Cerpen nomor 0076

Dr. Christine

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

Mei 2026

Sambil duduk di ruang keluarga
Saya menikmati nonton film seri judul Black List di Netflix

Namun malam ini pikiran ku melayang kepada seorang sahabat yang saya panggil mama

Beliau sudah meninggal 2 tahun lalu di usia hampir 80 tahun

Kisah Cinta
Sejak kanak-kanak, Christine dikenal sebagai anak yang ceria. Tawanya ringan, matanya berbinar, dan tutur katanya lembut. Di lingkungan kecilnya di Cirebon, ia seperti matahari pagi
menghangatkan siapa saja yang berada di dekatnya.

“Christine, kamu ini selalu tersenyum ya,” ujar ibunya suatu pagi sambil merapikan rambutnya.
Christine kecil tertawa.

“Kalau senyum, dunia jadi lebih indah, Ma.”
Ia tumbuh sebagai anak yang rajin, manis, dan cerdas. Dari bangku SD hingga SMA, prestasinya tak pernah surut. Namun bukan hanya kepandaian akademis yang membuatnya disukai
Christine punya kemampuan memahami perasaan orang lain, seakan hatinya memiliki ruang lebih luas dari yang lain.
Setelah lulus SMA, Christine melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Dunia baru terbuka di hadapannya. Di sana, ia bertemu dengan banyak orang hebat
dan salah satunya adalah Alfons.
Pertemuan pertama mereka terjadi di perpustakaan.

“Maaf, buku Anatomi ini masih dipakai?” tanya seorang pria dengan suara tenang.
Christine mengangkat wajahnya.
“Oh… sudah selesai. Silakan.”

Pria itu tersenyum. “Terima kasih. Saya Alfons.”

“Christine,” jawabnya singkat, namun senyum kecil muncul tanpa ia sadari.
Sejak saat itu, mereka sering bertemu.

Belajar bersama, berdiskusi, bahkan saling menguatkan saat masa ujian terasa berat.
Suatu malam, di kampus yang mulai sepi, Alfons berkata pelan,
“Christine, kalau nanti kita jadi dokter… kamu mau jadi dokter apa?”
Christine menatap langit. “Aku ingin jadi dokter anak. Aku ingin membantu anak-anak tumbuh sehat… dan bahagia.”
Alfons tersenyum. “Cocok. Kamu punya hati yang lembut.”
“Kalau kamu?”
“Aku ingin jadi dokter bedah. Aku ingin menyelamatkan orang di saat paling kritis.”
Christine mengangguk. “Kita berbeda, tapi saling melengkapi ya.”
Alfons menatapnya lebih lama. “Bukan cuma sebagai dokter…”
Christine terdiam, namun hatinya bergetar.
Waktu berlalu. Mereka lulus bersama. Alfons melanjutkan spesialis bedah, sementara Christine mengambil spesialis anak. Di tengah kesibukan masing-masing, cinta mereka justru semakin kuat.

Suatu sore, di taman kecil dekat rumah sakit, Alfons menggenggam tangan Christine.
“Christine…” suaranya sedikit bergetar, “aku ingin menghabiskan hidupku bersamamu.”

Christine tersenyum lembut. “Aku juga, Alfons.”
“Jadi… maukah kamu menjadi istriku?”

Air mata tipis menggenang di mata Christine.
“Ya… aku mau.”
Pernikahan mereka sederhana namun penuh kebahagiaan. Hari-hari awal dipenuhi tawa, pelukan, dan harapan.
“Selamat pagi, dokter cantik,” bisik Alfons suatu pagi.
Christine tersenyum sambil menutup matanya. “Selamat pagi, dokter tampan.”
“Apa rencanamu hari ini?”
“Menyelamatkan anak-anak kecil,” jawabnya sambil tertawa kecil.
Alfons mencium keningnya. “Dan aku menyelamatkan orang dewasa… supaya bisa kembali ke anak-anak mereka.”
Hidup terasa sempurna.
Namun perlahan, sesuatu berubah.
Christine mulai sering diam. Ia kehilangan semangat yang dulu begitu kuat. Senyumnya menjadi jarang. Matanya sering kosong, seperti menyimpan sesuatu yang tak bisa ia ungkapkan.
“Christine, kamu kenapa?” tanya Alfons suatu malam.
Christine menggeleng. “Aku… aku tidak tahu.”
“Kamu lelah?”
“Bukan hanya lelah… rasanya seperti… aku kehilangan diriku sendiri.”
Alfons memegang tangannya erat. “Kita cari bantuan, ya. Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Mereka mulai mendatangi berbagai dokter. Psikiater, psikolog, terapi
semua usaha dicoba. Namun kondisi Christine tidak kunjung membaik. Dalam hubungan mereka sebagai suami istri, jarak semakin terasa.

“Maaf…” bisik Christine suatu malam, air matanya mengalir.
“Aku tidak bisa jadi istri yang baik untukmu.”
Alfons memeluknya erat.
“Jangan bilang begitu. Kamu adalah bagian dari hidupku.”
“Tapi aku menyakitimu…”
“Aku memilihmu, Christine.

Dalam keadaan apa pun.”
Namun kenyataan tidak selalu sekuat kata-kata.
Tahun demi tahun berlalu. Hubungan mereka mulai retak, bukan karena hilangnya cinta
melainkan karena luka yang tidak kunjung sembuh.
Di tahun kelima pernikahan, mereka duduk berdua di ruang tamu. Sunyi. Berat.
“Christine…” suara Alfons pelan, “aku sudah berpikir lama.”
Christine menunduk. “Aku juga.”
Mereka saling menatap. Mata yang dulu penuh cinta, kini dipenuhi kelelahan dan kesedihan.
“Aku tidak ingin kehilanganmu,” kata Alfons, “tapi aku juga tidak ingin kita terus saling menyakiti.”
Air mata Christine jatuh.
“Aku masih mencintaimu, Alfons.”
“Aku juga.”
“Lalu kenapa rasanya… kita harus berpisah?”
Alfons menggenggam tangannya. “Karena mungkin… ini satu-satunya cara kita saling menyelamatkan.”
Tangis Christine pecah.
“Aku takut sendiri…”
Alfons memeluknya erat untuk terakhir kalinya.
“Kamu tidak sendiri. Kamu kuat. Lebih kuat dari yang kamu pikir.”
“Apakah kamu akan melupakanku?”
“Tidak pernah.”
Keputusan itu akhirnya diambil. Perceraian bukan karena benci, tetapi karena cinta yang tak lagi mampu bertahan dalam luka.
Setelah perpisahan, Christine memilih hidup sendiri. Ia tetap menjadi dokter anak, mengabdikan hidupnya untuk pasien-pasien kecil yang membutuhkan kasih sayang.
Di balik kelemahannya, ia tetap memberi kekuatan kepada orang lain.
“Dokter, anak saya takut disuntik…” kata seorang ibu.
Christine tersenyum lembut.
“Tidak apa-apa… dokter juga dulu takut.”
Anak kecil itu menatapnya. “Benarkah?”
“Iya. Tapi kita berani bersama, ya?”
Dan seperti biasa, kehangatan Christine mampu menenangkan.
Hari-harinya berjalan tenang, meski sepi. Ia tidak pernah menikah lagi. Kenangan tentang Alfons tetap tinggal di sudut hatinya—tidak pahit, tidak juga manis sepenuhnya.
Hanya… kenangan.
Di usia senja, rambutnya memutih, langkahnya melambat. Namun matanya tetap lembut seperti dulu.
Suatu sore, ia duduk di kursi dekat jendela. Angin pelan menyapa wajahnya.
Ia berbisik pelan, seakan berbicara kepada seseorang yang jauh.
“Alfons… aku harap kamu bahagia.”
Senyum tipis muncul di bibirnya.
“Hidup kita tidak berjalan seperti yang kita rencanakan… tapi aku tidak pernah menyesal mencintaimu.”
Hari itu, dalam ketenangan yang damai, Christine menutup matanya untuk terakhir kali.
Ia meninggal di usia 80 tahun.
Tanpa keramaian. Tanpa kesedihan yang berlebihan.
Hanya seorang wanita yang pernah mencintai dengan sepenuh hati
dan belajar melepaskan dengan keikhlasan.
Dan di suatu tempat, mungkin kenangan tentangnya masih hidup.
Sebagai Christine
seorang dokter,
seorang wanita,
dan seorang jiwa yang lembut…
yang pernah mencintai,
meski akhirnya harus merelakan.

www.kris.or.id I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *