KACAMATA

Cerpen No. 0066

Oleh: Adharta
Ketua Umum KRIS

Surbeje
1 April 2026

Pagi itu di Surabaya masih terasa hangat. Matahari belum terlalu tinggi, tetapi aktivitas sudah mulai ramai.

Saya duduk di lobi Hotel Bonet Manyar, ditemani secangkir teh hangat tanpa gul
atas saran dokter tentunya karena HBA1C syaa 7
Cukup tinggi Diabetesnya

Semalaman saya masih memikirkan nasib gigi palsu yang hilang entah ke mana. Namun hidup harus berjalan.

Hari itu jadwal cukup padat. Ada pertemuan dengan rekan-rekan KRIS Surabaya, dilanjutkan makan siang sederhana
walaupun bagi saya, makan tetap menjadi tantangan tanpa gigi.
Saya bangkit dari kursi, merapikan baju, lalu bersiap berangkat.

“Pak, kacamatanya sudah dipakai?” tanya istri saya.
Saya langsung refleks menjawab,
“Sudah dong.”
Kami pun masuk ke mobil bersama Pak Matheus.

Jalanan Surabaya pagi itu cukup lancar. Saya mulai membuka ponsel, membaca beberapa pesan penting, mencoba fokus pada agenda hari itu.
Namun tiba-tiba saya merasa ada yang kurang.
Saya mencoba membaca pesan di WhatsApp. Hurufnya terlihat agak kabur.

Saya mengerutkan dahi.
“Lho… kok agak buram ya?”

Saya mulai mencari kacamata.
Tangan kanan meraba kantong baju. Tidak ada.
Kantong celana. Tidak ada.
Tas kecil.
Tidak ada juga.
Perasaan mulai tidak enak.

“Wah… kacamatanya ketinggalan di hotel ya?”
saya berkata pelan.

Istri saya menoleh,
“Bukannya tadi sudah dipakai?”
Saya mulai panik kecil.
“Enggak ada ini… hilang lagi… aduh… ini kenapa sih,

satu-satu mulai hilang semua…”
Pak Matheus melihat dari kaca spion, tapi tidak berani ikut bicara.

Saya mulai berpikir keras.
Gigi palsu hilang kemarin.
Sekarang kacamata juga hilang?

Ini bukan kebetulan. Ini tanda-tanda…
Tanda-tanda usia.
Saya menghela napas panjang.
Mobil terus berjalan.
Saya mencoba membaca lagi ponsel, memicingkan mata. Tetap tidak jelas.

Tiba-tiba istri saya tertawa kecil.
“Pak…”
Saya menoleh.
“Kenapa?”
Ia menahan tawa.

“Itu… di kepala Bapak…”

Saya langsung terdiam.
Perlahan tangan saya naik ke atas kepala.
Dan… benar saja.
Kacamata itu bertengger manis di sana.

Saya langsung tertawa keras.
“Ya Tuhan… ini sudah parah…”
Mobil pun ikut dipenuhi tawa.

Pak Matheus sampai ikut tersenyum lebar.
Kejadian itu sederhana. Sangat sederhana.
Tapi entah kenapa, terasa begitu dalam.

Dulu, saya adalah orang yang sangat detail.
Tidak pernah lupa hal kecil. Semua teratur. Semua rapi.
Sekarang?

Gigi palsu bisa terbuang.
Kacamata lupa padahal ada di kepala.
Saya mulai berdamai dengan kenyataan.
Bahwa usia bukan hanya menambah angka,
tetapi juga mengurangi sedikit demi sedikit ketajaman.

Namun di balik itu, ada sesuatu yang bertambah.
Kesabaran.
Kelapangan hati.
Dan kemampuan untuk tertawa atas diri sendiri.
Kami tiba di tempat pertemuan.
Dr. Inna Widjaja sudah menunggu bersama tim KRIS Surabaya.

“Selamat pagi, Pak!” sapa mereka.
Saya tersenyum.
“Pagi… ini saya datang lengkap… walaupun gigi masih belum ada, tapi kacamata sudah ketemu,” kata saya sambil tertawa.

Semua ikut tertawa.
Pertemuan berjalan hangat. Diskusi ringan, penuh semangat. Saya menyadari, kebersamaan seperti ini jauh lebih penting daripada kesempurnaan fisik.
Siang harinya, kami makan bersama.
Menu sederhana: nasi pecel Pandegiling.
Saya kembali menghadapi tantangan klasik
makan tanpa gigi.
Namun kali ini saya tidak terlalu memikirkan.
Saya menikmati suasana.
Saya menikmati tawa.
Saya menikmati cerita.
Dan entah kenapa, makanan terasa lebih enak.
Saya kembali teringat prinsip makan enak:
Lapar
Hati senang
Ada teman
Suasana mendukung
Gratis
Gigi tidak sakit
Dan hari itu, saya menambahkan lagi:

Ketujuh
Tidak lupa di mana kacamata berada
Hidup ini ternyata bukan tentang tidak pernah salah.
Tapi tentang bagaimana kita menyikapi kesalahan kecil.
Tentang bagaimana kita tetap bisa tersenyum,
meskipun lupa… meskipun kehilangan… meskipun tidak sempurna.
Sore hari, sebelum kembali ke hotel, saya duduk sejenak di dalam mobil.
Saya memegang kacamata saya.
Benda kecil ini, seperti gigi palsu kemarin,
ternyata punya peran besar dalam hidup.
Tanpa kacamata, dunia menjadi kabur.
Tanpa gigi, rasa menjadi hambar.
Dan tanpa humor… hidup menjadi berat.
Saya tersenyum.
“Terima kasih, Tuhan…
untuk usia,
untuk pelajaran,
dan untuk hal-hal kecil yang mengingatkan saya…
bahwa saya masih hidup.”
Selamat menjalani hari dengan penuh senyum.
Karena kadang,
yang kita cari…
sebenarnya sudah ada di kepala kita sendiri. 😄

Ini karangan ChatGPT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *