Cerpen nomor 0092
Antara Takdir dan waktu
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS
Medio Juli 2026
Dalam demam sepak bola
Argentina lawan Spanyol
Kisahku
Takdir menulis kisahnya diam-diam, jauh sebelum manusia sempat memberi nama pada kebetulan.
Desember 2007 datang dengan langit Barcelona yang pucat dan dingin.
Di sebuah ruangan sederhana yang dipenuhi lampu studio, seorang pemuda kurus berambut panjang berdiri kikuk di samping bak plastik berwarna biru.
Lionel Messi, 20 tahun, belum sepenuhnya nyaman dengan sorotan kamera di luar lapangan.
Ia lebih mengenal rumput hijau, bukan kilatan lampu yang memburu setiap geraknya.
Di hadapannya, seorang bayi laki-laki berusia enam bulan digendong oleh seorang ibu muda.
Bayi itu tertawa kecil, tak terganggu oleh hiruk pikuk di sekelilingnya. Fotografer memberi arahan,
“Coba Messi yang mandikan bayinya.”
Messi ragu sejenak. Tangannya, yang terbiasa mengendalikan bola dengan presisi, kini harus menyentuh sesuatu yang jauh lebih rapuh.
Namun ia menurut. Dengan hati-hati, ia menurunkan bayi itu ke dalam bak, menyentuhkan air hangat ke kulit kecilnya.
Bayi itu tertawa.
Messi ikut tersenyum.
Kamera berbunyi.
Sekali. Dua kali. Puluhan kali.
Tak ada yang tahu bahwa momen itu bukan sekadar foto.
Itu adalah awal dari sebuah lingkaran waktu yang kelak akan menutup dirinya dengan sempurna.
Enam belas tahun berlalu seperti hembusan angin yang tak terasa.
Dunia berubah. Nama Messi menjelma legenda. Ia mengangkat trofi, memecahkan rekor, menuliskan sejarah yang seakan tak mungkin ditiru manusia lain.
Di sisi lain dunia, bayi kecil itu tumbuh menjadi anak laki-laki yang jatuh cinta pada sepak bola.
Namanya Lamine Yamal.
Ia tak ingat apa-apa tentang hari di bak plastik itu. Tapi ibunya menyimpan foto tersebut. Kadang, saat malam terasa panjang, ia menunjukkan foto itu kepada Yamal kecil.
“Itu kamu,” katanya lembut.
“Dan itu Messi.”
Yamal kecil akan menatap foto itu dengan mata berbinar.
“Aku juga mau jadi seperti dia.”
Ibunya tersenyum, tanpa tahu bahwa mimpi itu bukan sekadar angan seorang anak.
Tahun 2024, foto itu muncul kembali di dunia maya. Orang-orang terkejut. Terkesima. Seolah menemukan pesan tersembunyi dari masa lalu.
“Awal dari dua legenda,” tulis seseorang pecinta bola
Dunia menyukainya. Tapi bagi Yamal, itu lebih dari sekadar cerita viral. Itu seperti panggilan.
Sejak hari itu, ia berlatih lebih keras.
Lebih lama. Lebih lapar.
Ia ingin membuktikan bahwa foto itu bukan kebetulan.
Piala Dunia 2026.
Cerita saat ini
Stadion dipenuhi sorak-sorai yang menggetarkan langit malam. Dua bendera berkibar berlawanan arah:
Argentina dan Spanyol.
Dua generasi. Dua cerita.
Dua takdir yang akhirnya bertemu di satu titik.
Spanyol melaju ke final dengan permainan yang nyaris sempurna.
Yamal menjadi jantung serangan, berlari di sisi lapangan seperti angin yang tak bisa ditangkap.
Usianya baru 19 tahun, tapi matanya memancarkan ketenangan yang aneh
seperti seseorang yang sudah pernah berada di momen ini, bahkan sebelum ia lahir.
Di ruang ganti Argentina, Messi duduk diam.
Usianya tak lagi muda, tapi auranya tetap sama.
Ia memandang sepatunya sejenak, lalu menghela napas panjang.
Seorang rekan setimnya bertanya,
“Siap?”
Messi tersenyum kecil.
“Selalu.”
Namun di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbeda.
Sebuah rasa yang tak bisa ia jelaskan. Seperti sedang berjalan menuju akhir dari sebuah cerita yang sudah lama ditulis.
Pertandingan dimulai.
Menit demi menit berlalu dengan intensitas tinggi.
Yamal bergerak lincah, melewati satu pemain, dua pemain. Messi mengatur tempo, mengirim umpan-umpan yang hanya bisa dilihat oleh matanya.
Dua dunia bertabrakan di atas rumput.
Pada menit ke-67,
Yamal mendapatkan bola di sisi kanan. Ia menggiring masuk, melewati bek Argentina dengan gerakan cepat, lalu melepaskan tendangan melengkung. Bola meluncur indah ke pojok gawang.
Dan
Gol.
Stadion bergemuruh.
Yamal berlari, tangannya terangkat, wajahnya penuh emosi. Tapi di balik sorak-sorai itu, matanya sekilas mencari seseorang.
Messi.
Dan Messi melihatnya.
Untuk sesaat, waktu seperti berhenti.
Messi tersenyum tipis
senyum yang sama seperti saat ia memandikan bayi kecil di bak plastik bertahun-tahun lalu.
Seolah ia berkata tanpa suara:
Aku tahu kamu akan sampai di sini.
Argentina tak tinggal diam.
Menjelang akhir pertandingan, Messi menerima bola di tengah lapangan. Ia mengangkat kepala, melihat celah kecil yang tak terlihat orang lain.
Dengan satu sentuhan magis, ia mengirim umpan silang ke kotak penalti.
Lautaro Martinez melompat.
Gol.
Skor imbang.
Pertandingan berlanjut hingga perpanjangan waktu. Ketegangan terasa seperti listrik di udara.
Di menit terakhir, Yamal kembali mendapat peluang. Ia berhadapan satu lawan satu dengan Messi yang turun membantu pertahanan.
Dua generasi berdiri berhadapan.
Yamal menatapnya. Messi menatap balik.
Tak ada kata. Hanya pemahaman.
Yamal menggiring bola, mencoba melewati. Messi bergerak cepat, tapi bukan dengan keras
melainkan dengan ketepatan.
Ia merebut bola dengan bersih.
Bukan sekadar menghentikan lawan.
Seperti seorang guru yang memberi pelajaran terakhir.
Peluit panjang berbunyi.
Pertandingan berakhir.
Hasilnya mungkin akan dicatat sejarah dengan angka, dengan statistik, dengan nama pemenang. Tapi bagi mereka berdua, malam itu lebih dari sekadar kemenangan atau kekalahan.
Di tengah lapangan, Messi berjalan mendekati Yamal.
Mereka berjabat tangan.
“Bagus,” kata Messi pelan.
Yamal tersenyum. “Terima kasih.”
Tak ada lagi yang perlu dikatakan.
Karena jauh sebelum mereka berdiri di sana, takdir sudah menulis semuanya
dalam diam,
dalam waktu, dalam sebuah foto yang pernah terlupakan.
Dari sebuah bak plastik kecil…
menuju panggung terbesar di dunia.
Dan di antara dua titik itu, lahirlah sebuah kisah yang tak akan pernah benar-benar berakhir.
www.kris.or.id I www.adharta.com
Diterjemahkan dari Kisah Messi
