SURYA DI MATALOKO
H+5 Pascagempa Flores, Nusa Tenggara Timur
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS
Mataloko, Bajawa
20 Agustus 2026
Lima hari telah berlalu sejak gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu subuh, 15 Agustus 2026, sekitar pukul 06.00 WITA.
Gempa susulan masih berlanjut walau dengan skala lebih kecil
Namun secara psikologis menakan warga yang penuh trauma ketakutan
Saat sebagian besar masyarakat masih terlelap, bumi tiba-tiba berguncang hebat.
Dalam hitungan detik, suasana pagi yang tenang berubah menjadi kepanikan.
Orang-orang berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
Tangisan anak-anak, teriakan meminta pertolongan, serta suara bangunan yang retak dan runtuh menyatu dalam sebuah pagi yang penuh ketakutan.
Gempa tersebut mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan menimbulkan kerusakan cukup parah.
Banyak rumah warga, fasilitas umum, rumah ibadah, jalan, serta sarana transportasi mengalami kerusakan.
Daerah Mbay dan Riung menjadi wilayah yang dilaporkan mengalami dampak paling berat.
Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Ngada juga merasakan guncangan yang sangat kuat.
Dampaknya bahkan meluas hingga Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Sikka, termasuk Kota Maumere.
Di tengah bencana itulah kisah ini dimulai.
Kabar Duka dari Flores
Bapak Rudy Wogo,
Ketua KRIS Ngada, saat itu sedang berada di Jakarta untuk menghadiri rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus.
Ia tiba di Jakarta pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Namun, pada Sabtu pagi sekitar pukul 06.00 WIB, kabar mengejutkan datang dari Flores.
Gempa besar telah terjadi di laut, tidak jauh dari Kota Mbay dan berdekatan dengan wilayah Riung.
Banyak rumah mengalami kerusakan. Warga membutuhkan bantuan dengan segera.
Kabar tersebut membuat hati Bapak Rudy Wogo tidak tenang. Pikirannya langsung tertuju kepada masyarakat di kampung halaman, terutama mereka yang kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal, dan sumber penghidupan.
Tanpa menunggu lama, pada Minggu pagi Bapak Rudy memutuskan untuk kembali ke Flores.
Beliau terbang dari Jakarta menuju Labuan Bajo.
Baginya, pulang bukan sekadar perjalanan kembali ke rumah. Ia membawa sebuah tanggung jawab kemanusiaan: hadir di tengah masyarakat yang sedang menderita.
Setibanya di Labuan Bajo, perjalanan menuju Bajawa ternyata tidak mudah.
Sejumlah jalan terputus dan tertutup longsor. Batu-batu berukuran sangat besar, yang oleh masyarakat setempat sering disebut
“batu gajah”, jatuh dari perbukitan dan menghalangi jalan.
Perjalanan menggunakan kendaraan roda empat hampir tidak mungkin dilakukan pada beberapa bagian jalan.
Namun, Bapak Rudy tidak menyerah.
Dengan keberanian dan semangat seperti seorang anak muda, beliau melanjutkan perjalanan menggunakan sepeda motor.
Jalan yang dilalui penuh risiko. Longsoran tanah, batu-batu besar, retakan jalan, dan ancaman gempa susulan harus dihadapi sepanjang perjalanan.
Selama kurang lebih dua belas jam perjalanan darat,
Bapak Rudy terus bergerak menuju Bajawa. Kelelahan tidak mampu mengalahkan keinginannya untuk segera bertemu masyarakat dan mengoordinasikan bantuan.
Di dalam hatinya hanya ada satu tekad: korban gempa tidak boleh merasa sendirian.
Bapak Rudy Wogo selain Ketua KRIS Ngada beliau juga Ketua DPRD Kabuaptrn Ngada Flores
Perjalanan Alfons Surya ( Masih ingat proyek 2 Surya berjuang selama masa Pandemi untuk membawa Vaksin Sinovac ke NTT)
Sehari setelah keberangkatan Bapak Rudy, Bapak Alfons Surya, Koordinator Relawan KRIS, juga bertolak menuju Labuan Bajo.
Beliau ingin segera bergabung dengan tim KRIS Ngada untuk membantu masyarakat terdampak bencana.
Namun, perjalanan Bapak Alfons juga menghadapi hambatan.
Informasi yang diterimanya menyebutkan bahwa menara pengawas Bandara Soa Bajawa mengalami kerusakan.
Landasan pacu bandara pun dilaporkan retak akibat kuatnya guncangan. Karena alasan keselamatan, penerbangan menuju Bajawa belum dapat dilakukan dan Bandara Soa masih ditutup.
Bapak Alfons Surya terpaksa menunggu selama dua hari di Labuan Bajo.
Beliau terus berharap akan ada pesawat yang dapat mendarat di Bandara Soa sehingga perjalanan menuju Bajawa menjadi lebih cepat.
Akan tetapi, harapan itu belum terwujud.
Bandara tetap ditutup.
Di tengah penantian tersebut, hati Bapak Alfons Surya terus tertuju kepada para korban. Setiap jam terasa begitu panjang karena beliau mengetahui bahwa di berbagai tempat ada keluarga yang membutuhkan air minum, makanan, obat-obatan, serta uluran tangan.
Meski akses transportasi terhambat, semangat kemanusiaan tidak boleh berhenti.
Nama “Surya” seakan menjadi lambang secercah cahaya yang tetap muncul di tengah awan gelap bencana.
Perjalanannya menuju Mataloko bukan hanya perjalanan fisik, melainkan perjalanan hati untuk membawa harapan kepada mereka yang sedang berduka.
KRIS Mulai Bergerak
Di bawah kepemimpinan Bapak Rudy Wogo,
Ketua KRIS Ngada, bersama Bapak Alfons Surya selaku Koordinator Relawan KRIS, tim mulai bergerak menyusun langkah-langkah pertolongan.
Prioritas utama adalah membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Banyak warga kehilangan persediaan makanan dan kesulitan mendapatkan air minum bersih.
Ada pula keluarga yang harus tinggal di tempat pengungsian karena rumah mereka rusak atau tidak lagi aman ditempati.
KRIS bergerak menghimpun dan menyalurkan bantuan berupa
Air mineral botol berukuran 600 mililiter;
Mi Sukses
telur ayam
makanan bayi
Susu
sayur-mayur;
Beras
serta berbagai kebutuhan pokok lainnya.
Bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Namun, bagi seorang ibu yang tidak memiliki makanan untuk bayinya, sebungkus makanan bayi merupakan anugerah.
Bagi anak-anak dan orang lanjut usia yang kehausan di tempat pengungsian, sebotol air mineral menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Sebungkus mi, sebutir telur, dan segenggam sayuran bukan sekadar bahan makanan. Semua itu merupakan tanda bahwa masih ada orang-orang yang peduli dan bersedia berjalan bersama mereka melewati masa sulit.
Tim KRIS lengkap dengan tim medis di bawah koordinasi
Dr. Fanny Istri Bapak Rudy Wogo yang juga seorang dokter spesialis Anak
Kami memahami bahwa menolong korban bencana tidak cukup hanya dengan mengirimkan barang.
Para korban juga membutuhkan kehadiran, sapaan, pelukan, dan seseorang yang bersedia mendengarkan cerita mereka.
Ada keluarga yang kehilangan rumah yang dibangun selama bertahun-tahun.
Ada anak-anak yang masih ketakutan setiap kali merasakan getaran kecil. Ada orang tua yang duduk memandangi puing-puing sambil mengenang kehidupan mereka sebelum gempa.
Di balik setiap bangunan yang runtuh, terdapat kisah manusia.
Di balik setiap air mata, ada kehilangan yang mungkin tidak dapat digantikan dengan apa pun.
Flores yang Penuh Air Mata
Hari kelima pascagempa belum menjadi akhir dari penderitaan. Gempa susulan masih menimbulkan kecemasan. Akses ke sejumlah daerah belum sepenuhnya pulih.
Jalan-jalan yang rusak dan tertutup longsor membuat penyaluran bantuan berlangsung lebih lambat.
Namun, di tengah segala kesulitan itu, semangat persaudaraan terus tumbuh.
Relawan, masyarakat, tokoh agama, petugas kesehatan, aparat, dan berbagai kelompok kemanusiaan bekerja sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang mengangkut bantuan, memasak di dapur umum, membersihkan puing-puing, merawat korban, dan menghibur anak-anak.
Ada pula yang berdoa dalam keheningan.
Mataloko menyaksikan bagaimana bencana dapat meruntuhkan bangunan, tetapi tidak mampu meruntuhkan kepedulian. Gempa dapat memutus jalan, tetapi tidak dapat memutus persaudaraan. Air mata boleh mengalir, tetapi harapan harus tetap menyala.
Perjalanan Bapak Rudy Wogo dan ibu Dr. Fanny SPA (Istri bapak Rudy Wogo)
Bapak Alfons Surya bersama tim para relawan dan tenaga Medis KRIS masih panjang.
Masih banyak wilayah yang harus dijangkau, bantuan yang harus disalurkan, serta saudara-saudara yang perlu dikuatkan.
Kisah dari Flores ini adalah kisah tentang luka dan kehilangan. Namun, kisah ini juga menjadi kesaksian tentang keberanian, pengorbanan, solidaritas, dan kasih kepada sesama.
Di tengah puing-puing dan tangisan,
Surya mulai terbit di Mataloko.
Cahayanya mungkin belum mampu menghapus seluruh kesedihan. Namun, cahaya itu cukup untuk menunjukkan bahwa jalan menuju kebangkitan masih ada.
KRIS akan terus bergerak.
KRIS akan terus hadir.
KRIS akan terus membawa kasih dan harapan bagi para korban gempa Flores.
Bersambung…
Www.kris.or.id
Terima kasih kepada para Donatur yang tidak kami sebut satu persatu
Tuhan memberksti
Rekening
BCA
6383648888
An
Perkumpulan KRIS
