Cerpen Nomor 0116

Apa Arti Sebuah Ijazah
(True story)

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

Medio Oktober 2026

Kisahku
Rusdi membuka helmnya, lalu duduk di sebuah warung kecil di tepian kota Jakarta.

Jaket hijau berlogo ojek daring masih melekat di tubuhnya.

Siang begitu terik.
Sepiring nasi dan telur balado terasa istimewa karena sejak pagi perutnya belum terisi.

Ia makan terburu-buru sambil melirik ponsel.
Baru dua penumpang diantarnya hari itu. Penghasilannya belum dicairkan, sementara uang tunai di sakunya hampir habis.

Rusdi berasal dari Surabaya. Ia meraih gelar sarjana, kemudian menyelesaikan pendidikan S2 di universitas yang sama di Jakarta.

Orang tuanya bangga.

Foto wisudanya dipajang di ruang tamu, diperlihatkan kepada setiap saudara yang datang.
Namun, perjalanan kerjanya tersendat.

Perusahaan pertama mengurangi karyawan. Kontrak berikutnya tidak diperpanjang. Usaha tempatnya terakhir bekerja tutup setelah kehilangan pelanggan besar.

Menjelang usia tiga puluh, masih sendiri, Rusdi memilih mengemudikan ojek untuk membayar kamar kos dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kadang, ketika membuka map ijazah, ia terdiam lama.

“Apa arti semua ini?”
gumamnya.

Rusdi terkejut ada sapaan

“Bang, boleh minta tolong?”

Rusdi mengangkat kepala. Seorang gadis berdiri dekat mejanya, membawa tas yang jahitannya mulai lepas.

“Saya mau ke kampus. Bisa diantar tanpa aplikasi?
Saya belum punya uang.

Kalau tidak bisa, tidak apa-apa.”

Namanya Maria. Wajahnya pucat, tetapi ia berusaha tersenyum.

“Sudah makan?” tanya Rusdi.

Maria menggeleng.
“Kalau Abang tidak keberatan, saya minta sisa nasinya saja.”

Rusdi meletakkan sendok.

Dadanya terasa sesak. Selama hidupnya susah, ia masih bisa membeli makanan. Gadis ini bahkan meminta nasi yang sudah disentuh orang lain.

Ibu Murni, pemilik warung, mendengar percakapan mereka.
“Tambah nasi gratis, Nak.

Sayurnya juga masih ada.”

Rusdi meraba sakunya, menghitung uang yang semula disisihkan untuk membeli bensin.
“Tambah satu telur balado, Bu.”

Maria hendak menolak, tetapi Ibu Murni sudah menyiapkan piring bersih.

Gadis itu makan perlahan, lalu semakin lahap.

Rusdi mengalihkan pandangan supaya Maria tidak merasa diperhatikan.
Setelah makan, Rusdi menyerahkan helm cadangannya.

“Ayo. Kampusmu masih jauh.”
“Tapi ongkosnya, Bang?”
“Sekarang kamu masuk kuliah dulu.”

Di perjalanan, Maria bercerita bahwa ia mahasiswa tingkat akhir jurusan ekonomi. Ibunya menerima cucian, sedangkan ayahnya telah meninggal.

Minggu itu ibunya sakit. Uang yang biasanya dipakai untuk makan dan perjalanan habis membeli obat.

Rusdi mendengarkan sambil menjaga motornya di antara kendaraan.

Di gerbang kampus, Maria turun dan menunduk.

“Saya akan menggantinya.”

“Kalau nanti sudah bisa, bantu orang lain,” jawab Rusdi.

Maria meminta nomor teleponnya.

Malamnya, sebuah pesan masuk.
“Terima kasih, Bang. Hari ini saya bisa bertemu dosen pembimbing.”

Sejak itu mereka sesekali bertukar kabar.

Maria mengabarkan perkembangan skripsinya.

Rusdi menceritakan kemacetan, penumpang, dan lamaran kerja yang belum berbalas.

Suatu malam, Maria bertanya tentang pendidikannya.
“Abang sudah S2?”
“Iya. Tapi sekarang ijazah saya tidur di lemari.”

“Ilmunya masih bangun, kan?”

Rusdi tersenyum membaca pesan itu.

Ketika Maria kesulitan menyusun analisis keuangan untuk skripsinya, Rusdi membantu menjelaskan.

Mereka belajar di warung Ibu Murni setelah jam ramai berlalu. Kertas, kalkulator, dan dua gelas teh memenuhi sudut meja.

“Wah, warung saya jadi kampus,” canda Ibu Murni.

Suatu sore, ibu itu mengeluhkan uang belanja yang selalu kurang meskipun dagangannya laris.

Rusdi menawarkan bantuan pencatatan. Maria mendata pembelian bahan, sementara Rusdi membuat perhitungan sederhana.
Mereka menemukan beberapa pelanggan belum membayar utang dan terlalu banyak bahan terbuang.

Sebulan kemudian, Ibu Murni mulai bisa menyisihkan uang tanpa mengurangi porsi makan pelanggannya.
Rusdi pulang membawa perasaan yang sudah lama hilang: ia masih mampu mengerjakan sesuatu dengan baik.

Beberapa bulan kemudian, Maria lulus sebagai sarjana ekonomi.

Rusdi hadir dengan kemeja putih yang disetrikanya sendiri.

Ibu Murni membawa sebungkus telur balado.
“Biar tidak lupa makanan waktu pertama bertemu,” katanya.

Maria tertawa, lalu memeluk ibunya.

Saat foto bersama, ia meminta Rusdi ikut berdiri di samping mereka.
Tidak lama setelah wisuda, Maria mendapat pekerjaan administrasi di perusahaan distribusi.

Ia melihat pengumuman lowongan staf perencanaan operasional dan mengirimkannya kepada Rusdi.

“Coba, Bang. Persyaratannya cocok.”
Rusdi ragu. Penolakan sebelumnya masih membekas. Namun, ia memperbarui riwayat hidup dan mengirim lamaran.

Saat wawancara, ia tidak menyembunyikan pekerjaannya sebagai pengemudi ojek.
“Saya belajar membaca rute, mengatur waktu, dan menghadapi bermacam pelanggan,” katanya.

Ia juga menjelaskan pencatatan warung Ibu Murni, lengkap dengan contoh yang sudah mendapat izin pemiliknya.
Perusahaan itu memberinya tugas menghitung kebutuhan pengiriman.

Rusdi mengerjakannya teliti. Dua minggu kemudian, ia diterima.

Ia tetap menyimpan jaket hijaunya. Sesekali ia mengambil penumpang pada akhir pekan untuk menambah tabungan.

Gaji pertamanya ia kirimkan sebagian kepada orang tua dan gunakan sebagian untuk membeli bahan makanan bagi ibu Maria.

Hubungan mereka tumbuh perlahan.

Mereka pernah berselisih tentang uang, pernah saling menunggu ketika pekerjaan menumpuk, lalu belajar berbicara tanpa meninggikan suara.

Rusdi akhirnya melamar Maria di rumah ibunya.

“Saya belum punya rumah sendiri,” katanya.

“Kita bisa mulai dari rumah kontrakan,” jawab Maria.

“Asal sama-sama mau merawatnya.”

Mereka menikah sederhana.

Ibu Murni datang mengenakan kebaya terbaiknya. Orang tua Rusdi dari Surabaya membawa foto keluarga untuk dipasang di rumah baru mereka.

Tahun-tahun berlalu. Aryanto lahir, kemudian Susana.

Rumah kontrakan itu sering berantakan oleh mainan dan buku gambar.

Pengeluaran bertambah, tidur berkurang, tetapi mereka bergantian mengurus anak ketika salah satu harus bekerja.

Malam sebelum berangkat bekerja, Rusdi memeriksa bekal anak-anak dan menaruh sepatu mereka di dekat pintu.

Maria mencatat kebutuhan bulanan di buku.

Ada cicilan, uang sekolah, dan rencana pulang ke Surabaya.

Mereka belum mampu memenuhi semuanya sekaligus. Namun, setiap persoalan dibicarakan berdua.

Ketika Rusdi lelah, Maria mendengarkan.

Ketika Maria cemas, Rusdi mengingatkannya untuk beristirahat, lalu mengambil alih pekerjaan rumah yang tersisa.

Suatu sore, Aryanto menemukan map berisi ijazah ayahnya.

“Ini untuk apa, Yah?”

Rusdi duduk di sampingnya.

“Ini tanda Ayah pernah belajar dan menyelesaikan sekolah.”

“Kalau punya ini, pasti dapat pekerjaan?”

“Belum tentu. Ayah juga pernah lama mencari.
Tapi yang Ayah pelajari membantu waktu kesempatan datang.”

Maria mendengar dari dapur.

Ia tersenyum sambil menyiapkan bekal untuk kunjungan mereka ke warung Ibu Murni.

Di sana, seorang pemuda menghitung receh di depan piring nasi.

Rusdi mengenali kegelisahan itu.

Ia mendekat kepada Ibu Murni dan menitipkan uang untuk makan pemuda tersebut.
Dalam perjalanan pulang, Maria menggenggam tangannya. Aryanto dan Susana tertidur di kursi belakang mobil kecil mereka.

Rusdi teringat map di lemari, meja warung, dan helm cadangan yang pernah ia pinjamkan.

Ijazahnya tetap berharga. Namun, pada siang ketika ia mengantar Maria, tak seorang pun meminta melihatnya. Yang dibutuhkan gadis itu hanyalah sepiring makanan dan seseorang yang bersedia berhenti sebentar.

 

Adharta
Sahabat dalam Cita

Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS

Call Center
08119620888

www.kris.or.id I www.adharta.com

Kupersembahkan kisah ini buat para sahabat yang pernah bersama merasakan kesederhanaan hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *