I LOVE FRATERAN (6)
THE END

Oleh : Adharta
Alumni Frateran 1976

735188

Kampung Ingkung,
Rabu, 9 September 2026

Malam ini pesawat Batik Air ID 7351 akhirnya lepas landas dari Yogyakarta International Airport pukul 20.30, terlambat tiga puluh menit dari jadwal. Namun, untuk sebuah perpisahan, barangkali waktu memang sengaja berjalan lebih lambat.
Ia memberi kesempatan kepada hati untuk menoleh sekali lagi, memastikan tidak ada kenangan yang tertinggal di ruang tunggu, di meja makan, di toko batik, atau di antara pelukan sahabat lama.

Yogyakarta International Airport berdiri di Kapanewon Temon, Kulon Progo, sekitar empat puluh lima kilometer dari Kota Yogyakarta, menggantikan Adisutjipto untuk penerbangan komersial berbadan lebar.

Ketika pesawat meninggalkan landasan, lampu Yogyakarta berkelip di bawah sana seperti ribuan lilin kecil.

Saya merasa sang pilot sengaja memutar pesawat agar kami sempat menikmati wajah kota ini untuk terakhir kalinya.

Siapa tahu Kapten Pilot Budi Soehardi sahabat saya yang sedang berada di Yogya ikut mencolek langit, lalu berbisik, “Lihatlah sebentar lagi. Simpan baik-baik pemandangan itu.”

Bagi sebagian orang, angka 735188 mungkin terdengar aneh.

Namun, bagi para breaker, operator radio, bahkan Captain pilot seperti Capt Jimmy 777 yang mengenal sign code, angka itu mengandung sebuah salam

73, best regards;

51, salam hangat;

Dan 88, By By love and kisses.

Seperti aaya bilang ke Paijo
Makna
101 dan 1X1
101 aku ingin memelukmu
1X1 aku ingin menciummu
Terima kasih Mas Paijo

Bagi saya malam ini, semuanya menyatu menjadi satu kata cheerio.

Sampai jumpa. Sayonara.
再见, zàijiàn.
My Friends

Bukan selamat tinggal untuk selama-lamanya, melainkan janji agar suatu hari kita bertemu kembali.

735188, cheerio,

sahabat
sahabat Alumni SMAK Frateran 1976.

Coretan kenangan beberapa hari ini terlalu dalam untuk dilukiskan.

Ada tawa yang pecah tanpa aba-aba, cerita lama yang tiba-tiba terasa baru, dan wajah-wajah yang pernah muda bersama.

Kini rambut boleh memutih, langkah mungkin tidak lagi secepat dahulu, tetapi ketika berkumpul, kita kembali menjadi anak sekolah yang menyimpan mimpi, kenakalan, persahabatan, dan cinta diam-diam.

Sahabatku
Pagi tadi kami menikmati sarapan di Hotel Rich. Sesudah itu kami berjalan-jalan mencari batik, lalu makan di Kampung Ingkung.

Hidangannya sungguh nikmat: nasi gurih, jantung pisang, garang asem yang dibakar dalam bambu, serta peyek bayam yang renyah.

Wis, enak tenan! Sayangnya, “kampung tengah” saya sudah dua hari tidak beres. Mungkin ia sedang protes karena terlalu banyak gudeg dan sambal terasi.

Perut boleh mengeluh, tetapi lidah tetap berteriak, “Tambah sedikit lagi!” yo mas

Kayak lagu sayang kekek yang dilantunkan Maharani Kahar

Walang kekek walange kadung
Ojok ngenyek. Yo mas karo wong wedok
Yen ditinggal lungo
Setengah mati
Ee ya eyo

Aduh tambah kangen

Karena penerbangan masih enam jam lagi, saya dan istri kembali ke Bakso Ito di Jalan Mataram, padahal malam sebelumnya kami sudah makan di sana. Entah apa yang menggoda kami.
Wajiblah dicoba, tetapi nonhalal ada B2 (ada kisah tersendiri tapi rahasia)

Kami kemudian mampir ke Yudhistira Batik Store.

Aneh tetapi indah, dua bus yang membawa para alumni ternyata tiba di sana juga.

Kami berkumpul lagi, tertawa lagi, dan saling menyapa lagi, seakan perpisahan terus mencari alasan untuk ditunda.

Rupanya kangen mempunyai kaki
ia mengikuti kita ke mana pun pergi.

Baru saja pamit, eh, bertemu lagi. Inilah tanda bahwa hati belum rela melepaskan.
Seperti kata Bunda Maharani Kahar,
pelantun asli “Desember Kelabu”, perpisahan memang bisa terasa berat.

Saya lalu teringat lagu Mandarin Teresa Teng, “Ni Zen Me Shuo”.
Kisahnya Katanya kamu akan datang dua hari untuk mengunjungiku
Namun, kutunggu tiga ratus enam puluh lima hari, bayanganmu pun tidak tampak.
Mungkin di hatimu sudah tidak ada cinta untukku.

Begitulah kisah cinta
kadang dimulai oleh tatapan singkat di lorong sekolah, tumbuh melalui surat yang dilipat rapi, lalu patah sebelum sempat mendapat jawaban.

Ada nama yang dahulu ditulis di halaman terakhir buku pelajaran. (Hayo ngaku ajah)
Ada senyum yang membuat seseorang sengaja datang lebih pagi.

Ada pula cinta yang tidak pernah diucapkan karena keberanian datang terlambat, tepat ketika orang yang dicintai sudah berjalan bersama orang lain nah lhooo

Para alumni kini sudah membuat banyak janji.

Ada yang mengajak ke Labuan Bajo, ada yang ingin ke Alor, kota kelahiranku mungkin juga berkumpul di Jakarta.

What is our next destination?

Terserah Pak Ketua Mintarsa dan Laota.

Tujuan sebenarnya bukan sekadar kota atau pulau.

Tujuan kita adalah pertemuan
tempat hanyalah alamat bagi sang rindu.

Setelah meninggalkan Yudhistira, kami langsung menuju bandara untuk terbang kembali ke Jakarta.

Di perjalanan, obrolan tentang Hotel Rich belum habis.

Konon beberapa teman diganggu roh halus, atau mungkin roh kasar, entahlah.

Pak Ketua berbisik bahwa beliau sebenarnya sudah tahu, tetapi tidak berani bercerita.

Kalau kisah itu tersebar, bisa-bisa rombongan meminta pindah hotel, sementara waktu sudah tidak tersedia.

Angka 735188 membawa saya kembali lima puluh tahun silam, ketika telepon genggam belum ada. Yang ada adalah perangkat Yaesu, Sony, Kenwood, ICOM
frekuensi all band atau dua meteran.

Anggota ORARI tentu paham, terlebih kode saya YB 0101.

Saat itu orang bisa jatuh cinta hanya karena mendengar modulasi suara.

Belum ada filter Instagram atau Facebook; suara, kesopanan, dan imajinasi menjadi wajah seseorang.

Kalau berbicara melalui radio, kami harus bergantian. Lucu juga membayangkan suami istri bertengkar memakai aturan radio

satu bicara, yang lain menunggu, lalu berkata, “Ganti.”

Mungkin pertengkaran cepat selesai karena tidak bisa saling memotong.

Lima puluh tahun lalu, mantan pemuda dan pemudi yang kini sudah menjadi kakek nenek ini bisa patah hati melalui surat, radio, bahkan tukang pos.

Ada cerita lucu: surat cinta terlalu sering dikirim lewat tukang pos, akhirnya justru tukang pos yang menikahi sang kekasih.

Kisah itu pernah saya ceritakan kepada beberapa direksi PT Pos Indonesia.

Kebetulan pada hari pertama, para alumni menikmati makan siang di kantor PT Pos Indonesia, Jalan Indrakila, Surabaya.

Kantor pos menyimpan banyak kenangan bagi putra-putri daerah yang menunggu wesel dari kampung, meskipun kadang datang terlambat.

Di antara kami ada seorang sahabat yang namanya tidak akan saya sebut.
Ketika wesel teman-temannya terlambat, termasuk wesel saya, beliau selalu menalangi.

Pertolongannya diberikan diam-diam dan harus dirahasiakan. Itulah persahabatan sejati
hadir sebelum diminta, memberi tanpa panggung, lalu pergi tanpa menagih ucapan terima kasih.

Waktu boleh menghapus banyak hal, tetapi kebaikan semacam itu mempunyai tinta yang tidak pernah pudar.

Terima kasih, sahabat-sahabat Frateran 1976,

untuk waktu, tawa, makanan, cerita, perhatian, serta cinta yang tidak pernah menjadi tua.

Terima kasih kepada Ketua Panitia Mintarsa dan semua Panitia
mereka yang merancang perjalanan ini, yang sibuk mengatur jadwal, menghitung peserta, menunggu yang terlambat, dan memastikan semua pulang membawa kebahagiaan.

Kalian telah mengubah reuni menjadi rumah, dan kenangan menjadi warisan hati.

Apalagi yang hendak saya ucapkan sambil melambaikan tangan?

Barangkali hanya sebuah kode lama yang sederhana, tetapi malam ini maknanya memenuhi seluruh dada.

735188
Cheerio, sahabatku.
Sampai bertemu di Labuan Bajo, Alor, Jakarta, atau di tikungan takdir berikutnya.

Jangan terlalu lama, sebab rindu kita ternyata tidak pandai menunggu.

I Love Frateran.

I Love Yogyakarta.

Seduluran Saklawase!

Adharta
Sahabat dalam Cita

Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS

Call Center
08119620888

www.kris.or.id I www.adharta.com

Alumni SMAK Frateran 1976

..

Alumni Frateran 1976

Tamat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *