CERPEN No. 0100

SEMALAM DI SINDANGLAYA

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

Sindanglaya,
8 Agustus 2026

“Pak, sudah sampai mana?”

Suara Genek terdengar dari telepon.
Sudah beberapa kali ia menelepon, menanyakan kapan saya tiba di Sindanglaya.

Namun malam itu perjalanan panjang dan tubuh yang lelah akhirnya lelap tertidur.

Di dalam mobil saya bersama Bapak Budi Hidayat dan Ibu Hian, saya sempat bercerita panjang lebar. Entah sejak kapan cerita kami berhenti, tahu-tahu mata saya sudah terpejam.

Telepon berbunyi. Pesan-pesan singkat masuk satu demi satu.

Saya hanya sempat berpikir, nanti malam saja saya balas.

7 Agustus 2026

Sore itu, selepas Misa Jumat Pertama di Wisma Mitra Sunter,
Misa dipimpin Pastor Fransiskus Riyaton
Seorang Pastor tapi juga perwira Angkatan Laut
Misa jumper dilaksanakan oleh Keluarga Katolik KRIS setiap bulan.

sekitar pukul 16.00, kami langsung berangkat menuju Cipanas.

Sebenarnya ada tiga acara lain yang harus saya hadiri. Dengan berat hati semuanya saya lewatkan. Ada sesuatu yang terasa lebih penting: anak-anak Panti Asuhan Santo Yusup Sindanglaya sedang menantikan kami.

Kadang
kadang hidup memang meminta kita memilih.

Bukan memilih mana yang paling meriah, tetapi mana yang membuat kehadiran kita mempunyai arti.

Perjalanan Jakarta ke Cipanas ternyata bersahabat. Tidak terlalu macet.
Bahkan boleh dikatakan lancar.

Tepat pukul 20.00 kami tiba di Restoran Amen Sindanglaya.

Makan malam sudah tersedia.

“Wah, ini baru namanya sambutan!” celetuk seseorang.

Semua tertawa.

Mungkin karena perut memang sudah lapar, makanan malam itu terasa luar biasa nikmat.

“Kalau lapar begini, nasi putih saja bisa terasa seperti makanan hotel bintang lima,” kata saya.

“Kalau begitu tambah, Pak!” sahut yang lain.

Tawa kembali pecah.

Selesai makan, kami berunding sebentar mengenai acara esok hari, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Panti Asuhan Santo Yusup.

Udara dingin Sindanglaya menyambut kami.

Langit cerah dan malam terasa tenang.

Kami menginap di rumah Dokter Darmadi, putra Dokter Handoko Gunawan, dokter ahli paru-paru yang tentu dikenal banyak orang, terutama karena perjuangannya pada masa pandemi Covid-19.

Saya teringat sebuah kenangan.

Saat itu Freddy Hartanto, seorang relawan KRIS, berada dalam kondisi kritis dan dirawat di Graha Kedoya. Hampir setiap hari saya berdiskusi dengan Dokter Handoko mengenai kondisinya.

Hari-hari penuh kecemasan itu akhirnya berubah menjadi rasa syukur.

Freddy tertolong dan dapat diselamatkan.

Kenangan seperti itu tidak mudah hilang.

Dokter Handoko Gunawan mengingatkan saya bahwa di balik gelar seorang dokter, ada tangan yang bekerja, pikiran yang terus mencari jalan, dan hati yang berjuang mempertahankan kehidupan manusia.

Malam semakin larut di rumah Dokter Darmadi yang berada di belakang Panti Asuhan Santo Yusup.

Tetapi ada satu persoalan besar.

Kampung tengah mulai berkerucuk!
Hahaha

Bagi orang Manado, kampung tengah adalah istilah akrab untuk perut.

Ibu Monic, Ibu Wenny, Ibu Restu, dan Ibu Betsy mulai protes.

“Pak, ini rapat terus, tetapi kampung tengah bagaimana?”

“Memangnya belum aman?”

“Sudah tidak aman. Sudah minta perhatian!”

Akhirnya datanglah penyelamat malam itu: martabak telur dan kue-kue!

“Ini baru keputusan rapat yang paling cepat disetujui,” kata saya.

Semua tertawa.

Martabak pun berpindah dari kotak ke piring, lalu menghilang dengan kecepatan luar biasa.

Kampung tengah akhirnya berdamai.

Namun acara belum selesai. Simulasi kegiatan esok hari terus dilakukan sampai menjelang subuh.

Saya baru terlelap hampir pukul dua pagi. Kami masih menunggu rombongan terakhir

Bapak Fandy, Bapak Dwi Jelly, dan Bapak Lendy.

Ketika mereka akhirnya tiba, malam ditutup dengan doa bersama.

Doa dilakukan bergilir.
Dr Darmadi
Drg Wenny
Ibu Monic
Ibu Betsy
Bapak Harling
Saya menutup dengan berkat malam dan Doa Malaikat

Tidak ada Doa yang panjang
Hanya permohonan sederhana agar kegiatan besok berjalan lancar, semua sehat, dan anak-anak bergembira.

8 Agustus 2026

Pukul 04.00, bahkan sebelum ayam sempat berkokok, sebagian panitia sudah bangun.

Doa pagi dilakukan, dilanjutkan persiapan acara.

Pukul 06.00 terdengar morning call.

Ketua Panitia, Bapak Marvin, sangat proaktif.
Satu per satu anggota tim diingatkan.

“Ayo bangun! Anak-anak sudah menunggu!”

Pukul 06.30, hadiah pertama hari itu datang dalam bentuk yang sangat sederhana:

Bubur Ayam Cianjur!

Bayangkan bubur panas di tengah udara pagi Sindanglaya yang dingin.

Ada sate ati ampela, telur puyuh, sate kulit, sup, kerupuk, dan tentu saja ditutup secangkir kopi hitam.

Nikmat sekali!

Pagi itu kami sudah bersukacita bersama anak-anak panti, Bruder Tri, Pastor Oghy, dan Pastor Martin Harun.

Tak lama kemudian datang Dea dan Pandu tiba sekitar pukul 07.00.
Ola dan Opi ikut saya semalam

Ola adalah cucu saya yang paling kecil sekarang berusia enam tahun.

Ia mendekati saya dengan wajah serius.

“IKung, apakah Ola boleh jadi relawan?”

Saya menatapnya.

“Boleh.”

Matanya langsung berbinar.

“Tugas Ola apa?”

Saya berpikir sebentar, lalu menjawab dengan sangat serius,

“Tugas pertama relawan adalah… makan bubur dulu!”

Ola tertawa.

Ternyata setelah makan, relawan kecil ini benar-benar menjalankan tugasnya.

Ola berkenalan dengan anak-anak panti, akrab sekali luar biasa
membagikan cokelat, bercakap
cakap, dan bermain bersama mereka.

Melihatnya, saya tersenyum.

Barangkali kebaikan memang tidak perlu menunggu seseorang menjadi dewasa.

Kebaikan bisa dimulai dari sepotong cokelat yang diberikan seorang anak berusia enam tahun kepada teman yang baru dikenalnya.

Pukul 08.00

Acara resmi dibuka dengan doa yang dipimpin MC, Ibu Yayuk.

Dilanjutkan sambutan Bruder Tri, saya sebagai Ketua Umum KRIS,
Bapak Marvin sebagai Ketua Panitia Baksos KRIS sekaligus President Lions Club Jakarta Tomang Sejati Distrik 307 B1, serta Bapak Budi Hidayat sebagai Wakil Ketua Umum KRIS.

Ada pula cerita ringan mengenai nama Yusuf.

“Sudah tahu arti Yusuf?” tanya saya.

Beberapa orang menggeleng.

“Konon artinya tampan sekali, ganteng!”

Ibu-ibu langsung tertawa.

Saya melanjutkan kisah tentang ketampanan Yusuf yang begitu mempesona sampai orang yang sedang memotong bahan makanan bawang bisa tidak sadar tangannya teriri berdarah tanpa rasa sakit lhoooo piye
Semua tertawa

Suasana pun semakin cair.

Pukul 08.30 dimulailah edukasi kesehatan.

Suster Nunung memberikan penjelasan dengan luar biasa, dibantu Ibu Restu. Anak-anak mengikuti dengan penuh perhatian.

Kami memperkenalkan konsep MOTOR:

Makanan sehat, baik, dan bergizi.

Olahraga teratur.Tidur cukup dan bermutu.

Obat dan perawatan segera apabila sakit.

Rekreasi untuk memberikan ketenangan lahir dan batin.

Sebuah gagasan dari Prof. Yos Susanto dari Rumah Sakit Primaya Group
yang akan terus dipromosikan KRIS.
Nantinya

Pukul 09.30 pemeriksaan mata dimulai.

Anak-anak diperiksa secara teliti oleh tim dokter, dikawal teman-teman Lions Club Jakarta Tomang Sejati.

Yang membutuhkan kacamata minus mendapat kacamata. Yang membutuhkan kacamata plus atau kacamata baca juga dilayani.

Ada seorang anak yang selesai mencoba kacamatanya lalu memandang sekeliling.

“Sekarang lebih jelas?” tanya seorang relawan.

Anak itu tersenyum lebar.

“Jelas sekali!”

Jawaban sederhana itu terasa sangat indah.

Kadang
kadang kebahagiaan adalah ketika dunia yang tadinya buram tiba-tiba terlihat lebih jelas.

Anak-anak juga menerima berbagai bingkisan.

Ada dukungan dari Wings Group untuk kebutuhan kesehatan dan makanan, juga dari Inaco melalui PDG Lion Erijanto dan Lion Meme.

Sembako dibagikan kepada warga prasejahtera.

Acara diisi juga dengan penanaman Kopi
Sebagai program Partisipasi Lingkungan hidup
200 Pohon Kopi Arabika di tanam secara. Simbolis

Pasutri Adharta

Pasutri Budi Hidayat

Pasutri Erijanto

Bapak Marvin Ketua Baksos

Pastor amartin Harusnya OFM

Pastor Oghy aoafam

Bruder Tri ofm

Di ruang Asep, suasana semakin ramai. Musik angklung mengalun dan penyanyi
penyanyi hebat dari panti ikut menghibur.

Pukul 12.00 udara mulai panas.

Untung makan siang sudah menunggu!

Ada bakso, nasi, ayam nugget, tahu, tempe, sayur asem khas panti
yang menjadi kesenangan Bapak Budi Hidayat
ikan teri, Sambel terasi Mantabs
serta buah-buahan: melon, semangka, dan buah naga.

Di sela-sela kegiatan,
Dea Julianti, Opi, dan Ola punya acara sendiri memetik jagung muda dan tomat.
Alpukat
Laku habis ludes
Laris manis

“Ola, dapat apa?”

“Jagung!”

“Berapa?”

Ola menunjukkan hasil petikannya dengan bangga.

“Banyak!”

Saya tertawa melihat wajahnya.

Kegiatan terus berlanjut sampai sore.

Jagung rebus, ubi rebus, dan pisang goreng mulai tersaji. Kopi hangat mengepul di cangkir.

Ada emping, kerupuk, dan kue kering.

Entah mengapa, di tengah udara Sindanglaya, anak-anak yang tersenyum, suara angklung, dan persahabatan yang memenuhi halaman panti, hati terasa begitu damai.

Saya pun menyanyikan lagu Semalam di Cianjur.

Janji kasih yang telah kau ucapkan…
Namun sayang hanya semalam…
Berat hati perpisahan…
Nanti kelak kita bertemu lagi…

Suasana berubah menjadi haru.

Saya memandang anak-anak Panti Asuhan Santo Yusup.

Sejak pagi kami datang membawa berbagai bingkisan. Kami berpikir kami datang untuk berbagi.

Tetapi menjelang pulang saya justru merasa kamilah yang menerima jauh lebih banyak.

Kami menerima senyuman.

Kami menerima persahabatan.

Kami menerima kegembiraan.

Dan yang paling penting, kami diingatkan kembali bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar.

Kadang ia datang dari semangkuk bubur ayam.

Dari sepotong cokelat yang dibagikan Ola.

Dari kacamata baru yang membuat seorang anak melihat dunia lebih jelas.

Dari jagung yang dipetik bersama.

Dari martabak telur tengah malam.

Dari doa sederhana menjelang subuh.

Dan dari sebuah pertemuan yang membuat orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal akhirnya merasa seperti keluarga.

Sebelum meninggalkan panti saya berkata,

“Anak-anakku, terima kasih. Hari ini kalian membuat kami semua bahagia.”

Seorang anak bertanya,

“Opa Adharta, nanti datang lagi?”

Pertanyaan itu membuat langkah saya seperti tertahan.

Saya tersenyum.

“Pasti.”

“Kapan?”

“Nanti kita atur. Kalau perlu, kita ketemu dan bermain bersama di Playtopia!”

“Yeeeaaay!”

Suara mereka pecah penuh kegembiraan.

Saya tertawa.

Di situlah saya mengerti bahwa sebuah perpisahan yang indah bukanlah tentang mengatakan selamat tinggal.

Perpisahan yang indah adalah ketika kita masih mempunyai alasan untuk berkata:

“Sampai bertemu lagi.”

Selamat tinggal, anak-anakku di Panti Asuhan Santo Yusup Sindanglaya.

Terima kasih untuk satu hari yang begitu indah.

Terima kasih kepada Bruder, Pastor, para dokter, perawat, panitia, relawan, para donatur, sahabat
sahabat KRIS, Lions Club, dan semua tangan yang bekerja tanpa lelah.

Kita mungkin datang dari rumah yang berbeda.

Kita mungkin mempunyai pekerjaan dan perjalanan hidup yang berbeda.

Tetapi hari itu kita mempunyai satu bahasa yang sama:

bahasa kasih.

Satu hati
Satu jiwa
Satu tujuan
Indonesia Sejahtera

Itulah KRIS

Matahari Sindanglaya perlahan turun.

Udara kembali sejuk.

Suara anak-anak masih terdengar di belakang kami.

Saya menoleh sekali lagi.

Entah mengapa hati saya penuh sukacita.

Ternyata saya tidak hanya membawa pulang kenangan tentang semalam di Sindanglaya.

Saya membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga:

kenangan tentang persahabatan, pelayanan, dan kasih yang akan tinggal lama di dalam hati.

Sebab pada akhirnya, hidup bukanlah tentang berapa banyak yang kita miliki.

Hidup adalah tentang berapa banyak senyum yang sempat kita tinggalkan di hati orang lain.

Sampai bertemu lagi, anak-anakku.

Tuhan memberkati kita semua.

Salam kasih,

Adharta.com

Www.kris.or.id

“Semoga damai dan segala kebaikan menyertaimu.” 🙏❤️

Pace e Bene
😀

Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS

Call Center
08119620888

www.kris.or.id I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *