Cerpen nomor 0073

Antrean yang Mengajarkan Hidup

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

April minggu ketiga 2026

Kisah Kasih
Pagi itu, matahari belum tinggi ketika Pak Darma berdiri di depan cermin kecil di kamarnya. Usianya sudah 70 tahun lebih, rambutnya memutih rapi, dan langkahnya mulai pelan.

Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil.

“Hari ini kita ke rumah sakit lagi, ya, Bu,” katanya.

Istrinya, Bu Ratih, mengangguk sambil menyiapkan map berisi berkas-berkas dari BPJS
Kesehatan.

Map itu sudah seperti sahabat setia—sedikit lusuh, tapi penuh harapan.

Awal yang Penuh Keraguan

Dua tahun lalu, Pak Darma sempat menolak saat pertama kali harus berobat rutin lewat BPJS.

“Ribet, antre lama, belum tentu dilayani dengan baik,” keluhnya waktu itu.

Namun karena kondisi jantungnya mulai sering berdebar, ia akhirnya menyerah.

Dari faskes pertama di klinik kecil, Suasana Sehat di bilangan Kelapa Gading Jakarta utara
ia dirujuk ke dokter spesialis. Lalu berlanjut ke pemeriksaan lain
laboratorium, USG, bahkan MRI.

Semua terasa seperti perjalanan panjang yang melelahkan.

“Ini kok kayak nggak selesai-selesai ya, Bu?” katanya suatu hari.

Bu Ratih hanya tersenyum, “Mungkin ini cara Tuhan ngajarin kita sabar.”

Antrean yang Mengubah Cara Pandang

Awalnya, ruang tunggu rumah sakit adalah tempat paling membosankan bagi Pak Darma. Kursi keras, antrean panjang, nomor yang bergerak lambat.

Namun perlahan, sesuatu berubah.
Ia mulai memperhatikan orang-orang di sekitarnya.

Seorang anak kecil dengan kepala botak duduk di kursi roda, tertawa lepas sambil bermain mobil-mobilan. Di sampingnya, ibunya tersenyum,
Suster Nunung
Lewat bawa kue
meski terlihat lelah.
“Dia cuci darah tiap minggu,” bisik seseorang di sebelah Pak Darma.

Pak Darma terdiam.
Di sudut lain, seorang gadis muda terlihat cantik dan ceria, meski berjalan pelan dengan bantuan alat medis.

“Sudah 10 tahun pakai kateter,” kata perawat.
Dirawat karena kanker usua dan sudah mengeras dan posisi stadium akhir

Pak Darma kembali menunduk.
Hari demi hari, ia melihat lebih banyak lagi

Seorang suami yang sabar mendorong istrinya di kursi roda.
Karena penyakit paru paru akut

Seorang anak muda yang dengan penuh kasih menggandeng ayahnya ke ruang dokter.
Karena sakit parkinson dan kanker tulang

Seorang ibu yang sigap mengurus aplikasi dan administrasi untuk suaminya.

Di tengah antrean yang panjang, Pak Darma mulai merasa kecil.
“Aku ini sehat, tapi sering mengeluh,” gumamnya.
Pelajaran yang Tidak Ada di Buku
Suatu hari, Pak Darma duduk di sebelah seorang pria seusianya.

“Sudah lama, Pak?” tanya Pak Darma.
“Sudah lebih dari lima tahun bolak-balik sini,” jawab pria itu santai.

“Capek ya, Pak?”
Pria itu tertawa kecil. “Capek badan, iya. Tapi hati jangan ikut capek.”

Kalimat itu menancap dalam.
Pak Darma mulai sadar
rumah sakit bukan hanya tempat berobat. Tapi tempat belajar.

Belajar sabar.
Belajar bersyukur.
Belajar melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda.

Ia teringat sebuah artikel yang pernah dibacanya, mengutip World Health Organization (kata pak Ketum KRIS)
tentang sistem rujukan berjenjang.
“Bukan untuk mempersulit,” katanya dalam hati, “tapi untuk melindungi.”

Suka dan Duka BPJS (sebut saja KRIS)
Pak Darma tidak memungkiri, ada banyak suka duka selama menggunakan BPJS.

Dukanya:
Antrean panjang yang menguras tenaga dan pikiran

Jadwal yang kadang mundur
Sistem rujukan yang terasa berbelit bagi orang awam
Pernah suatu hari, ia harus datang tiga kali hanya untuk mendapatkan jadwal pemeriksaan.

“Ini kalau nggak sabar, bisa marah-marah,” katanya pada Bu Ratih.

Namun Bu Ratih selalu menjawab, “Kita belajar sabar di sini, Pak.”

Sukanya:
Semua pemeriksaan ditanggung pemerintah atau Gratis

Dokter yang teliti dan tidak asal memberi obat
Rasa aman karena tidak terbebani biaya
Pak Darma pernah menghitung kasar biaya yang mungkin ia keluarkan tanpa BPJS.
“Bisa puluhan juta,” katanya pelan.

Saat itu ia benar-benar bersyukur.
Kekuatan Sosial yang Tak Terlihat
Yang paling mengejutkan bagi Pak Darma adalah perubahan dalam dirinya.

Ia menjadi lebih terbuka. Lebih ramah. Lebih mudah tersenyum.
Ia mulai ngobrol dengan siapa saja di ruang tunggu.

Tertawa bersama orang asing.
Berbagi cerita.
Saling menguatkan.
Ia teringat penelitian dari Harvard University yang pernah ia baca: bahwa lansia yang aktif bersosialisasi memiliki risiko demensia lebih rendah.

“Jadi ini bukan cuma berobat,” katanya suatu hari, “ini juga menjaga otak.”

Bu Ratih tersenyum bangga.

Untuk Anggota KRIS:
Pesan dari Antrean
Sebagai Ketua komunitas kecil di lingkungannya—KRIS (Komunitas Relawan Indonesia Sehat)

Pak Darma mulai membagikan pengalamannya.
Dalam sebuah pertemuan sederhana, ia berkata:

“Teman-teman, BPJS itu bukan sekadar kartu. Itu jembatan.”
Ia lalu memberi beberapa bimbingan dan saran:

Pertama
Pahami sistemnya, jangan dilawan Sistem rujukan memang berjenjang. Ikuti alurnya. Itu dibuat untuk keselamatan kita.

Kedua
Siapkan mental sabar Antrean bukan musuh. Itu bagian dari proses.

Ketiga
Manfaatkan waktu tunggu Gunakan untuk membaca, berdoa, atau berkenalan dengan sesama pasien.

Keempat
Jaga hubungan sosial Ngobrol, tertawa, dan saling menyemangati adalah “obat gratis” yang sering kita abaikan.

Kelima
Jangan hanya fokus pada penyakit Fokuslah pada kehidupan.
Pada apa yang masih kita miliki.
Penutup: Pulang dengan Lebih dari Sekadar Obat
Hari itu, setelah pemeriksaan rutin, Pak Darma dan Bu Ratih berjalan keluar dari rumah sakit.
“Bagaimana hasilnya, Pak?” tanya Bu Ratih.
“Alhamdulillah, sehat,” jawabnya.
Namun kali ini, jawabannya terasa berbeda.
Bukan sekadar sehat secara medis.
Tapi juga sehat dalam cara berpikir.
Pak Darma menatap langit cerah.
“Bu,” katanya pelan, “ternyata kita ini bukan cuma berobat.”
“Lalu?”
“Kita ini sedang sekolah… sekolah….
kehidupan.”

Bu Ratih menggenggam tangannya.
Dan mereka pulang
bukan hanya membawa resep obat, tetapi juga membawa cerita, pelajaran, dan rasa syukur yang jauh lebih besar.

Terima kasih BPJS

Tulisan ini di dedikaai buat Sahabatku
Di BPJS termasuk ketua BPJS prof Ali

Di tunggu di Medan Baru

www.kris.or.id I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *