I LOVE FRATERAN
Kenangan Reuni Emas 50 Tahun
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS
Dalam Penerbangan Batik Air ID 6584
Ketinggian 35.000 kaki
5 September 2026
Hari Sabtu subuh, ketika sebagian besar orang masih terlelap, saya dan istri telah bersiap menuju bandara.
Pagi itu terasa berbeda. Ada kebahagiaan, rasa haru, dan kerinduan yang memenuhi hati saya.
Kami akan terbang ke Surabaya untuk menghadiri acara yang sangat istimewa
Reuni Emas 50 Tahun Alumni SMA Katolik Frateran Surabaya Angkatan 1976.
Di dalam pesawat Batik Air ID 6584, pada ketinggian sekitar 35.000 kaki, pikiran saya terbang jauh menembus waktu.
Saya mengenang kembali masa muda, ketika setiap pagi mengenakan seragam Krem Coklat muda
dan berjalan memasuki halaman sekolah tercinta di Jalan Kepanjen, nomor 8
Surabaya.
Lima puluh tahun bukanlah waktu yang singkat.
Pada bulan Juni 1976, kami dinyatakan lulus dan meninggalkan SMA Katolik Frateran Surabaya.
Kami pergi membawa ijazah, cita-cita, kenangan, dan nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan oleh frater Adolfus dan para Guru serta para senior kami.
Kini, setelah setengah abad berlalu, kami kembali dengan rambut yang telah memutih, langkah yang mungkin tidak secepat dahulu, tetapi dengan persahabatan dan cinta kepada Frateran yang tetap hidup.
I Love Frateran
Ketika mendengar nama “Frateran”, sebagian orang mungkin mengira bahwa sekolah ini adalah seminari atau sekolah khusus bagi calon rohaniwan.
Sebenarnya, nama Frateran berasal dari para pengelola sekolah, yaitu Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus atau BHK.
SMA Katolik Frateran berada di bawah naungan Yayasan Mardi Wiyata.
Para Frater BHK menjalankan karya pendidikan dengan semangat:
“In Sollicitudine et Simplicitate”
Artinya, “dalam kepedulian dan kesederhanaan hati.”
Semangat tersebut bukan sekadar semboyan. Kami merasakannya melalui cara para frater dan guru mendidik, membimbing, menegur, serta memperhatikan kami.
Mereka bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, kesederhanaan, dan keberanian menghadapi kehidupan.
Saya masuk SMA Katolik Frateran pada tahun 1974. Sekolah itu berlokasi di Jalan Kepanjen, di samping Gereja Katolik Santa Maria, Surabaya.
Saya masih mengingat dengan jelas saat pertama kali mendaftarkan diri.
Saya diterima langsung oleh kepala sekolah waktu itu, Frater Adolfus, yang kini telah almarhum.
Saat pendaftaran, beliau bertanya kepada saya,
“Mengapa kamu mau masuk SMA Katolik Frateran?”
Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi saat itu saya bingung menjawabnya. Pada masa tersebut, SMA Katolik Frateran belum seterkenal sekarang. Kebetulan ada dua orang yang saya kenal ikut mendaftar. Seorang mengatakan bahwa ia masuk karena diperkenalkan oleh orang lain, sedangkan seorang lagi mengatakan bahwa ia sebelumnya sudah mengenal Frateran.
Ketika melihat saya kesulitan memberikan jawaban, Frater Adolfus kembali bertanya,
“Kamu berasal dari daerah, ya?”
Saya menjawab, “Ya, Frater. Saya berasal dari NTT, tetapi sudah bersekolah di Surabaya.”
Beliau mengatakan bahwa di Kupang juga sudah ada sekolah Frateran.
Kemudian, dengan segala kepolosan dan keyakinan seorang anak muda, saya menjawab,
“Kalau saya percaya SMA Katolik Frateran dapat membimbing saya.”
Jawaban itulah yang keluar dari hati saya. Kini, setelah lima puluh tahun, saya menyadari bahwa keyakinan tersebut tidak salah.
Frateran sungguh telah membimbing saya
bukan hanya untuk menyelesaikan pendidikan, tetapi juga untuk melangkah dalam perjalanan kehidupan.
Masa SMA tentu tidak selalu dipenuhi kegembiraan. Ada suka dan duka yang kami alami bersama. Ada pelajaran yang terasa sulit, pekerjaan rumah yang menumpuk, ulangan yang membuat kami tegang, serta teguran guru ketika kami kurang disiplin.
Ada saat kami memperoleh nilai baik dan pulang dengan wajah ceria. Namun, ada pula saat nilai kami kurang memuaskan sehingga kami harus belajar lebih giat.
Sebagai anak yang berasal dari NTT, terkadang ada kerinduan kepada kampung halaman dan keluarga. Namun, kebersamaan dengan teman-teman membuat saya tidak merasa sendirian.
Di Frateran, kami datang dari beragam keluarga, daerah, kebiasaan, dan karakter. Perbedaan itu tidak menghalangi kami untuk belajar, bercanda, bermain, dan bertumbuh bersama.
Kami pernah berselisih pendapat, saling mengejek, bahkan mungkin saling membuat kesal. Namun, semua itu akhirnya menjadi bagian dari indahnya masa remaja. Perselisihan tidak berlangsung lama. Kami kembali tertawa, berbagi cerita, dan saling membantu. Dari situlah kami belajar arti persaudaraan yang sesungguhnya.
Banyak kenangan sederhana yang kini terasa sangat berharga: suasana kelas, bunyi bel sekolah, wajah para guru, canda di sela-sela pelajaran, kebersamaan pada waktu istirahat, serta rasa lega ketika pelajaran terakhir selesai.
Dahulu semua itu terasa biasa. Namun, setelah puluhan tahun berlalu, kenangan-kenangan kecil itulah yang paling sering hadir dan menghangatkan hati.
Kami juga merasakan kebahagiaan ketika berhasil mengerjakan tugas, naik kelas, mengikuti kegiatan sekolah, dan menyaksikan teman-teman memperoleh prestasi.
Ketika seorang teman mengalami kesulitan, teman lainnya berusaha menolong.
Persahabatan kami tumbuh bukan karena semuanya selalu mudah, melainkan karena kami pernah mengalami kesenangan dan kesulitan bersama.
Pada bulan Juni 1976, tibalah saat kami dinyatakan lulus.
Hari yang kami nantikan akhirnya datang. Kami merasa bangga dan bahagia karena berhasil menyelesaikan pendidikan. Namun, di balik kegembiraan itu, ada kesedihan karena kami harus meninggalkan sekolah dan berpisah dengan teman-teman.
Sesudah kelulusan, kami melanjutkan perjalanan masing-masing
Ada yang kuliah, bekerja, membangun keluarga, menjadi pengusaha, profesional, pelayan masyarakat, dan menekuni berbagai bidang kehidupan.
Kami tersebar ke banyak tempat, bahkan ke berbagai negara. Kehidupan membawa kami melalui keberhasilan, kegagalan, kesehatan, sakit, perjumpaan, dan perpisahan. Beberapa sahabat serta guru tercinta juga telah mendahului kami menghadap Tuhan.
Hari ini, lima puluh tahun kemudian, kami kembali dipertemukan dalam Reuni Emas.
Kami tidak datang untuk membandingkan siapa yang paling berhasil. Kami datang untuk mengucap syukur karena Tuhan telah menyertai perjalanan kami.
Kami datang untuk mengenang para frater dan guru yang berjasa, mendoakan sahabat yang telah berpulang, serta merayakan persaudaraan yang masih terpelihara.
Reuni Emas mengingatkan kami bahwa kehidupan berjalan begitu cepat.
Dahulu kami adalah anak-anak muda yang penuh impian. Sekarang kami membawa pengalaman hidup yang panjang.
Walaupun fisik telah berubah, ketika berjumpa teman lama, hati kami seolah kembali muda.
Sapaan, pelukan, cerita lama, dan tawa bersama mampu menghapus jarak lima puluh tahun.
Terima kasih kepada SMA Katolik Frateran Surabaya, Yayasan Mardi Wiyata, Kongregasi Frater-Frater BHK, kepala sekolah, frater, guru guru karyawan, dan semua pihak yang telah mendidik kami. Secara khusus, saya mengenang almarhum Frater Adolfus yang menerima saya dan menanyakan alasan saya memilih Frateran.
Seandainya hari ini beliau kembali bertanya, “Mengapa kamu memilih SMA Katolik Frateran?”, saya akan menjawab dengan lebih mantap:
“Karena Frateran bukan hanya sekolah tempat saya menuntut ilmu. Frateran adalah rumah yang membimbing saya, membentuk kepribadian saya, mengajarkan persaudaraan, dan mempersiapkan saya menghadapi kehidupan.”
Lima puluh tahun telah berlalu, tetapi cinta itu tidak pernah hilang. Frateran akan selalu hidup dalam ingatan dan hati kami.
Sekali Frateran, tetap Frateran.
Viva Frateran!
I Love Frateran!
Adharta
Sahabat dalam Cita
Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS
Call Center
08119620888
www.kris.or.id I www.adharta.com
Bersambung……
