Cerpen nomor 099
Asam di Gunung, Garam di Laut
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS
Cianjur
7 Agustua 2026
Kan ku ingat
Semalam di Cianjur
Janji Kasih
Yang kau ucapkan
Penggalan lagu merdu yang filantunkan Alfian buat saya jadi ingat talian persahavatan
Tidak semua sahabat kita mendapat berkat Damai sejahtera
Kiaahku
Kenneth berasal dari Jambi.
Maria berasal dari Sindanglaya, Cianjur
Sebuah kampung berhawa sejuk di kaki Gunung Gede.
Mereka tumbuh di tempat yang berjauhan, dipisahkan gunung, laut, jalan panjang, dan rahasia kehidupan. Namun, seperti pepatah lama,
“Asam di gunung, garam di laut, bertemu juga di dalam belanga.”
Kalqu aku lebih suka bertemu di sayur asam ya
Menu favorit Bapak dan Ibu Budi Hidayat
Takdir mempertemukan mereka di Jakarta, kota yang menerima jutaan manusia dengan harapan, lalu menguji mereka dengan kenyataan.
Aku mengenal Maria sekitar dua puluh tahun lalu, jauh sebelum ia bertemu Kenneth. Waktu itu Maria masih muda, periang, dan penuh kepedulian. Dalam banyak percakapan, ia sering bercerita tentang Panti Asuhan Santo Yusup di Sindanglaya, Cipanas.
Matanya selalu berbinar ketika menyebut anak-anak di sana.
“Mereka tidak membutuhkan rasa kasihan,” katanya suatu hari.
“Mereka membutuhkan seseorang yang mau tinggal, mendengarkan, dan membuat mereka merasa tidak dilupakan.”
Maria sering datang membawa makanan, pakaian, serta sedikit uang yang dikumpulkannya. Kadang-kadang ia hanya membawa dirinya sendiri
menemani anak-anak belajar, bermain, dan tertawa. Ia tidak pernah membayangkan bahwa tempat yang dahulu sering didatanginya untuk memberi pertolongan, kelak akan menjadi tempat kedua putrinya mencari perlindungan.
Airmataku
Ketika Maria bertemu Kenneth di Jakarta, cinta tumbuh dengan cepat. Kenneth melihat ketulusan dalam diri Maria.
Maria menemukan keteguhan dalam diri Kenneth. Perbedaan asal tidak menjadi penghalang. Jambi dan Sindanglaya terasa dekat ketika dua hati sedang saling mencintai.
Sepuluh tahun lalu, mereka melangsungkan pernikahan. Di hadapan altar, keluarga, dan para sahabat, mereka mengucapkan janji untuk saling mencintai dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit.
Maria tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Kenneth menggenggam tangannya erat, seolah tidak akan pernah melepaskannya.
Dari pernikahan itu lahirlah dua putri kecil yang cantik dan menggemaskan.
Rani dan Rina
Kehadiran mereka membawa warna baru.
Rumah yang sebelumnya sunyi dipenuhi tangisan bayi, suara tawa, mainan berserakan, dan langkah-langkah kecil yang berlari mencari pelukan.
Pada masa itu, kebahagiaan terlihat begitu sempurna. Maria menjadi ibu yang penuh kasih. Kenneth bekerja keras untuk keluarganya. Foto-foto mereka memperlihatkan senyum yang hangat.
Tidak seorang pun mengetahui bahwa di balik pintu rumah, retakan kecil mulai muncul.
Badai rumah tangga memang tidak pernah mengetuk pintu sebelum masuk. Ia datang perlahan melalui kelelahan, kekecewaan, persoalan ekonomi, perbedaan pendapat, serta kata-kata yang dilontarkan ketika hati sedang panas.
Percakapan berubah menjadi perdebatan. Perdebatan berubah menjadi pertengkaran. Pertengkaran yang dahulu segera berakhir mulai berlangsung berhari-hari.
Ada malam ketika Maria menangis sendirian, sementara Kenneth memilih diam.
Ada pagi ketika Kenneth berangkat tanpa mengucapkan salam, sedangkan Maria berdiri di balik jendela dengan kemarahan bercampur kesedihan.
Mereka masih tinggal dalam satu rumah, tetapi hati mereka seperti menempati dua dunia yang berjauhan.
Cinta yang pernah lembut berubah menjadi kumpulan luka. Setiap pihak merasa paling disakiti dan paling tidak dimengerti. Kata-kata lama diungkit kembali.
Kesalahan kecil dibesarkan. Kebencian tumbuh dari kekecewaan yang tidak pernah diselesaikan.
Di tengah kericuhan itu, dua putri kecil mereka sering terbangun karena suara pertengkaran. Mereka tidak memahami persoalan orang dewasa.
Mereka hanya tahu ayah dan ibu yang dahulu tertawa bersama kini lebih sering saling membelakangi.
Suatu malam, salah seorang putri mereka memeluk adiknya di dalam kamar.
“Jangan menangis,” bisiknya.
“Besok Ayah dan Ibu pasti baik lagi.”
Namun, hari esok yang mereka tunggu tidak pernah benar-benar datang.
Lima tahun lalu, Maria dan Kenneth akhirnya bercerai. Keputusan itu bukan kemenangan bagi siapa pun.
Tidak ada pemenang ketika sebuah keluarga pecah. Yang ada hanyalah dua orang dewasa yang kehabisan tenaga, serta dua anak yang kehilangan rumah dalam arti yang sesungguhnya.
Orang-orang berkata bahwa dalam ajaran Katolik, ikatan pernikahan adalah ikatan suci yang tidak boleh diputuskan.
Maria dan Kenneth mengetahui itu. Mereka pernah berdiri di depan altar dan mengucapkan janji kepada Tuhan.
Mereka tahu perceraian bertentangan dengan keyakinan yang selama ini mereka pegang.
Namun, manusia sering kali lemah. Ketika persoalan membesar, kemarahan menguasai pikiran, dan jalan pulang tidak lagi terlihat, hukum serta janji yang dahulu dijunjung dapat diterjang.
Perceraian tidak mengenal agama. Ia dapat masuk ke rumah siapa pun ketika cinta tidak lagi mampu mengalahkan ego, kebencian, dan luka.
Setelah perceraian, kehidupan menjadi semakin sulit.
Keadaan membuat kedua putri kecil mereka akhirnya harus tinggal di Panti Asuhan Santo Yusup, Sindanglaya, Cipanas.
Hari ketika mereka diantar ke sana menjadi hari yang menghancurkan hati
Maria berdiri di depan bangunan yang sangat dikenalnya. Halamannya masih sama.
Udara dingin Sindanglaya masih menyentuh wajah dengan lembut.
Salib di dinding masih tergantung di tempatnya. Suara anak-anak masih terdengar dari ruang bermain.
Namun, kali ini Maria tidak datang membawa bantuan.
Ia datang membawa dua koper kecil dan menggandeng kedua putrinya.
Langkahnya terasa berat. Setiap sudut panti mengingatkannya pada masa muda, ketika ia datang dengan senyum dan keyakinan bahwa dirinya sedang menolong anak-anak yang kurang beruntung.
Kini ia berdiri di tempat yang sama sebagai seorang ibu yang harus menitipkan buah hatinya karena segala kelemahan dan kekurangan hidup.
“Ma, kita tinggal di sini berapa lama?” tanya putri sulungnya.
Maria tidak segera menjawab.
Ia berlutut, merapikan rambut anaknya, lalu memeluk kedua putrinya erat-erat. Air matanya jatuh tanpa dapat ditahan.
“Hanya sampai keadaan menjadi lebih baik,”
jawabnya dengan suara bergetar.
“Tapi Mama ikut tinggal di sini, kan?”
Pertanyaan itu menembus jantung Maria. Ia ingin berkata iya. Ia ingin membawa mereka pulang dan membangun kembali rumah yang telah runtuh. Namun, kenyataan berdiri di hadapannya dengan wajah yang kejam.
Mama tidak bisa tinggal.
Putri bungsunya mulai menangis. Tangan kecilnya mencengkeram baju Maria, menolak dilepaskan.
Tidak ada penjelasan yang cukup sederhana untuk membuat seorang anak memahami mengapa ayah dan ibunya tidak lagi bersama, serta mengapa kini ia harus tidur di kamar asing.
Kenneth pun menanggung kesedihannya sendiri.
Barangkali ia tidak selalu memperlihatkan air mata, tetapi bayangan kedua putrinya terus mengikutinya.
Di dalam kesunyian, ia harus hidup dengan pertanyaan yang sama: bagaimana pertengkaran antara dua orang dewasa dapat membuat dua anak kecil kehilangan begitu banyak hal?
Masyarakat dapat menyalahkan Maria. Orang lain mungkin menyalahkan Kenneth.
Ada yang berbicara tentang agama, dosa, hukum, dan kegagalan.
Namun, di balik segala penilaian itu, ada dua anak kecil yang hanya merindukan pelukan ayah dan ibunya.
Mereka tidak peduli siapa yang benar. Mereka tidak mengerti keputusan pengadilan. Mereka tidak mengetahui rumitnya persoalan rumah tangga.
Mereka hanya menginginkan rumah, meja makan, dongeng sebelum tidur, serta kesempatan menggenggam tangan Ayah dan Mama secara bersamaan.
Maria dahulu datang ke Panti Asuhan Santo Yusup untuk menghibur anak-anak yang merasa ditinggalkan. Kini, setiap kali berkunjung,
ia melihat perasaan yang sama pada mata putrinya sendiri.
Hidup seolah membuat lingkaran yang menyakitkan.
Asam dari gunung dan garam dari laut memang pernah bertemu di dalam belanga.
Sayangnya, belanga itu kemudian retak karena panas yang tidak terjaga.
Air kehidupan tumpah, meninggalkan kepedihan yang tidak mudah dikeringkan.
Tetapi kisah ini belum selesai.
Selama Maria dan Kenneth masih hidup, masih ada kesempatan untuk berhenti saling membenci. Mereka mungkin tidak dapat kembali sebagai suami dan istri, tetapi mereka tetaplah ayah dan ibu.
Demi dua putri kecil itu, mereka harus belajar memaafkan. Sebab anak-anak tidak seharusnya memikul hukuman dari kegagalan orang tuanya. Mereka pantas mengetahui bahwa meskipun rumah telah pecah, kasih sayang tidak harus ikut musnah.
Semoga suatu hari kelak, pintu panti itu terbuka dan kedua putri mereka berjalan keluar, bukan dengan air mata, melainkan dengan harapan.
Semoga Maria menyambut mereka dari satu sisi dan Kenneth berdiri dari sisi lainnya. Mungkin keduanya tidak lagi bergandengan tangan, tetapi setidaknya mereka dapat berdiri bersama untuk memeluk anak-anak yang selama ini menunggu.
Karena bagi seorang anak, terkadang keajaiban bukanlah melihat ayah dan ibunya menikah kembali. Keajaiban adalah ketika keduanya berhenti bertengkar, menanggalkan kebencian, dan kembali mengingat bahwa ada dua hati kecil yang tidak pernah meminta dilahirkan di tengah badai.
Aku menulis tetapi airmataku juga membasahi tulisanku ini
Malam nanti aku ada di Panti Asuhan Santo Yusup Sindanglaya
Cipanas
Beraama airmataku
Doa ku lantunkan
Dalam damai sejahtera
Rekening KRIS
BCA
6383648888
Atas nama
Perkumpulan KRIS
Call Center
08119620888
www.kris.or.id I www.adharta.com
