Cerpen nomor 0071

“Api dalam Sekam”

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
April 2026

Awal Cinta
Siska adalah gadis yang sejak kecil terbiasa menjadi pusat perhatian.

Cantik, manja, namun juga luar biasa cerdas. Ia lulus SMA dengan predikat juara, membuat kedua orang tuanya bangga bukan main. Tanpa ragu, ia melanjutkan studinya ke Griffith University di Brisbane, Queensland Australia.
Jurusan akuntansi keuangan
Di sana, kecantikannya tetap mencuri perhatian, tetapi yang membuatnya benar-benar menonjol adalah kecerdasannya. Ia lulus dengan predikat cum laude, membawa pulang kebanggaan yang lebih besar lagi bagi keluarganya.

Andhika, di sisi lain, adalah sosok pria yang tenang, terstruktur, dan penuh tanggung jawab. Andhika juga lulus SMA di Jakarta dengan nilai memuaskan, sebelum melanjutkan studinya ke Amerika Serikat di UCLA California jurusan Administrasi International Marketing

Dengan kerja keras dan disiplin tinggi, Andhika pun meraih gelar sarjana dengan predikat cum laude.
Andhika bukan tipe pria yang banyak bicara, tetapi sekali berbicara, kata-katanya selalu penuh makna.

Takdir mempertemukan mereka di sebuah acara peresmian badan usaha di kawasan Kelapa Gading, Jakarta.

Malam itu, lampu-lampu kristal memantulkan cahaya keemasan di seluruh ruangan. Para tamu mengenakan pakaian terbaik mereka.
Siska hadir dalam balutan gaun sederhana namun elegan, rambutnya tergerai indah di bahu.

Andhika, dengan jas hitam rapi, berdiri di sudut ruangan, mengamati suasana dengan tenang.
Pertemuan mereka terjadi secara sederhana.

“Permisi… kursinya kosong?” tanya Siska dengan senyum manis.
Andhika menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis. “Silakan.”

Percakapan ringan pun mengalir. Dari topik pekerjaan, pengalaman kuliah di luar negeri, hingga hal-hal kecil seperti makanan favorit.

Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat.
Sejak malam itu, keduanya semakin sering bertemu.
Hubungan mereka berkembang dengan cepat namun alami.

Andhika menemukan kenyamanan dalam keceriaan Siska. Sementara Siska menemukan ketenangan dalam kedewasaan Andhika.
Ada banyak momen kecil yang membuat cinta mereka tumbuh.
Seperti saat Andhika menjemput Siska di bandara sepulang dari perjalanan kerja, lalu membawanya ke tempat makan sederhana yang ternyata menjadi favorit baru mereka.
Atau saat Siska, dengan manja, memaksa Andhika menemaninya berbelanja, lalu tertawa kecil saat melihat Andhika kebingungan memilih warna tas yang

“cocok”.
“Kamu ini, Dhika… masa warna aja bingung,” goda Siska.

“Karena aku nggak mau salah pilih buat kamu,” jawab Andhika pelan.

Siska terdiam sejenak, lalu tersenyum lebih lembut.
Cinta mereka bukan hanya tentang kata-kata, tetapi juga perhatian-perhatian kecil yang terasa begitu besar.
Hingga akhirnya, Andhika melamar Siska.
Lamaran itu dilakukan dengan sederhana namun penuh makna.
Di sebuah restoran dengan pemandangan kota Jakarta di malam hari, Andhika menggenggam tangan Siska.
“Siska… aku nggak janji hidup kita akan selalu mudah.
Tapi aku janji akan selalu ada buat kamu.”
Mata Siska berkaca-kaca.
“Aku mau…,” jawabnya lirih.

Tiga tahun lalu,

mereka berdiri di pelaminan.
Pernikahan dilangsungkan secara agama Buddha. Suasana penuh khidmat. Lilin-lilin menyala, doa-doa dipanjatkan. Janji suci diucapkan dengan suara yang bergetar, namun penuh keyakinan.
Dalam momen itu, mereka bukan hanya sepasang kekasih, tetapi dua jiwa yang berjanji untuk berjalan bersama, apa pun yang terjadi.
Semua orang yang hadir sepakat—mereka adalah pasangan yang sempurna.
Cantik dan tampan.
Cerdas dan mapan.
Serasi dalam segala hal.

“Pasti anak-anaknya nanti luar biasa,” bisik seorang tamu.
Siska tersenyum mendengarnya. Andhika hanya menggenggam tangannya lebih erat.
Awal pernikahan mereka dipenuhi kebahagiaan.
Pagi-pagi yang dimulai dengan sarapan bersama.
Siska yang masih mengantuk, duduk di meja makan sambil bersandar pada bahu
Andhika.
“Bangunin aku tiap pagi itu dosa tau…,” gumam Siska manja.

“Kalau nggak dibangunin, kamu bisa kesiangan,” jawab Andhika sambil tersenyum.

Malam-malam yang diisi dengan obrolan panjang, tawa, dan rencana masa depan.
Mereka sering berbicara tentang mimpi.
Tentang rumah yang lebih besar.
Tentang perjalanan ke Eropa.
Tentang kehidupan yang ingin mereka bangun bersama.
Namun, ada satu hal yang perlahan mulai menjadi bayangan dalam hubungan mereka.

Anak.
Awalnya hanya obrolan ringan.
“Kalau kita punya anak, kamu maunya laki-laki atau perempuan?” tanya Andhika suatu malam.

Siska terdiam sejenak.
“Aku… belum kepikiran ke sana,” jawabnya pelan.
Andhika tidak memaksakan.
Namun waktu terus berjalan.
Tahun pertama berlalu.
Tahun kedua.
Pertanyaan tentang anak mulai datang, bukan hanya dari Andhika, tetapi juga dari keluarga besar.
Sebagai anak laki-laki tunggal, Andhika memikul harapan besar untuk melanjutkan garis keturunan.

“Siska, mama cuma pengen lihat cucu sebelum terlalu tua,” kata ibunya suatu hari.
Siska tersenyum kaku.
Di dalam hatinya, ia mulai merasa tertekan.
Hingga akhirnya, di tahun ketiga pernikahan, Siska mengungkapkan sesuatu yang selama ini ia pendam.

“Aku nggak mau punya anak.”
Kalimat itu jatuh seperti petir.
Andhika terdiam.
“Apa maksud kamu…?” tanyanya pelan.
“Aku nggak siap. Dan mungkin… aku nggak akan pernah siap.”

“Ini bukan soal siap atau nggak, Siska. Ini soal keluarga.”
“Dan ini juga soal hidup aku!” balas Siska, suaranya mulai meninggi.
Sejak saat itu, hubungan mereka berubah.
Yang dulu penuh tawa, kini sering diisi dengan perdebatan.
Yang dulu hangat, kini terasa dingin.
Pertengkaran demi pertengkaran terjadi.

“Kenapa kamu egois banget?” kata Andhika suatu malam.
“Egois? Aku cuma jujur sama diri sendiri!”
“Kamu pikir aku nggak punya perasaan? Aku juga punya tanggung jawab!”
“Selalu tanggung jawab! Kapan kamu mikirin aku?!”
Suara mereka semakin keras.
Pintu kamar ditutup dengan keras.
Air mata menjadi teman yang semakin sering hadir.
Tak ada lagi sarapan hangat.
Tak ada lagi tawa ringan.
Yang tersisa hanya diam yang panjang… dan dingin.

Keluarga mulai ikut campur.
Tekanan semakin besar.
Namun tidak ada yang benar-benar mendengarkan satu sama lain.
Siska merasa hidupnya terancam oleh ekspektasi.

Andhika merasa masa depannya terancam tanpa keturunan.
Dua orang yang dulu saling mencintai, kini berdiri di dua sisi yang berlawanan.
Seperti api dalam sekam.

Diam… tetapi membakar.
Hingga akhirnya, keputusan itu datang.
Perceraian.
Hari itu, tidak ada air mata yang berlebihan.
Hanya keheningan.

Siska duduk di ruang tamu, menatap kosong.
Andhika berdiri di dekat pintu.
“Apa ini benar-benar yang kita mau?” tanya Andhika.
Siska menunduk.
“Aku nggak tahu… tapi aku tahu kita nggak bisa terus seperti ini.”

Andhika mengangguk pelan.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada ciuman perpisahan.
Hanya dua hati yang lelah.
Tiga tahun yang lalu, mereka berdiri di pelaminan, mengucap janji suci.
Hari ini, mereka berdiri di persimpangan, mengakhiri semuanya.
Badai telah menghantam rumah tangga yang begitu muda.

Dan yang tersisa hanyalah kenangan.
Tentang cinta yang pernah begitu indah.
Tentang dua orang yang pernah percaya… bahwa mereka akan selamanya bersama.
Namun pada akhirnya, cinta saja tidak selalu cukup.
Kadang, perbedaan yang tak terjembatani… menjadi akhir dari segalanya.

www.kris.or.id I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *