Cerpen Nomor 0114

ANTARA CINTA DAN BENCI

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

Surabaya,
1 Juni 1980
Ulang tahunku ke 22

Kereta Mutiara yang membawaku pulang bergerak perlahan memasuki Surabaya.

Dari jendela, kupandangi rumah-rumah, jemuran, dan anak-anak yang melambaikan tangan di pinggir rel.

Dadaku terasa hangat. Sebentar lagi aku akan bertemu Ayah dan Ibu.

Selama kuliah di Trisakti Jakarta, setiap liburan selalu kuusahakan pulang.

Uang boleh menipis, perjalanan boleh melelahkan, tetapi kerinduan kepada keluarga tidak pernah bisa ditunda.

Waktu itu belum ada telepon genggam. Surat menjadi jembatan utama.

Kalau menelepon interlokal, kami berbicara cepat karena biayanya mahal.

“Sehat? Uang masih ada? Kapan pulang?” tanya Ibu.

Belum sempat kujawab semuanya, Ayah menyela, “Sudah, nanti tagihannya lebih panjang daripada ceritanya!”
Hahaha

Aku tertawa. Namun setelah gagang telepon diletakkan, kamar kos terasa semakin sunyi.

Di stasiun, Ayah sudah menunggu.

Ia mengambil tas dari tanganku, lalu menepuk bahuku.

“Kurus lagi.
Di Jakarta kamu belajar atau puasa?”

“Belajar menghemat, Yah.”

Kami tertawa sambil berjalan menuju mobil.

Di rumah, Ibu menyambut dengan pelukan dan pertanyaan yang belum selesai meskipun aku sudah duduk menghadapi makan siang.

Hari itu aku merasa begitu beruntung.

Tetapi setiap keluarga memiliki salibnya sendiri.

Tidak semua anak dapat pulang dengan dada ringan seperti dadaku.

Aku mengenal sahabatku Susan di Jakarta.

Susan mahasiswi Kedokteran Trisakti, gadis cantik dengan mata yang berbinar ketika tertawa.

Kalau aku terlalu banyak bercerita, ia mengangkat telunjuk.

“Sebentar. Kamu perlu diperiksa. Gejalanya suka membesar
besarkan kejadian.”

“Obatnya?”

“Diam lima menit.”

Lima menit itu tidak pernah berhasil kulewati.

Susan biasanya tertawa lebih dahulu, dan aku ikut tertawa karena senang melihatnya bahagia.

Di dekatnya, aku mulai mengenal debar yang sulit kusebut persahabatan biasa.
Namun ketika ia berbicara tentang keluarganya, ada kesedihan yang membuatku memilih mendengarkan.

Susan mempunyai seorang kakak laki-laki, Adrianus, yang biasa dipanggil Adrian.

Dua kakak perempuannya adalah Yenny dan Shanti.

Usia Yenny terpaut cukup jauh dengannya, sedangkan Shanti kuliah di Bandung.

Ayah mereka, Dicky, keras dalam mendidik anak.

Mama Merry sering menjadi penengah, meskipun suaranya kerap tenggelam dalam pertengkaran.

“Papa ingin Kak Adrian berhasil,” kata Susan suatu sore.

“Tapi setiap bicara, mereka seperti sedang bertanding. Harus ada yang kalah.”

Adrian sebenarnya anak yang hangat.

Susan bercerita bahwa kakaknya pernah mengajarinya naik sepeda. Ketika Susan jatuh, Adrian ikut menjatuhkan diri.

“Lihat, jalanannya yang nakal,” katanya.

Susan kecil tertawa sambil menangis.

Adrian membersihkan lututnya, lalu menuntun sepeda itu sampai adiknya berani mencoba lagi.

Tetapi di hadapan ayahnya, kehangatan Adrian berubah menjadi ketegangan.

Nilai pelajaran, teman bermain, bahkan cara duduk bisa menjadi pangkal pertengkaran.

Dicky merasa sedang membentuk anaknya.

Adrian merasa apa pun yang dikerjakannya selalu salah.

Suatu malam, setelah Adrian tamat SMA pada awal tahun tujuh puluhan, pertengkaran mereka kembali pecah.

“Aku ingin memilih jalanku sendiri, Pa!”

“Kamu belum tahu apa-apa tentang hidup!”

“Kalau begitu, kapan aku boleh belajar?

Setelah semua keputusan Papa jalankan?”

Merry berdiri di antara mereka, memohon agar keduanya berhenti.

Shanti menangis. Susan memeluk bantal di kamar, mendengar suara kursi bergeser dan pintu dibanting.

Keesokan paginya, kursi Adrian di meja makan kosong.
Ia pergi dengan uang seadanya, tanpa dukungan biaya dari ayahnya.

Belakangan keluarga mengetahui bahwa Adrian melamar sebagai anak buah kapal pesiar.

Ia ingin mencapai negeri Paman Sam, sejauh mungkin dari rumah.

Di kamarnya tertinggal secarik kertas.

Ma, jangan khawatir.

Aku akan berusaha hidup sendiri.

Merry membaca kalimat itu berulang-ulang.

“Anak ini,” bisiknya,

“bagaimana Mama bisa tidak khawatir?”

Dicky tidak menangis di depan keluarganya. Ia justru marah ketika Merry meminta agar Adrian dicari.

“Kalau berani pergi, harus berani bertanggung jawab!”

Namun Susan pernah terbangun tengah malam dan melihat ayahnya berdiri di kamar Adrian. Tangannya menyentuh sandaran kursi belajar, lalu berhenti lama di sana.
Pagi harinya, Dicky kembali berbicara keras.
Tidak seorang pun berani menanyakan apa yang dilakukannya semalam.

Tahun-tahun berlalu.
Merry tetap memasak makanan kesukaan Adrian pada hari ulang tahunnya. Kadang ia baru menyadari jumlah piring yang disiapkannya ketika semua orang sudah duduk.

“Ma, kebanyakan satu,” kata Susan perlahan.

Merry mengangguk, tetapi piring itu dibiarkan di tempatnya sampai makan selesai.

Ada juga hari-hari ketika mereka masih bisa tertawa.

Susan menirukan gaya Adrian menyanyi dengan suara sumbang.

Yenny tertawa sampai tersedak, sementara

Shanti memukul meja.

“Kak Adrian pasti protes kalau dengar!”

Sesudahnya, mereka terdiam.

Merry mengusap sudut matanya sambil tersenyum.
Hampir sepuluh tahun setelah kepergiannya, sebuah surat akhirnya tiba.

Susan mengenali nama Adrian pada amplop sebelum selesai membaca alamat pengirim.
Ia berlari menemui ibunya.

“Ma! Kak Adrian!”

Merry memegang amplop itu dengan kedua tangan, seolah benda rapuh yang bisa pecah.

Suratnya pendek. Adrian mengatakan bahwa ia masih hidup, bekerja berpindah
pindah, dan belum berniat pulang.

Ia menanyakan kesehatan Mama serta adik-adiknya.
Tidak ada pertanyaan tentang Papa.

Susan segera membalas. Ia menceritakan kuliah, rumah, dan kebiasaan Mama yang belum berubah.

Pada akhir surat, ia menulis:
Kak, Papa juga semakin tua.

Jawaban berikutnya datang berbulan-bulan kemudian. Kalimat mengenai Papa tidak ditanggapi.

Mama Merry, Yenny, dan Shanti berkali-kali membujuk Dicky agar menulis lebih dahulu.

“Katakan saja Papa rindu,” ujar Shanti.

Dicky menggeleng.

“Dia tahu jalan pulang.”

“Tapi mungkin dia menunggu Papa memanggil.”

Dicky bangkit meninggalkan ruang tamu. Di belakangnya, Merry menunduk.

Percakapan yang mereka harapkan membuka pintu justru berakhir seperti biasanya.

Ketika Dicky sakit, Susan semakin sering memeriksa kotak surat.

Ia menulis kepada Adrian, menjelaskan keadaan ayah mereka tanpa menyembunyikan apa pun.

Suatu malam, Dicky bertanya dari tempat tidur,

“Ada surat?”

“Belum, Pa.”

Ia memalingkan wajah ke jendela.

“Kalau ada, simpan. Jangan sampai hilang.”

Susan menggenggam tangan ayahnya. Untuk pertama kalinya,

ia merasa tangan itu begitu kecil.

Dicky meninggal tanpa pernah melihat Adrian lagi.

Adrian pun tidak sempat melihat ayahnya untuk terakhir kali.

Di pemakaman, Merry berdiri dengan tubuh gemetar.

Susan memeluknya, sementara Yenny dan Shanti saling berpegangan.

Aku hadir hari itu.
Tidak banyak yang bisa kukatakan.

Ketika Susan menangis di bahuku, aku hanya menunggu sampai napasnya kembali teratur.

Tahun 2000, ketika telepon seluler semakin memudahkan komunikasi, Susan berhasil mendengar suara kakaknya. Dari percakapan itulah ia mengetahui kehidupan Adrian sangat susah.

Kadang ia menumpang, kadang hidup tanpa tempat tinggal tetap.

“Kak, pulanglah. Kami bisa menjemput.”

“Aku belum bisa, Susan.”

“Papa sudah tidak ada.”

Di seberang terdengar tarikan napas panjang.

“Justru itu,”
jawab Adrian.

Susan menangis. Ia baru mengerti bahwa kematian Papa tidak serta-merta mengakhiri pertengkaran di dalam diri kakaknya.

Empat puluh tahun berlalu sejak kepergian Adrian. Yenny dan Shanti telah berkeluarga. Susan menikah dengan Parengkuan dan memiliki seorang anak perempuan.

Persahabatan kita yang lembut menggores cerita panjang

Sesekali kami bertukar kabar, dan selalu ada satu pertanyaan yang kutahan sebelum akhirnya kuucapkan.

“Bagaimana Adrian?”

Jawabannya makin singkat, sampai suatu hari Susan berkata,

“Sudah tidak ada kabar.”

Nomor teleponnya tidak tersambung.

Surat kembali. Adrian seperti ditelan bumi.

Suatu sore, anak perempuan Susan menemukan foto lama keluarga mereka.

“Ini siapa, Ma?”

“Kakak Mama.”

“Kapan datang?”

Susan mengelus wajah Adrian dalam foto itu.

“Mama juga masih menunggu.”

Aku memandangi foto tersebut: seorang ayah, seorang ibu, dan anak-anak yang dahulu berdiri begitu dekat.

Sulit membayangkan jarak sejauh itu bisa tumbuh di antara mereka.

Antara cinta dan benci kadang hanya ada selembar kertas tipis pemisahnya

Kata-kata yang tajam membuatnya robek, lalu tahun-tahun berlalu sebelum seseorang berani memperbaikinya.

Di rumah Susan, foto itu dikembalikan ke tempatnya.

Adrian tetap tersenyum di sana, masih muda, masih dekat dengan keluarganya.

Dan di luar bingkai, orang-orang yang mencintainya terus bertambah tua.

Adharta
Sahabat dalam Cita

Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS

Call Center
08119620888

www.kris.or.id I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *