Cerpen nomor 0115

Oleh : Ad harta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
Awal Oktober 2026

SEBELUM JAKARTA TERBANGUN

Hujan turun cukup deras
ketika Arya menemukan dompet di bawah bangku halte Senen.

Isinya tiga lembar uang seratus ribu, kartu pegawai rumah sakit, dan foto seorang anak perempuan tanpa rambut.

Di belakang foto tertulis: Untuk Ayah.
Nanti kalau sembuh, kita naik kereta lagi.

Arya menatap foto itu lama. Perutnya belum terisi sejak kemarin.

Dengan uang tersebut, ia bisa makan, membeli sandal, bahkan menyewa kamar semalam.

Namun, wajah anak itu mengingatkannya pada Laras, putrinya yang sudah tiga tahun tidak ia jumpai.

Arya memasukkan dompet ke dalam jaket.

“Besok,” gumamnya, seperti setiap kali menunda sesuatu yang benar.

Dulu Arya seorang tentara. Sepulang dari penugasan di Timor Timur, ia membawa luka di bahu dan ingatan yang tidak mau tidur.

Suara knalpot membuatnya merunduk.

Pintu dibanting membuat tangannya gemetar.

Suatu malam, dalam kemarahan, ia memukul orang yang sebenarnya hendak menolongnya.

Sesudah itu, hidupnya berantakan perlahan.
Istrinya, Rini, pergi membawa Laras.

Arya kehilangan pekerjaan berikutnya, menjual sepeda motor, lalu berpindah dari kamar kontrakan ke emperan toko.

Di Jakarta, orang bisa menghilang tanpa benar-benar meninggalkan kota.

Pagi berikutnya, Arya mendatangi rumah sakit yang tertera pada kartu pegawai.
Pemilik dompet itu bernama Damar, petugas kebersihan.

Begitu melihat dompetnya, lelaki tersebut menghela napas, lalu duduk seolah lututnya mendadak kehilangan tenaga.

“Uang buat beli obat anak saya,” katanya.

Arya mengeluarkan uang yang masih utuh.
Damar memeriksa isinya, kemudian menggenggam tangan Arya.

“Saya tidak punya hadiah.”

“Saya tidak minta.”

“Kalau makan?”

Arya hendak menolak, tetapi perutnya berbunyi.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia tertawa.

Damar membawanya ke warung kecil dekat rumah sakit. Di sana, seorang perempuan beruban sedang menata bungkus nasi.
Namanya Bu Ratih.

Setiap pagi Jumat, ia membagikan makanan kepada pengemudi ambulans, keluarga pasien, dan siapa pun yang datang dengan wajah lapar.

“Bisa cuci piring?”

tanyanya kepada Arya.
“Bisa.”
“Kalau begitu, makan dulu.

Sesudah itu bantu saya.”

Bu Ratih tidak menanyakan mengapa bajunya kotor atau mengapa ia tidur di jalan.

Arya merasa lega.
Hari itu ia mencuci piring sampai siang, kemudian memperbaiki kaki meja yang goyah.

Saat hendak pergi, Bu Ratih menyerahkan kunci gudang.

“Ada dipan. Kalau mau tidur, bersihkan sendiri.”

Seminggu kemudian, Arya mulai bekerja mengangkut barang di gudang milik Pak Surya, pelanggan warung Bu Ratih.

Upahnya besar, dibayar tunai. Ia diberi seragam, telepon, dan sepatu baru.

Pekerjaannya tampak sederhana: mengantar kardus pada malam hari, menerima pembayaran, tidak banyak bertanya.

Arya tahu ada yang janggal ketika melihat sebuah kardus berisi obat dengan tanggal kedaluwarsa yang berbeda antara kemasan luar dan botolnya.

“Urus saja setir,” kata Pak Surya.

“Kamu dibayar untuk itu.”

Arya menutup kardus tersebut.
Malamnya, ia membelikan beras untuk warung Bu Ratih.

Perempuan itu tersenyum, dan Arya merasa sedikit lebih baik daripada yang seharusnya.

Dengan gaji pertamanya, Arya mencari Rini.
Ia menemukan istrinya berjualan gorengan di depan rumah kontrakan di Bekasi.

Laras sedang mengerjakan tugas sekolah di meja plastik.

“Ayah?”
Satu kata itu membuat Arya lupa kalimat yang telah disiapkannya sepanjang perjalanan.

Laras sudah jauh lebih tinggi. Rambutnya dikepang dua. Di pergelangan tangannya ada gelang benang yang dulu dibuat Arya sebelum berangkat bertugas.

Ia menyerahkan amplop kepada Rini.
“Untuk sekolah.”

Rini tidak langsung mengambilnya.
“Dari mana?”

“Kerja.”

“Kerja apa?”

Arya menunduk.
Rini mengenali diam itu.
“Datanglah lagi kalau kamu bisa menjawab tanpa menunduk.”

Dua hari kemudian, Damar tidak datang ke warung.
Bu Ratih mengatakan anaknya, Naya, masuk ruang perawatan intensif.

Arya menyusul ke rumah sakit.

Damar duduk di lorong, masih memakai seragam kebersihan.

Di tangannya ada botol obat yang dibeli dari penjual murah karena persediaan biasanya sedang kosong.

Arya mengenali logo pada botol itu.

Logo yang sama dengan kardus di gudang.

Belum ada kepastian obat tersebut menyebabkan keadaan Naya memburuk.

Namun, Arya tahu barang itu tidak pantas berada di tangan orang sakit.

Ia berdiri, meninggalkan lorong tanpa berpamitan.
Di gudang, Arya menemukan buku pengiriman dan tumpukan label pengganti.

Arya memotretnya.

Pak Surya muncul di pintu.

“Kamu pikir setelah hidup di jalan, kamu bisa mendadak jadi orang suci?”

Arya memasukkan telepon ke saku.

“Saya mau barang ini berhenti dikirim.”

Dua penjaga mendekat. Salah satunya mengayunkan tongkat.

Arya menangkis, mendorongnya ke meja, lalu merebut tongkat itu.
Sesaat, tangannya ingin menyelesaikan semuanya dengan cara lama.

Lalu ia melihat wajahnya pada kaca lemari: rahang mengeras, mata penuh amarah.

Ia meletakkan tongkat.

Pak Surya tertawa.
Arya berlari keluar melalui pintu belakang.

Ia sampai di warung menjelang tengah malam, bibir pecah dan lengan berdarah.

Bu Ratih membawakan air hangat.

“Saya sudah membantu mereka,” katanya.

“Beras yang saya beli juga dari uang itu.”

Bu Ratih berhenti membersihkan lukanya.

“Besok kita cari bantuan.

Simpan bukti
buktimu.”

“Saya takut ditangkap.”

Perempuan itu kembali membasuh darah di tangannya.

“Saya bisa menemanimu.”
Arya menangis tanpa suara.

Bu Ratih duduk di sebelahnya sampai napasnya tenang.

Sebelum subuh, telepon Arya berbunyi.

Pak Surya mengirim foto pintu warung.

Hapus semua. Kalau tidak, tempat tidurmu terbakar.

Arya keluar dengan membawa tas. Ia berniat menyerahkan telepon itu, asalkan warung selamat.

Di ambang pintu, Bu Ratih sudah menunggu.

“Buktinya sudah saya kirim kepada keponakan saya.
Dia pengacara.”

Arya terdiam.
“Damar juga sedang menuju kantor polisi,” lanjutnya.

Di jalan, sebuah mobil berhenti.
Rini turun, masih mengenakan sandal rumah.

Bu Ratih rupanya menghubunginya.

“Saya belum memaafkan semuanya,” kata Rini.

“Tapi hari ini kamu tidak perlu pergi sendiri.”

Penyelidikan berlangsung berminggu
minggu.

Gudang disegel.
Pak Surya diperiksa.

Arya mengakui pekerjaan dan uang yang diterimanya. Ia menyerahkan catatan pengiriman serta bersedia memberikan kesaksian.

Untuk hidup, ia kembali mencuci piring.
Naya perlahan membaik.

Suatu sore, Damar datang membawa gambar buatan putrinya: seorang lelaki berbaju hijau berdiri di samping kereta.

“Katanya ini Om Arya.”

“Saya bahkan belum pernah bertemu dia.”

“Saya cerita soal dompet itu.”

Arya menempelkan gambar tersebut di dinding gudang tempatnya tidur.

Tiga bulan kemudian, Laras datang ke warung membawa tugas sekolah.

Tuliskan pekerjaan ayahmu.

Arya membaca pertanyaan itu, lalu menyerahkan pensil.

“Tulis pencuci piring.”

Laras mulai menulis.

“Dulu Ayah tentara?”

“Iya.”

“Kenapa sekarang cuci piring?”

Arya memperhatikan sabun yang masih menempel di sela kukunya.

“Karena ini pekerjaan yang bisa Ayah ceritakan kepadamu.”

Laras mengangguk, lalu menambahkan satu kalimat di bawah jawabannya.

Ayah sedang belajar pulang.

Di luar, Jakarta belum sepenuhnya terbangun.

Bu Ratih mengangkat panci nasi dari kompor.

Arya menyingsingkan lengan baju, sementara putrinya menarik kursi lebih dekat ke tempatnya bekerja.

Adharta
Sahabat dalam Cita

Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS

Call Center
08119620888

www.kris.or.id I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *