Cerpen nomor 0080

Antara waktu
Itu ada kebijaksanaan

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Akhir Mei 2026

Jalanku

Hujan di Ujung Senja
Langit sore di kota kecil Brebes itu tampak kelabu.
Awan menggantung rendah seolah menyimpan ribuan cerita yang belum sempat diucapkan. Di sebuah halte tua dekat taman kota, seorang pemuda bernama Surya duduk sendirian sambil memandangi jalanan yang mulai basah oleh gerimis.

Tas lusuh tergantung di bahunya.
Di tangannya terdapat buku catatan yang sudut-sudutnya sudah mulai robek. Setiap hari, sepulang bekerja di toko fotokopi, Surya selalu datang ke halte itu.

Bukan karena ia menunggu bus, melainkan karena tempat itu memberinya ketenangan.
Surya memiliki mimpi sederhana.
Ia ingin menjadi penulis.

Namun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ayahnya telah lama meninggal, sedangkan ibunya bekerja menjahit pakaian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, Surya memilih bekerja setelah lulus sekolah demi membantu keluarganya.
Meski begitu, ia tidak pernah berhenti menulis.

“Suatu hari nanti, tulisanku pasti akan dibaca banyak orang,” gumamnya pelan.
Gerimis berubah menjadi hujan. Orang-orang mulai berlari mencari tempat berteduh.

Di tengah suasana itu, seorang gadis datang sambil membawa payung biru muda. Rambutnya sedikit basah terkena hujan.

“Boleh duduk di sini?” tanyanya ramah.
Surya mengangguk pelan. “Silakan.”

Gadis itu duduk di sampingnya.
Ia meletakkan beberapa buku di pangkuannya lalu menghela napas panjang.

“Hujannya tiba-tiba sekali,” katanya.
“Iya,” jawab Surya singkat.

Beberapa detik suasana menjadi hening. Surya kembali membuka buku catatannya, sementara gadis itu memperhatikannya diam-diam.
“Kamu suka menulis?” tanyanya kemudian.

Surya sedikit terkejut. “Lumayan.”
“Boleh lihat?”
Surya ragu sesaat, tetapi akhirnya menyerahkan buku itu.

Gadis tersebut membacanya perlahan.
Matanya tampak serius menelusuri setiap kalimat yang tertulis dengan tinta hitam.

“Bagus,” katanya setelah beberapa menit.

Surya tersenyum kecil. “Cuma tulisan biasa.”

“Tidak,” balas gadis itu. “Tulisan yang bagus selalu lahir dari perasaan yang jujur.”

Surya menatapnya sejenak. Baru kali itu ada orang asing yang memuji tulisannya dengan sungguh-sungguh.

“Oh ya, aku Esther,” katanya sambil mengulurkan tangan.

“Surya.”

Sejak hari itu, mereka sering bertemu di halte yang sama. Esther ternyata bekerja di perpustakaan kecil dekat pusat kota.
Ia sangat menyukai buku dan sering menghabiskan waktunya membaca novel lama.
Kadang mereka berbicara tentang mimpi, kadang tentang kehidupan yang tidak selalu ramah.

“Aku iri sama orang yang tahu tujuan hidupnya,” kata Esther suatu malam.
“Kenapa?”
“Karena aku sendiri masih bingung.”

Surya tertawa kecil. “Aku juga bingung.”
“Tapi kamu punya mimpi jadi penulis.”
“Mimpi belum tentu jadi kenyataan.”

Esther menatap langit malam yang dipenuhi lampu kota.

“Kalau tidak dicoba, kita tidak akan pernah tahu.”
Kata-kata itu terus teringat di kepala Surya.

Beberapa minggu kemudian, Esther membawa sebuah amplop cokelat.
“Apa ini?” tanya Surya.

“Lomba cerpen nasional. Aku lihat pengumumannya di perpustakaan.”

Surya langsung menggeleng.

“Aku tidak mungkin ikut.”
“Kenapa?”
“Aku bukan siapa-siapa.”

Esther tersenyum tipis.

“Semua orang besar juga mulai dari bukan siapa-siapa.”

Surya terdiam.
“Aku percaya tulisanmu bagus,” lanjut Esther.

“Kamu cuma kurang percaya pada dirimu sendiri.”

Malam itu Surya pulang dengan pikiran penuh kebimbangan. Ia duduk di meja kecil kamarnya lalu menatap lembar kosong di depan mata.

Suara mesin jahit ibunya terdengar dari ruang depan.
“Ada apa?” tanya ibunya.
“Tidak apa-apa.”
Ibunya menghampiri sambil membawa teh hangat.

“Kalau ada masalah, cerita saja.”
Surya tersenyum lemah.

“Bu… menurut Ibu, orang seperti aku bisa jadi penulis?”

Ibunya menatapnya lama sebelum menjawab,
“Kalau kamu sungguh-sungguh, kenapa tidak?”

Jawaban sederhana itu membuat dada Surya terasa hangat.
Malam itu ia mulai menulis.
Ia menulis tentang kehidupan, tentang hujan, tentang kesepian, dan tentang harapan yang diam-diam tumbuh di hati manusia. Ia menulis sampai larut malam tanpa menyadari waktu.

Hari-hari berikutnya dipenuhi kesibukan. Sepulang kerja, Surya langsung menulis.

Esther sering menemaninya di perpustakaan sambil memberi masukan.
“Kamu harus lebih berani memainkan emosi tokohnya,” kata Esther suatu sore.

“Seperti ini?”
“Ya, lebih hidup.”
Surya tersenyum. “Kamu cocok jadi editor.”

“Kalau begitu nanti kamu jadi penulis terkenal, aku editornya.”

Mereka tertawa bersama.

Di tengah perjuangannya, Surya bertemu dengan Fanny, pemilik toko buku bekas dekat pasar lama.
Usianya sekitar lima puluh tahun, tetapi sifatnya hangat dan penuh semangat.
Fanny suka membaca tulisan Surya setiap kali ia datang ke toko.

“Kamu punya bakat,” katanya suatu hari.
Surya tertawa kecil. “Semua orang bilang begitu, tapi belum tentu nyata.”

Fanny menggeleng pelan. “Masalah terbesar anak muda sekarang bukan kurang bakat, tapi terlalu cepat menyerah.”

Kalimat itu menancap kuat di hati Surya.
Fanny kemudian mengambil sebuah buku tua dari rak paling atas.

“Dulu ada penulis terkenal yang sering datang ke sini,” katanya.

“Naskahnya ditolak berkali-kali sebelum akhirnya terkenal.”
“Benarkah?”
“Iya. Jadi jangan takut gagal.”
Sejak saat itu Surya semakin bersemangat.

Akhirnya hari pengumpulan lomba tiba.
Dengan tangan gemetar, Surya mengirim cerpennya melalui email perpustakaan.
“Selesai,” katanya lega.

Esther tersenyum lebar. “Aku bangga sama kamu.”
“Belum tentu menang.”
“Yang penting kamu sudah mencoba.”

Hari-hari setelah itu terasa panjang. Surya kembali bekerja seperti biasa, tetapi pikirannya terus dipenuhi rasa penasaran.
Sampai suatu pagi, Esther datang ke toko fotokopi dengan wajah panik.
“Surya!”
“Ada apa?”

“Kamu menang!”

Surya terdiam. “Apa?”
“Kamu juara dua lomba cerpen nasional!”
Beberapa pelanggan menoleh ke arah mereka. Surya bahkan merasa sulit bernapas.

“Jangan bercanda.”
“Aku serius!”
Esther menunjukkan layar ponselnya. Nama Surya benar-benar tercantum di sana.

Tangannya gemetar saat membaca pengumuman itu. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa mimpinya benar-benar mungkin tercapai.

Malam harinya, Surya pergi ke toko buku bekas milik Fanny.
“Aku menang,” katanya pelan.

Fanny tersenyum bangga. “Nah, kan? Aku bilang apa.”
“Terima kasih.”
“Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada dirimu sendiri karena tidak menyerah.”

Surya mengangguk pelan.
Beberapa bulan berlalu.
Tulisan Surya mulai dimuat di beberapa majalah kecil.
Meski penghasilannya belum besar, ia merasa lebih hidup daripada sebelumnya.
Namun di tengah kebahagiaan itu, Esther tiba-tiba menghilang.
Ia tidak datang ke halte, tidak muncul di perpustakaan, bahkan nomor teleponnya tidak aktif.

Surya mulai khawatir.
Suatu hari ia akhirnya bertemu penjaga perpustakaan.
“Esther pindah kota,” kata pria itu.
“Pindah?”
“Iya. Katanya ikut keluarganya.”
Surya terdiam lama.
“Dia titip ini buat kamu.”

Pria itu menyerahkan sebuah amplop putih.
Dengan tangan gemetar, Surya membukanya.
Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan.
“Surya,
Kalau kamu membaca surat ini, berarti aku sudah pergi. Maaf karena tidak sempat berpamitan langsung. Aku harus ikut keluargaku pindah ke luar kota.
Aku cuma ingin bilang satu hal.
Jangan berhenti menulis.
Dulu kamu pernah bilang takut bermimpi terlalu tinggi.
Tapi sekarang kamu sudah membuktikan bahwa mimpi itu bisa dikejar.

Suatu hari nanti, saat bukumu terbit, aku yakin banyak orang akan merasa ditemani oleh tulisanmu.

Tetaplah jadi Surya yang percaya pada harapan.

— Esther.”

Surya membaca surat itu berulang kali.
Ada rasa sedih yang sulit dijelaskan, tetapi juga rasa syukur karena pernah mengenal seseorang seperti Esther.
Hujan turun lagi sore itu.
Surya kembali duduk di halte tua tempat pertama kali mereka bertemu.

Suasana masih sama. Bangku kayu itu masih sedikit rapuh, lampu jalan masih berkedip samar.
Bedanya, kini Surya tidak lagi datang sebagai pemuda yang takut pada mimpinya.
Ia membuka buku catatan lalu mulai menulis.
Tentang hujan.

Tentang pertemuan.
Tentang seseorang bernama Esther yang mengajarinya percaya pada diri sendiri.
Dan tentang hidup yang terkadang membawa orang datang hanya untuk meninggalkan pelajaran berharga.

Di kejauhan, suara hujan terdengar seperti irama lembut yang menemani malam.
Surya tersenyum kecil.
Perjalanan hidupnya mungkin masih panjang, tetapi kini ia tahu satu hal pasti.
Mimpi tidak akan pernah menjadi nyata jika seseorang berhenti mencoba.

www.kris.or.id I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *