I LOVE FRATERAN (3)

Oleh: Adharta
Alumni SMAK Frateran 1976

Seperti lagu
I cant stop Loving you
Yang dilantunkan oleh ketua Alumni SMAK Frateran 1976
Bapak Mintarsa Widjaja
Luar biasa merdunya

Sahabatku

Yogya di Waktu Senja

6 September 2026

Mengukir Sejarah Baru di Kota Bersejarah

Kereta Api Sancaka membawa kami, para alumni SMAK Frateran Surabaya angkatan 1976, menuju Yogyakarta.

Kereta melaju menembus pagi, melewati hamparan sawah, kota-kota kecil, dan pemandangan yang seolah ikut menyambut perjalanan istimewa kami.
Ini bukan perjalanan biasa.

Ini adalah perjalanan pulang menuju kenangan
perjalanan merayakan 50 tahun persaudaraan dalam sebuah Reuni Emas.

Lima puluh tahun!
Setengah abad telah berlalu sejak kami meninggalkan bangku SMAK Frateran.

Dahulu kami berangkat ke sekolah membawa buku pelajaran, mengenakan seragam, dan menyimpan begitu banyak cita-cita.

Kini kami datang membawa cerita kehidupan tentang keluarga, pekerjaan,
keberhasilan, perjuangan, kesehatan, anak, cucu, dan rambut yang sebagian sudah berubah warna
bahkan ada yang sudah tidak perlu disisir lagi! Alias botak

Namun, ketika kami bertemu, usia seperti mundur 50 tahun.
Wajah boleh berubah, langkah mungkin tidak lagi secepat dahulu, tetapi tawa kami tetap sama.

Candaan lama kembali terdengar. Nama-nama julukan semasa sekolah kembali dipanggil.
Aku di panggil OPA
Ada OMA
Cece Meme
Koko
Ai Kude tante
Bunda Papi
Laota dll

Kenakalan masa muda yang selama puluhan tahun tersimpan rapi, tiba-tiba dibongkar satu per satu.

Dunia media sosial pun dibuat heboh.
Bayangkan, sekitar 120 orang dari satu angkatan hadir bersama suami atau istri. Untung anak dan cucu tidak ikut dibawa semuanya. Kalau mereka ikut, mungkin ballroom terbesar di Yogyakarta pun belum tentu cukup!

Lebih hampir seratus orang berkumpul bukan sekadar untuk berfoto, makan bersama, lalu pulang.

Kami datang untuk merayakan persahabatan yang telah diuji oleh waktu.

Sebuah persahabatan yang mungkin sempat dipisahkan oleh kota, negara, kesibukan, dan jalan kehidupan, tetapi tidak pernah benar-benar hilang.

Pada pagi hari menjelang keberangkatan, saya sempat menghubungi sahabat saya, Pak Bobby, untuk membantu memastikan perjalanan rombongan kami berjalan dengan baik.

Beliau meminta jajaran terkait di Stasiun Gubeng dan Stasiun Tugu Yogyakarta untuk membantu.
Syukurlah, semuanya berlangsung lancar, aman, dan menyenangkan.
Di dalam kereta, gerbong seolah berubah menjadi ruang reuni berjalan.

Ada yang bercerita, ada yang bercanda, ada yang sibuk berfoto, dan ada pula yang mulai menyanyi.

Rasanya perjalanan Surabaya
Yogyakarta menjadi sangat singkat karena hati kami penuh sukacita.
Lalu muncul sebuah pertanyaan

Mengapa Yogyakarta dipilih sebagai tempat Reuni Emas 50 Tahun SMAK Frateran 1976?

Ada tiga alasan utama.
Pertama: Yogyakarta adalah kota bersejarah
Yogyakarta adalah kota yang sarat sejarah.

Di kota inilah perjalanan bangsa, pendidikan, kebudayaan, dan perjuangan meninggalkan jejak yang tidak pernah terhapus.
Karena itulah, di kota bersejarah ini kami ingin mengukir sejarah baru
sejarah tentang persaudaraan alumni SMAK Frateran 1976 yang tetap hidup meskipun setengah abad telah berlalu.
Yogyakarta juga dikenal sebagai Kota Pelajar.

Julukan ini sangat dekat dengan perjalanan kami sebagai orang-orang yang pernah belajar, bertumbuh, dan ditempa dalam pendidikan Frateran.

Dahulu, kami belajar bukan hanya tentang angka, rumus, bahasa, dan ilmu pengetahuan. Kami juga belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, kesederhanaan, persaudaraan, dan kepedulian terhadap sesama.
Nilai-nilai itulah yang tetap kami bawa sampai hari ini.

Kehadiran sekitar 120 alumni beserta pasangan masing-masing sungguh merupakan sesuatu yang luar biasa.

Jarang ada satu angkatan sekolah yang, setelah 50 tahun, masih mampu menghadirkan begitu banyak sahabat dalam suasana yang demikian akrab.
Kalau bukan karrna pimpinan seorang Mintarsa
Dua jempol for you friend

Siapa tahu, Reuni Emas SMAK Frateran 1976 ini layak masuk Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai reuni satu angkatan terbesar sepanjang abad!
Nanti saya akan bicara dengan sahabat saya, Pak Jaya Suprana.
(MURI)
Mudah-mudahan beliau setuju.

Kalau belum memenuhi syarat, paling tidak kami sudah memecahkan rekor dalam urusan tertawa, bernyanyi, dan berfoto bersama!

Kedua Yogyakarta dekat dan nyaman dijangkau
Yogyakarta relatif dekat dari Surabaya dan nyaman ditempuh dengan kereta api.

Kami dapat duduk santai, menikmati pemandangan, mengobrol, bercanda, dan bernostalgia sepanjang perjalanan.

Tidak perlu terburu-buru. Tidak perlu pusing memikirkan kemacetan.

Yang terpenting, kami memiliki lebih banyak waktu untuk bersama.

Bagi kami, perjalanan bukan sekadar berpindah dari Surabaya menuju Yogyakarta.

Perjalanan itu sendiri sudah menjadi bagian dari reuni.
Apalagi ketika acara dilanjutkan dengan perjalanan menggunakan bus pariwisata.

Bus yang seharusnya hanya menjadi alat transportasi berubah menjadi panggung hiburan berjalan.

Mikrofon berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya.
Lagu-lagu lama kembali dinyanyikan.

Ada yang suaranya masih merdu seperti 50 tahun lalu. Ada pula yang suaranya sudah berubah, tetapi rasa percaya dirinya justru semakin tinggi!
Ada yang menyanyikan lagu cinta, lagu kenangan, lagu perjuangan, hingga lagu yang liriknya sudah tidak diingat sepenuhnya.

Kalau lupa lirik, teman-teman segera membantu.
Kalau nadanya meleset, semua tetap bertepuk tangan.
Tidak ada juri. Tidak ada eliminasi.

Semua menjadi bintang.
Karaoke sepanjang perjalanan di dalam bus melahirkan suasana yang begitu hangat.

Kami bernyanyi, tertawa, saling menggoda, dan menikmati kebersamaan tanpa beban.

Pada saat itulah kami menyadari bahwa kebahagiaan sesungguhnya sering hadir melalui hal-hal sederhana
duduk bersama sahabat lama, menyanyikan lagu kenangan, lalu menertawakan diri sendiri.

Ketiga Yogyakarta selalu menawarkan cerita baru
Yogyakarta memiliki pesona yang berbeda. Walaupun sudah beberapa kali berkunjung, kota ini selalu mempunyai tempat baru, suasana baru, dan cerita baru untuk ditemukan.
Tidak seperti beberapa destinasi wisata yang mungkin sudah berulang kali dikunjungi dengan pengalaman yang hampir sama, Yogyakarta terus berkembang. Ada wisata budaya, sejarah, kuliner, alam, hingga berbagai tempat romantis yang menyimpan kejutan.

Perjalanan kami menuju kawasan Gunungkidul menjadi salah satu bagian paling menarik.
Jalan yang berkelok-kelok, perbukitan batu kapur, hamparan pepohonan, serta udara yang berbeda dari suasana kota membuat perjalanan terasa istimewa.

Dari balik jendela bus, kami memandang alam sambil terus bernyanyi.
Gunungkidul mengajarkan bahwa perjalanan indah kadang harus melewati jalan yang berliku.

Begitu pula perjalanan hidup kami selama 50 tahun.

Tidak semuanya lurus dan mudah.

Ada tanjakan, tikungan, bahkan jalan terjal yang harus kami hadapi.

Ada keberhasilan yang membanggakan, tetapi ada pula kehilangan dan kesulitan yang mendewasakan.

Namun akhirnya, kami sampai di tempat yang indah
bersama-sama.
Salah satu tujuan yang meninggalkan kesan mendalam adalah Pantai Indrayanti.

Laut biru membentang luas, pasir putih menyambut langkah kami, dan deretan bukit karang berdiri menjadi latar yang menawan.
Angin pantai menyapa wajah-wajah yang telah menyimpan perjalanan setengah abad.

Di sana, kami kembali menjadi anak muda.

Kami berfoto bersama, berjalan di tepi pantai, menikmati pemandangan, dan tertawa seolah waktu tidak pernah berlalu.

Mungkin langkah kami kini sedikit lebih berhati-hati. Mungkin kami tidak lagi berlari mengejar ombak seperti dahulu. Namun semangat dan sukacita kami tetap bergelora.

Ombak datang dan pergi, tetapi persahabatan kami tetap tinggal.

Kayak lagu kemesraan

Pantai Indrayanti menjadi saksi bahwa usia hanyalah angka. Selama hati masih mampu bersyukur, tertawa, dan mengasihi, jiwa akan tetap muda.

Selain menikmati Gunungkidul dan Pantai Indrayanti, kami juga merasakan suasana khas Yogyakarta
keramahan masyarakatnya, kulinernya, budayanya, serta senja yang selalu menghadirkan rasa romantis.

Yogya di waktu senja mempunyai keajaiban tersendiri.
Langit perlahan berubah warna. Matahari turun menuju cakrawala.

Lampu-lampu mulai menyala. Dalam suasana itu, kami mengenang mereka yang pernah berjalan bersama kami tetapi kini telah mendahului menghadap Tuhan.

Nama dan wajah mereka tetap hidup di dalam hati.

Reuni bukan hanya perayaan tentang siapa yang hadir. Reuni juga menjadi saat untuk mengenang sahabat-sahabat yang telah tiada, mendoakan mereka, dan mensyukuri setiap perjumpaan yang pernah kami miliki.

Lima puluh tahun bukanlah perjalanan yang singkat.
Waktu telah membawa kami menempuh jalan kehidupan masing-masing.

Namun kenangan semasa sekolah dan ikatan sebagai keluarga besar SMAK Frateran 1976 selalu menyatukan hati kami.

Di Yogyakarta, kami kembali bertemu untuk mengenang masa muda, mensyukuri perjalanan hari ini, dan menyongsong masa depan dengan penuh harapan.

Kami mungkin tidak tahu berapa panjang waktu yang masih diberikan Tuhan.

Karena itu, setiap perjumpaan harus dihargai. Setiap kesempatan untuk berkumpul harus dirayakan.

Jangan menunggu terlalu lama untuk mengatakan bahwa kita mengasihi dan merindukan sahabat-sahabat kita.

Reuni Emas ini bukan akhir perjalanan.
Ini adalah awal dari sejarah baru.

Sejarah tentang ratusan sahabat dan keluarga yang datang membawa kasih.

Sejarah tentang perjalanan dengan Kereta Api Sancaka.

Sejarah tentang karaoke di dalam bus, jalan-jalan berliku di Gunungkidul, keindahan Pantai Indrayanti, dan senja Yogyakarta yang menawan.

Kelak, ketika kami kembali ke rumah masing-masing, foto-foto perjalanan mungkin akan tersimpan di telepon genggam atau menghiasi media sosial. Namun sukacita, tawa, nyanyian, dan pelukan persahabatan akan tersimpan jauh lebih lama di dalam hati.

Terima kasih, Yogyakarta.
Di kota bersejarah ini, kami tidak hanya mengenang sejarah lama.

Kami telah mengukir sebuah sejarah baru
sejarah Reuni Emas 50 Tahun Alumni SMAK Frateran 1976.
Sebuah kenangan indah yang tidak mungkin dilupakan.

I Love Frateran.

I Love You All.

Adharta
Sahabat dalam Cita

Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS

Call Center
08119620888

www.kris.or.id I www.adharta.com

Bersambung……..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *