H+9 PASKA GEMPA FLORES NTT

Air Mata untuk Tanah Tumpah Darah

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Senin, 24 Agustus 2026

Ada satu pelajaran yang selalu tinggal dalam ingatan saya dari persahabatan saya dengan almarhum Bapak Bob Sadino.

Kami pernah berbicara mengenai kehidupan yang terus bergerak, berubah, jatuh, lalu mencari keseimbangannya kembali
Dynamic Equilibrium.
Saya sering membayangkannya seperti orang menapis beras.

Beras itu digoyang. Ditapis.
Naik turun. Bergeser ke kiri dan ke kanan.
Bukan supaya beras itu rusak, tetapi supaya akhirnya kita mendapatkan yang baik dan bersih.

Begitulah kadang-kadang kehidupan.

Tetapi pagi ini saya kembali bertanya dalam hati:
Tuhan, sampai kapan tanah Flores ini harus terus “ditapis”?

Pukul 04.30 Bumi Kembali Bergoyang
Pagi tadi, sekitar pukul 04.30, bumi kembali bergoyang. Gempa sekitar magnitudo 5 terasa cukup keras.

Padahal tim KRIS kami baru kembali menjelang subuh dari Mbay, setelah menjalankan tugas kemanusiaan. Mereka kelelahan. Seharian melayani masyarakat, melakukan pelayanan kesehatan, membagikan makanan, air minum, telur, susu, serta berbagai bahan kebutuhan lainnya.

Tubuh baru ingin direbahkan.
Mata baru ingin terpejam.
Tiba-tiba bumi berguncang.
Semua terpaksa keluar dan beristirahat di luar.
Tidak ada lagi pikiran tentang kasur yang nyaman. Yang penting selamat.

Sampai agak siang komunikasi pun sulit.
Ketika akhirnya saya dapat berbicara dengan Bapak Alfons dan kawan-kawan, saya mencoba mencairkan suasana.
Saya berkata

“Berbahagialah orang yang susah dan sedih, karena kepadanya akan mendapat hiburan.”

Mereka tertawa.
Lalu ada yang menjawab:
“Hiburan apa, Pak? Ini goyangnya sudah cukup keras!”

Kami tertawa bersama.
Saya tahu, orang yang sedang sangat lelah kalau diajak bercanda salah-salah malah bisa marah.

Maka saya bilang:
“Sudahlah “
Kita cari makan yang enak saja. Kalian harus makan.

“Kalian harus sehat.”

Di balik tawa itu, hati saya sebenarnya menangis.
Karena saya tahu mereka lelah.

Saya tahu mereka takut.

Tetapi saya juga tahu mereka tidak meninggalkan masyarakat yang membutuhkan mereka.

Kalau keadaan memungkinkan, kalau penerbangan sudah kembali normal dan lapangan terbang sudah dibuka, dalam waktu dekat saya sendiri ingin menuju Flores.

Saya ingin berada bersama mereka.

Obat su Habis, tetapi Pelayanan Tidak Boleh Berhenti
Kerja keras tim dimulai dari pemeriksaan kesehatan, pembagian obat-obatan, pemeriksaan ibu-ibu hamil, sampai mendatangi masyarakat yang masih membutuhkan pertolongan.

Lalu saya menerima kabar:
“Pak, obat-obatan mulai habis.”
Kalimat sederhana itu membuat saya terdiam.
Di Jakarta kita mungkin mudah pergi ke apotek.
Tetapi di daerah bencana, ketika jalan tertutup longsor, komunikasi terputus, transportasi terganggu, dan banyak orang berada di pengungsian, satu tablet obat pun menjadi sangat berharga.

Saya menghubungi dr. Fanny.
Kalau memungkinkan, untuk sementara obat yang mendesak dibeli di sana. Besok akan saya usahakan agar obat-obatan yang lebih lengkap dapat segera dikirim dari Jakarta.

Karena orang sakit tidak bisa menunggu.
Ibu hamil tidak bisa menunggu.

Anak yang demam pilek selesma batuk
tidak bisa disuruh menunggu sampai jalan terbuka.

Inilah pelayanan.
Kadang
kadang bukan soal melakukan sesuatu yang besar.
Kadang pelayanan berarti memastikan satu orang memperoleh obat pada saat ia benar-benar membutuhkannya.

Vest KRIS yang Sudah Lusuh
Ada satu cerita kecil yang sangat menyentuh hati saya.
Pastor Patris, SVD, di kemah Tabor, hampir tidak pernah melepaskan Vest KRIS.

Beliau berkata kepada saya

“Saya bangga sekali memakai Vest KRIS.”
Luar biasa

Saya terharu mendengarnya.
Vest itu mungkin sudah lama dipakai. Sudah lusuh, sudah lecek, mungkin warnanya tidak seperti ketika pertama kali diberikan.

Tetapi justru di situlah nilainya.
Vest itu menjadi saksi perjalanan pelayanan.

Saya lalu bilang kepada Ibu Sekjen:
“Tolong ganti Vest para Romo dan para relawan yang sudah lusuh. Nanti kirim bersama obat-obatan. Para dokter juga tolong disiapkan.”

Di Flores, terutama malam dan dini hari, udara dapat terasa dingin.

Vest KRIS yang hangat setidaknya dapat membantu mereka yang harus terus berada di lapangan.

Bagi saya,
Vest atau Rompi KRIS bukan sekadar pakaian.

Di tengah bencana, ia membawa satu pesan

Saya hadir.

Saya melayani.

Saya tidak meninggalkan saudara saya sendirian.

Mereka Masih Tidur di Tenda
Sampai hari ini masih ada korban bencana yang tinggal di tenda-tenda.

Malam datang dengan dingin.
Anak-anak tidur berdekatan dengan orangtuanya. Para ibu menjaga anak-anaknya.

Para lansia mencoba beristirahat dalam keadaan yang jauh dari nyaman.

Karena itu kebutuhan selimut dan kasur lipat masih sangat besar.

Mungkin bagi kita sebuah selimut adalah barang biasa.
Tetapi bagi seorang mama yang malam-malam memeluk anaknya di dalam tenda, selimut adalah kehangatan.
Kasur lipat mungkin terlihat sederhana.
Tetapi bagi seorang opa atau oma yang sudah berhari-hari tidur dengan fasilitas seadanya, kasur itu adalah kemewahan.

Begitu Banyak Tangan yang Datang Membantu
Di tengah semua kesedihan ini, saya melihat sesuatu yang membuat hati saya kembali kuat.
Begitu banyak orang datang membantu.
Begitu banyak komunitas bergerak.

Saya berkomunikasi dengan dr. Irene Setiadi, Sp.KK, melalui KBKK.

Keuskupan
keuskupan, paroki-paroki dan berbagai kelompok ikut bergerak.

Puji syukur kepada Tuhan.
Ibu Lusi Liando, Ketua John Paul the Second Foundation, juga mengirimkan berbagai macam bantuan.

Saya sungguh berterima kasih.
Demikian juga JPIC Kapusin Sibolga.

Dari tempat yang jauh mereka ikut memberikan bantuan.
Saya sampai berkata

“Orang susah membantu orang yang lebih susah.”

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi itulah Indonesia yang saya cintai.

Orang tidak bertanya

“Kamu dari kelompok mana?”

“Kamu suku apa?”

“Kamu kenal saya atau tidak?”

Yang mereka lihat hanya satu

Di sana ada saudara kita yang sedang membutuhkan pertolongan.
Untuk semua Keuskupan, Paroki, komunitas, dokter, tenaga kesehatan, relawan, donatur, Romo, Bruder, Suster, Frater
Para Pendeta
Biksu Bante
Para Ustad Ustadzah
Pemuka agama
Mana saja
Terima kasih
Juga
masyarakat, pengemudi, petugas lapangan, mereka yang mengangkat barang, memasak makanan, mengirim air, mengantar obat, membuka jalan, menjaga tenda, dan semua orang yang bekerja dalam diam dalam Doa

Terima kasih.
Jangan sampai ada satu orang pun yang merasa dilupakan.

Beta Pung Tanah Tumpah Darah

Saya ingin mengatakan dengan bahasa dari hati

Terima kasih semua pihak yang su bantu beta pung tanah tumpah darah.

Ketika melihat Flores terluka, hati orang NTT di mana pun berada pasti ikut terluka.

Tetes air mata mengalir ketika teringat lagu

“Bolelebo”.
Tanah Timor lebe bae…

Lalu hati kembali tersayat ketika mendengar

“Mai Fali E”, lagu dari Rote, seakan terdengar suara Mama dari kejauhan

“Pulanglah, Nak…”
Mama memanggil pulang.
Dan bagi semua orang NTT di perantauan, mungkin hari-hari ini panggilan itu bukan berarti kita semua harus pulang secara fisik.
Tetapi hati kita harus pulang.

Pulang untuk mengingat kampung.
Pulang untuk mengingat Mama.

Pulang untuk mengingat saudara-saudara kita yang sedang tidur di tenda.

Pulang untuk mengingat tanah tempat leluhur kita berjalan.
Mari kita satu hati, satu jiwa, satu tujuan: BANTU NTT.

Sapa lagi yang mau bantu ketong pung tanah kalau bukan katong sendiri yang pertama-tama wajib bantu?

Dan sesudah itu, kita bergandengan tangan dengan semua saudara dari mana pun yang datang dengan cinta.
Pesan Mama
Di ujung malam ini saya teringat suara seorang Mama.
Suara sederhana. Tidak pandai membuat pidato.
Tidak memakai kata-kata tinggi.

Mama bilang:
“Son mau son apa?

Yang mau ju son apa?

Beta pung mata masih ada air.
Kalau sampai kering,
beta son tau mau omong apa…”

Anak anaku
Mau datang boleh
Tidak datang juga boleh
Mama masih punya airmata
Tapi kalau airmata sudah kering
Mama tidak tau mau bilang apa

Saya terdiam.
Air mata seorang Mama mungkin suatu hari bisa kering.

Tetapi jangan sampai kasih kita ikut mengering.

Jangan sampai kepedulian kita habis.

Jangan sampai kita lelah untuk berbuat baik.

Flores boleh bergoyang.
Tanah boleh longsor.
Jalan boleh terputus.
Komunikasi boleh hilang.
Tetapi persaudaraan jangan pernah terputus.

DOA UNTUK PARA LASKAR KEMANUSIAAN

Tuhan Yang Maha Pengasih,

Malam ini kami menyerahkan Flores, NTT, dan seluruh korban bencana ke dalam tangan-Mu.

Peluklah mereka yang masih tinggal di tenda.
Hangatkan mereka yang kedinginan.
Hibur mereka yang kehilangan.
Sembuhkan mereka yang sakit.
Kuatkan ibu-ibu hamil, anak-anak, para lansia, dan semua keluarga yang sedang takut menghadapi hari esok.

Tuhan, kami juga menitipkan seluruh laskar kemanusiaan yang sedang bekerja di lapangan.
Para dokter dan tenaga kesehatan.

Para Romo, Bruder dan Suster.
Pendeta
Biksu dan Bante
Para Ustad dan Ustadzah

Para relawan.
Para donatur.
Para pengemudi.
Para petugas.
Semua komunitas dan siapa pun yang datang membawa pertolongan.
Jangan lupa satu orang pun, Tuhan.

Jaga mereka satu per satu.
Jangan biarkan mereka sakit.
Jangan biarkan mereka jatuh.
Jangan biarkan mereka terluka.

Ketika tubuh mereka lelah, berikan kekuatan.
Ketika hati mereka takut, berikan keberanian.
Ketika mereka hampir menyerah, ingatkan bahwa di balik setiap obat yang diberikan, setiap botol air yang dibagikan, setiap selimut yang diselimutkan, dan setiap tangan yang digenggam, ada kasih-Mu yang sedang bekerja.
Kuatkan mereka lahir dan batin.
Dan semoga dari tanah yang hari ini berguncang dan dari air mata yang hari ini mengalir, kelak tumbuh kembali harapan.

Tuhan, jaga Flores.

Tuhan, jaga NTT.

Tuhan, jaga Indonesia.

Amin.

Adharta
Ketua Umum
KRIS

24 Agustus 2026

 

Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS

Call Center
08119620888

www.kris.or.id I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *