Cerpen Nomor 0094
Batik air 6584
35.000 kaki dpal
Hidupku di Atas Awan
Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS
Langit selalu punya cara sendiri untuk memanggil seseorang. Kadang lewat mimpi, kadang lewat takdir yang tak pernah direncanakan. Begitulah hidup Iwan—atau yang sering dipanggil Isan oleh teman-teman dekatnya
seorang anak yang dulu takut ketinggian, namun kini justru menggantungkan hidupnya di atas awan.
Isan lahir di Surabaya tahun 1978.
Masa kecilnya biasa saja, penuh canda dan cerita keluarga. Namun ada satu hal yang selalu melekat dalam dirinya: ketakutan pada ketinggian.
Ia masih ingat betul ketika keluarganya pergi ke Gunung Bromo. Mobil yang terus menanjak membuatnya gemetar.
Ibunya harus memeluknya sepanjang perjalanan karena ia terus menangis ketakutan.
“Turun saja, Ma… Isan takut…”
katanya sambil memejamkan mata.
Tak ada yang menyangka, anak yang dulu takut melihat jurang itu, suatu hari akan terbang ribuan kaki di atasnya.
Saat kecil, cita-citanya sederhana. Ia ingin menjadi polisi. Baginya, polisi adalah pahlawan. “Biar bisa tangkap penjahat,” jawabnya polos setiap kali ditanya. Dunia terasa sederhana waktu itu—hitam dan putih.
Namun hidup mulai berubah ketika ayahnya kedatangan tamu dari Jerman, seorang dokter bernama Dr. Klafen Muhler. Sosok ini berbeda. Ia bukan hanya pintar, tapi juga penuh kepedulian. Ia rela datang ke pelosok Indonesia untuk mengobati pasien TBC, bahkan tanpa pamrih.
Isan yang saat itu sudah remaja diminta menemani sang dokter berkeliling Surabaya hingga ke Malang dan Tretes.
Dua hari perjalanan itu menjadi titik balik dalam hidupnya.
“Kalau kamu mau, kamu bisa sekolah dokter di Jerman.
Biayanya gratis,” kata Dr. Muhler suatu malam.
Mata Isan berbinar. Ia memang pernah belajar bahasa Jerman di Goethe Institute hingga level M1.
Tawaran itu terasa seperti pintu masa depan yang terbuka lebar.
Namun bukan hanya tawaran itu yang membekas. Yang paling dalam justru adalah jiwa sosial sang dokter.
“Kenapa Anda datang jauh-jauh ke Indonesia?” tanya Isan.
Dr. Muhler tersenyum. “Karena di sini, saya dibutuhkan.”
Kalimat itu sederhana, tapi menghantam hati Isan. Ia mulai membayangkan dirinya menjadi dokter, menolong banyak orang, seperti idolanya itu.
Namun takdir punya jalannya sendiri.
Suatu hari, Isan diminta mengantar pamannya,
Pak Djunaedi, ke bandara Soekarno Hatta
Pamannya adalah seorang pilot sekaligus dosen di sekolah penerbangan Curug.
Di bandara, terjadi hal kecil yang justru mengubah arah hidupnya.
Pak Djunaedi lupa membawa sebuah barang penting dari kampusnya di Curug.
“San, tolong bantu Paman. Antarkan ini ke kampus Curug, ya,” katanya.
Isan mengangguk. Ia tak tahu bahwa perjalanan sederhana itu akan menjadi awal dari segalanya.
Sesampainya di kampus Curug, ia disambut oleh seorang gadis administrasi bernama Teresa.
Senyumnya ramah, suaranya lembut.
“Kamu mahasiswa baru?” tanya Teresa.
Isan tertawa kecil. “Belum, Kak. Masih SMA. Cuma antar titipan.”
“Kalau begitu, mau lihat-lihat kampus?” tawarnya.
Ajakan itu seperti membuka dunia baru. Isan melihat pesawat-pesawat latihan, mendengar suara mesin yang meraung, dan merasakan aura yang berbeda.
Ada sesuatu yang bergetar di dalam dirinya—perasaan yang tak bisa dijelaskan.
Saat makan siang, mereka duduk di kantin, menikmati semangkuk bakso sederhana.
“Dunia penerbangan itu keras, tapi indah,” kata Teresa.
Isan terdiam. Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya.
Sejak hari itu, pikirannya berubah. Ia mulai tertarik pada dunia yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan.
Dunia yang dulu ia takuti.
Setelah lulus SMA, Isan mengambil keputusan besar: masuk sekolah penerbangan.
Hari-hari di Curug bukanlah hal mudah. Disiplin ketat, jadwal padat, dan tekanan mental menjadi makanan sehari-hari. Banyak teman yang menyerah di tengah jalan.
Pagi dimulai sebelum matahari terbit. Latihan fisik, teori navigasi, meteorologi, hingga simulasi penerbangan. Semuanya menuntut fokus dan ketahanan.
Isan yang dulu penakut, kini harus menghadapi ketinggian secara langsung. Pertama kali duduk di kokpit, tangannya gemetar.
Instruktur di sampingnya berkata, “Kalau kamu takut, kamu kalah sebelum terbang.”
Isan menarik napas panjang. Mesin dinyalakan. Pesawat mulai bergerak.
Saat roda pesawat terangkat dari landasan, jantungnya berdegup kencang.
Namun perlahan, ketakutan itu berubah menjadi kekaguman.
Dari atas sana, dunia terlihat berbeda. Kecil, tenang, dan indah.
“Ini… luar biasa,” bisiknya.
Sejak saat itu, ia jatuh cinta.
Meski begitu, perjalanan tidak selalu mulus. Ia pernah hampir gagal dalam ujian navigasi. Pernah dimarahi instruktur karena salah membaca instrumen.
Bahkan pernah mengalami pendaratan yang buruk hingga membuatnya kehilangan kepercayaan diri.
Namun setiap jatuh, ia bangkit.
“Di udara, tidak ada ruang untuk menyerah,”
kata Pak Djunaedi suatu hari.
Kalimat itu menjadi pegangan hidupnya.
Akhirnya, Isan lulus dengan predikat terbaik. Ia melanjutkan lisensi CPL di Manila tahun 2005.
Pengalaman di luar negeri membuka wawasannya lebih luas lagi.
Setelah itu, ia bergabung dengan maskapai nasional Indonesia. Ia pernah terbang untuk Garuda, juga Merpati. Langit menjadi rumah keduanya.
Sebagai pilot, ia menghadapi berbagai pengalaman.
Cuaca buruk adalah salah satu tantangan terbesar. Ia pernah terbang di tengah badai, dengan turbulensi hebat yang membuat pesawat berguncang.
Penumpang panik. Awak kabin tegang.
Namun di kokpit, Isan harus tetap tenang.
“Fokus pada instrumen. Jangan pada rasa takut,” katanya pada dirinya sendiri.
Ada juga momen-momen mengharukan. Seorang penumpang yang takut terbang pernah menghampirinya setelah mendarat.
“Terima kasih, Pak. Saya selamat karena Anda,” katanya sambil menangis.
Isan hanya tersenyum. Ia tahu, menjadi pilot bukan hanya soal menerbangkan pesawat, tapi juga menjaga kepercayaan.
Kini, di usianya yang matang, Isan hidup bahagia. Ia memiliki istri tercinta, Mirna, seorang dokter spesialis ortopedi di rumah sakit swasta. Mereka dikaruniai dua anak yang kini telah menyelesaikan kuliah.
Kadang, saat duduk santai di rumah, ia mengenang masa lalunya.
Anak kecil yang takut ketinggian. Remaja yang ingin jadi polisi. Pemuda yang hampir jadi dokter. Hingga akhirnya menjadi pilot.
Semua seperti potongan puzzle yang disusun oleh takdir.
Ia juga tak pernah lupa pada orang-orang yang membentuk hidupnya. Dr. Muhler dengan jiwa sosialnya. Teresa yang membuka pintu dunia baru. Pak Djunaedi yang menjadi mentor dan inspirasi.
Dan langit… yang selalu setia menerima dirinya.
“Kalau kita sudah di udara, maka dunia kita adalah di udara,” kata Pak Djunaedi dulu.
Kini Isan benar-benar memahami makna kalimat itu.
Di atas awan, ia menemukan dirinya. Bukan lagi anak yang takut, tapi seseorang yang berani menghadapi dunia.
Hidupnya mungkin tak berjalan sesuai rencana awal. Namun justru di situlah keindahannya.
Karena kadang, jalan terbaik adalah jalan yang tidak pernah kita rencanakan.
Dan bagi Isan, hidup di atas awan bukan sekadar pekerjaan.
Itu adalah panggilan.
www.kris.or.id I www.adharta.com
