Cerpen nomor 0087

96 Tahun
Antara berkat dan Cinta

Harjoko Trisnadi

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta, 22 Juni 2026

Kota
Jakarta selalu punya cara untuk mengingatkan manusia tentang waktu.

Gedung-gedung bertambah tinggi, jalanan makin riuh, dan sejarah seperti berdesakan di setiap sudutnya.

Di ulang tahun ke-499 kota ini, ketika orang-orang menatap angka 500 dengan rasa bangga sekaligus cemas, ingatan saya justru melayang pada seorang pribadi yang tidak pernah suka berdiri di depan sorotan.
Namanya Harjoko Trisnadi.
Yang juga berulang tahun ke 96 hari ini
Selamat Ulang Tahun Papi
Tulisan sederhana ini disediakan buat Ulang tahun ke 96 Bapak Harjoko Trisnadi
Semoga Tuhan selalu membimbing mendampingi dan melindungi dengan berkatNya khususnya berkat kesehatan

Bapak Harjoko
Bagi banyak orang, beliau mungkin hanya sebuah nama yang muncul dalam catatan sejarah pers.

Tapi bagi saya, ia adalah “Papi”
Orang tua dan sosok tua yang sederhana, tenang, dan penuh wibawa yang tidak dibuat-buat. Beliau bukan tipe orang yang berbicara keras, apalagi mencari perhatian. Namun setiap kata yang keluar darinya seperti memiliki berat yang tidak bisa diabaikan.

Usianya kini 96 tahun.
Tapi bila duduk berbincang dengannya, waktu terasa seperti mundur.

Beliau masih ingat detail peristiwa, nama-nama, bahkan suasana batin di masa-masa sulit yang membentuk perjalanan hidupnya.

Awal tahun 1970-an adalah masa yang tidak mudah bagi dunia pers Indonesia. Ketegangan politik, tarik-menarik kepentingan, dan batas kebebasan yang samar membuat banyak wartawan berjalan di garis tipis antara keberanian dan risiko.

Di tengah situasi itu, lahirlah sebuah gagasan. Gagasan yang tidak hanya ingin membuat media, tetapi juga menjaga martabat berpikir.

Dari perpecahan, dari pemecatan, dari ketidakpastian
justru muncul tekad untuk membangun sesuatu yang baru.

Majalah itu kemudian dikenal dengan nama Tempo.

Di balik nama besar yang sering disebut orang
para pemimpin redaksi, para penulis tajam
ada sosok-sosok yang bekerja diam-diam. Mereka tidak menulis headline, tetapi memastikan semuanya bisa berjalan. Mereka tidak tampil di halaman depan, tetapi menjaga agar halaman-halaman itu tetap terbit.
Dia
Harjoko Trisnadi adalah salah satunya.

Bersama beberapa orang kepercayaan Yayasan Jaya Raya, beliau ikut mengelola sisi yang jarang dilihat orang: bisnis, keberlangsungan, dan stabilitas. Di saat banyak orang terbakar semangat idealisme, beliau menjaga agar api itu tidak padam karena hal-hal praktis.

“Media yang baik bukan hanya soal tulisan,” katanya suatu kali.
“Tapi juga soal bertahan.”

Kalimat itu sederhana, tapi mengandung pengalaman panjang.

Saya masih ingat pertama kali duduk cukup lama bersamanya. Tidak ada kesan beliau ingin menggurui. Beliau lebih banyak bertanya daripada bercerita. Tentang keluarga, tentang pekerjaan, bahkan tentang hal-hal kecil yang sering dianggap tidak penting.
Namun ketika pembicaraan mulai menyentuh masa lalu, nadanya berubah.
Bukan menjadi dramatis, tetapi lebih dalam.
Beliau bercerita tentang masa ketika Tempo harus menghadapi pembredelan.

Tentang rasa tidak pasti. Tentang keputusan
keputusan yang harus diambil tanpa jaminan apa pun.
“Tahun-tahun itu,”
katanya pelan, “mengajarkan satu hal
jangan pernah bergantung pada keadaan yang nyaman.”
Kenangan bersama saat makan siang di Oh my Pork pluit
Disana ada sahabat KRIS
Bersama pemilik restoran bapak Rudy Jaya Lie

Bapak Harjoko Trisnadi
Beliau tidak mengeluh.
Tidak pula menyalahkan siapa pun. Seolah semua itu memang bagian dari perjalanan yang harus dilalui.
Padahal, bagi banyak orang, dua kali pembredelan bukan hal kecil.

Tahun 1982 dan 1994 menjadi catatan pahit bagi kebebasan pers.
Tapi dari sudut pandangnya, itu bukan akhir. Hanya jeda.

Dan dari jeda itulah, kekuatan diuji.
Yang membuat saya kagum bukan hanya ketahanannya menghadapi masa sulit. Tetapi cara beliau menjalani masa-masa baik.
Ketika Tempo kembali berdiri, berkembang, dan menjadi salah satu media paling berpengaruh di Indonesia, beliau tetap sama.
Tidak berubah menjadi lebih keras, tidak pula lebih tinggi hati.
Low profile, orang bilang.
Tapi bagi saya, itu lebih dari sekadar sifat. Itu adalah pilihan hidup.

Beliau tidak merasa perlu mengklaim peran.
Tidak merasa perlu disebut. Bahkan ketika penghargaan Seumur Hidup diberikan kepadanya pada tahun 2018, beliau menerimanya dengan cara yang hampir terasa biasa saja.

“Ini bukan untuk saya,” katanya waktu itu.

“Ini untuk perjalanan panjang yang kita jalani bersama.”

Kalimat itu kembali menunjukkan siapa dirinya.

Beliau
Selalu melihat “kita”, bukan “saya”.
Luar biasa sekali

Di usianya yang ke-96, banyak orang mungkin memilih untuk beristirahat total.

Tapi tidak dengan Papi. Beliau mungkin tidak lagi aktif seperti dulu, tetapi pikirannya tetap hidup.

Beliau masih mengikuti perkembangan, masih peduli pada arah bangsa, dan masih menyimpan harapan.

Suatu sore, kami berbicara tentang Jakarta. Tentang perubahan yang begitu cepat. Tentang generasi baru yang tumbuh di tengah dunia yang sangat berbeda.
“Jakarta akan mencapai 500 tahun,” saya berkata.
Ia tersenyum kecil.
“Yang penting bukan umurnya,” jawabnya.
“Tapi apakah kota ini masih punya jiwa.”

Saya terdiam.
Kalimat itu sederhana, tapi seperti menampar pelan.
Kita sering merayakan angka, tetapi lupa makna.
Dan dari seorang yang telah melewati hampir satu abad kehidupan, kata-kata itu terasa lebih jujur.

Bagi saya pribadi, Papi Harjoko Trisnadi bukan hanya bagian dari sejarah pers. Beliau adalah pelajaran tentang bagaimana menjalani hidup dengan tenang tanpa kehilangan arah.
Beliau menunjukkan bahwa tidak semua kontribusi harus terlihat.
Tidak semua pengaruh harus terdengar keras. Ada kekuatan dalam ketenangan, ada wibawa dalam kesederhanaan.
Dan mungkin, di dunia yang semakin bising ini, kualitas seperti itu justru semakin langka.

Masih teringat selama masa pandemi Papi Harjoko selalu memberi nasihat kepada saya
Memberikan dukungan semangat
Dengan kata kata ungkapan nama saya
Sunguh menjadikan kekuatan besar buat kami anak anak berjuang melawan COVID-19 bersama KRIS atau dulu dikenal dengan Killcovid-19

Hari ini, ketika Jakarta merayakan usianya yang ke-499, saya memilih untuk tidak hanya melihat ke depan.
Tetapi juga menoleh ke belakang, pada sosok-sosok yang diam-diam ikut membentuk perjalanan kota ini.
Beliau
Harjoko Trisnadi adalah salah satunya.
Seorang yang tidak banyak bicara, tetapi meninggalkan jejak yang panjang. Seorang yang tidak mengejar sorotan, tetapi justru menjadi cahaya bagi banyak orang.

Bapak Harjoko Trisnadi
Di usianya yang ke-96, beliau tidak hanya menjadi saksi zaman.
Beliau adalah bagian dari zaman itu sendiri.
Dan bagi saya, Beliau tetap Papi saya yang dengan caranya sendiri, terus memberi berkat dalam CINTA

Adharta

www.kris.or.id I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *