I LOVE FRATERAN (4)
Menulis Catatan Sejarah
Oleh: Adharta
Alumni SMAK Frateran 1976
RICH Hotel Yogyakarta
7 September 2026
Sahabatku,
Saya rasa setiap individu, setiap insan manusia, pasti ingin meninggalkan jejak dan membuat sejarah dalam perjalanan hidupnya. Mungkin sejarah itu tidak selalu berupa peristiwa besar yang dicatat di dalam buku.
Sejarah dapat lahir melalui sebuah nama, kenangan, persahabatan, pengabdian, serta nilai-nilai kehidupan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pengukiran sejarah yang pertama dan paling utama adalah pemberian nama. Nama FRATERAN diberikan oleh para pendiri SMAK Frateran.
Nama itu tentu bukan sekadar tanda pengenal sebuah sekolah. Di dalamnya terdapat cita-cita, doa, semangat pelayanan, dan harapan agar setiap murid yang dididik di sana tumbuh menjadi manusia yang berilmu, beriman, berkarakter, dan berguna bagi sesama.
Saya masih teringat kepada almarhum Frater Adolfus, Kepala Sekolah SMAK Frateran yang pertama.
Dalam suatu kesempatan, ketika kami makan siang bersama almarhum Pastor Siswadi, Frater Adolfus pernah berkata kepada saya:
“Sebenarnya saya ingin mencatat sejarah. Bagaimana kelak nasib SMAK Frateran, entah sepuluh tahun, lima puluh tahun, atau seratus tahun yang akan datang.
Namun, sejarah ini tidak mungkin dicatat apabila para alumninya tidak ada atau tidak mau kembali melihat sekolahnya.”
Perkataan itu sangat sederhana, tetapi memiliki makna yang begitu dalam.
Hingga sekarang, kata-kata beliau masih tersimpan di dalam hati saya.
Sejarah sebuah sekolah ternyata tidak hanya berada di dalam gedung, ruang kelas, papan tulis, foto-foto lama, atau dokumen yang tersimpan rapi. Sejarah sebuah sekolah hidup di dalam diri para alumninya.
Kitalah yang membawa nama Frateran ke mana pun kita pergi. Melalui kehidupan, pekerjaan, keluarga, persahabatan, dan pelayanan kita di tengah masyarakat, nama Frateran terus berjalan melintasi zaman.
Kenangan bersama Frater Adolfus itu kembali terukir di dalam hati saya ketika berada di Kota Yogyakarta.
Dalam suasana pertemuan yang penuh keakraban, muncul sebuah pertanyaan:
“Apakah Bapak Ketua Alumni, Mintarsa, bersedia membuat PRASASTI 76 yang akan kita tandatangani dan diwakili oleh beberapa alumni?”
Tentu saja, sejarah harus dicatat.
Prasasti 76 bukan hanya sebuah benda atau kumpulan tanda tangan.
Prasasti itu dapat menjadi lambang bahwa para alumni angkatan 1976 pernah hadir, bertumbuh, berjuang, dan tetap mencintai almamaternya. Prasasti itu juga menjadi ungkapan terima kasih kepada para frater, pastor, guru, karyawan, serta pendiri sekolah yang telah menanamkan nilai-nilai kehidupan dalam diri kita.
Mungkin inilah yang dimaksud oleh Frater Adolfus: kita perlu mencatat apa yang dicita-citakan oleh almamater dan para pendiri SMAK Frateran.
Kita perlu meneruskan semangat mereka agar tidak hilang ditelan waktu.
Walaupun dahulu kita hanya bersekolah di SMAK Frateran selama tiga tahun, pengaruh pendidikan itu ternyata hidup jauh lebih lama. Kini, setelah lima puluh tahun, kita telah menempuh berbagai jalan kehidupan.
Ada yang menjadi pengusaha, profesional, pendidik, pelayan masyarakat, tokoh agama, kepala keluarga, ayah, ibu, kakek, dan nenek.
Masing-masing telah memperoleh pengalaman dan menghasilkan karya yang luar biasa.
Lebih indah lagi, nilai-nilai yang dahulu kita terima telah diteruskan kepada anak-anak dan cucu-cucu kita. Dengan demikian, sejarah Frateran tidak berhenti pada diri kita.
Sejarah itu terus mengalir kepada generasi berikutnya.
Saya kemudian teringat kepada orang tua kita. Ketika kita dilahirkan, orang tua memberikan nama kepada kita. Nama tersebut merupakan doa pertama yang mereka ucapkan bagi perjalanan hidup kita.
Di beberapa tempat memang terdapat tradisi memberikan nama yang terdengar sangat sederhana, bahkan dianggap kurang bagus, agar seorang anak terhindar dari malapetaka. Namun, sesederhana apa pun nama yang diberikan, di dalamnya tetap tersimpan doa terbaik dari orang tua.
Demikian pula nama Frateran. Nama itu adalah doa dan amanat dari para pendiri bagi kita semua.
Yogyakarta yang Selalu Baru
Perjalanan kali ini membawa kami kembali ke Yogyakarta, sebuah kota yang selalu menghadirkan cerita baru. Keramahan Yogyakarta telah kami rasakan sejak awal.
Para tour leader menyambut dan mendampingi kami dengan hangat. Mas Paijo memberikan penjelasan serta ilustrasi tentang Kota Yogyakarta dengan cara yang menarik dan luar biasa.
Yogyakarta adalah kota yang istimewa.
Kota ini mampu mempertemukan masa lalu dengan masa kini. Keraton Yogyakarta berdiri sebagai penjaga tradisi dan kebudayaan Jawa. Jalan Malioboro terus hidup dengan keramaian, pedagang, seniman, wisatawan, dan berbagai kenangan.
Tugu Yogyakarta menjadi lambang yang seakan menyambut siapa saja yang datang. Kotagede menyimpan jejak sejarah, kerajinan perak, dan bangunan-bangunan tua.
Candi Prambanan menghadirkan kebesaran peradaban masa lampau, sedangkan kawasan Kaliurang menawarkan kesejukan serta pemandangan Gunung Merapi yang penuh pesona.
Di bagian selatan, Yogyakarta memperlihatkan wajah alam yang berbeda. Hamparan pantai di Gunungkidul menghadirkan laut biru, bukit-bukit karang, serta angin yang membawa ketenangan. Hari ini kami mengunjungi beberapa tempat, termasuk kawasan On The Rock dan sejumlah destinasi di sekitarnya.
Kami juga menikmati makan siang di tepi pantai.
Duduk bersama para sahabat, mendengarkan suara ombak, dan memandang laut yang luas memberikan kebahagiaan tersendiri.
Hidangan yang kami nikmati mungkin akan segera habis, tetapi suasana kebersamaan akan tinggal lama di dalam ingatan. Di usia kita sekarang, perjalanan bukan lagi sekadar mengunjungi tempat wisata. Perjalanan adalah kesempatan untuk bertemu, bercanda, mengenang masa lalu, mensyukuri kehidupan, dan menguatkan kembali persaudaraan.
Saya juga teringat pengalaman berkunjung ke Yogyakarta pada bulan Desember lalu. Saat itu kota begitu penuh oleh wisatawan. Jalan-jalan mengalami kemacetan luar biasa. Perjalanan dari Hotel Marriott menuju stasiun kereta api, yang biasanya dapat ditempuh sekitar lima belas menit, ternyata tidak berhasil kami lewati meskipun sudah menghabiskan waktu sekitar dua setengah jam.
Akhirnya kami memutuskan turun dari kendaraan dan berjalan kaki sambil menyeret koper.
Saat itu tentu terasa melelahkan dan menegangkan karena kami khawatir tertinggal kereta. Namun, sekarang pengalaman tersebut justru menjadi cerita yang menarik dan mengundang senyum.
Begitulah sebuah perjalanan: kesulitan hari ini sering kali berubah menjadi kenangan indah pada kemudian hari.
Yogyakarta selalu baru, meskipun kita telah berkali-kali mengunjunginya. Setiap kedatangan membawa pengalaman, suasana, dan perjumpaan yang berbeda. Yogyakarta dapat menjadi kota pendidikan, kota budaya, kota perjuangan, kota wisata, sekaligus kota kenangan.
Di kota ini, kita bukan hanya melihat tempat-tempat baru.
Kita juga melihat kembali perjalanan hidup kita sendiri.
Kita menyadari bahwa waktu telah membawa kita begitu jauh dari masa-masa mengenakan seragam sekolah. Namun, di balik segala perubahan, masih ada sesuatu yang tidak berubah: persahabatan, rasa syukur, dan kecintaan kepada Frateran.
Hari ini,
di Yogyakarta, kita kembali menulis catatan sejarah.
Kita mungkin tidak mengetahui bagaimana keadaan SMAK Frateran sepuluh, lima puluh, atau seratus tahun mendatang. Namun, setidaknya kita telah melakukan bagian kita.
Kita kembali berkumpul, mengenang para pendahulu, menghormati almamater, dan meninggalkan sebuah tanda bagi generasi selanjutnya.
Semoga PRASASTI 76 kelak menjadi saksi bahwa alumni SMAK Frateran angkatan 1976 pernah berjalan bersama dalam kasih persaudaraan.
Semoga anak-anak dan cucu-cucu kita memahami bahwa kehidupan yang baik tidak hanya diukur dari keberhasilan pribadi, tetapi juga dari kesediaan untuk mengingat asal-usul, menghargai jasa para pendahulu, dan memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi masa depan.
Terima kasih, Yogyakarta, atas keramahan, keindahan, dan kenangan yang kembali engkau berikan.
Terima kasih, para sahabat alumni 1976, atas persaudaraan yang tetap hidup melampaui waktu.
Terima kasih, para pendiri, frater, pastor, guru, dan semua pihak yang telah membesarkan SMAK Frateran.
Kita pernah bersekolah bersama selama tiga tahun, tetapi kita membawa nama Frateran sepanjang kehidupan.
I LOVE FRATERAN.
Sekali Frateran, tetap Frateran.
Bersama kita mengenang, bersama kita berkarya, dan bersama kita mencatat sejarah.
Adharta
Sahabat dalam Cita
Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS
Call Center
08119620888
www.kris.or.id I www.adharta.com
Alumni SMAK Frateran 1976
Bersambung…….
