WAKTUKU, WAKTUMU, WAKTU DIA
Cerpen Nomor 0103
Oleh: Adharta
Ketua Umum KRIS
Rarampa, Sabtu, 22 Agustus 2026
Misa Kudus Perayaan 44 Tahun Perkawinan
Adharta dan Magdalena
Hari ini, Sabtu,
22 Agustus 2026, di Rarampa, dalam suasana Misa Kudus yang penuh syukur,
aku dan Magdalena yang akrab dipanggil Lena akan merayakan Misa Kudus peringatan 44 tahun perjalanan perkawinan kami.
Empat puluh empat tahun bukanlah waktu yang singkat.
Ada begitu banyak cerita di dalamnya: suka dan duka, tawa dan air mata, sehat dan sakit, keberhasilan dan kegagalan. Namun, di balik semuanya, ada tangan Tuhan yang tidak pernah berhenti menuntun kami.
Inilah kisah tentang waktuku, waktumu, dan Waktu DIA.
Aku, Adharta, lahir di Kalabahi, Alor, pada 1 Juni 1958.
Sementara Lena lahir di Jakarta pada 21 Juni 1959.
Kami dilahirkan di tempat yang berbeda dan tumbuh dalam lingkungan yang berbeda.
Saat itu, kami tidak pernah membayangkan bahwa Tuhan sedang menyiapkan sebuah jalan agar kelak kami bertemu dan menjalani kehidupan bersama.
Aku tinggal di Alor hingga berusia lima tahun, kemudian pindah ke Kupang.
Pada tahun 1967, aku kembali berpindah, kali ini dari Kupang ke Surabaya.
Di Kota Pahlawan itulah aku bersekolah di SD Kalianyar II, jalan Kusuma Bangsa dekat THR
lalu melanjutkan ke SMP Negeri IX Putro Agung
Kaaps Krampung
Surabaya.
Setelah itu, aku menempuh pendidikan di SMA Katolik Frateran jalan Kepanjen no 8 Surabaya dan tamat pada tahun 1976.
Perjalanan hidup kemudian membawaku ke Jakarta. Aku kuliah di Jurusan Teknik Sipil Universitas Trisakti dan menyelesaikan pendidikan pada tahun 1981
Beberapa tahun kemudian, aku melanjutkan pendidikan di Prasetiya Mulya dan tamat pada tahun 1985.
Aku mempunyai rencana dan cita-cita.
Namun, seperti kata pepatah, manusia boleh merencanakan, tetapi Tuhanlah yang menentukan.
Kisahku
Pada tahun 1980, ketika masih kuliah, aku juga bekerja di
PT Pembangunan Perumahan
yang lebih dikenal sebagai PT PP
dalam proyek pembangunan gedung Departemen Pekerjaan Umum di Jalan Raden Fatah, Jakarta.
Suatu pagi, sekitar pukul delapan, aku berangkat bekerja dengan mengendarai Vespa.
Ketika melewati kawasan Jalan Asia Afrika, di dekat sebuah restoran yang dahulu bernama Lembur Kuring, terjadilah kecelakaan. Vespa yang kukendarai menabrak sebuah mobil.
Aku terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Ketika membuka mata, aku sudah berada di Rumah Sakit Angkatan Laut Mintoharjo.
Sejak pagi hingga sore, belum juga ada tindakan medis yang memadai. Kebetulan almarhum Mama saya namanya Juga Magdalena
sedang berada di Jakarta.
Begitu mengetahui keadaanku, Mama segera datang. Karena aku belum mendapatkan penanganan yang dibutuhkan, Mama memutuskan memindahkanku ke Rumah Sakit Sumber Waras.
Di daerah Kiai tapa
Karena lokasinya lebih dekat rumah.
Sulitnya saat itu belum ada Telepon genggam atau WA
Jadi komunikasi sangat sulit sekali
Lebih dari satu bulan aku dirawat di sana. Namun, setelah pulang, kondisiku tidak kunjung membaik.
Aku semakin sulit bergerak.
Selama kurang lebih satu tahun, tubuhku hampir tidak dapat digerakkan.
Aku boleh dikatakan mengalami kelumpuhan total.
Awalnya, aku diduga mengalami gegar otak akibat kecelakaan tersebut.
Aku dan keluarga tentu merasa sedih dan bingung. Masa depan yang semula tampak begitu luas, tiba-tiba seperti tertutup kabut tebal.
Aku tidak tahu apakah aku akan dapat berjalan kembali.
Aku tidak tahu bagaimana kehidupanku selanjutnya.
Namun, Tuhan belum selesai menulis kisahku.
Pada awal tahun 1981, kakakku, Bapak Risal Ongkosaputra membawaku ke Singapura untuk mencari pengobatan.
Kami mendatangi dokter demi dokter.
Di tengah pencarian itu, akhirnya kami bertemu dengan seorang dokter keturunan India bernama Dokter J. A. Tambyah
yang kini juga telah almarhum.
Dari pemeriksaan yang lebih mendalam, diketahui bahwa penyakitku bukan semata-mata gegar otak.
Aku didiagnosis mengalami thyrotoxicosis, suatu kondisi serius akibat kelebihan hormon tiroid.
Akhirnya ada jawaban atas penderitaan panjang itu. Namun, perjalanan menuju kesembuhan masih jauh.
Aku harus menjalani perawatan selama kurang lebih satu hingga dua tahun di Singapura sebelum dapat menjalani operasi.
Justru ketika tubuhku sedang lemah dan jalanku begitu gelap, Tuhan menghadirkan Lena.
Dokter gigi bernama lengkap Magdalena Santoso itu datang membawa cinta, harapan, dan keberanian.
Beliau tidak melihatku hanya dari ketidakberdayaan tubuhku.
Beliau melihat diriku, hatiku, dan masa depan yang mungkin kami bangun bersama.
Kami pun mengambil keputusan besar: menikah.
Pada 22 Agustus 1982, kami menandatangani akta perkawinan di Catatan Sipil. Saat itu, aku masih dalam kondisi lumpuh dan belum dapat berjalan.
Barangkali bagi sebagian orang, keputusan kami terasa penuh risiko. Namun, Lena memilih untuk tetap berada di sisiku.
Di situlah aku memahami bahwa cinta sejati bukan hanya tentang berjalan bersama ketika jalan terbentang indah. Cinta sejati adalah kesediaan untuk menggendong harapan ketika pasangan belum sanggup berdiri.
Setelah penandatanganan akta perkawinan, aku dan Lena berangkat ke Singapura.
Kami tinggal di sana untuk melanjutkan pengobatanku. Lena bukan hanya menjadi istri, tetapi juga sahabat, pendamping, perawat, dan sumber kekuatan bagiku.
Pada Desember 1982, dokter memutuskan bahwa aku harus menjalani operasi.
Operasi dilakukan di Rumah Sakit Mount Alvernia, Singapura, sedangkan Dokter
J. A. Tambyah saat itu berpraktik di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Orchard.
Mama dan Papa aku turut mendampingi dan menunggu dengan cemas.
Operasi berlangsung selama lebih dari enam jam.
Enam jam yang terasa seperti enam tahun bagi keluarga yang menantikan kabar di luar ruang operasi.
Syukur kepada Tuhan, operasi tersebut berhasil.
Perlahan lahan tubuhku pulih. Kekuatan yang sempat hilang mulai kembali.
Aku akhirnya dapat berdiri dan berjalan dengan lancar.
Langkah pertamaku setelah masa kelumpuhan bukanlah sekadar gerakan kaki.
Itu adalah langkah menuju kehidupan baru, langkah bersama Lena, dan langkah menuju masa depan yang telah Tuhan persiapkan.
Kami kembali ke Jakarta.
Pada 30 April 1983, kami mengadakan pesta syukur sekaligus pesta perkawinan. Perayaan itu bukan hanya pesta cinta dua insan, melainkan juga perayaan kehidupan dan mukjizat Tuhan.
Tahun-tahun pun berlalu.
Tuhan menganugerahkan kepada kami tiga orang putra.
Putra pertama kami, Adhitya, kini berusia 43 tahun. Ia menikah dengan Senly, dan mereka dikaruniai dua orang anak, Elle dan Raphael.
Putra kedua kami, Dirga, kini berusia 41 tahun.
Ia menikah dengan Intan, dan keluarga mereka dilengkapi kehadiran tiga putri, Freyja, Iris, dan Alegra.
Mereka tinggal sudah 25 tahun di Melbourne Australia
Putra ketiga kami, Pandu, kini berusia 36 tahun. Ia menikah dengan Dea,
Si ratu kue dan masakan enak
dan mereka dikaruniai dua buah hati, Opi dan Ola.
Dahulu kami hanya berdua, seorang lelaki yang sedang sakit dan seorang perempuan yang berani mempercayai cinta.
Kini, meja kehidupan kami dipenuhi anak, menantu, dan cucu-cucu tercinta.
Suara mereka menjadi musik yang indah di usia kami sekarang.
Tentu, 44 tahun perkawinan kami bukan perjalanan yang selalu mulus. Ada saatnya kami berbeda pendapat. Ada kata-kata yang mungkin pernah melukai.
Ada air mata karena kesedihan, kehilangan, kekecewaan, dan kecemasan.
Ada pula hari-hari ketika kami harus belajar mengalah, mengampuni, dan memulai kembali.
Namun, jauh lebih banyak alasan untuk bersyukur.
Ada tawa anak-anak ketika mereka masih kecil.
Ada kebahagiaan melihat mereka bertumbuh, menyelesaikan pendidikan, menemukan pasangan hidup, dan membangun keluarga.
Ada sukacita ketika cucu-cucu lahir dan memanggil kami dengan sebutan penuh kasih.
Seperti Ola yang paling lucu dan gemesin
Ada kehangatan dalam kebersamaan, makanan sederhana yang disantap bersama, doa-doa keluarga, dan pelukan yang menguatkan.
Kami belajar bahwa perkawinan bukanlah tentang menemukan pasangan yang sempurna. Perkawinan adalah tentang dua pribadi yang tidak sempurna, yang bersedia terus belajar mencintai dengan lebih sempurna.
Hari ini,
dalam perayaan 44 tahun perkawinan kami, aku memandang Lena dengan hati penuh syukur.
Terima kasih, Lena, karena engkau hadir ketika aku bahkan belum mampu berdiri.
Terima kasih karena engkau mempercayai masa depan kita ketika hari esok masih penuh ketidakpastian.
Terima kasih untuk cinta, kesabaran, pengorbanan, kesetiaan, dan seluruh perjalanan yang telah kita lalui bersama.
Kisah hidup kami mengajarkan satu hal manusia mempunyai waktu, tetapi Tuhan mempunyai saat yang paling tepat.
Ada waktuku
ketika aku ingin semuanya terjadi sesuai keinginanku.
Ada waktumu
ketika engkau datang dengan harapan, kesabaran, dan kasihmu.
Namun, di atas semuanya, ada Waktu DIA
waktu Tuhan yang mempertemukan, menyembuhkan, mempersatukan, dan memelihara kami sampai hari ini.
Empat puluh empat tahun telah berlalu sejak
22 Agustus 1982. Rambut boleh berubah warna, langkah mungkin tidak lagi secepat dahulu, tetapi cinta kami terus bertumbuh.
Bukan lagi sekadar cinta yang berdebar-debar, melainkan cinta yang telah diuji oleh waktu, air mata, penyakit, pengorbanan, pengampunan, dan kesetiaan.
Hari ini kami tidak hanya merayakan panjangnya usia perkawinan.
Kami merayakan kebaikan Tuhan.
Semoga perjalanan kami menjadi kesaksian bahwa dalam setiap tawa dan tangis, Tuhan selalu hadir. Ketika jalan terasa gelap,
DIA sedang mempersiapkan fajar.
Ketika tubuh menjadi lemah, DIA mengirimkan seseorang untuk menguatkan. Ketika manusia kehilangan harapan,
DIA membuka jalan yang tidak pernah terpikirkan.
Waktuku mungkin terbatas.
Waktumu pun akan berlalu.
Namun, Waktu DIA selalu indah dan sempurna.
Terima kasih, Tuhan,
untuk 44 tahun yang luar biasa.
Terima kasih untuk Lena, anak-anak, para menantu, dan cucu-cucu kami.
Terima kasih juga buat semua sahabat baik di Indonesia maupun di seluruh penjuru Dunia
Yang selalu memberikan Doa buatku
Jika Tuhan berkenan, biarlah kami terus berjalan bergandengan tangan, saling menjaga, saling mengasihi, dan menjadi berkat
hingga pada akhirnya kami kembali kepada-Nya.
Adharta dan Magdalena
22 Agustus 1982
22 Agustus 2026
Tuhan memberkati.
Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS
Call Center
08119620888
www.kris.or.id I www.adharta.com
