Cerpen Nomor 107

Waktu, Tempat, dan Nasib
Hilangnya HP Call Centre
Dan Air mataku

5 tahun bersamamu

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

Rumah Sakit Husada,
Senen 14 September 2026

Pagi ini, seperti biasa, jadwal saya sudah tersusun cukup padat.

Saya hendak menuju kantor karena ada pertemuan dengan kakak saya, Bapak Risal, serta tim dari Perhubungan Laut.
Waktu menunjukkan pukul 08.55. Mobil kami sudah melaju di atas Tol Tanjung Priok ketika tiba-tiba telepon saya berdering. Pertemuan yang semula dijadwalkan pagi hari diminta untuk ditunda menjadi pukul 14.00.

“Wah, masih ada waktu cukup panjang,” pikir saya.
Saya pun meminta sopir dan sekretaris mengubah rencana perjalanan. Kesempatan itu ingin saya gunakan untuk mengunjungi
dr. Maria Inggrid, Sp.N., dokter spesialis saraf yang menangani jari tangan saya yang belakangan terasa kaku.

Saya menghubungi Suster Nunung. Beliau menjawab bahwa dokter baru dapat menerima saya sekitar pukul 12.00.

“Tidak apa-apa. Saya bisa pijat dahulu sambil menunggu,” jawab saya.

Namun, ketika hendak masuk ke rumah sakit, saya baru menyadari bahwa uang tunai di kantong hampir tidak ada.

Saya meminta sopir berhenti di depan ATM BCA untuk mengambil sedikit uang.
Saat saya hendak turun dari mobil, sopir sempat bertanya, “Pak, HP-nya dibawa?”
Tanpa memeriksa, dengan penuh keyakinan saya menjawab, “Ada!”
Jawaban yang sangat mantap
tetapi rupanya tidak didukung oleh pemeriksaan yang teliti.
Saya kemudian menuju ruang pijat dan duduk menunggu giliran. Menjelang pukul 12.00, saya bertemu dengan dr. Maria Inggrid. Jari tangan saya diperiksa dan kemudian disuntik.

Setelah semuanya selesai, tibalah waktunya makan siang.
Ada satu kesenangan sederhana yang saya inginkan: makan mi di Solaria.
Namun, Suster Nunung segera mengingatkan bahwa beliau mendapat pesan dari dr. Hans Cahyadi agar saya menjaga pola makan. Maklum, dalam tiga bulan terakhir berat badan saya naik tiga kilogram.
“Waduh!” kata saya.
Niat makan enak harus berunding dahulu dengan tim kesehatan.

HP Itu Ada di Mana?
Seusai dari Solaria, saya kembali menemui sopir.
“Pak, tumbler-nya mana? HP-nya juga mana?” tanyanya.
Saya langsung memeriksa tangan, saku, dan tas.
Tidak ada.
Tumbler ternyata tertinggal di ruang praktik dr. Maria Inggrid. Suster Nunung dengan sigap berlari mengambilnya. Tumbler berhasil ditemukan, tetapi HP tidak ada di sana.
Mulailah kami mengingat kembali perjalanan sejak turun dari mobil. Tempat yang saya datangi hanya beberapa:
ATM BCA
Ruang pijat
Ruang praktik dr. Maria Inggrid
Solaria
Saya tidak pergi ke mana-mana lagi. Namun, HP itu seolah-olah menghilang ditelan bumi.

Pandu, anak saya, segera membantu melakukan pelacakan melalui Google. Posisi terakhir HP terlihat berada di sekitar ATM BCA. Ketika ditelepon, statusnya masih ringing.

HP tersebut bahkan masih terhubung dengan Wi-Fi Rumah Sakit Husada.
Harapan sempat muncul.
“Mungkin masih ada di sekitar sana,” pikir saya.
Namun, beberapa menit kemudian HP mendadak tidak aktif, padahal baterainya masih 97 persen. Kemungkinan besar perangkat itu sengaja dimatikan.
Saya kemudian menghubungi Dr. Wani Sabu, salah seorang pimpinan BCA. Beliau segera meminta tim terkait untuk membantu memeriksa rekaman CCTV di sekitar ATM. Saya juga meminta tim keamanan Rumah Sakit Husada membuka rekaman CCTV rumah sakit.
Sayangnya, jarak kamera CCTV rumah sakit cukup jauh sehingga wajah orang yang diduga mengambil HP sulit dikenali. Pemeriksaan kamera yang lebih dekat dengan ATM masih diperlukan.
Kejadian ini juga menjadi pengingat bahwa mesin ATM yang berada di tempat umum perlu mendapatkan pengamanan dan pengawasan yang baik.

Bukan hanya karena risiko barang tertinggal, tetapi juga karena kemungkinan terjadinya penjambretan atau penodongan terhadap nasabah.
Yang Hilang Bukan Hanya Sebuah HP
HP yang hilang itu bukan sekadar alat komunikasi pribadi.

Di dalamnya terdapat nomor 0811-9620-888, yang digunakan sebagai Call Centre KRIS.
Akses komunikasi memang juga dimiliki oleh sekretaris, bendahara, dan sekretaris jenderal. Namun, ketika perangkat utama dimatikan, sebagian komunikasi KRIS dengan berbagai daerah ikut terganggu.
Di dalam HP tersebut tersimpan sekitar 33.000 kontak. Baru sekitar 20.000 kontak yang sudah tersimpan di Google dan sistem cadangan. Sisanya terancam hilang.
Lebih menyedihkan lagi, terdapat puluhan ribu foto, sekitar 15.000 video, berbagai dokumen, serta ratusan foto reuni yang memiliki nilai kenangan sangat besar.
Kapasitas HP itu 512 GB, ditambah penyimpanan 256 GB. Karena kapasitasnya sangat besar, saya merasa tidak perlu terburu-buru memindahkan data. Akibatnya, saya lupa melakukan pencadangan secara lengkap ke laptop atau penyimpanan daring.
Di sinilah baru terasa bahwa harga sebuah HP tidak hanya terletak pada perangkatnya. Yang paling berharga justru isi di dalamnya: nomor teman, percakapan, pekerjaan, foto keluarga, video cucu, dokumentasi kegiatan, dan potongan perjalanan hidup yang tidak selalu dapat diulang.
HP baru mungkin bisa dibeli, tetapi kenangan tidak dijual di toko mana pun.
Dasar Pikun!
Memang, semakin bertambah usia, terkadang semakin mudah pula kita lupa. Mungkin besok saya harus membeli HP baru sekaligus membeli rantainya—lalu dikalungkan di leher atau dijepitkan pada celana!
Atau, saya perlu memasang alat pelacak dengan alarm.
Jika HP menjauh lebih dari sepuluh meter, alarm langsung berbunyi

“Pak Adharta, HP-nya
ketinggalan!”

Sebenarnya, hampir semua HP sekarang sudah memiliki GPS dan fitur pelacakan. Dengan nomor IMEI, perangkat juga dapat dilaporkan dan diblokir. Masalahnya, saya sendiri lupa menyimpan kotak HP yang mencantumkan nomor IMEI tersebut.
Teman-teman memberi tahu bahwa HP yang terkunci sekalipun terkadang masih dapat dijual untuk diambil komponennya. Meski demikian, nomor IMEI tetap sangat penting untuk dicatat dan disimpan di tempat yang aman.

Jika HP hilang, nomor tersebut dapat digunakan ketika membuat laporan serta meminta pemblokiran perangkat kepada pihak terkait.
HP saya sebenarnya sudah menggunakan kata sandi dan sidik jari. Namun, kata sandinya mungkin terlalu mudah karena cucu saya, Ola, saja sudah hafal dan dapat membukanya.
Ini pelajaran berikutnya: kata sandi harus mudah kita ingat, tetapi jangan sampai terlalu mudah ditebak orang lain.

Suka Dukanya Kehilangan HP

Kehilangan HP ternyata menghadirkan berbagai macam perasaan.
Dukanya jelas: panik, kesal, bingung, khawatir data disalahgunakan, kehilangan kenangan, dan terganggunya komunikasi. Rasanya seperti sebagian kehidupan sehari-hari mendadak ikut menghilang.

Namun, di tengah kesulitan itu, selalu ada hal yang masih dapat disyukuri.
Kemarin saya sebenarnya sudah berniat mengganti HP dengan Vivo X300 berkapasitas 1 TB. Untung niat itu belum terlaksana. Coba kalau HP baru itu yang hilang
mungkin cerpen ini akan jauh lebih panjang dan air mata saya juga lebih banyak!

Orang Jawa sering berkata, apa pun yang terjadi masih bisa dicari sisi untungnya.
HP hilang satu, masih untung tidak hilang dua. Sebab saya biasanya membawa dua HP, kecuali salah satunya sedang dipinjam Ola, cucu saya.
Jari yang kaku pun seolah-olah sedang menjalankan prinsip “lem biru”: dilempar, lalu beli yang baru!

Begitulah hidup. Sudah kehilangan, masih juga berusaha tertawa.

Bukan karena tidak sedih, melainkan karena tertawa membuat pikiran lebih ringan dan membantu kita menerima kenyataan.
HP, Teman yang Selalu Dicari
Kehilangan HP memang memusingkan. Rasanya hampir seperti kehilangan istri atau suami.
Malam hari, HP yang terakhir kita pegang. Bangun pagi, HP pula yang pertama kita cari.
Ada pesan—lihat HP.
Mau menelepon—cari HP.
Mau menulis—pakai HP.
Mau memotret—angkat HP.
Bahkan ketika kehilangan HP, kita memerlukan HP lain untuk mencarinya!
Barulah setelah perangkat kecil itu hilang, kita menyadari betapa besar tempat yang telah diberikannya dalam kehidupan kita.
Myngkin jodoh bust yang nemu
Myngkin juga akan berguna bustnya bust kluargana
Abak2nya

Permohonan Maaf dari Call Centre KRIS

Kepada seluruh keluarga besar dan sahabat KRIS, saya mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Untuk sementara, pelayanan melalui Call Centre KRIS mungkin mengalami gangguan.
Saya akan berusaha agar paling lambat besok siang nomor Call Centre KRIS sudah dapat berfungsi kembali.
Semoga kejadian ini membawa hikmah dan menjadi pelajaran bagi kita semua:
Catat dan simpan nomor IMEI. Aktifkan pelacakan perangkat. Gunakan kata sandi yang kuat. Cadangkan kontak, foto, video, serta dokumen penting secara berkala. Dan sebelum meninggalkan suatu tempat, biasakan memeriksa: dompet, kunci, tumbler, dan terutama HP.
Saya tidak ingin menyalahkan siapa pun. Sopir, petugas rumah sakit, pihak BCA, dan tim keamanan telah menjalankan tugas serta berusaha membantu dengan baik.
Mungkin memang sudah menjadi nasib HP itu untuk berpindah tangan kepada seseorang yang merasa lebih membutuhkannya.

Namun, saya tetap berharap orang yang menemukannya tergerak untuk mengembalikan. Sebab barang itu mungkin hanya sebuah HP bagi orang lain, tetapi bagi pemiliknya, di dalamnya tersimpan pekerjaan, persahabatan, pelayanan, dan ribuan kenangan.
Semoga kejadian ini memberikan hikmat, menambah kewaspadaan, dan mengajarkan kita untuk lebih menjaga apa yang telah dipercayakan kepada kita.
Salam sehat dan penuh syukur,

Adharta.com
Ketua Umum KRIS

Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS

Call Center
08119620888

www.kris.or.id I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *