Cerpen nomor 0101
PERJALANAN HIDUP EDWARD
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS
Medio Agustus 2026
Dari Kubangan Kodok Menuju Gelar Sarjana Teknik Sipil
Kisahku
Namaku Edward, tetapi keluarga dan Teman-teman lebih akrab memanggilku Edo.
Aku dilahirkan dan dibesarkan dalam sebuah keluarga sederhana.
Bahkan, kata “sederhana” mungkin belum cukup untuk menggambarkan keadaan kami pada masa itu.
Sejak kecil, aku sudah mengenal arti kekurangan. Kemiskinan bukan sekadar cerita yang kudengar dari orang lain, melainkan kenyataan yang setiap hari hadir di dalam rumah kami.
Orang tuaku harus berjuang sangat keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Aku sering menyaksikan wajah mereka yang lelah setelah seharian bekerja. Mereka berusaha tersenyum di hadapan anak-anaknya, meskipun aku tahu bahwa di balik senyum itu tersimpan kecemasan yang begitu dalam. Ada tagihan yang belum terbayar, kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi, serta biaya sekolah anak-anak yang terus menghantui pikiran mereka.
Kadang-kadang, makanan yang tersedia harus dibagi agar semua anggota keluarga mendapat bagian. Tidak jarang orang tuaku mengatakan bahwa mereka sudah makan, padahal sebenarnya mereka sedang menahan lapar. Ketika aku mulai mengerti, hatiku terasa hancur. Aku menyadari bahwa mereka rela mengorbankan dirinya agar anak-anaknya tidak tidur dengan perut kosong.
Pada malam hari, aku sering melihat ayah dan ibu duduk dalam diam. Mereka berbicara dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh kami. Namun, dari balik kamar, aku dapat mendengar kegelisahan mereka. Aku mendengar keluhan tentang uang sekolah, biaya hidup, dan pekerjaan yang tidak selalu memberikan hasil. Walaupun belum sepenuhnya memahami persoalan orang dewasa, aku tahu bahwa hidup kami sedang tidak baik-baik saja.
Di dalam kesulitan itu, aku mencoba menemukan kebahagiaanku sendiri. Sejak kecil, aku sangat suka bermain kodok di belakang rumah.
Di sana terdapat tanah basah, rerumputan, kubangan kecil, serta suara kodok yang bersahutan ketika hujan turun.
Anak-anak lain mungkin menganggap kodok sebagai binatang yang menjijikkan, tetapi bagiku kodok adalah bagian dari masa kecil yang tidak dapat kulupakan.
Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam di belakang rumah untuk mencari dan memperhatikan kodok. Kakiku kotor oleh lumpur, pakaianku basah, dan tanganku penuh tanah. Terkadang ibu memarahiku karena pulang dalam keadaan sangat kotor. Akan tetapi, setelah melihat wajahku yang gembira, kemarahannya perlahan menghilang.
Siapa yang menyangka bahwa kesukaan masa kecil itu kelak menjadi salah satu jalan kehidupanku?
Keadaan ekonomi keluarga membuatku belajar bahwa aku tidak boleh hanya menunggu pertolongan. Aku harus berusaha menciptakan kesempatan dengan apa pun yang ada di sekitarku. Dari kegemaranku bermain kodok, perlahan muncul keberanian untuk memelihara dan menjualnya. Aku mulai memahami cara merawat kodok, memilih bibit yang baik, menyiapkan tempat pemeliharaan, dan mencari orang yang bersedia membelinya.
Usaha itu tidak langsung berhasil. Ada kodok yang mati, ada pembeli yang membatalkan pesanan, dan ada pula orang-orang yang meremehkan pekerjaanku. Beberapa orang tertawa ketika mengetahui aku menjadi pedagang sekaligus peternak kodok. Mereka mungkin menganggap pekerjaanku tidak membanggakan. Namun, bagiku tidak ada pekerjaan halal yang pantas direndahkan.
Setiap kodok yang berhasil kujual membawa harapan bagi keluargaku. Hasilnya mungkin tidak besar, tetapi uang itu sangat berarti. Dari sanalah aku belajar bahwa rezeki dapat datang melalui jalan yang tidak pernah kita bayangkan. Kodok-kodok yang dahulu hanya menjadi teman bermain ternyata membantu membuka pintu masa depanku.
Aku tetap berusaha menjalani pendidikan. Aku bersekolah dari tingkat SD, SMP, hingga SMA di Ruba. Perjalanan sekolahku tidak selalu mudah. Ada saat ketika aku merasa minder melihat teman-teman yang mempunyai perlengkapan sekolah lebih baik. Mereka datang dengan sepatu bagus, tas baru, dan uang saku yang cukup. Sementara itu, aku harus menjaga barang-barangku agar dapat digunakan selama mungkin.
Pernah aku pergi ke sekolah dengan hati yang sangat sedih karena mengetahui orang tuaku tidak mempunyai cukup uang. Aku melihat ibu mencari sisa uang di tempat penyimpanan, lalu menyerahkannya kepadaku. Tangannya menggenggam uang itu erat-erat, seolah-olah sedang menyerahkan sesuatu yang sangat berharga.
“Pergilah sekolah, Do. Belajarlah yang rajin. Jangan pikirkan keadaan kami,” katanya.
Aku menerima uang itu dengan mata berkaca-kaca. Aku tahu mungkin itulah uang terakhir yang dimilikinya. Dalam perjalanan menuju sekolah, air mataku jatuh. Aku berjanji dalam hati bahwa pengorbanan orang tuaku tidak boleh menjadi sia-sia.
Setelah menyelesaikan SMA, aku ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Keinginanku terasa seperti mimpi yang terlalu besar bagi keluarga miskin seperti kami. Biaya kuliah tentu tidak sedikit. Ada orang yang menyarankanku untuk berhenti sekolah dan langsung bekerja. Aku memahami alasan mereka, tetapi jauh di dalam hatiku masih tersimpan cita-cita yang tidak mau kupadamkan.
Aku ingin menjadi seorang sarjana Teknik Sipil.
Dengan segala keterbatasan, aku melanjutkan pendidikan Teknik Sipil di Trisakti. Ketika pertama kali memasuki kampus, perasaanku bercampur aduk. Aku merasa bangga, takut, dan tidak percaya bahwa anak dari keluarga miskin seperti diriku dapat berdiri di sana. Aku melihat gedung kampus, ruang kuliah, serta mahasiswa-mahasiswa yang datang dari berbagai latar belakang. Aku sadar bahwa perjuanganku baru saja dimulai.
Masa kuliah menjadi perjalanan yang sangat berat. Aku harus membagi waktu antara belajar dan mencari penghasilan. Ketika teman-temanku dapat beristirahat, aku masih memikirkan ternak, pembeli, serta kebutuhan keluarga. Ketika mereka dapat membeli buku dengan mudah, aku harus menghitung uang berkali-kali dan menentukan kebutuhan mana yang harus didahulukan.
Ada malam-malam ketika tubuhku begitu lelah, tetapi aku tetap membuka buku. Mataku terasa berat dan pikiranku hampir menyerah. Beberapa kali air mataku menetes di atas lembaran tugas. Aku bertanya kepada diriku sendiri, “Apakah aku sanggup menyelesaikan semua ini?”
Pada saat-saat seperti itu, bayangan wajah orang tuaku selalu datang. Aku teringat tangan mereka yang kasar karena bekerja. Aku teringat ibu yang pernah menahan lapar dan ayah yang menyembunyikan kelelahan. Aku tidak ingin pulang membawa kegagalan. Aku harus bertahan, bukan hanya untuk diriku sendiri, melainkan juga untuk mereka.
Aku pernah merasa sangat terpuruk ketika masalah ekonomi datang bersamaan dengan tekanan kuliah. Rasanya seperti berjalan di lorong yang gelap tanpa mengetahui di mana ujungnya. Namun, aku belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak pernah menangis. Keberanian adalah tetap melangkah meskipun air mata terus mengalir.
Hari demi hari kulewati. Tugas demi tugas kuselesaikan. Aku jatuh, bangkit, lalu kembali berjuang. Hingga akhirnya, hari yang sangat kunantikan itu tiba: aku berhasil menyelesaikan pendidikan dan dinyatakan lulus sebagai sarjana Teknik Sipil Trisakti.
Saat kelulusan, pikiranku tidak langsung tertuju pada diriku sendiri. Aku mencari wajah ayah dan ibu. Ketika melihat mereka, dadaku terasa sesak oleh haru. Wajah mereka telah menua, tetapi mata mereka memancarkan kebahagiaan yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Aku memeluk mereka erat-erat.
Air mata kami pun pecah.
Dalam pelukan itu, seakan-akan seluruh penderitaan masa lalu kembali terbayang: rumah sederhana kami, makanan yang harus dibagi, uang sekolah yang sulit diperoleh, tubuh yang lelah, lumpur di belakang rumah, kodok-kodok yang kupelihara, dan malam-malam panjang yang kulewati sambil belajar.
Aku berkata dalam hati, “Ayah, Ibu, gelar ini bukan hanya milikku. Gelar ini adalah milik kalian. Inilah buah dari doa, air mata, pengorbanan, dan cinta kalian.”
Kini aku memahami bahwa kemiskinan bukanlah akhir dari segala harapan. Masa lalu yang sulit tidak harus menentukan masa depan seseorang. Aku memang pernah hidup dalam kekurangan, menjadi pedagang, dan beternak kodok. Namun, aku tidak pernah malu terhadap perjalanan itu. Justru dari sanalah aku belajar tentang kerja keras, kesabaran, tanggung jawab, dan harga diri.
Namaku Edward, panggilanku Edo. Aku adalah seorang anak yang tumbuh dalam kemiskinan, bermain kodok di belakang rumah, lalu menjadi pedagang dan peternak kodok. Aku menempuh pendidikan dengan air mata dan akhirnya menyelesaikan kuliah Teknik Sipil di Trisakti.
Perjalananku bukanlah kisah tentang kehidupan yang selalu berjalan mulus. Ini adalah kisah tentang seseorang yang berkali-kali hampir menyerah, tetapi memilih untuk bangkit sekali lagi. Sebab selama kita masih mempunyai doa, kemauan, dan keberanian untuk berusaha, selalu ada jalan menuju hari esok.
Kepada siapa pun yang sedang hidup dalam kesulitan, jangan malu dengan keadaanmu. Jangan takut bermimpi hanya karena hari ini kamu belum mempunyai apa-apa. Teruslah berjalan, sekalipun langkahmu kecil dan air matamu belum berhenti mengalir.
Percayalah, suatu hari nanti kamu akan menoleh ke belakang dan menyadari bahwa setiap luka telah membuatmu lebih kuat. Setiap air mata telah menyirami benih harapan. Dan setiap perjuangan telah mengantarkanmu menuju kehidupan yang dahulu hanya berani kamu impikan.
Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS
Call Center
08119620888
www.kris.or.id I www.adharta.com
