Sisa 1 hari lagi
Antara aku dan DIA
Oleh : Vincent S Johan
Penasehat KRIS
7 Agustus 2026
Di kaki pegunungan Sindanglaya, tersembunyi sebuah rumah sederhana yang mungkin tak pernah kita singgahi.
Panti Asuhan Santo Yusup namanya.
Dindingnya tak tinggi, catnya mulai memudar, dan halaman depannya sering dipenuhi tawa
tawa yang terdengar ringan, namun menyimpan cerita yang berat.
Di sana, anak-anak belajar tentang hidup lebih cepat dari usia mereka.
Ada anak namanya Raka, usia sepuluh tahun.
Ia selalu tersenyum setiap kali menyambut tamu, seolah dunia tak pernah melukainya.
Tapi malam hari adalah waktu yang berbeda. Saat lampu dipadamkan dan suasana menjadi sunyi, Raka sering menatap langit-langit kamar, berbisik pelan,
“Mama, hari ini aku makan enak.” Tak ada yang menjawab.
Hanya angin dingin yang masuk dari celah jendela, seolah ikut mendengar rindunya yang tak pernah selesai.
Di sudut lain, ada anak Maria kecil yang gemar bernyanyi.
Suaranya merdu, mengalun lembut seperti doa. Ia bilang ingin jadi penyanyi agar suatu hari ibunya bisa mendengarnya dari jauh.
Tak ada yang tahu di mana ibunya kini.
Tapi Maria percaya, suara yang tulus pasti akan sampai. Setiap kali ia bernyanyi, matanya berkaca-kaca
bukan karena sedih, tapi karena harapan yang ia genggam terlalu erat.
Dan ada pula Andi, anak yang paling jarang bicara.
Ia sering duduk sendiri di tangga, memperhatikan anak-anak lain bermain.
Jika ditanya kenapa tidak ikut, ia hanya menjawab singkat, “Aku sudah biasa sendiri.”
Kalimat sederhana itu terasa berat, seperti ia sudah berdamai dengan kesepian yang seharusnya tidak ia kenal di usia belia.
Hari-hari di panti itu berjalan sederhana. Bangun pagi, berdoa, belajar, membantu pekerjaan, lalu bermain dengan apa yang ada.
Tak ada mainan mahal, tak ada gadget canggih. Hanya bola usang, tali lompat, dan tawa yang dibuat-buat agar terasa nyata.
Namun di balik semuanya, ada sesuatu yang tak pernah mereka miliki sepenuhnya
pelukan yang mereka rindukan.
Ketika ada tamu datang, mata mereka berbinar. Bukan karena hadiah, bukan karena makanan. Tapi karena perhatian.
Karena ada seseorang yang mau duduk, mendengar, dan memanggil nama mereka dengan penuh kasih. Sesederhana itu. Dan sesulit itu bagi mereka untuk miliki setiap hari.
Saat sore tiba dan tamu mulai pulang, mereka melambaikan tangan dengan senyum terbaik yang mereka punya.
Tapi begitu gerbang tertutup, senyum itu perlahan memudar.
Ada hening yang kembali menyelimuti. Ada rasa kehilangan kecil yang terus berulang.
Malam pun datang.
Lampu dipadamkan satu per satu.
Di dalam kamar yang sederhana, anak-anak itu berbaring, memeluk bantal mereka seolah itu adalah seseorang yang pernah mereka miliki.
Dan di tengah sunyi itu, ada doa-doa kecil yang terucap pelan:
“Tuhan, besok kirim lagi ya orang yang sayang sama kami…”
Air mata mungkin tak selalu terlihat. Tapi di Panti Asuhan Santo Yusup, setiap sudutnya menyimpan cerita yang diam-diam menangis.
Dan mungkin… yang mereka butuhkan bukanlah segalanya.
Hanya satu hal sederhana
Untuk tidak merasa sendiri lagi.
Aku dan DIA
Yang merawat ku
Sebagai anak anak Allah
Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS
www.kris.or.id I www.adharta.com
Call Center
08119620888
