Sepak bola dan
Dongeng Kebaikan

Oleh: Adharta
Ketua Umum KRIS

6 Juli 2026
Citilink QG 527, Singapura
Malam itu, langit di atas Singapura tampak tenang. Pesawat Citilink QG 527 yang saya tumpangi perlahan meninggalkan landasan, Changi
membelah gelap menuju Jakarta.

Di dalam kabin, lampu redup, sebagian penumpang terlelap, sebagian lagi masih terjaga
dan seperti yang sering terjadi akhir-akhir ini, percakapan kami tak jauh dari satu hal
sepak bola piala Dunia

Demam sepak bola sedang melanda dunia. Dari warung kopi kecil di sudut kampung hingga ruang tunggu bandara internasional, semua orang membicarakan

Sepak bola bukan lagi sekadar permainan
Ia telah menjadi bahasa universal, menyatukan perbedaan, bahkan menyentuh sisi terdalam kehidupan manusia.
Saya tersenyum sendiri. Kecintaan saya pada sepak bola bukan hal baru. Sejak muda, saya pernah terlibat di organisasi PSSI
Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia
Walau kemampuan bermain saya terbatas, kecintaan itu tak pernah padam. Kini, gairah itu menurun kepada anak kedua saya, Dirga, di Melbourne
yang bahkan pernah memenangkan tiket pertandingan Piala Dunia
Dan beberapa kali ke Amerika hanya untuk nonton bola

sebuah kebanggaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Di dalam pesawat, obrolan semakin hangat. Beberapa teman lama menghubungi saya, mengajak ikut
“tarohan ringan”
bukan judi, kata mereka, hanya seru-seruan menebak skor.

Saya tertawa kecil.
“Saya tidak ikut,” jawab saya.
“Kenapa?” mereka bertanya.
“Karena saya pasti menang.”

Mereka semakin penasaran. “Kalau begitu, berapa skornya?”

Saya menjawab santai, “0–0.”
Untuk Argentina dan Cape Verde

Tawa mereka pecah.
Tidak ada yang percaya.
Mereka yakin pertandingan itu akan berakhir dengan skor besar—3–0, atau lebih untuk Argentina
Namun kenyataan berkata lain. Skor akhir benar-benar 0–0.

Di situlah saya mulai berpikir: sepak bola sering kali bukan soal kekuatan, bukan soal statistik, tapi tentang sesuatu yang lebih dalam
tentang keseimbangan, kerendahan hati, dan kadang…
tentang dongeng.

Saya lalu teringat sebuah cerita sederhana yang sering saya ceritakan kepada cucu saya, Fayola.
Di dunia dongeng, hiduplah seekor kelinci yang sombong.
Ia merasa dirinya paling cepat, paling hebat.
Suatu hari, ia menantang kura-kura untuk berlomba. Semua makhluk di hutan tertawa. Bagaimana mungkin kura-kura yang berjalan pelan bisa mengalahkan kelinci?

Namun lomba itu tetap berlangsung.
Kelinci melesat seperti kilat, meninggalkan kura-kura jauh di belakang. Dengan penuh percaya diri, ia berhenti di tengah jalan untuk beristirahat dan tidur
“Kura-kura itu terlalu lambat,” pikirnya. “Aku masih punya banyak waktu.”
Ia pun tertidur lelap

Sementara itu, kura-kura terus berjalan.
Pelan, konsisten, tanpa berhenti.
Hingga akhirnya, ia melewati kelinci yang tertidur dan mencapai garis akhir.
Skor pun tercipta: 1–0 untuk kura-kura.

Kisah sederhana ini mengajarkan bahwa kesombongan adalah awal dari kekalahan, dan ketekunan adalah jalan menuju kemenangan.
Seperti dalam sepak bola. Seperti dalam hidup.
Namun malam itu, di antara gemuruh mesin pesawat dan bisikan percakapan, imajinasi saya melayang lebih jauh
ke sebuah dongeng yang lebih besar.
Konon, jauh sebelum manusia mengenal sepak bola, permainan ini sudah dimainkan oleh para dewa.
Di langit yang tak terbatas, terdapat dua kelompok dewa yang gemar bermain bola.

Mereka mengenakan jubah berwarna merah dan biru. Lapangan mereka bukan stadion biasa
melainkan seluruh jagad raya.
Bola yang mereka gunakan bukan bola kulit, melainkan bola cahaya, berkilau seperti bintang.
Setiap dewa memiliki perannya masing-masing.
Dewa hujan menjadi penjaga gawang.
Dewa angin dan dewa laut menjaga sisi kiri dan kanan pertahanan.
Dewa tanah dan dewa gunung menguasai lini tengah.
Sementara di lini depan, dewa makanan, dewa binatang, dan dewa tambang menjadi penyerang.

Pertandingan mereka selalu spektakuler. Disaksikan oleh dewa-dewa lain yang menjadi suporter, sorak sorai mereka menggema hingga ke bumi.

Namun ada satu masalah.
Ketika para dewa terlalu asyik bermain bola, mereka lupa akan tugasnya.
Dewa hujan lupa menurunkan hujan.
Dewa angin berhenti berhembus.
Dewa makanan tidak lagi menumbuhkan buah-buahan.
Di bumi, manusia mulai merasakan dampaknya. Kekeringan melanda. Tanaman mati. Laut menjadi tenang tanpa angin.

Dunia perlahan kehilangan keseimbangan.
Manusia pun berdoa.
Doa itu naik ke langit, menembus awan, hingga sampai ke telinga para dewa. Pertandingan pun terhenti. Skor saat itu? 0–0.

Tidak ada pemenang.
Para dewa akhirnya menyadari kesalahan mereka.
Mereka sepakat untuk menunda pertandingan dan kembali menjalankan tugasnya.

Mereka berjanji akan melanjutkan pertandingan di akhir pekan
setelah memastikan dunia kembali seimbang.

Sejak saat itu, sepak bola bukan hanya permainan. Ia menjadi simbol keseimbangan antara kesenangan dan tanggung jawab.

Pesawat mulai sedikit bergetar, menandakan kami telah memasuki wilayah udara Indonesia.
Saya menarik napas panjang, membiarkan kenangan mengalir.
Saya teringat masa-masa di era 80-an, saat saya aktif di PSSI.
Bersama tokoh-tokoh seperti sekjen Nugraha Besoes,
Bendahara Gasfan Ali, serta kepemimpinan Kardono dan Azwar Anas, kami membangun mimpi besar untuk sepak bola Indonesia.

Saya sendiri pernah dipercaya sebagai ketua pengembangan, sekaligus memimpin redaksi Majalah Sepak Bola.
Itu adalah masa penuh semangat, masa di mana sepak bola bukan hanya soal pertandingan, tetapi juga tentang membangun karakter, persatuan, dan harapan.

Semalam, saya menyaksikan pertandingan Brasil melawan Norwegia.
Hati saya tentu mendukung Brasil.
Banyak kenangan, banyak teman di sana.
Namun seperti dongeng
dongeng yang saya ceritakan, hasil pertandingan tidak selalu mengikuti harapan.
Sepak bola selalu punya cara sendiri untuk mengajarkan kita tentang kehidupan.
Tentang bagaimana yang kuat bisa terhenti.
Tentang bagaimana yang lemah bisa bangkit.
Tentang bagaimana skor 2 – 1
pun bisa menyimpan makna yang dalam.
Brasil kalah

Pesawat mulai bersiap untuk mendarat. Lampu kabin kembali terang. Saya menatap keluar jendela
lampu-lampu Jakarta berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi.

Saya tersenyum.
Mungkin benar, sepak bola adalah dongeng.
Namun bukan dongeng kosong.
Ia adalah dongeng tentang kebaikan.
Tentang kerendahan hati.
Tentang keseimbangan.
Tentang harapan.
Dan seperti semua dongeng yang indah, ia selalu meninggalkan satu pesan sederhana:
Bahwa dalam hidup, bukan siapa yang paling kuat yang akan menang

tetapi siapa yang tetap berjalan, tetap percaya, dan tidak pernah lupa akan kebaikan.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang menang atau kalah.
Melainkan tentang bagaimana kita bermain dengan hati.

Hayo tebak siapa juara dunia
Saya pilih Argentina

www.kris.or.id I www.adharta.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *