FLORES H +6
Perjuangan di Tengah Bencana
Pascagempa Bumi Magnitudo 7,7 di Flores

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

Enam hari telah berlalu sejak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores.

Namun bagi masyarakat yang berada di daerah terdampak, waktu seakan berjalan jauh lebih lambat. Di tengah rumah-rumah yang rusak, jalan yang sulit dilalui, keterbatasan fasilitas, serta kecemasan akan keselamatan keluarga, perjuangan untuk menyelamatkan dan melayani sesama terus berlangsung.
H+6 bukan berarti keadaan telah selesai.

Justru di hari-hari seperti inilah ketahanan fisik, mental, dan kemanusiaan benar-benar diuji.

Di tengah situasi tersebut, Bapak Alfons Surya, Bapak Rudy Wogo, dan Dr. Fanny bersama tim tenaga medis dari Jakarta yang berjumlah delapan orang bergerak untuk membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan.

Mereka datang bukan sekadar membawa obat-obatan dan perlengkapan medis.

Mereka membawa harapan bagi masyarakat yang sedang berada dalam ketidakpastian.
Salah satu perhatian besar adalah penanganan 33 ibu hamil di Rung.

Dalam kondisi normal, seorang ibu hamil membutuhkan pemeriksaan dan pemantauan kesehatan yang baik.

Dalam keadaan bencana, semuanya menjadi jauh lebih sulit.
Keterbatasan tempat pemeriksaan, peralatan, obat-obatan, air bersih, listrik, komunikasi, hingga transportasi menjadi tantangan tersendiri.

Di sisi lain, kondisi psikologis para ibu juga harus diperhatikan. Gempa dan guncangan susulan dapat menimbulkan ketakutan dan kecemasan, terutama bagi mereka yang semakin dekat dengan waktu persalinan.

Di sinilah tenaga medis bukan hanya dituntut memiliki kemampuan profesional, tetapi juga kesabaran, ketenangan, keberanian, dan hati untuk melayani.
Perjuangan kemudian berlanjut menuju Mbay, tempat korban yang membutuhkan pertolongan juga cukup banyak.

Perjalanan dari Bajawa menuju Mbay menjadi bagian yang tidak mudah dari misi kemanusiaan ini.

Flores memiliki medan pegunungan dengan jalan yang berkelok-kelok, tanjakan dan turunan panjang serta sejumlah jalur yang dalam situasi pascabencana membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi.
Setiap kilometer harus ditempuh dengan penuh kehati-hatian.
Perjalanan yang dalam keadaan biasa saja dapat melelahkan menjadi semakin berat ketika dilakukan dalam situasi bencana.

Tim membawa perlengkapan medis dan kebutuhan pelayanan, sementara mereka sendiri harus menjaga kondisi fisik agar tetap mampu bekerja ketika tiba di lokasi.

Debu, jalan yang terganggu, perjalanan panjang, keterbatasan komunikasi di beberapa tempat serta kekhawatiran akan kondisi jalan menjadi bagian dari perjuangan.
Namun perjalanan harus diteruskan.
Sebab di ujung perjalanan itu ada orang yang menunggu pertolongan.

Sesampainya di lokasi, tantangan belum berakhir. Banyak korban harus diperiksa dan ditangani dengan sumber daya yang terbatas. Tenaga medis harus menentukan prioritas: siapa yang membutuhkan pertolongan segera, siapa yang harus terus dipantau, siapa yang memerlukan obat, serta siapa yang perlu mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Dalam keadaan seperti ini, kelelahan sering kali harus dikesampingkan.
Bapak Alfons Surya dan Bapak Rudy Wogo bersama dr. Fanny dan seluruh tim menjadi bagian dari mata rantai kemanusiaan tersebut.

Ada yang mengatur perjalanan dan koordinasi, ada yang memastikan bantuan sampai kepada masyarakat, dan ada tenaga kesehatan yang bekerja langsung menangani para korban.

Mereka mungkin memiliki tugas yang berbeda, tetapi mempunyai satu tujuan yang sama:
menolong sesama manusia.

Bencana selalu meninggalkan cerita tentang kehilangan dan penderitaan. Namun bencana juga memperlihatkan sisi lain manusia
tentang keberanian, solidaritas, pengorbanan, dan kesediaan hadir bagi orang lain.
Di Flores, perjuangan itu terlihat nyata.
Ketika jalan sulit, mereka tetap berjalan.
Ketika tubuh lelah, pelayanan tetap dilanjutkan.
Ketika fasilitas terbatas, mereka berusaha menggunakan apa yang tersedia.

Ketika masyarakat diliputi kecemasan, mereka berusaha menghadirkan ketenangan dan harapan.

Bagi kami di KRIS, kisah ini mengingatkan bahwa kemanusiaan tidak mengenal jarak. Jakarta mungkin jauh dari Flores, Bajawa mungkin harus ditempuh melalui perjalanan berat menuju Mbay, tetapi ketika saudara-saudara kita membutuhkan pertolongan, jarak tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti peduli.
Hari keenam ini menjadi saksi bahwa perjuangan belum selesai.

Masih ada korban yang harus ditolong.
Masih ada ibu-ibu hamil yang perlu dijaga kesehatannya.
Masih ada masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan, makanan, tempat berlindung, serta dukungan moral.

Kepada Bapak Alfons Surya, Bapak Rudy Wogo,
Dr. Fanny, dan delapan tenaga medis dari Jakarta, terima kasih atas keberanian, pengabdian, dan ketulusan dalam menjalankan tugas kemanusiaan di Flores.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan perlindungan dan kekuatan kepada seluruh tim, para relawan, tenaga kesehatan, serta masyarakat Flores.

Dan kepada saudara-saudara kita yang sedang berjuang bangkit dari bencana:
Flores, engkau tidak sendiri.
Di balik puing dan luka, masih ada tangan yang saling menggenggam.
Di tengah kesulitan, masih ada hati yang memilih untuk melayani.

Karena dalam setiap bencana, harapan harus tetap hidup.
Adharta
Ketua Umum KRIS

Bersambung……

Www.kris.or.id

Terimakl kasih kepada para Donatur
Atas segala bantuannya

Tuhan memberkati

Rekening
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *