Cerpen no 0068
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS
April 2026
🌹 Jawaban yang Tidak Aku Punya
Cntaku
Vincent selalu percaya satu hal sederhana dalam hidupnya:
yang penting anaknya bahagia.
Ia bukan orang yang banyak sekolah.
Lulus SMA saja sudah ia syukuri dengan penuh rasa terima kasih. Sejak muda, hidup sudah menuntutnya bekerja keras
apa saja ia lakukan, selama itu halal dan bisa membuat dapur tetap mengepul. Panas matahari, hujan, bahkan rasa lelah yang kadang menusuk tulang, semua sudah menjadi bagian dari kesehariannya.
Di rumah kecilnya, ada dua orang yang menjadi alasan ia terus bertahan: istrinya, Yenny, dan anak semata wayangnya, Cathrine.
Untuk Cathrine, ia punya harapan yang sangat sederhana
namun dalam maknanya begitu dalam.
“Jangan seperti Papa. Kamu harus lebih pintar.”
Cathrine memang berbeda sejak kecil.
Ia bukan hanya anak yang aktif, tetapi juga penuh rasa ingin tahu. Hampir setiap hari ada saja pertanyaan yang keluar dari mulut kecilnya.
“Pa, kenapa langit warnanya biru?”
“Pa, kenapa lampu bisa menyala?”
“Pa, kenapa orang bisa sakit?”
Vincent selalu mencoba menjawab, walaupun sering kali ia sendiri tidak benar-benar tahu jawabannya.
“Ya… karena memang begitu, Nak,” jawabnya sambil tersenyum.
Di usia kecil, jawaban itu cukup. Cathrine akan mengangguk, lalu kembali bermain atau tertawa seperti tidak ada beban di dunia ini.
Namun waktu berjalan.
Dan pertanyaan-pertanyaan itu berubah.
Semakin besar Cathrine, semakin dalam pula rasa ingin tahunya.
Suatu malam, ia datang membawa buku pelajaran matematika. Wajahnya tampak serius, sedikit berkerut.
“Pa, ini aku tidak mengerti.”
Vincent menerima buku itu. Ia menatap halaman penuh angka, rumus, dan simbol yang terasa asing baginya.
Ia membaca pelan.
Berusaha memahami.
Tapi… tidak ada yang benar-benar ia mengerti.
Tangannya diam di atas buku itu.
Hatinya mulai terasa berat.
“Pa?” suara Cathrine pelan, penuh harap.
Vincent tersenyum kaku.
“Besok tanya guru ya, Nak.”
Cathrine mengangguk.
“Ya, Pa.”
Namun malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Saat Cathrine kembali ke mejanya, Vincent tetap duduk diam. Matanya tidak lagi melihat buku, tapi menatap kekosongan.
Untuk pertama kalinya, ia merasa…
tidak cukup.
Hari-hari berikutnya, perasaan itu semakin sering datang.
Setiap kali Cathrine bercerita tentang pelajaran sekolahnya, Vincent mendengarkan dengan penuh perhatian—tapi di dalam hatinya ada jarak yang semakin terasa.
Saat Cathrine bertanya sesuatu yang tidak ia pahami, ia hanya bisa menghindar dengan jawaban sederhana.
Saat melihat anaknya belajar sendirian di meja, dengan wajah serius dan kadang frustasi, hatinya terasa seperti diremas.
Ia mulai merasa tertinggal.
Sebagai seorang ayah.
Suatu sore, Vincent duduk di depan rumah. Angin berhembus pelan, membawa suara anak-anak bermain di kejauhan.
Seorang tetangga lewat dan menyapanya.
“Anakmu pintar ya, Vincent. Kamu pasti bangga.”
Vincent tersenyum.
“Iya,” jawabnya pelan.
Tapi di dalam hatinya, ada suara lain yang tidak bisa ia abaikan:
“Apa aku cukup untuk dia?”
Malam itu, Vincent terbangun saat melewati ruang belajar.
Ia melihat Cathrine tertidur di meja. Buku masih terbuka, pensil masih ada di tangannya. Lampu masih menyala.
Perlahan ia mendekat.
Dengan hati-hati, ia merapikan buku itu.
Di salah satu halaman, ia melihat tulisan kecil dengan huruf rapi:
“Besok harus tanya Pak Guru.”
Vincent duduk di kursi itu.
Lama.
Sangat lama.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar kalah—bukan oleh keadaan, tapi oleh dirinya sendiri.
Keesokan harinya, ia melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia datang ke sekolah Cathrine.
Bukan untuk menjemput.
Tapi untuk bertanya.
Dengan langkah ragu, ia masuk ke ruang guru.
“Pak…” suaranya pelan, sedikit gugup, “saya… tidak bisa bantu anak saya belajar.”
Guru itu menatapnya, lalu tersenyum hangat.
“Bapak sudah membantu.”
Vincent menggeleng.
“Saya tidak mengerti pelajarannya.”
Guru itu tidak langsung menjawab. Ia menatap Vincent sejenak, seolah memahami sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata-kata.
“Bapak datang ke sini,” katanya pelan.
“Itu sudah lebih dari cukup.”
Vincent terdiam.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Anak tidak selalu butuh orang tua yang tahu semua jawaban,” lanjut guru itu.
“Tapi mereka butuh orang tua yang tidak menyerah untuk mereka.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi entah mengapa, terasa sangat dalam.
Seolah-olah ada sesuatu yang selama ini hilang… kini perlahan ditemukan.
Malam itu, saat Cathrine kembali belajar, Vincent tidak pergi ke ruang lain seperti biasanya.
Ia duduk di sampingnya.
Cathrine menoleh, sedikit terkejut.
“Pa?”
Vincent tersenyum.
“Ini sulit ya?”
Cathrine mengangguk.
“Iya, Pa.”
Vincent menarik napas pelan.
“Papa juga tidak mengerti,” katanya jujur.
Cathrine terlihat heran.
“Tapi… kita coba sama-sama ya.”
Malam itu tidak langsung mudah.
Mereka beberapa kali salah.
Beberapa kali bingung.
Beberapa kali harus membuka buku lain, bahkan mencari penjelasan dari sumber yang berbeda.
Kadang mereka tertawa karena salah hitung.
Kadang mereka diam karena sama-sama tidak tahu.
Tapi ada satu hal yang berubah:
Cathrine tidak lagi sendirian.
Hari demi hari berlalu.
Kebiasaan itu terus berlanjut.
Vincent mungkin tidak menjadi lebih pintar dalam pelajaran sekolah.
Tapi ia menjadi lebih hadir.
Lebih dekat.
Lebih nyata.
Suatu malam, Cathrine tiba-tiba berseru dengan wajah bersinar.
“Pa! Aku mengerti!”
Vincent ikut tersenyum lebar.
Padahal ia sendiri belum sepenuhnya memahami.
“Tuh kan,” katanya bangga, “kita bisa.”
Tahun-tahun berlalu.
Cathrine tumbuh menjadi gadis yang cerdas, percaya diri, dan berani menghadapi tantangan.
Ia tidak takut bertanya.
Tidak takut salah.
Dan tidak pernah merasa sendirian.
Suatu hari, dalam sebuah percakapan, seseorang bertanya kepadanya:
“Siapa yang paling banyak membantu kamu belajar?”
Cathrine tersenyum tanpa ragu.
“Papa saya.”
Vincent yang mendengar itu terdiam.
Hatinya bergetar.
Ia ingin berkata,
“Tapi Papa tidak pintar.”
Namun sebelum kata itu keluar, Cathrine melanjutkan:
“Papa mungkin tidak tahu semua jawabannya…
tapi Papa tidak pernah meninggalkan saya saat saya mencari jawabannya.”
Malam itu, Vincent duduk sendiri di ruang tamu.
Sunyi.
Tenang.
Namun hatinya terasa penuh.
Ia tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar mengerti:
Bahwa menjadi orang tua bukan tentang tahu segalanya.
Bukan tentang selalu benar.
Bukan tentang punya semua jawaban.
Tapi tentang hadir… bahkan ketika tidak tahu.
Di buku kecilnya, ia menulis:
“Saya mungkin tidak cukup pintar untuk menjawab semua pertanyaan anak saya.”
“Tapi saya akan selalu cukup… untuk menemaninya mencari jawaban.”
Dan mungkin…
di situlah letak kecerdasan yang paling penting.
Bukan di kepala.
Tapi di hati…
yang tidak pernah menyerah.
Disana aku tidak punya
Tapi dia milik aku
www.kris.or.id I www.adharta.com
