Dulu, sekitar 1983–1984, teman-teman sesama sales saya umumnya anak rantau. Kami datang ke Jakarta membawa pakaian secukupnya, alamat kenalan, dan keyakinan yang kadang lebih besar daripada isi dompet.

Menjelang akhir pekan, kami mulai berhitung. Berapa komisi yang akan cair, berapa utang makan, dan apakah sisanya cukup untuk membayar kos.

Kalau angkanya tidak ketemu, sebagian teman pergi ke kafe sekitar HI, Tanamur, atau kawasan IRTI di parkiran Monas. Mereka mengenakan pakaian terbaik dengan harapan ada emak atau tante yang mengajak minum. Kalau beruntung, pulang membawa uang jajan sedikitnya Rp15.000. Waktu itu, bagi mereka, jumlah tersebut sudah cukup untuk membayar kos.

Sementara saya memilih menjadi pemandu wisata pada akhir pekan. Saya mengantar turis berkeliling Jakarta. Uangnya lebih sedikit dan pekerjaannya lebih melelahkan, tetapi saya senang. Selain mendapat tambahan penghasilan, saya bisa memperlancar bahasa Inggris lewat percakapan langsung.

Tentu tidak setiap perjalanan membawa hasil seperti yang diharapkan. Kadang seharian menemani orang, menjelaskan tempat, membantu menawar barang, lalu pulang hanya membawa ucapan terima kasih. Mau menagih tip juga malu. Akhirnya saya menghibur diri: setidaknya hari itu sudah kursus bahasa Inggris tanpa membayar guru.

Sekarang jalan hidup teman-teman sales saya sudah berbeda-beda. Ada yang pulang ke kampung karena lelah berjuang di Jakarta. Ada pula yang berhasil membangun usaha. Khusus teman-teman dalam tim saya, semuanya kemudian menjadi pengusaha pabrikan. Bahkan salah seorang dikenal sebagai konglomerat.

Namun, kalau berkumpul, jabatan dan gelar itu cepat sekali kehilangan wibawanya.

“Ayo, siapa yang pernah jadi model majalah pria, berfoto pakai sempak doang?” seru seorang teman.

Meja langsung riuh oleh gelak tawa. Orang yang disindir menggeleng sambil menutup wajah.

“Kerja profesional itu. Jangan sembarangan!”

“Profesional sampai bajunya enggak kebagian?”

Tawa kembali pecah.

Belum selesai kami tertawa, seorang lagi mengangkat tangan.

“Ayo, siapa yang pernah membawa turis Jepang perempuan keliling seharian, pulangnya dapat angin doang?”

Kali ini beberapa pasang mata mengarah kepada saya.

“Jangan meremehkan,” jawab saya. “Saya dapat latihan bahasa Inggris.”

“Dia orang Jepang!”

“Ya, makanya kami sama-sama latihan.”

Mereka tertawa semakin keras. Saya ikut tertawa. Setelah puluhan tahun, rupanya kegagalan mendapat tip pun masih bisa ditagih sebagai bahan ejekan.

“Ayo, siapa yang pernah menemani emak-emak belanja ke Singapura? Berangkat gagah, pulangnya jadi tukang bawa tas belanjaan!”

Seseorang langsung menunjuk teman di ujung meja.

“Sekarang dia punya bagian logistik,” sahut yang lain. “Pengalamannya sudah dari muda.”

“Jangan salah. Itu pelatihan angkut barang lintas negara!”

Kami kembali tertawa sampai seorang pelayan mendekat, mengira ada yang memanggil.

Begitulah kalau kami berkumpul. Orang yang sekarang terbiasa memberi keputusan investasi pernah berdiri kebingungan di depan pemilik kos. Orang yang kini mempunyai ribuan pekerja pernah mencari pekerjaan tambahan tanpa banyak pilihan. Dan orang yang namanya disebut sebagai konglomerat masih bisa dibuat salah tingkah hanya dengan satu cerita lama.

Di sela tawa itu, saya kadang memperhatikan wajah mereka. Rambut sudah menipis atau memutih. Gerakan tidak lagi secepat dahulu. Ada yang harus menjaga makanan, ada yang sebentar-sebentar mengingatkan temannya minum obat.

Kami beruntung masih dapat duduk bersama dan menertawakan masa yang dahulu terasa berat.

Tetapi saya juga teringat teman-teman yang memilih pulang. Mereka tidak kalah hanya karena tidak menjadi pemilik pabrik. Ada yang menemukan ketenangan di kampung, membesarkan anak, merawat orang tua, dan menjalani kehidupan yang tidak pernah masuk berita. Waktu muda, kami sama-sama berjuang; setelah tua, kami belajar bahwa hasil perjuangan tidak selalu berbentuk kekayaan.

Barangkali itulah yang paling perlu dijaga ketika hidup sudah lebih lapang: ingatan tentang diri sendiri saat belum mempunyai apa-apa. Ingatan itu membuat kita lebih hati-hati menilai orang yang hari ini masih mencari jalan.

Kita pernah menerima pekerjaan yang sekarang terdengar lucu karena waktu itu ada tagihan yang sungguh-sungguh harus dibayar. Karena itu, jangan mudah merendahkan pekerjaan orang lain, apalagi menganggap kedudukan kita sekarang sebagai bukti bahwa sejak dahulu kita lebih baik daripada mereka.

Malam itu, setelah tawa mereda, seorang teman berkata pelan, “Gila, ya. Dulu kita enggak tahu bulan depan masih bisa tinggal di Jakarta atau enggak.”

Saya mengangguk.

Dahulu kami hanya ingin bertahan sampai komisi berikutnya cair. Kini, setelah banyak hal tercapai, saya justru bersyukur masih mempunyai teman yang ingat bagaimana kami memulainya.

Mirip alumni 1976
Fr76

Adharta
Sahabat dalam Cita

Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS

Call Center
08119620888

www.kris.or.id I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *