua tahun ketika pertama kali mengenal Laras.

Saat itu mereka belum memiliki banyak hal untuk dibanggakan.

Arga baru memulai pekerjaannya dengan penghasilan pas-pasan, sementara Laras masih berjuang menyelesaikan kuliahnya.

Pertemuan pertama mereka tidak istimewa. Tidak ada hujan, tidak ada musik romantis, bahkan tidak ada cinta pada pandangan pertama.

Mereka hanya diperkenalkan oleh seorang teman dalam sebuah acara ulang tahun.

Namun dari percakapan sederhana malam itu, sesuatu mulai tumbuh.

Arga menyukai cara Laras tertawa.

Laras menyukai kesederhanaan Arga.

Beberapa bulan kemudian mereka berpacaran.
Tahun-tahun pertama dipenuhi kebahagiaan kecil.

Mereka makan di warung sederhana, naik motor berdua menembus hujan, menonton bioskop dengan tiket paling murah, dan terkadang hanya duduk berjam-jam membicarakan masa depan.

“Aku belum punya apa-apa,” kata Arga suatu malam.

Laras tersenyum.
“Aku tidak mencari apa yang kamu punya.

Aku ingin tahu kita bisa menjadi apa nanti.”

Kalimat itu tinggal lama di hati Arga.
Mereka mulai membangun mimpi bersama.
Tetapi perjalanan dua belas tahun bukan perjalanan yang pendek.

Ketika teman-teman mereka satu per satu menikah, pertanyaan mulai berdatangan.

“Kapan kalian menikah?”

Awalnya mereka tertawa. Lama-kelamaan pertanyaan itu menjadi beban.
Masalah terbesar bukan hanya uang atau pekerjaan. Keluarga mereka memiliki pandangan yang berbeda.

Keluarga Laras menginginkan kehidupan yang lebih mapan untuk putrinya. Mereka khawatir Arga tidak mampu memberikan masa depan yang cukup baik.

Sementara keluarga Arga merasa keluarga Laras terlalu banyak menuntut.

Ucapan-ucapan kecil mulai meninggalkan luka.
Laras sering berada di tengah.
Ia mencintai Arga, tetapi ia juga tidak ingin menyakiti orang tuanya.

Arga pun demikian.
Setiap kali masalah keluarga muncul, mereka bertengkar.
“Kamu selalu membela keluargamu,” kata Laras.

“Dan kamu tidak?” jawab Arga.

Percakapan yang seharusnya menyelesaikan masalah justru berubah menjadi pertengkaran.

Setelah bertahun-tahun bersama, mereka mulai merasa sudah mengenal satu sama lain terlalu baik.

Mereka mengira bisa memahami tanpa perlu berbicara.
Padahal justru di situlah kesalahan mereka.

Mereka mulai banyak menduga dan semakin sedikit bertanya.

Jika Laras diam, Arga menganggap Laras marah.

Jika Arga pulang terlambat, Laras menganggap dirinya tidak lagi penting.

Jika ada masalah dengan keluarga, keduanya memilih menahan diri agar pertengkaran tidak terjadi.

Luka-luka kecil akhirnya menumpuk.
Namun cinta mereka masih bertahan.
Setelah lebih dari dua belas tahun berpacaran, akhirnya mereka menikah.

Hari pernikahan itu menjadi salah satu hari paling membahagiakan dalam hidup mereka.

Ketika Laras berjalan menuju altar, mata Arga berkaca-kaca.

Dua belas tahun.
Begitu banyak kesulitan telah mereka lewati.
Dalam hati Arga berkata, akhirnya kita berhasil.
Laras pun berpikir demikian.

Mereka percaya pernikahan akan menjadi akhir dari segala persoalan.

Ternyata mereka keliru.
Pernikahan bukan garis akhir.

Pernikahan justru membuka perjalanan yang sama sekali baru.

Pada tahun pertama, semuanya masih terasa indah.

Mereka menata rumah, membeli perabot sedikit demi sedikit, dan tertawa melihat betapa kecilnya tabungan mereka setelah pesta pernikahan.

Namun perlahan persoalan lama kembali muncul.
Keluarga masih sering ikut campur.
Hal-hal sederhana seperti tempat merayakan hari raya, bantuan kepada orang tua, hingga keputusan keuangan menjadi sumber pertengkaran.

Laras merasa Arga terlalu mudah mengikuti keinginan keluarganya.
Arga merasa Laras tidak pernah benar-benar menerima keluarganya.
Yang lebih menyakitkan, mereka tidak lagi berbicara seperti dahulu.

Dulu mereka dapat menghabiskan waktu berjam-jam menceritakan apa saja.
Sekarang percakapan mereka berubah menjadi kalimat-kalimat pendek.

“Sudah makan?”
“Sudah.”
“Besok pulang jam berapa?”
“Belum tahu.”
Mereka tinggal di rumah yang sama, tidur di tempat tidur yang sama, tetapi perlahan hidup di dunia yang berbeda.

Ketika ada masalah, Laras memilih diam.
Ketika Laras diam, Arga memilih pergi bekerja lebih lama.
Mereka sama-sama menunggu pasangannya memulai pembicaraan.
Tidak ada yang memulai.

Tahun kedua pernikahan menjadi semakin berat.
Suatu malam mereka bertengkar hebat karena persoalan keluarga yang sebenarnya sederhana.

“Kamu tidak pernah mendengarkan aku!” teriak Laras.

“Aku mendengarkan!”
“Tidak. Kamu hanya menunggu giliran untuk menjawab.”

Arga terdiam.
Untuk pertama kalinya ia menyadari mungkin Laras benar.
Namun harga diri membuatnya tidak meminta maaf.

Laras masuk ke kamar.
Arga tidur di sofa malam itu.
Esok paginya mereka kembali menjalani kehidupan seolah tidak terjadi apa-apa.
Itulah yang terus mereka lakukan.
Menyembunyikan masalah di bawah kesibukan.

Sampai akhirnya tidak ada lagi ruang untuk menyembunyikannya.

Memasuki tahun ketiga, rumah mereka semakin sunyi.
Suatu malam Laras duduk di meja makan menunggu Arga pulang.

Ketika Arga datang, ia melihat dua cangkir teh di atas meja.

“Duduk sebentar,” kata Laras.
Nada suaranya tenang.
Justru ketenangan itu membuat Arga takut.

“Aku capek, Ga.”
Arga menunduk.
“Aku juga.”
Laras menatap laki-laki yang telah dicintainya selama lima belas tahun.
“Aku masih sayang sama kamu.”

Arga mengangkat wajahnya.
“Kalau begitu kenapa kita seperti ini?”

Air mata Laras jatuh.
“Karena ternyata cinta saja tidak selalu cukup.”

Malam itu mereka berbicara panjang.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mereka benar-benar mendengarkan satu sama lain.
Mereka membicarakan kekecewaan, keluarga, kesepian, kemarahan, dan semua kalimat yang selama ini tidak pernah terucapkan.

Anehnya, percakapan terbaik mereka terjadi ketika hubungan mereka sudah berada di ujung jalan.

Beberapa bulan kemudian mereka memutuskan berpisah.
Tidak ada orang ketiga.
Tidak ada pengkhianatan besar.
Hanya dua manusia yang terlalu lama saling mencintai, tetapi perlahan kehilangan cara untuk saling memahami.

Pada hari terakhir sebelum Laras meninggalkan rumah, Arga membantu memasukkan koper ke mobil.
Mereka berdiri berhadapan cukup lama.

“Terima kasih untuk dua belas tahun sebelum kita menikah,” kata Laras.

Arga tersenyum pahit.

“Dan tiga tahun setelahnya?”

Laras mengusap air matanya.

“Untuk tiga tahun itu juga. Walaupun akhirnya tidak seperti yang kita impikan.”

Arga mengangguk.
Ia ingin memeluk Laras, tetapi ragu.
Laras yang lebih dahulu melangkah dan memeluknya.

Pelukan itu terasa seperti pelukan pertama mereka bertahun-tahun lalu—hangat, dekat, tetapi kali ini dipenuhi perpisahan.

“Aku harap kamu bahagia,” bisik Arga.

“Kamu juga.”
Mobil Laras perlahan pergi.
Arga berdiri sendirian di depan rumah yang dahulu mereka pilih bersama.

Saat itulah ia memahami sesuatu.

Mereka tidak gagal karena pernah saling mencintai.

Mereka hanya terlalu lama mengira bahwa cinta dapat mengerti dengan sendirinya.

Padahal cinta membutuhkan percakapan.
Cinta membutuhkan keberanian untuk mengatakan, aku terluka, sebelum luka berubah menjadi kebencian.

Cinta juga membutuhkan dua orang yang berani berdiri bersama ketika keluarga, pekerjaan, dan kehidupan mencoba menarik mereka ke arah yang berbeda.

Dua belas tahun mereka belajar bagaimana mempertahankan cinta.

Tiga tahun pernikahan mengajarkan mereka sesuatu yang lebih sulit:
mencintai seseorang tidak selalu berarti kita mampu hidup bersamanya selamanya.

Dan terkadang, perpisahan bukanlah bukti bahwa cinta tidak pernah ada.

Justru karena cinta itu pernah begitu besar, kenangannya akan tetap tinggal
meskipun dua orang yang menjalaninya akhirnya memilih jalan yang berbeda.

Siang ini saya sadar ternyata tidak mudah menembus usia perkawinan 50 Tahun

Bapak Hermes dan Ibu Jane
Selamat dan bahagia Tuhan selalu memberkati melindungi dan membimbing selalu

Ayo kita cari makan enak lagi ya

 

Adharta.com
Ketua Umum KRIS

Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS

Call Center
08119620888

www.kris.or.id I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *