TANAH KELAHIRANKU
Cerpen No. 0081
Oleh: Adharta
Ketua Umum KRIS
Jakarta, 1 Juni 2026
Aku dilahirkan
1 Juni 1958
di sebuah tempat yang tidak semua orang mengenalnya. Namun bagi siapa pun yang pernah kesana dan menginjakkan kaki di sana, tempat itu akan tinggal selamanya dalam ingatannya tidak akan pernah bisa dilupakan.
Namanya
Pulau Alor.
Artinya permata
Sebuah surga kecil di timur Indonesia. Sebuah tanah yang bukan hanya indah dipandang mata, tetapi juga kaya akan kehidupan, budaya, dan rasa.
Banyak orang menyebutnya sebagai mutiara dari timur. Bahkan almarhum bapak Hasan Ashari Oramahi pernah menuliskannya dengan penuh kekaguman
“Mutiara dari Timur.”
Bukunya bisa di beli di toko Gramedia
Atau Tulisan Digital bisa minta sekretaris Rizka
Dan memang benar, Alor adalah penghasil mutiara terindah di Indonesia.
(Ada kolam Mutiara)
Aku berasal dari kota kecil yang menjadi jantung pulau itu
Kalabahi.
Pulau ini bukan sekadar tempat lahir bagiku. Alor adalah napas pertamaku.
Alor adalah kenangan pertama yang membentuk jiwaku.
Alor adalah cinta pertama yang tak akan pernah tergantikan oleh apa pun.
Welcome Speech dari Alam
Jika Anda memasuki mulut kumbang laut di Teluk Kalabahi, sebuah keajaiban akan menyambut Anda.
Bukan manusia, bukan bangunan megah, tetapi alam itu sendiri yang akan memberikan sambutan.
Ratusan atau bahkan ribuan ikan lumba-lumba Alor (bisa lihat di YouTube)
berenang bebas, melompat ke sana kemari, seolah menari dalam sukacita.
Mereka seperti penjaga gerbang alami yang menyambut setiap tamu yang datang dengan penuh kegembiraan.
Saya berani mengatakan
mungkin ini satu-satunya di dunia.
Di sisi kiri dan kanan, terbentang hutan lindung yang masih alami. Kehidupan liar berjalan tanpa gangguan. Kawanan rusa bintik putih, yang sering disebut kijang kencana, berlarian bebas di habitatnya.
Di lautnya, jika Anda beruntung, Anda bisa bertemu dengan dugong
yang oleh banyak orang disebut sebagai putri duyung.
Makhluk yang langka, tenang, dan penuh misteri.
Dan kadang, di kejauhan, paus melintas Cantik sekali
Mereka tidak sekadar muncul. Mereka seperti sedang bernyanyi.
Suara mereka mungkin tidak terdengar oleh telinga manusia, tetapi dapat dirasakan oleh hati anda
Ada getaran yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan oleh mereka yang benar-benar hadir dalam keheningan alam.
Misteri yang Membuat Kagum
Ada satu cerita yang selalu membuatku tersenyum sekaligus bangga ketika mengingatnya.
Kota Kalabahi memiliki sebuah landasan udara alami.
Panjangnya hampir lebih kurang 1.000 meter.
Yang membuatnya menarik bukan hanya bentuknya, tetapi kisah di baliknya.
Banyak orang percaya bahwa landasan ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu
bahkan sebelum Indonesia memiliki bandara modern.
Sebagian orang bahkan bercanda, mungkin ini dibangun oleh UFO.
Entah itu mitos atau sekadar cerita rakyat, yang jelas Alor selalu menyimpan keunikan yang sulit dijelaskan dengan logika biasa.
Saya pernah berbincang dengan seorang perancang bandara ternama di Indonesia. Dalam percakapan itu, saya bertanya mengapa lomba desain bandara pernah diselenggarakan di Kalabahi.
Jawabannya sederhana, namun dalam maknanya.
“Karena bandara paling unik itu ada di Alor.”
Kalimat itu tidak panjang, tetapi cukup untuk menjelaskan bahwa tanah kelahiranku memang istimewa.
Surga Rasa dari Timur
Bagi para ibu, para pecinta kuliner, atau siapa pun yang mencintai rasa, Alor adalah harta karun yang tersembunyi.
Kalabahi dikenal sebagai Kota Kenari.
Kenari dari Alor bukan hanya melimpah, tetapi juga memiliki kualitas yang luar biasa. Rasanya gurih, kaya, dan sangat khas.
Tidak hanya itu.
Pulau Alor juga menghasilkan kemiri berkualitas tinggi, vanili yang harum, serta kayu manis yang menjadi bagian dari banyak hidangan dunia.
Tanpa kita sadari, mungkin kita telah menikmati hasil bumi Alor dalam berbagai makanan yang kita santap sehari-hari.
Bayangkan, es krim vanila yang Anda nikmati—bisa jadi berasal dari tanah kelahiranku.
Buah buahannya pun tidak kalah istimewa.
Mangga yang manis, mangga kelapa yang segar, pisang dengan berbagai jenis, hingga jeruk matang yang memberikan kesegaran alami.
Semua tumbuh dengan subur, seolah tanah Alor sendiri ingin memberi yang terbaik bagi siapa saja yang tinggal di dalamnya.
Tradisi yang Manis
Di Alor, tradisi tidak hanya hidup dalam upacara adat atau cerita leluhur.
Tradisi juga hidup dalam rasa.
Kue-kue tradisional menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ada kue keranjang, kue bagia
yang berarti kebahagiaan
kue rambut, kue jongkong, hingga kue cucur.
Setiap gigitan bukan sekadar rasa manis.
Alor adalah cerita.
Cerita tentang keluarga.
Cerita tentang kebersamaan. Cerita tentang masa kecil yang sederhana, tetapi penuh kehangatan.
Saya sering berkata kepada siapa pun yang ingin mengenal Alor
Jika Anda ingin merasakan jutaan rasa dalam satu tempat, datanglah ke Alor.
Kini, aku berdiri jauh dari tanah kelahiran itu.
Di Jakarta, di tengah hiruk pikuk kehidupan modern.
Di antara gedung-gedung tinggi, jalanan padat, dan waktu yang terus berlari tanpa henti.
Namun setiap kali aku memejamkan mata, Alor selalu kembali.
Aku masih bisa melihat laut birunya.
Aku masih bisa merasakan angin pantainya.
Aku masih bisa mendengar nyanyian paus yang sunyi namun dalam.
Alor bukan hanya tempat aku dilahirkan.
Alor adalah bagian dari jiwaku.
Dan sampai kapan pun, akan tetap begitu.
Alor juga dikenal sebagai negeri sejuta moko
alat musik tradisional yang terbuat dari perunggu, yang bukan sekadar benda, tetapi simbol budaya dan identitas.
Hari ini, aku genap berusia 68 tahun.
Sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan cerita, perjuangan, dan berkat yang tak terhitung.
Hari ini juga bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila
sebuah momen yang mengingatkanku bahwa hidup ini bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi tentang kebersamaan, persatuan, dan pengabdian.
Siang hari, di Hachi Grill Sedayu, Kelapa Gading, kami berkumpul.
Teman-teman dari KRIS, sahabat
sahabat dari berbagai perjalanan hidup, serta rekan-rekan dari PT Aditya Aryaprawira hadir bersama. Kami tidak hanya merayakan ulang tahun, tetapi merayakan persahabatan.
Ada tawa, ada cerita, ada kenangan yang kembali hidup.
Kami juga berdiskusi singkat tentang masa depan
tentang program kerja KRIS.
Program
“4 Sehat 5 Sempurna”
menjadi salah satu fokus utama.
Sebuah gerakan yang dipelopori oleh
Prof. Yos E. Sutanto dari Primaya Hospital.
Program ini bukan sekadar slogan, tetapi sebuah komitmen untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Bapak Dwi Helly dipercaya sebagai ketua penyelenggara. Program ini akan didukung oleh berbagai institusi, termasuk Yayasan Tarumanagara, rumah sakit Primaya, Husada, Medistra, Mandaya Royal, dan beberapa rumah sakit besar lainnya.
Tidak hanya itu.
Kegiatan lain seperti turnamen golf akan dipimpin oleh Bapak AAN Suryadi.
Kegiatan bakti sosial akan digerakkan oleh Bapak Bobby Gabriel.
Dan di era digital ini, promosi KRIS melalui media sosial akan dipimpin oleh Bapak Fandy, didukung oleh seluruh cabang KRIS di seluruh Indonesia.
Semua bergerak dalam satu Hati
Satu Jiwa dan satu tujuan:
Indonesia Sehat
Mari kita
menolong sesama.
Aku bersyukur.
Sungguh bersyukur.
Tuhan begitu baik dalam hidupku.
Tuhan tidak hanya memberiku umur panjang, tetapi juga mengelilingiku dengan sahabat sahabat yang baik. Orang-orang yang memiliki hati yang sama hati yang ingin memberi, membantu, dan melayani.
Persahabatan ini bukan kebetulan.
Ini adalah anugerah.
Dan hari ini, di usia ke-68,
aku menyadari satu hal:
Hidup yang berarti bukan diukur dari seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa banyak yang kita berikan.
Semoga langkah kecil kita dapat menjadi harapan besar bagi mereka yang membutuhkan.
Semoga tangan kita dapat menjadi jawaban bagi doa orang lain.
Dan semoga kita semua senantiasa diberkati dilindungi dan di bimbing oleh Tuhan Yang Maha Kasih.
Terima kasih untuk kehidupan.
Terima kasih untuk persahabatan.
Terima kasih untuk tanah kelahiranku
Alor.
Tempat di mana semuanya bermula.
Dan tempat yang akan selalu menjadi rumah di dalam hatiku.
www.kris.or.id I www.adharta.com
