Cerpen nomor 0079

Witing triano jalaran kulino

Akhir mei 2026

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Buat sahabatku

Kisah Dewi dan Panji: Antara Cinta, Kesetiaan, dan Luka yang Tak Terucap

Cintaku
Lima tahun pernikahan bukanlah waktu yang singkat bagi Dewi dan Panji.

Mereka telah melalui banyak hal bersama
tawa yang hangat, tangis yang diam-diam diseka, serta perjuangan membangun rumah tangga yang mereka impikan sejak muda.

Dari pernikahan itu, lahirlah dua putri cantik: Mira dan Rina.

Dua bintang kecil yang menjadi sumber kebahagiaan sekaligus penguat saat hidup terasa berat.

Panji, seorang guru SMA yang sederhana dan penuh dedikasi, selalu pulang dengan wajah lelah namun penuh cinta untuk keluarganya. Ia mengajarkan bukan hanya ilmu di sekolah, tetapi juga nilai kehidupan di rumah.

Sementara Dewi, istrinya, adalah perempuan tangguh yang bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan tambang besar. Ia dikenal cerdas, disiplin, dan memiliki loyalitas tinggi.

Kariernya melesat cepat, terlebih karena ia bekerja di bawah pimpinan Robby
teman SMA-nya dahulu di Surabaya.
Hidup mereka terlihat sempurna dari luar.

Rumah mewah berdiri megah di kawasan Puri Kembangan.

Mobil yang terparkir di garasi adalah bukti kerja keras Dewi. Secara materi, mereka tak pernah kekurangan.

Bahkan, di masa pandemi yang membuat banyak orang terpuruk, perusahaan tempat Dewi bekerja justru berkembang pesat.

Permintaan batu bara melonjak, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor.
Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang perlahan berubah.
Dewi semakin sibuk.

Pekerjaannya menuntut waktu dan tenaga lebih.
Dewi sering pulang larut, bahkan tak jarang menginap karena harus menemani rapat atau kunjungan luar kota bersama Robby.

Awalnya, Panji memaklumi. Ia memahami tanggung jawab istrinya. Ia memilih diam, mengurus anak-anak, memasak, bahkan sesekali menggantikan peran ibu di rumah.

“Tugas Ayah bukan hanya mencari nafkah, tapi menjaga keluarga,” katanya suatu malam sambil menyelimuti Mira dan Rina yang sudah terlelap.
Namun, waktu berjalan, dan perasaan itu mulai tumbuh.

Bukan marah. Bukan juga benci.
Tapi ada yang ganjil.
Ada jarak yang tak terlihat antara dirinya dan Dewi.
Sementara itu, di sisi lain, Robby mulai jatuh sakit.

Kondisinya cukup serius hingga membuatnya harus banyak beristirahat. Sebagai orang kepercayaan, Dewi diminta untuk membantu menjalankan perusahaan sementara waktu.
Tanpa ragu, Dewi menerima.

Baginya, Robby bukan hanya atasan. Ia adalah sosok panutan
cerdas, tegas, dan baik hati. Entah mengapa, pria itu tak pernah menikah, meskipun memiliki segalanya: kekayaan, jabatan, dan kepribadian yang menarik.

Dalam masa sakit itu, Dewi semakin sering berada di sisi Robby.
Ia merawat, menemani, bahkan sesekali menginap di rumah Robby yang kebetulan tak jauh dari rumahnya sendiri.

Awalnya, semua terasa wajar.
Namun lama-kelamaan, ada sesuatu yang berubah.
Perasaan yang tak diundang mulai tumbuh.

Mungkin benar kata orang Jawa: wiring tresno jalaran saka kulino
cinta datang karena terbiasa.
Dewi sendiri tak mampu menjelaskan apa yang ia rasakan.

Di satu sisi, ia mencintai Panji
suaminya yang setia dan sabar. Namun di sisi lain, kehadiran Robby menghadirkan perasaan baru yang asing, namun hangat.

Sementara Panji, meski tak banyak bicara, mulai merasakan hal yang sama.
Kecemasan.
Kecurigaan.
Dan rasa kehilangan.

Beberapa teman Panji bahkan mulai mengingatkannya.
“Ji, hati-hati. Istrimu terlalu dekat dengan atasannya.”

Panji hanya tersenyum hambar.
“Aku percaya Dewi,” jawabnya singkat, meski dalam hatinya bergemuruh.

Pertengkaran kecil mulai sering terjadi.
Hal-hal sepele menjadi besar.
Waktu yang dulu penuh canda kini sering diisi diam.

Suatu malam, Panji menunggu Dewi pulang. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Saat pintu terbuka, Dewi masuk dengan wajah lelah.

“Kamu dari mana?” tanya Panji pelan.
“Di rumah Pak Robby. Dia butuh ditemani,” jawab Dewi singkat.
“Selalu begitu,” gumam Panji.

“Apa maksudmu?” Dewi mulai tersulut.
“Aku cuma suamimu, atau aku sudah jadi orang asing di rumah ini?”

Dewi terdiam.
Tak ada jawaban.
Sejak malam itu, jarak semakin terasa nyata.
Lalu datang kabar yang mengubah segalanya.
Dewi hamil anak ketiga.

Awalnya, Panji bahagia.

Ia mengira ini adalah kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Mungkin dengan kehadiran anak baru, keluarga mereka akan kembali utuh.
Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama.

Karena suatu hari, dengan suara bergetar dan air mata yang tak terbendung, Dewi berkata:

“Panji… aku harus jujur… anak ini… bukan anakmu…”

Dunia Panji runtuh seketika.
Ia diam.
Tak marah.
Tak berteriak.
Hanya diam.
Air matanya jatuh perlahan.

“Anak siapa?” suaranya lirih.

Dewi tak mampu menatap.
“Robby…”
Nama itu seperti petir di siang bolong.

Panji menutup wajahnya.
Seluruh kenangan lima tahun pernikahan berputar di kepalanya
tawa Mira, tangisan Rina, senyum Dewi di hari pernikahan mereka.
Semua terasa seperti mimpi yang hancur.

“Aku salah, Panji…” Dewi menangis.

“Terlambat,” jawab Panji pelan.

Tak ada lagi yang bisa diperbaiki.
Cinta yang dulu hangat kini berubah menjadi luka.
Dengan berat hati, Panji mengambil keputusan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia menceraikan Dewi.

Bukan karena ia tak cinta.
Justru karena ia terlalu cinta, dan tak sanggup hidup dalam kebohongan.
Hari itu, rumah mereka terasa sunyi.

Mira dan Rina belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi.

Mereka hanya tahu, ibu mereka tak lagi tinggal bersama.

Panji tetap menjadi ayah yang kuat.
Ia bangun pagi, menyiapkan sarapan, mengantar anak-anak sekolah, lalu pergi mengajar seperti biasa. Namun di balik semua itu, ada hati yang retak.

Sementara Dewi…
Ia hidup dengan penyesalan.
Robby yang semakin lemah tak lagi mampu menjadi sandaran.

Perusahaan tetap berjalan, tapi hati Dewi kosong.
Ia mendapatkan apa yang dulu ia pikir penting
kedekatan, perhatian, mungkin cinta.
Namun ia kehilangan segalanya yang sejati.
Keluarga.
Suami.

Anak-anak yang kini hanya bisa ia temui dalam waktu terbatas.
Kadang, di malam hari, Dewi duduk sendiri, mengusap perutnya yang semakin membesar.

Air matanya jatuh tanpa suara.
“Maafkan Mama…” bisiknya.

Kisah ini bukan tentang siapa yang benar atau salah.
Ini tentang manusia
yang lemah, yang bisa jatuh, yang terkadang terlambat menyadari arti kesetiaan.
Tentang cinta yang diuji oleh waktu dan jarak.
Dan tentang pilihan yang membawa konsekuensi.

Di suatu sore, Panji duduk di teras rumah, melihat Mira dan Rina bermain.
Mereka tertawa.
Dan untuk sesaat, Panji ikut tersenyum.
Karena meskipun hatinya pernah hancur, hidup harus tetap berjalan.

Dan cinta… kadang tidak hilang.
Ia hanya berubah bentuk.

Menjadi kenangan.
Yang tak akan pernah benar-benar pergi.

Terima kasih

www.kris.or.id I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *