Daniel and the Fiery Furnace
Oleh : Adharta
Kerua Umum
KRIS
Senen
27 September 2026
Taman Anggrek
Hari ini bertepatan Ulang tahun ke 6 Komun8tas Relawan Indonesia Sejahtera
KRIS ke 6
Kelimpok kecil bersama saya menikmati malam yang indah
Bercerita tentang KRIS sambil nonton Film du Taman Anggrek XXI
Sebuah film yang mengulas tentang kitab Daniel. Sebenarnya seperti film anak anak namun di ceritakan sedemikian indahnya dalam dialog menjadi film bagus dan patut untuk ditonton bersama keluarga
Kami hampir kehabisan ticket dan dapatnya duduk di depan menghadapi layar
Saya teringat kembali kisahasa lalu
Karena saya termasuk orang yang pecinta kitab Daniel
Saya ajak anda sebentar mengikuti kisah ini dan akan di tutup nanti dengan sedikit renungan singkat
Film Daniel
yang saat ini memang sedang tayang di bioskop XXI di ndonesia.
Film berdurasi 108 menit ini mengangkat kisah dari Kitab Daniel dengan latar belakang pembuangan bangsa Yahudi ke Babilonia.
Tokoh Daniel diperankan oleh Mena Massoud, aktor yang juga dikenal sebagai pemeran Aladdin dalam film Aladdin (2019).
Raja Nebukadnezar diperankan oleh Elijah Alexander. Film ini ditulis sekaligus disutradarai oleh kakak-beradik Matthew Kooman dan Daniel Kooman, yang dikenal sebagai Kooman Brothers.
Daniel and the Fiery Furnace
📖 Ringkasan cerita
Kisah dimulai ketika Yerusalem jatuh dan Daniel bersama orang-orang Yehuda dibawa sebagai tawanan ke Babilonia.
Daniel masih muda. Ia kehilangan tanah air dan hidup di tengah kerajaan yang memiliki budaya, kekuasaan, serta kepercayaan yang sangat berbeda.
Tetapi Daniel tidak kehilangan sesuatu yang paling penting: imannya kepada Tuhan.
Daniel dan sahabat-sahabatnya
Hananya, Misael dan Azarya, yang kemudian dikenal dengan nama Babilonia Sadrakh, Mesakh dan Abednego
masuk ke lingkungan kerajaan.
Karena hikmat dan kemampuan mereka, mereka memperoleh kedudukan penting.
Daniel bahkan mendapatkan kepercayaan Raja Nebukadnezar.
Masalah besar muncul ketika Nebukadnezar mendirikan patung emas dan memerintahkan semua orang untuk sujud menyembahnya. Menolak berarti mati.
Sahabat-sahabat Daniel memilih tidak menyembah patung itu.
Mereka tahu akibatnya. Mereka tidak mempunyai kepastian bahwa Tuhan akan menyelamatkan mereka.
Tetapi mereka tetap memilih setia.
Mereka kemudian dilemparkan ke dapur api yang menyala-nyala. Namun mereka tidak terbakar. Bahkan muncul sosok lain bersama mereka di tengah api.
Siapa ini karena aslinya tidak ada dalam alkitab
Ini menjadi tambahan tentang kisah penyelamatan
Film menjadikan peristiwa ini sebagai salah satu gambaran terkuat tentang iman dan perlindungan Tuhan.
🌿 Yang membuat kisah Daniel lebih dalam
Menurut saya, kisah Daniel sebenarnya bukan terutama cerita tentang orang baik yang kemudian mendapat mukjizat.
Pesannya jauh lebih dalam.
Daniel adalah seseorang yang kehilangan hampir semuanya: negerinya, kebebasannya, lingkungan hidupnya, bahkan identitas lamanya berusaha diubah oleh kerajaan Babilonia.
Tetapi ada satu wilayah yang tidak dapat dikuasai Nebukadnezar:
hati Daniel.
Kerajaan bisa menentukan di mana Daniel tinggal.
Raja bisa menentukan pekerjaan Daniel.
Lingkungan bisa memberi Daniel nama dan identitas baru.
Tetapi mereka tidak bisa menentukan kepada siapa Daniel percaya.
Di sinilah Daniel menjadi sangat relevan dengan kehidupan kita sekarang.
Kita mungkin tidak pernah berdiri di depan patung emas atau dilemparkan ke dapur api. Tetapi kita juga mempunyai “patung emas” dalam bentuk lain: uang, kedudukan, popularitas, gengsi, kekuasaan, kenyamanan, dan keinginan untuk diterima orang lain.
Pertanyaannya sama
Ketika prinsip dan keuntungan bertabrakan, mana yang kita pilih?
🔥 Ada satu bagian yang menurut saya sangat indah
Inti iman dalam kisah dapur api bukanlah
“Tuhan pasti menyelamatkan saya, jadi saya berani.”
Justru iman mereka jauh lebih matang.
Dalam Kitab Daniel 3,
Sadrakh, Mesakh dan Abednego pada dasarnya mengatakan kepada Nebukadnezar: Tuhan sanggup menyelamatkan kami.
Tetapi sekalipun Ia tidak menyelamatkan kami, kami tetap tidak akan menyembah patung itu.
Itulah iman yang luar biasa.
Aku percaya kepada Tuhan bukan hanya ketika Tuhan memberikan apa yang aku inginkan.
Aku tetap percaya bahkan ketika aku belum mengetahui bagaimana akhirnya kondisi aku
Daniel dan gua singa
Kisah Daniel juga membawa kita kepada gambaran lain yang sangat terkenal
Daniel di gua singa. Daniel tetap berdoa kepada Tuhan meskipun ada ketetapan kerajaan yang membuat tindakannya berbahaya.
Karena kesetiaannya, ia akhirnya dilemparkan ke tempat singa-singa, tetapi Tuhan melindunginya.
Ada pola yang sama
kesetiaan ujian keberanian penyerahan dan pertolongan Tuhan.
Namun yang paling penting bukan bahwa setiap masalah akan berakhir dengan mukjizat seperti dalam cerita Daniel.
kesetiaan kepada Tuhan tidak seharusnya bergantung pada apakah hidup sedang mudah atau sulit.
Renungan setelah menonton Daniel
Film ini mengingatkan saya bahwa ujian terbesar dalam kehidupan sering kali bukan ketika kita harus memilih antara baik dan jahat.
Pilihan seperti itu relatif mudah dikenali.
Yang jauh lebih sulit adalah ketika kita harus memilih antara iman dan kenyamanan, antara prinsip dan keuntungan, antara kebenaran dan penerimaan orang lain.
Daniel hidup di tengah kerajaan yang sangat kuat.
Namun ia menunjukkan bahwa seseorang tidak harus memiliki kekuasaan besar untuk mempunyai kehidupan yang besar.
Kadang-kadang keberanian terbesar justru sederhana:
tetap jujur ketika kita bisa berbohong,
tetap rendah hati ketika kita mempunyai kedudukan,
tetap mengasihi ketika kita disakiti,
tetap berbuat benar ketika tidak ada yang melihat,
dan tetap percaya ketika doa kita belum mendapat jawaban.
Dan mungkin pesan paling indah dari kisah dapur api adalah ini
Tuhan tidak selalu menjauhkan kita dari api.
Kadang-kadang kita harus melewati api,
tetapi kita tidak melewatinya sendirian.
Api kehidupan bisa berupa kegagalan, kehilangan, persoalan keluarga, kekecewaan, atau masa ketika masa depan terasa tidak jelas.
Kita sering berdoa, “Tuhan, keluarkan aku dari masalah ini.”
Kisah Daniel mengajak kita berdoa lebih dalam
“Tuhan, kalau aku memang harus melewati ini, berjalanlah bersamaku.
Jangan biarkan kesulitan mengubah hatiku menjadi pahit.
Jadikan aku semakin bijaksana, semakin rendah hati, dan semakin dekat kepada-Mu.”
Pada akhirnya, kebesaran Daniel bukan karena ia berada dekat dengan seorang raja.
Daniel menjadi besar karena ketika berada dekat dengan kekuasaan, ia tidak kehilangan dirinya; ketika berada dalam tekanan, ia tidak kehilangan imannya dan ketika Tuhan memberinya kedudukan, ia tidak melupakan siapa sumber hikmatnya.
Itulah sebabnya kisah Daniel tetap berbicara kepada kita ribuan tahun kemudian:
Dunia boleh berubah.
Keadaan boleh berubah. Kedudukan boleh datang dan pergi.
Tetapi jangan sampai keadaan di luar diri kita menentukan siapa kita di dalam.
Nanti aku ingin cerita tentang daniel tapi kepanjangan
jadi sudahin disini saja
Siaanya Nonton sendiri lebih asyik daripada di ceritain
Adharta
Sahabat dalam Cita
Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS
Call Center
08119620888
www.kris.or.id I www.adharta.com
