I LOVE FRATERAN

Aku ingin Menyebut Namamu

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

Gedung Srijaya, Surabaya

5 September 2026

Reuni Emas 50 Tahun Alumni SMAK Frateran 1976

Sungguh luar biasa!
Malam ini, hati saya dipenuhi sukacita yang begitu besar. Rasanya sulit menemukan kata-kata yang mampu menggambarkan kehangatan Reuni Emas 50 Tahun Alumni SMAK Frateran Surabaya Angkatan 1976.

Lima puluh tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Setengah abad telah berlalu sejak kami meninggalkan ruang-ruang kelas, lorong sekolah, halaman tempat kami bercanda, serta bangku-bangku tempat kami pernah duduk bersama. Namun malam ini, waktu seperti berputar kembali. Kami hadir bukan hanya sebagai orang-orang yang mengenang masa lalu, melainkan sebagai sebuah keluarga besar yang dipersatukan oleh persahabatan.
Jarang sekali ada keluarga alumni yang setelah lima puluh tahun masih mampu berkumpul lebih dari seratus orang. Saya sendiri telah bergabung dan hadir di berbagai kelompok alumni, tetapi belum pernah menikmati sebuah reuni yang suasananya begitu akrab, hangat, dan penuh kasih seperti malam ini.
Semua orang saling menyapa. Tawa terdengar di berbagai sudut ruangan. Ada yang langsung mengenali sahabat lamanya, ada pula yang perlu memandang sedikit lebih lama sebelum akhirnya berseru penuh kegembiraan. Wajah boleh berubah, rambut boleh memutih, dan langkah mungkin tidak lagi secepat dahulu, tetapi keakraban itu ternyata tidak pernah berubah.
Inilah arti persahabatan yang sesungguhnya: dipisahkan oleh waktu, jarak, kesibukan, dan perjalanan hidup, tetapi ketika berjumpa kembali, hati tetap merasa dekat.
Malam ini menjadi semakin istimewa karena hadir bersama kita mantan Kepala Sekolah, Bapak Suyadi; mantan Wakil Kepala Sekolah, Bapak Oey Kristianto; serta Kepala Sekolah SMAK Frateran saat ini, Frater William, BHK.

Kehadiran mereka seolah menyambungkan tiga masa: masa ketika kami masih menjadi pelajar, masa perjalanan kami selama lima puluh tahun, dan masa depan SMAK Frateran yang kini berada di tangan generasi penerus.
Acara saya awali dengan membacakan sebuah puisi berjudul “Reuni 50 Tahun”. Sebuah puisi sederhana yang lahir dari hati, berisi rasa rindu, syukur, cinta, dan kebanggaan terhadap persahabatan yang telah terpelihara selama setengah abad.

Saya membacakannya dengan didampingi oleh Maharani Kahar, pelantun lagu legendaris “Desember Kelabu”, yang malam itu turut mempersembahkan suaranya bagi kita.

Kehadirannya menambah keindahan dan kedalaman suasana. Kata-kata dalam puisi berpadu dengan lagu, membawa kami menyusuri kembali lorong-lorong kenangan.

Acara kemudian dibuka oleh Ketua Umum Alumni Frateran 1976, Bapak Mintarsa, yang didampingi oleh tim panitia yang luar biasa.
Penghargaan setinggi-tingginya saya sampaikan kepada Bapak Mintarsa dan seluruh panitia yang telah bekerja dengan hati. Di sana ada Bapak John Tambayong selaku Ketua Alumni SMAK Frateran, Bapak Yusuf, Bapak Agung, serta begitu banyak sahabat lain yang telah mencurahkan tenaga, waktu, pikiran, dan perhatian agar reuni ini dapat terselenggara dengan indah.
Kita juga patut berbangga karena di tengah keluarga besar Alumni SMAK Frateran terdapat sosok-sosok yang telah menjadi figur publik dan memberikan sumbangsih besar kepada masyarakat, salah satunya Bapak Prof. Dr. Tjandra Sridjaja.
Namun sesungguhnya, pada malam ini tidak ada seorang pun yang lebih tinggi atau lebih rendah. Apa pun gelar, jabatan, profesi, dan pencapaian kita, semuanya kembali menjadi satu: sahabat seperjalanan dari SMAK Frateran Angkatan 1976.
Malam semakin meriah dengan lagu-lagu kenangan, line dance, serta berbagai kisah dan kesaksian. Setiap cerita menghadirkan kembali potongan kehidupan yang mungkin telah lama tersimpan. Ada cerita tentang guru, tentang pelajaran, tentang hukuman, tentang persahabatan, tentang cinta masa muda, dan tentang cita-cita yang dahulu kami bangun bersama.
Walaupun kami hanya menghabiskan waktu tiga tahun di SMAK Frateran, kenangan yang ditinggalkannya sungguh luar biasa.

Tiga tahun itu telah menjadi bagian penting yang ikut membentuk kehidupan kami selama lima puluh tahun berikutnya.
Frater William, BHK, juga tidak ketinggalan mempersembahkan lagu “Sio Mama”. Lagu itu dibawakan dengan penuh penghayatan dan menghadirkan suasana yang sangat menyentuh.
Frater William berasal dari Lewoleba, Lembata, dan merupakan alumnus Seminari Mataloko.

Nama Mataloko terasa dekat di hati saya karena berada di wilayah yang memiliki hubungan dengan markas besar KRIS di Bajawa. Pertemuan malam itu seakan mempertemukan berbagai bagian perjalanan hidup dalam sebuah lingkaran persaudaraan yang indah.
Bapak Suyadi juga memberikan sambutan yang sangat baik dan berkesan. Mendengarkan beliau berbicara membuat kami seperti kembali menjadi murid-murid yang duduk dengan tertib di hadapan kepala sekolah. Bedanya, para murid itu kini telah berusia lanjut dan membawa cerita kehidupan masing-masing.

Pada usia sekarang, terus terang saya mulai kesulitan menyebutkan nama semua sahabat satu per satu.
Apalagi jumlah teman satu angkatan dahulu mencapai lebih dari 120 orang. Jika ada nama yang terlupakan atau belum sempat disebutkan, bukan berarti orangnya dilupakan. Nama mungkin sesekali lepas dari ingatan, tetapi wajah, kebaikan, persahabatan, dan kenangan akan tetap tinggal di dalam hati.
Karena itulah saya memilih judul

“Aku ingin Menyebut Namamu.”

Tapi aku lupa

Aku menyebut namamu bukan hanya dengan suara, melainkan dengan ingatan dan rasa syukur. Aku menyebut namamu sebagai bagian dari masa muda yang pernah kita lalui bersama. Aku menyebut namamu dalam doa agar kita semua senantiasa diberikan kesehatan, kedamaian, kebahagiaan, dan umur yang penuh berkat.
Tema malam ini adalah

“Persahabatan Saklawase”,

persahabatan untuk selama-lamanya.
Tema ini bukan sekadar rangkaian kata. Tema ini benar-benar hidup di tengah-tengah kita. Lima puluh tahun telah berlalu, tetapi persahabatan itu tidak hilang.

Persahabatan tersebut justru tumbuh menjadi cahaya yang menerangi perjalanan kita.
Kelak, kisah persahabatan ini akan dikenang oleh anak-anak dan cucu-cucu kita. Mungkin juga akan ditulis sebagai salah satu bagian indah dalam sejarah SMAK Frateran Surabaya.

Alumni SMAK Frateran 1976 patut menjadi contoh dan teladan bagi para siswa yang masih bersekolah, serta bagi alumni yang lebih muda maupun yang lebih tua. Kita telah menunjukkan bahwa persahabatan tidak berhenti setelah kelulusan. Sekolah bukan hanya tempat memperoleh ilmu, melainkan juga rumah tempat nilai-nilai kehidupan, kedisiplinan, cinta kasih, dan persaudaraan ditanamkan.

Tentu tidak ada gading yang tidak retak.

Dalam setiap penyelenggaraan acara mungkin terdapat kekurangan. Namun kekurangan kecil tidak dapat menghapus besarnya pengorbanan dan ketulusan panitia.
Karena itu, apresiasi khusus saya sampaikan kepada Ketua
Alumni Frateran 1976, Bapak Mintarsa, dan seluruh tim panitia.

Terimalah penghargaan dan pujian yang setinggi-tingginya. Kalian telah menghadirkan bukan sekadar sebuah pesta reuni, melainkan sebuah ruang tempat hati-hati yang lama berpisah dapat dipertemukan kembali.

Saya bangga menjadi Alumni SMAK Frateran.
Kebanggaan itu jauh melampaui kata-kata.
Sulit menceritakan satu per satu semua yang telah saya terima dari sekolah ini.
Di tempat inilah kami dahulu menyusun mimpi dengan polos dan penuh keberanian. Kini, pada usia lanjut, kami dapat melihat bagaimana Tuhan menuntun perjalanan hidup kami dan menyempurnakan cita-cita yang mulai tumbuh sejak masa muda.
Semoga persahabatan ini tetap terpelihara—sekarang, esok, dan selama-lamanya.

Puisi Penutup
Aku Menyebut Namamu
Sahabatku,

malam ini aku menyebut namamu,
meski satu per satu terkadang
lepas dari ingatanku,
namun tidak pernah lepas dari hatiku.
Lima puluh tahun telah berlalu,
sejak kita duduk di bangku yang sama,
mengejar ilmu, menumbuhkan harapan,
tertawa dalam kepolosan masa muda,
dan berjanji menaklukkan dunia.

Hari ini kita kembali,
bukan sebagai remaja yang sama,
melainkan jiwa-jiwa yang telah ditempa
oleh waktu, perjuangan, air mata,
kebijaksanaan, dan cinta.
Rambut kita mungkin telah memutih,
wajah kita telah dihiasi garis kehidupan,
tetapi ketika tangan kembali berjabat,
kita menemukan sahabat yang sama
di dalam tubuh yang bertambah usia.

Aku menyebut namamu
di antara lagu-lagu kenangan,
di tengah tarian dan gelak tawa,
di dalam kisah-kisah sederhana
yang malam ini terasa begitu berharga.

Aku menyebut namamu
sebagai saudaraku, keluargaku,
dan bagian dari perjalanan hidup
yang tidak mungkin dapat diulang,
tetapi tidak akan pernah hilang.
Bila kelak anak dan cucu bertanya
tentang arti sebuah persahabatan,
akan kuceritakan tentang malam ini:
tentang lebih dari seratus hati
yang kembali menyatu setelah setengah abad.
Akan kuceritakan tentang Frateran,
rumah tempat mimpi pernah dilahirkan;
tentang guru yang menuntun langkah;
dan tentang sahabat-sahabat
yang setia menjaga cahaya kenangan.
Sahabatku,
jika suatu hari langkah kita melambat
dan suara kita semakin lirih,
biarlah cinta persaudaraan ini
tetap berbicara bagi kita.
Jika nama mulai sulit disebutkan,
biarlah hati yang mengingatnya.
Jika jarak kembali memisahkan,
biarlah doa yang mendekatkan kita.

Terima kasih,

sahabat
sahabatku.
Terima kasih, para guru dan frater.
Terima kasih, ketua dan seluruh panitia.
Terima kasih, SMAK Frateran tercinta,
atas lima puluh tahun penuh makna.
Kita pernah muda bersama,
kita menua dalam persaudaraan,
dan kita akan tetap menjadi keluarga
dalam satu cinta, satu kenangan,
dan satu nama yang selalu kubanggakan:

SMAK Frateran Surabaya.

I Love Frateran.

Persahabatan Saklawase
sekarang dan selama-lamanya.

Adharta
Sahabat dalam Cita

Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS

Call Center
08119620888

www.kris.or.id I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *