Cerpen nomor 0089
🌊 “Samudera yang Tak Pernah Diam”
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS
Ketua Dewan Pengawas
PRAMARIN
Sebaga hadiah tulisan buat Ayunda Chandra Motik terkasih juga
Ungkapan Terima kasih dan selamat menjadi Ketua Umum PRAMARIN 2026-2030
Selamat bertugas
Jakarta
27 Juni 2026
Kisahku
Di sebuah rumah teduh di kawasan Menteng, Jakarta, lahirlah seorang bayi perempuan pada 18 Februari 1954. Ia diberi nama Nirmala Chandra Dewi Motik
sebuah nama yang kelak akan dikenal luas, bukan hanya sebagai seorang wanita, tetapi sebagai sosok yang menaklukkan samudera kehidupan.
Sejak kecil, Chandra Motik hidup dalam keluarga besar yang hangat. Ia adalah anak dari B.R. Motik,
seorang tokoh ekonomi dan nasionalis yang kuat memegang nilai-nilai kehidupan. Dari ayahnya,
Chandra Motik belajar arti disiplin. Dari ibunya, beliau belajar arti kasih.
Namun hidupnya bukan hanya tentang kenyamanan.
Di balik rumah besar dan nama keluarga yang terpandang, Chandra Motik kecil adalah anak yang gelisah beliau ingin lebih dari sekadar hidup “baik-baik saja.” beliau ingin berarti.
🌱 Masa Muda:
Mencari Jati Diri
Remaja
Chandra Motik tumbuh berbeda.
Beliau tidak suka membatasi dirinya. Ia bergaul dengan siapa saja, tanpa melihat status. Beliau belajar keras, menempuh pendidikan hingga Fakultas Hukum Universitas Indonesia
sebuah pilihan yang tidak mudah bagi perempuan di zamannya.
Langkahnya bahkan menyeberang benua ke London, Jerman, hingga Amerika Serikat.
Beliau mencari ilmu, tetapi sebenarnya beliau sedang mencari dirinya sendiri.
Di tengah dunia yang masih meragukan perempuan, beliau mulai membangun keyakinan:
“Aku harus berdiri…
bukan sebagai bayangan siapa pun.”
đź’Ť Cinta dan Kehidupan Baru
Tahun 1983 menjadi titik balik.
Chandra Motik menikah dengan Yusuf Djemat, seorang pria yang kelak menjadi sahabat hidupnya
bukan hanya dalam cinta, tetapi dalam perjuangan.
Dalam pernikahan itu, lahirlah tiga cahaya kecil:
Ashana, putri pertama
Yuda dan Yudi, putra kembar
Rumah mereka tidak hanya berisi tawa, tetapi juga harapan.
Chandra Motik, yang dulu mengejar dunia, kini belajar membagi dirinya
antara karier dan keluarga.
Dan di sanalah ujian sebenarnya dimulai.
⚖️ Perempuan di Dunia Keras
Dunia hukum
terutama hukum maritim
bukanlah tempat yang ramah bagi perempuan.
Namun Chandra Mitik tidak mundur.
Beliau mendirikan firma hukum sendiri pada tahun yang sama dengan pernikahannya.
Sebuah langkah berani, bahkan nekat.
Kasus demi kasus beliau tangani.
Gelombang demi gelombang bskiau hadapi.
Di ruang sidang, beliau tegas.
Di rumah, beliau lembut.
Tak jarang beliau pulang dalam lelah, namun tetap tersenyum di depan anak-anaknya.
Beliau tahu, dunia boleh keras… tapi rumah harus tetap hangat.
🌊 Titik Balik:
Makna Kehidupan
Seiring waktu, Chandra Motik mulai memahami sesuatu yang lebih dalam.
Kesuksesan bukan hanya tentang gelar, jabatan, atau nama besar.
Beliau melihat anak-anaknya tumbuh
menjadi pribadi yang berhasil di jalannya masing-masing.
Di situlah
Beliau merasa… menang.
Beliau menulis buku, berbagi ilmu, dan mengabdikan hidupnya pada hukum maritim
sebuah bidang yang jarang disentuh, tetapi sangat penting bagi negeri kepulauan seperti Indonesia. Tercinta
Orang-orang mulai menyebutnya: Srikandi hukum maritim Indonesia.
Namun bagi dirinya sendiri, beliau tetap seorang ibu.
Seorang istri.
Seorang anak.
🌅 Samudera yang Tenang
Kini, perjalanan panjang itu seperti samudera yang mulai tenang.
Namun bukan berarti berhenti.
Karena bagi Chandra Motik, hidup bukan tentang mencapai pelabuhan…
melainkan tentang terus berlayar.
“Aku telah melewati badai,
tapi aku tidak tenggelam.
Aku justru belajar… menjadi laut itu sendiri.”
PRAMARIN
Atau Praktisi Maritim Indonesia
Akan berlayar mengarungi samudra Maritim
Dan Chandra Motik kini menjadi Nakodanya
Samudra di sebrang menanti kebangkitan Maritim Indonesia
www.kris.or.id I www.adharta.com
