Cerpen nomor 0072
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS
Medio April 2026
Kisah ini didedikasi untuk aeorang sahabat yang sedang sakit
ANTARA KESEMPURNAAN DAN KESEPIAN
Empat puluh tahun lalu, Anita berdiri anggun di pelaminan.
Gaun putih membalut tubuhnya yang ramping, senyum tipis menghiasi wajahnya yang cantik namun terjaga.
Di sampingnya, Andi—pria yang ia pilih sebagai pasangan hidup—menatapnya dengan penuh cinta yang hangat dan sederhana.
Pernikahan mereka bukanlah kisah cinta yang meledak-ledak. Tidak ada drama, tidak ada pertengkaran besar di awal.
Yang ada adalah dua pribadi berbeda yang mencoba berjalan dalam ritme yang sama.
Andi hangat, santai, penuh toleransi.
Anita… sebaliknya.
Ia terstruktur, disiplin, hampir kaku.
Dunia Anita adalah dunia yang harus teratur, bersih, dan terkendali.
Dari pernikahan itu, lahirlah seorang putri: Mira.
Mira kecil tumbuh dalam rumah yang bersih seperti ruang operasi. Setiap sudut mengilap.
Tidak ada debu. Tidak ada noda. Bahkan sebelum duduk di kursi mobil, Anita selalu mengelapnya dengan kain steril.
Sendok, garpu, piring—harus dicuci ulang sebelum dipakai, walau sudah bersih.
Baju harus dicuci setiap hari.
Tidak ada toleransi terhadap “sedikit kotor”.
Awalnya, Andi mencoba memahami. Ia tersenyum, membantu, menenangkan. Tapi perlahan, ia lelah. Ia sering berkata pelan,
“Tidak semua hal harus sempurna, Nita…”
Namun Anita tidak pernah benar-benar mendengar.
Mira tumbuh di antara aturan. Ia tidak pernah benar-benar bebas.
Setiap langkah diawasi.
Setiap kesalahan dikoreksi.
Setiap kekacauan kecil dianggap ancaman besar.
Dan dari situlah, jarak mulai tumbuh.
Hubungan ibu dan anak itu perlahan berubah.
Bukan lagi hangat. Bukan lagi penuh tawa. Tapi menjadi dingin… dan tegang.
Seperti anjing dan kucing.
Mira sering memberontak.
Anita semakin keras. Kata-kata menjadi tajam. Tatapan menjadi dingin.
Tidak ada ruang untuk memahami satu sama lain.
Andi berada di tengah
menjadi jembatan yang semakin lama semakin rapuh.
Hingga suatu hari, sepuluh tahun lalu, Andi pergi untuk selamanya.
Kepergiannya seperti memutus satu-satunya tali yang masih menghubungkan Anita dan Mira.
Rumah itu menjadi lebih sunyi… dan lebih keras.
Tanpa Andi, Anita semakin tenggelam dalam dunianya sendiri.
Dunia yang bersih, steril, dan penuh kontrol. Sementara Mira merasa semakin tercekik.
Hingga akhirnya, Mira memilih pergi.
Tanpa banyak kata.
Tanpa pelukan. Tanpa perpisahan yang layak.
Ia lari… ke Denpasar, Bali.
Sejak hari itu, rumah Anita benar-benar kosong.
Tidak ada suara tawa.
Tidak ada langkah kaki. Hanya bunyi detik jam dan suara kain yang mengelap permukaan meja berulang kali.
Anita tetap menjadi dokter yang dihormati. Profesional. Disiplin. Sempurna.
Namun di balik jas putihnya… ada kesepian yang tidak pernah ia akui.
Hubungannya dengan kakak perempuannya pun tidak lebih baik.
Padahal kakaknya adalah pengusaha sukses, terkenal, dan berpengaruh. Tapi hubungan mereka penuh jarak, penuh ego, dan tak pernah benar-benar hangat.
Seolah Anita memang ditakdirkan hidup dalam lingkaran yang teratur… tapi sepi.
Satu-satunya cahaya dalam hidupnya adalah Monic.
Sahabat lama sejak masa kuliah di UI. Dokter kandungan yang hangat, sabar, dan penuh empati. Monic adalah satu-satunya orang yang bisa masuk ke dunia Anita tanpa diusir.
Mereka sering berbincang. Curhat. Tertawa kecil.
Dalam Monic, Anita menemukan sesuatu yang tidak pernah ia miliki: penerimaan.
Namun waktu tidak pernah berhenti.
Lebih dari satu tahun lalu, hidup Anita berubah drastis.
Diagnosis itu datang seperti petir di siang bolong.
Kanker.
Bukan satu titik. Tapi beberapa organ.
Tubuh yang selama ini ia jaga dengan disiplin tinggi… ternyata menyimpan kelemahan yang tidak bisa ia kendalikan.
Anita yang selalu kuat… mulai rapuh.
Operasi demi operasi harus dijalani. Salah satunya adalah operasi usus yang berat.
Ia dirawat. Sendiri.
Tidak ada suami di sampingnya. Tidak ada anak yang menggenggam tangannya. Kakaknya pun jauh—secara fisik maupun hati.
Yang ada hanya Monic.
Monic yang mengantar ke rumah sakit.
Monic yang menunggu di ruang operasi.
Monic yang datang saat bezoek.
Monic yang menggenggam tangannya saat rasa sakit tak tertahankan.
Teman-teman alumni UI juga tidak tinggal diam.
Mereka mengumpulkan dana untuk membantu biaya pengobatan Anita.
Walau sudah dibantu BPJS, biaya tetap besar.
Namun bantuan materi tidak bisa menggantikan satu hal: kehangatan keluarga.
Minggu lalu, Anita menjalani operasi di MRCCC.
Operasi berjalan. Tubuhnya bertahan.
Namun saat ia pulang ke rumah untuk pemulihan… kenyataan kembali menampar.
Rumah itu tetap sunyi.
Sepi yang dulu ia pilih… kini menjadi beban yang harus ia tanggung.
Atas saran Monic, akhirnya Anita setuju menggunakan caregiver atau perawat
Sebuah keputusan yang dulu mungkin tidak akan pernah ia ambil. Membiarkan orang lain masuk ke ruang pribadinya, menyentuh barang-barangnya, berada di dunianya yang steril.
Namun kini… ia tidak punya pilihan.
Hari-hari pemulihan terasa panjang.
Kadang Anita duduk sendiri di ruang tamu, menatap kursi kosong di depannya.
Di sana, dulu Andi sering duduk.
Tersenyum. Menenangkan.
Kadang ia menatap pintu… seolah berharap Mira tiba-tiba muncul.
Namun pintu itu tetap tertutup.
Tidak ada yang datang.
Di antara rasa sakit fisik dan kesepian yang menyesakkan, Anita mulai menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan.
Ia bisa mengontrol kebersihan.
Ia bisa mengontrol rutinitas.
Ia bisa mengontrol dunia kecilnya.
Tapi ia tidak pernah benar-benar belajar mengontrol… hatinya.
Ia terlalu sibuk menciptakan kesempurnaan… hingga lupa merawat hubungan.
Dan kini, saat tubuhnya melemah… yang ia butuhkan bukanlah lantai yang bersih atau piring yang steril.
Tapi seseorang… yang mau duduk di sampingnya.
Menggenggam tangannya.
Dan berkata, “Aku di sini.”
Namun hidup tidak selalu memberi kesempatan kedua dengan mudah.
Yang tersisa bagi Anita kini hanyalah kenangan, penyesalan, dan satu harapan kecil yang belum padam—
Bahwa suatu hari, mungkin… Mira akan pulang.
Dan di saat itu tiba, Anita tidak lagi ingin menjadi sempurna.
Ia hanya ingin menjadi… seorang ibu.
www.adharta.com I www.kris.or.id
