Cerpen nomor 0102

Dear You
Film yang pantas di tonton

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Taman Anggrek
Selasa
18 Agustus 2026

Saya mengunjungi Istri Saya
Ibu Lena
Yang dalam pemeriksaan check Up kesehatan di Rumah Sakit Mamdaya Royal

Dalam perjalanan pulang dari Kantor
Pastor Berty Tijouw kirim pesan singkat

“Ayok Nonton Film “

” Atur Joo “

Waktu pun diatur
Kita rame rame nonton sehabis dari Rumah Sakit Mandaya Royal
Saya Bapak Lendy
Ibu Monic dan Ibu Betsy ada Ibu Drg Wenny dan Pastor Berty Tijouw MSC

Kita meluncur menuju Mall Taman Anggrek sebelumnya menikmati Menu Baru
Haidilao

Pas waktunya untuk masuk theatre 1 studio XXI

Saya sudah membaca Novel dengan judul berbeda tapi inti cerita nya sama di tambah resensi di Tik Tok
Tapi tetap air mata saya jatuh
Teringat Papa dan Mama saya yang juga merantau dari FuZhou tahun 1930an

Beberapa diskusi mengawali perjalanan menuju Cinema
Saya bilang jangan lupa bawa tissue karena satu gedung saya lihat terisak semua
Berbeda dengan biasanya saya sebel nonton film yang saya tonton orang main HP jadi terganggu
Sekarang XXI mengerti makanyaereka pasang alat sehingga begitu anda masuk semua jam tidak ada signal dalam. theatre

Dear You

Kisahnya
tentang cinta, pengorbanan, perantauan, meninggalkan tanah kelahiran serta anak cucu dan istri, dari kerasnya kehidupan sekitar tahun 1960-an sampai dunia menjadi jauh lebih modern.

Saya ajak anda menikmati nonton bersama saya dan kawan kawan
Tetapi anjuran saya anak suami atau istri anda nonton barengan tapi jangan lupa bawa tissue

DEAR YOU

Cinta, Pengorbanan, dan Sebuah Perjalanan Hidup

Ada film yang selesai ketika layar menjadi gelap.
Namun ada pula film yang justru mulai hidup setelah kita meninggalkan tempat duduk kita.

Bagi saya,
Film Dear You adalah salah satunya.

Film ini membawa pikiran saya kembali kepada sebuah masa ketika hidup tidak semudah sekarang.

Sekitar tahun 1960-an, dunia masih sangat berbeda. Komunikasi terbatas, perjalanan jauh bukan perkara sederhana, kesempatan hidup tidak sebanyak hari ini, dan bagi banyak orang, merantau bukanlah sebuah pilihan untuk mencari pengalaman.
Merantau adalah perjuangan untuk bertahan hidup.

Ada orang yang harus meninggalkan kampung halaman, tanah kelahiran, orang tua, bahkan anak dan istri yang dicintainya.

Bukan karena cintanya berkurang, melainkan justru karena cinta itulah ia berani pergi.
Betapa berat sebuah perpisahan pada masa itu.

Hari ini, ketika seseorang pergi jauh, kita masih dapat melihat wajahnya melalui telepon genggam.

Kita dapat mengirim pesan dalam hitungan detik. Kita dapat mendengar suaranya kapan saja.
Tetapi dahulu?
Sebuah kabar harus menempuh perjalanan panjang.
Sepucuk surat bisa menjadi benda yang paling ditunggu.

Tulisan tangan dari seseorang yang dicintai dapat dibaca berkali-kali, dilipat kembali dengan hati-hati, lalu disimpan bertahun-tahun.
Mungkin karena itulah cinta pada masa itu terasa berbeda.
Bukan berarti cinta zaman sekarang lebih kecil.

Tetapi dahulu, cinta benar-benar diuji oleh jarak, waktu, kesetiaan, dan ketidakpastian.

Bayangkan seorang suami berdiri sebelum keberangkatannya.
Di hadapannya ada istri yang berusaha tersenyum walaupun matanya basah.

Ada anak yang mungkin belum mengerti mengapa ayahnya harus pergi.

Lalu mungkin terucap sebuah kalimat sederhana

“Aku pergi bukan karena ingin meninggalkan kalian.

Aku pergi karena aku ingin suatu hari nanti kalian mempunyai kehidupan yang lebih baik.”

Kalimat seperti itu sederhana.
Tetapi di dalamnya ada seluruh arti sebuah pengorbanan.

Karena pengorbanan terbesar terkadang bukan memberikan sesuatu yang kita miliki.

Pengorbanan terbesar adalah meninggalkan sesuatu yang paling kita cintai demi masa depan mereka.

Seorang perantau membawa koper yang mungkin tidak besar.

Pakaiannya tidak banyak. Uangnya mungkin hanya cukup untuk perjalanan dan beberapa hari kehidupan.
Namun sebenarnya ada sesuatu yang jauh lebih berat yang ia bawa yakni
harapan keluarganya.

Ia membawa wajah istrinya.
Ia membawa suara anak-anaknya.
Ia membawa pesan orang tuanya.

Ia membawa bau rumahnya, makanan kampung halamannya, bahasa yang biasa didengarnya, jalan kecil tempat ia tumbuh, dan kenangan yang tidak mungkin dimasukkan ke dalam koper.

Semua itu ikut merantau bersamanya.
Di negeri atau kota yang asing, ia kemudian belajar bahwa hidup tidak selalu ramah.
Ada hari ketika pekerjaan begitu berat.
Ada saat ketika uang hampir habis.

Ada malam ketika rasa sepi datang tanpa mengetuk pintu.
Dan pada malam-malam seperti itulah seseorang mungkin bertanya kepada dirinya sendiri

“Untuk apa aku bertahan sejauh ini?”

Lalu jawabannya muncul dari dalam hati

“Karena di rumah ada orang-orang yang sedang menungguku.”

Itulah cinta.

Cinta tidak selalu berbentuk kata

“Aku mencintaimu.”

Kadang cinta berbentuk keringat.
Kadang cinta berbentuk air mata yang disembunyikan.
Kadang cinta adalah bekerja ketika tubuh sudah lelah.

Kadang cinta adalah menahan rindu bertahun-tahun.
Dan terkadang cinta berarti pergi sangat jauh, agar orang yang kita cintai mempunyai kesempatan untuk hidup lebih baik.

Waktu Terus Berjalan
Tahun demi tahun berlalu.
Dunia perlahan berubah.
Jalan-jalan semakin baik. Kota semakin besar. Kendaraan semakin cepat.

Pesawat semakin mudah membawa manusia melintasi negara.

Telepon hadir, kemudian internet, lalu telepon pintar yang sekarang hampir tidak pernah lepas dari tangan saya dan anda

Kehidupan menjadi jauh lebih modern.

Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar berubah
Adalah
hati manusia.
Manusia tetap mengenal rindu.

Tetap mengenal kehilangan.
Tetap ingin dicintai.
Tetap ingin pulang.

Teknologi dapat memperpendek jarak antara dua kota, bahkan dua negara.
Tetapi teknologi tidak pernah mampu menghapus jarak di dalam hati seseorang yang sedang merindukan rumah.

Karena itu saya merasa perjalanan dalam Dear You bukan hanya cerita tentang masa lalu.
Ia adalah cerita tentang kita semua.

Tentang orang tua kita.
Tentang kakek-nenek kita.

Tentang generasi yang membangun kehidupan dari hampir tidak mempunyai apa-apa, sampai akhirnya anak cucunya dapat menikmati dunia yang jauh lebih nyaman.

Sering kali kita melihat keberhasilan seseorang hanya pada akhirnya.
Kita melihat rumah yang bagus.

Kita melihat keluarga yang berhasil.
Kita melihat anak-anak mendapatkan pendidikan.

Kita melihat kehidupan yang sudah mapan.

Namun kita tidak melihat berapa banyak air mata yang pernah jatuh untuk membangunnya.

Kita tidak melihat malam-malam ketika seseorang tidur dengan perut lapar

Kita tidak mendengar tangis yang ditahan karena rindu kepada keluarga.

Kita tidak tahu berapa kali seseorang hampir menyerah tetapi memilih bangun kembali keesokan harinya.

Maka saya belajar satu hal

Jangan hanya mengagumi keberhasilan seseorang.

Hormatilah juga perjalanan yang membawanya sampai ke sana.

Tentang Cinta
Cinta yang paling indah bukanlah cinta yang tidak pernah terluka.

Cinta yang paling indah adalah cinta yang tetap memilih bertahan setelah melewati luka, jarak, waktu, dan perubahan.

Mungkin ada sebuah percakapan yang dapat menggambarkan perasaan itu

“Apakah selama ini kamu tidak pernah lelah menungguku?”

“Lelah.”

“Lalu mengapa masih menunggu?”

“Karena yang kutunggu bukan kepulanganmu saja.

Aku menunggu janji kita.”

Betapa dalam arti sebuah penantian.

Pada akhirnya manusia akan menjadi tua.

Wajah yang dahulu muda akan dipenuhi garis-garis kehidupan. Rambut berubah putih.

Langkah menjadi lebih lambat.
Tetapi kenangan mempunyai caranya sendiri untuk tetap muda.

Kita mungkin lupa tanggal.
Kita mungkin lupa tempat.
Namun kita sulit melupakan bagaimana seseorang pernah membuat hati kita merasa dicintai.

Dan mungkin pada usia senja, setelah perjalanan panjang itu, hanya ada satu kalimat yang ingin diucapkan

“Kalau waktu dapat diputar kembali, aku tetap akan memilih jalan yang sama.

Bukan karena jalannya mudah, tetapi karena di ujung perjalanan itu ada kamu.”

Itulah yang saya rasakan setelah menonton Dear You.

Film ini mengingatkan saya bahwa kehidupan manusia sebenarnya singkat.

Kita datang dengan tangan kosong.
Sepanjang perjalanan kita mengejar banyak hal

Pekerjaan, uang, rumah, keberhasilan, dan kehidupan yang lebih baik.

Semua itu penting.
Tetapi pada akhirnya, yang paling lama tinggal bersama kita bukanlah apa yang pernah kita miliki.

Yang tinggal adalah siapa yang pernah kita cintai, siapa yang pernah mencintai kita, dan untuk siapa kita pernah berkorban.

Hari ini dunia sudah jauh lebih modern dibandingkan tahun 1960-an.

Hidup mungkin lebih mudah dalam banyak hal.

Namun jangan sampai kemudahan membuat kita lupa menghargai pengorbanan.

Jangan sampai cepatnya komunikasi membuat kita lupa mengatakan, “Aku merindukanmu.”
Jangan sampai kesibukan membuat kita lupa pulang.
Dan jangan menunggu seseorang tiada untuk mengatakan, “Terima kasih karena dahulu engkau berjuang untuk kami.”

Karena sesungguhnya setiap keluarga mempunyai Dear You-nya sendiri.

Seseorang yang pernah pergi.
Seseorang yang pernah menunggu.
Seseorang yang pernah berkorban.
Dan seseorang yang namanya, walaupun waktu terus berjalan, tetap tinggal di dalam hati.

Pada akhirnya, rumah bukan hanya sebuah tempat.
Rumah adalah tempat di mana seseorang masih menunggu kepulangan kita.
Dan cinta sejati bukan tentang siapa yang selalu berada di samping kita.

Kadang
kadang cinta sejati justru tentang seseorang yang berani berjalan sangat jauh…
namun hatinya tidak pernah benar benar meninggalkan rumah.

Terima kasih, Dear You.

Untuk sebuah cerita yang membuat saya kembali mengingat arti cinta, keluarga, perjuangan, perantauan, penantian, dan pengorbanan.
Film telah selesai.

Tetapi rasanya, kisahnya masih berjalan di dalam hati saya.

Adharta.Com

Www.kris.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *