Cerpen 0077

Waktu datang dan pergi

Oleh: Adharta
Ketua Umum KRIS

Medio Mei 2026

Empat puluh lima tahun yang lalu,
di sebuah gereja di Kelurahan jelambar kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat

Gereja yang sederhana bernama Santo Kristoforus, Martin dan Baby mengucapkan janji suci.

Hari itu bukan hanya hari pernikahan, melainkan awal dari sebuah perjalanan panjang yang dipenuhi cinta, harapan, dan kelak
air mata.

Martin, pria pekerja keras dengan senyum hangat, menggenggam tangan Baby yang anggun dan lembut.

Lima tahun masa pacaran telah menguji kesetiaan mereka.
Banyak badai kecil yang mereka lalui, namun cinta selalu menjadi pelabuhan yang menenangkan.
“Dalam suka dan duka…” ucap mereka bersamaan, tanpa pernah benar-benar tahu seberapa dalam arti kata itu.

Tahun-tahun awal pernikahan mereka dipenuhi kebahagiaan. Tuhan menganugerahkan seorang putra dan dua putri yang sehat dan ceria. Rumah mereka selalu dipenuhi tawa, suara langkah kecil, dan doa-doa malam yang dipanjatkan bersama.

Usaha Martin berkembang pesat. Ia dikenal sebagai pengusaha yang jujur dan visioner. Kehidupan mereka berkecukupan, bahkan lebih dari cukup.

Anak-anak disekolahkan hingga ke luar negeri, Singapura dan Australia
sebuah kebanggaan yang tak pernah Martin bayangkan saat masa mudanya yang sederhana.
Baby, di sisi lain, adalah pilar yang kokoh di rumah. Ia mengatur segalanya dengan penuh cinta.

Ia bukan hanya ibu, tapi juga sahabat bagi anak-anaknya, dan tempat pulang bagi Martin.

Namun hidup, seperti roda, tak selalu berada di atas.
Tahun 1998 datang seperti badai besar yang tak diundang.
Krisis ekonomi melanda.
Satu per satu usaha Martin mulai goyah. Proyek-proyek besar berhenti, mitra bisnis menghilang, dan hutang mulai menumpuk seperti bayangan gelap yang tak bisa dihindari.

Suatu malam, Martin duduk di ruang tamu dengan kepala tertunduk. Tumpukan kertas di depannya bukan lagi laporan keuntungan, melainkan daftar hutang.

“Aku gagal, Baby…” suaranya lirih.
Baby mendekat, duduk di sampingnya, lalu menggenggam tangannya erat.
“Kita tidak gagal, Martin. Kita hanya sedang diuji.”
Namun ujian itu terasa sangat berat.

Anak-anak masih kecil, kebutuhan semakin besar, dan biaya sekolah di luar negeri terus berjalan.
Martin mencoba bertahan, menjual aset satu per satu. Rumah besar yang dulu penuh kenangan pun harus dilepas.
Mereka pindah ke rumah yang lebih sederhana. Tidak ada lagi kemewahan, tidak ada lagi pesta ulang tahun besar.

Yang ada hanyalah keheningan yang sesekali dipecah oleh tangis diam.
Baby tetap kuat. Ia mulai membantu dengan berjualan kecil-kecilan. Dari dapur sederhana, ia membuat kue dan menitipkannya ke tetangga. Tangannya yang dulu lembut kini mulai kasar, tapi hatinya tetap penuh cinta.

Martin berubah. Ia menjadi lebih pendiam.
Rasa bersalah menghantui setiap langkahnya. Ia merasa telah menjatuhkan keluarganya ke dalam jurang kesulitan.
Suatu hari, anak sulung mereka pulang dari luar negeri. Dengan mata berkaca-kaca ia berkata,
“Papa, aku bisa berhenti kuliah. Aku bisa kerja bantu keluarga…”

Martin menatap anaknya lama. Hatinya hancur, namun ia menggeleng pelan.
“Tidak. Pendidikanmu adalah harapan kita.
Papa akan berjuang.”
Dan ia benar-benar berjuang.
Hari demi hari, Martin mencoba bangkit.
Dari nol. Ia memulai usaha kecil, jauh dari gemerlap masa lalunya. Ia belajar kembali, jatuh lagi, bangkit lagi.
Waktu berjalan. Perlahan, kehidupan mulai membaik. Tidak seperti dulu, tapi cukup untuk bernapas lega. Anak-anak pun satu per satu lulus dan mulai bekerja, membantu keluarga.
Kebahagiaan sederhana kembali hadir. Makan bersama di meja kecil, tertawa tanpa beban, dan rasa syukur yang kini terasa jauh lebih dalam.
Namun takdir kembali mengetuk pintu.
Suatu pagi, Baby mengeluh lelah. Awalnya hanya dianggap kelelahan biasa. Tapi hari demi hari, kondisinya memburuk. Setelah pemeriksaan, dokter menyampaikan kabar yang membuat dunia Martin kembali runtuh.
Baby sakit. Penyakit yang serius.

Martin memegang tangan istrinya di ruang rumah sakit.
“Kita sudah melewati banyak hal, Baby… kita pasti bisa melewati ini juga…”
Baby tersenyum, meski wajahnya pucat.
“Aku tidak takut… selama kamu di sini.”
Hari-hari berikutnya diisi dengan perjuangan yang berbeda. Bukan lagi tentang uang, tapi tentang waktu. Martin setia mendampingi.

Ia yang dulu sibuk di luar rumah, kini tak pernah jauh dari sisi Baby.
Mereka mengenang masa lalu. Tentang awal cinta mereka, tentang anak-anak, tentang tawa dan air mata yang telah mereka lalui bersama.
“Aku bahagia, Martin…” kata Baby suatu malam.
“Walaupun hidup kita tidak selalu mudah… aku tidak pernah menyesal.”
Air mata Martin jatuh.

Ia menggenggam tangan Baby lebih erat.
“Aku juga… kamu adalah anugerah terindah dalam hidupku.”
Beberapa hari kemudian, dalam keheningan pagi, Baby menghembuskan napas terakhirnya.
Dunia seakan berhenti.
Martin duduk di sampingnya, tak berkata apa-apa. Tangannya masih menggenggam tangan Baby yang kini dingin. Semua kenangan berputar di kepalanya
hari pernikahan, tawa anak-anak, perjuangan bersama, dan cinta yang tak pernah pudar.
Kepergian itu meninggalkan luka yang dalam. Rumah terasa kosong. Tidak ada lagi suara lembut yang memanggil namanya, tidak ada lagi senyum yang menyambutnya di pagi hari.
Namun di balik kesedihan itu, Martin menemukan sesuatu yang baru—makna cinta yang sejati.
Cinta bukan hanya tentang kebahagiaan, tapi tentang kesetiaan dalam penderitaan. Tentang bertahan, tentang menguatkan, dan tentang melepaskan dengan ikhlas.
Hari-hari berikutnya, Martin menjalani hidup dengan tenang. Ia lebih banyak berdoa, lebih banyak mengenang. Ia mengunjungi makam Baby, membawa bunga dan cerita-cerita kecil tentang kehidupan yang terus berjalan.
Anak-anak kini telah dewasa. Mereka sering berkumpul, mengenang ibunya dengan penuh cinta. Di setiap tawa mereka, ada jejak Baby yang tak pernah hilang.
Suatu senja, Martin duduk sendiri di teras rumah.

Angin berhembus lembut, membawa kenangan yang hangat.
“Baby…” bisiknya pelan,
“Terima kasih untuk segalanya…”
Langit perlahan berubah jingga. Dan di dalam hati Martin, meski ada luka, ada juga kedamaian.
Karena cinta sejati… tidak pernah benar-benar pergi.

www.kris.or.id I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *