Cerpen nomor 0104
JANGAN BIARKAN DIA PERGI
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS
Akhir Agustus 2026
Aku semalam menonton film tahun 2020
Judul
Let him go
Dibintangi oleh Kevin Costner
Sungguh kebetulan sekali seorang sahabat sedang bercerita tentang cerita lama Teddy dan Yenny
Kisah ku
Pada tahun 1998, di sebuah gereja kecil yang dihiasi bunga-bunga putih, Teddy berdiri di samping Yenny.
Di hadapan keluarga dan para sahabat, mereka mengucapkan janji untuk saling mencintai dalam suka maupun duka.
Hari itu, Teddy percaya hidup akan selalu berjalan indah. Yenny pun memandang masa depan dengan penuh harapan. Mereka belum mengetahui bahwa cinta yang baru dimulai itu kelak harus melewati begitu banyak air mata.
Beberapa tahun kemudian, rumah mereka dipenuhi suara dua anak perempuan, Shelly dan Merry.
Shelly adalah anak yang tenang dan penuh perhatian, sedangkan Merry ceria serta selalu ingin berada di dekat ayahnya.
Bagi Teddy, kedua putrinya adalah cahaya dalam hidupnya.
Namun, di balik senyumnya, Teddy menyimpan pergumulan berat.
Kesulitan ekonomi membuatnya tertekan. Pergaulan yang salah kemudian menyeretnya ke dalam dunia narkoba.
Mula-mula ia menggunakannya untuk melupakan masalah, tetapi lambat laun narkoba menguasai hidupnya.
Teddy sering pulang larut malam.
Uang belanja menghilang dan pertengkaran semakin sering terjadi.
“Aku hanya ingin keluarga kita kembali seperti dahulu,” kata Yenny pada suatu malam.
“Aku juga ingin berubah,” jawab Teddy sambil menundukkan kepala.
“Tetapi aku tidak tahu harus mulai dari mana.”
Yenny berkali-kali memberikan kesempatan. Ia menemani Teddy mencari pertolongan dan berusaha melindungi anak-anak mereka.
Namun, setiap kali Teddy mencoba bangkit, ia kembali jatuh ke dalam lubang yang sama.
Rumah yang dahulu dipenuhi tawa berubah menjadi tempat yang menakutkan. Shelly sering membawa Merry masuk ke kamar ketika orang tua mereka bertengkar.
Di balik pintu, kedua anak itu saling berpelukan.
“Ayah dan Ibu akan baik-baik saja, bukan?” tanya Merry.
Shelly tidak tahu jawabannya.
Ia hanya menggenggam tangan adiknya dan berkata,
“Kita berdoa saja.”
Pada akhirnya, Yenny tidak mampu bertahan lagi. Ia membawa Shelly dan Merry meninggalkan rumah.
Teddy mengejar mobil mereka hingga ke ujung jalan.
“Yenny, jangan bawa anak-anak pergi!” teriaknya. “Mereka juga anak-anakku!”
Akan tetapi, mobil itu terus melaju. Shelly memandang ayahnya melalui kaca belakang.
Sosok Teddy semakin jauh dan akhirnya menghilang.
Perceraian pun tidak dapat dihindari.
Perebutan hak asuh Shelly dan Merry berakhir di pengadilan.
Teddy datang dengan pakaian terbaik yang dimilikinya.
Di hadapan hakim, ia berjanji akan berubah.
“Saya memang telah melakukan banyak kesalahan,” katanya dengan suara gemetar. “Tetapi saya mencintai anak-anak saya.
Tolong, jangan biarkan mereka pergi dari hidup saya.”
Yenny duduk beberapa meter darinya.
Air mata mengalir di pipinya. Ia tidak membenci Teddy, tetapi ia ingin melindungi anak-anak mereka dari kehidupan yang tidak menentu.
Setelah mempertimbangkan berbagai bukti dan kesaksian, hakim memberikan hak asuh kepada Yenny.
Teddy kalah.
Ketika palu hakim diketuk, Teddy merasa seluruh dunianya runtuh. Ia hanya memperoleh hak untuk mengunjungi anak-anak pada waktu-waktu tertentu.
Seusai persidangan, Shelly dan Merry menghampirinya.
“Ayah tetap ayah kami,” kata Shelly.
Teddy memeluk kedua putrinya erat-erat.
“Maafkan Ayah,” bisiknya. “Ayah telah mengecewakan kalian.”
Hari-hari berikutnya tidak mudah. Ada saat ketika Teddy menepati janji untuk datang, tetapi ada pula saat ketika kedua anaknya menunggu berjam-jam dan ia tidak pernah muncul.
Narkoba telah mencuri waktu, kesehatan, dan kepercayaan orang-orang yang dicintainya.
Meski demikian, Shelly dan Merry tidak sepenuhnya berhenti mengharapkan ayah mereka kembali.
Sementara itu, Yenny mencoba membangun kehidupan baru. Beberapa tahun kemudian, ia menikah lagi.
Dari pernikahan tersebut, lahirlah Johnny dan Tanya.
Shelly dan Merry menyayangi adik-adik mereka. Rumah itu kembali dipenuhi suara anak-anak, walaupun kenangan tentang Teddy tidak pernah benar-benar menghilang.
Teddy semakin jarang terlihat. Tubuhnya melemah akibat penyakit dan kehidupan yang keras.
Pada awal 2010, Shelly menerima kabar bahwa ayahnya sakit berat.
Ia dan Merry segera mendatangi rumah sakit.
Di atas tempat tidur, Teddy tampak jauh lebih tua daripada usianya. Wajahnya kurus dan napasnya berat.
Ketika melihat kedua putrinya, matanya berbinar.
“Kalian datang,” katanya perlahan.
“Tentu kami datang, Ayah,” jawab Merry sambil menggenggam tangannya.
Teddy memandang mereka bergantian.
“Ayah tidak meminta kalian melupakan semua kesalahan Ayah.
Ayah hanya ingin kalian tahu bahwa Ayah tidak pernah berhenti menyayangi kalian.”
Shelly menahan tangis. Bertahun-tahun ia menyimpan kemarahan, tetapi pada saat itu ia melihat bukan lagi seorang ayah yang gagal, melainkan seorang manusia yang kalah melawan kelemahannya sendiri.
“Kami memaafkan Ayah,” ucap Shelly.
Beberapa hari kemudian, Teddy meninggal dunia.
Di pemakaman, Yenny berdiri bersama keempat anaknya. Ia menaburkan bunga di atas makam Teddy dan berbisik, “Semoga sekarang kamu menemukan kedamaian.”
Kehidupan terus berjalan, tetapi kehilangan belum selesai mengunjungi keluarga itu.
Lima tahun setelah Teddy meninggal, Yenny jatuh sakit. Keadaannya memburuk dengan cepat.
Kini Shelly dan Merry harus menjaga ibu mereka sekaligus memperhatikan Johnny dan Tanya yang masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu.
Pada suatu malam, Yenny memanggil kedua putri sulungnya.
“Dahulu Ibu membawa kalian pergi dari ayah kalian,” katanya lemah.
“Ibu melakukannya bukan karena ingin memisahkan kalian, melainkan karena Ibu ingin menyelamatkan kalian.”
Shelly mengusap tangan ibunya.
“Kami mengerti, Bu.”
Yenny kemudian memandang Johnny dan Tanya yang berdiri di dekat pintu.
“Jangan biarkan adik-adik kalian merasa sendirian,” pesannya.
“Apa pun yang terjadi, kalian harus tetap menjadi keluarga.”
Tak lama kemudian, Yenny mengembuskan napas terakhirnya.
Lima tahun setelah Teddy pergi, anak-anak itu kembali kehilangan salah satu tiang kehidupan mereka.
Waktu berlalu. Shelly dan Merry tumbuh menjadi perempuan yang kuat.
Shelly menikah dan dikaruniai dua anak perempuan. Setiap kali memandang kedua putrinya bermain, ia teringat pada masa kecilnya bersama Merry.
Merry kemudian menikah dan mempunyai seorang anak laki-laki.
Ia mendidik putranya dengan penuh kasih, sambil berjanji tidak akan membiarkan luka masa lalu menentukan masa depan keluarganya.
Johnny dan Tanya juga tumbuh dalam perlindungan kedua kakak mereka.
Pesan terakhir Yenny selalu mereka pegang: apa pun yang terjadi, mereka harus tetap menjadi keluarga.
Pada suatu sore, Shelly, Merry, Johnny, dan Tanya berkumpul bersama anak-anak mereka.
Mereka mengunjungi makam Teddy dan Yenny.
Tiga orang cucu berlarian di antara pepohonan, memenuhi tempat sunyi itu dengan tawa.
Shelly meletakkan bunga di makam ayah dan ibunya.
“Dahulu Ayah meminta agar kami tidak pergi dari hidupnya,” katanya.
“Kemudian Ibu meminta agar kami tidak membiarkan satu sama lain pergi.”
Merry menggenggam tangan kakaknya.
“Kita pernah kehilangan banyak hal,” jawabnya, “tetapi kita tidak kehilangan kasih.”
Mereka menyadari bahwa keluarga bukanlah kisah tentang manusia-manusia yang sempurna. Keluarga adalah kisah tentang mereka yang jatuh, terluka, memaafkan, dan tetap berusaha menemukan jalan pulang.
Teddy memang pernah kalah di pengadilan. Ia kehilangan hak asuh, kehilangan rumah tangganya, dan akhirnya kehilangan hidupnya. Namun, kasihnya kepada Shelly dan Merry tidak sepenuhnya lenyap.
Yenny pun telah pergi, tetapi keberanian dan pengorbanannya terus hidup dalam diri anak-anaknya.
Di hadapan makam kedua orang tua mereka, empat bersaudara itu saling berpelukan. Mereka akhirnya memahami bahwa pesan “jangan biarkan dia pergi” bukan berarti menahan seseorang dengan paksa.
Pesan itu berarti jangan membiarkan orang yang kita kasihi pergi dari hati kita
meskipun kematian telah memisahkan, meskipun masa lalu menyimpan luka, dan meskipun hidup membawa mereka ke jalan yang berbeda.
Sebab selama kasih dan pengampunan masih dijaga, tidak seorang pun benar-benar pergi.
Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS
Call Center
08119620888
www.kris.or.id I www.adharta.com
