GIGI PALSU

Antara sahabat
Pendamping dan penolong

Cerpen No. 0065

Oleh: Adharta
Ketua Umum KRIS

Jakarta, 31 Maret 2026

Pesawat Batik Air ID 6584 lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta, pagi itu, 27 Maret 2026 pukul 08.00.

Langit cerah, seakan memberi restu perjalanan menuju Surabaya.
Dalam rangka menghadiru upacara Ceng Beng di Kuburan Papa Mama saya
Mertua dan seluruh keluarga yang telah mendahului menuju Surga

Seperti biasa, saya duduk tenang di kursi favorit, menikmati suara mesin pesawat yang bagi sebagian orang menegangkan, tetapi bagi saya justru menenangkan.
Batik Air, setelah Garuda Indonesia, menjadi maskapai yang saya sukai.

Pelayanannya hangat, makanannya cocok di lidah, dan pramugarinya selalu ramah. Namun pagi itu, ada yang berbeda.

Hidangan yang biasanya saya tunggu-tunggu, kini hanya bisa saya pandangi.
Semalam, saat melepas gigi palsu, kawatnya menusuk gusi saya.

Luka itu cukup dalam. Rasa nyerinya bukan sekadar sakit biasa, tetapi seperti denyut yang terus mengingatkan bahwa usia tidak lagi muda.
Saya mencoba memasangnya kembali, namun tidak sanggup. Terlalu sakit.

Ketika pramugari datang menawarkan makanan, saya hanya tersenyum.
“Maaf, saya tidak bisa makan. Gigi saya sakit.”

Ia tersenyum penuh pengertian.
“Pakai gigi palsu ya, Pak?

Banyak penumpang juga mengalami hal yang sama.”
Saya sedikit terkejut. Rupanya pengalaman membuatnya peka.
“Kalau mau, saya ada Spray Aloclair plus, Pak.”

Perhatian kecil itu terasa besar. Di usia seperti saya, hal-hal sederhana justru menyentuh hati.

Lima tahun lalu, saat pandemi melanda, saya mengalami penderitaan luar biasa karena sakit gigi.
Masih teringat jelas ketika pulang dari Melbourne, Australia.

Saya dan istri harus menjalani isolasi di Hotel Mulia selama 10 hari.
Biayanya tidak sedikit, hampir dua puluh juta per orang. Namun uang sebesar itu tidak ada artinya ketika rasa sakit datang tanpa kompromi.

Di Melbourne, saya sempat mencabut gigi. Sayangnya, pencabutan itu tidak bersih masih ada sisa tulang yang menusuk
Rasa sakit justru semakin menjadi. Setibanya di Jakarta, berkat koordinasi tim saya,
saya langsung dibawa ke dokter gigi,
Drg. Ramon Diaz di Kebon Jeruk. Beliau sudah menunggu, seperti seorang penyelamat.

Setelah beberapa kali perawatan, akhirnya rasa sakit itu hilang. Namun perjalanan belum selesai. Banyak gigi saya yang sudah rusak. Atas saran dokter, saya harus memasang implan
enam belas gigi. Sebuah keputusan besar.
Mahal, tentu saja. Tapi lebih mahal lagi jika harus hidup dalam rasa sakit.

Kini, hanya lima gigi bawah yang tersisa. Selebihnya, saya bergantung pada gigi palsu
protesa yang menjadi sahabat baru dalam hidup saya.

Pesawat mendarat mulus di Bandara Juanda pukul 09.30.
Seperti biasa, Pak Math
sopir setia saya, sudah menunggu. Perjalanan dilanjutkan dengan penuh semangat, meskipun gusi masih terasa nyeri.

Yenny, keponakan saya, langsung menawarkan makan siang.
“Ika Ia panggilan akrab saya, kita makan Soto Banjar di Jalan Ahmad Jais, ya.”
Saya tersenyum. Itu tempat favorit saya.
Dekat Di sana juga ada rujak cingur legendaris dan coto Makassar yang menggoda.

Saya dan istri Lena memang senang berburu kuliner, terutama di Surabaya. Setiap sudut kota ini menyimpan rasa.
Namun kali ini, nasib berkata lain.
Sampai di restoran, berbagai hidangan tersaji. Aroma rempah memenuhi udara.
Soto Banjar, nasi uduk, nasi liwet, dan ikan patin bakar yang menggoda.

Saya duduk diam sejenak.
Lalu saya teringat prinsip sederhana yang sering saya bagikan:

Lima syarat makan enak:

Sedang Lapar
Hati dalam keadaan senang
Ada teman mebemani
Suasana mendukung
Kelima paling penting
Gratis
Karena Yenny dan Edward serta Gabby yang bayar

Namun hari itu, saya menambahkan satu lagi:

Keenam Gigi tidak sakit

Semua tertawa ketika saya mengatakannya.
Pak Santo, sahabat saya, menimpali,
“Tambah satu lagi, Pak: bisa dibungkus!”
Hahaha
Karena tidak tahan, saya membuka gigi palsu lalu bungkus tissue dan masuk di kantong baju mengeluarkan sebentra gigi palsu saya, lalu menatapnya sejenak.
Seperti menatap seorang sahabat lama yang sedang bermasalah.
Namun karena luka masih terasa, saya memutuskan untuk tidak memakainya. Saya bungkus kembali pakai tissue dan masukkan kembali ke kantong.

Saya mencoba makan tanpa gigi palsu. Tidak mudah.
Setiap suapan harus hati-hati. Ikan patin bakar menjadi penyelamat
lembut, mudah ditelan.
Ternyata, makan tanpa gigi itu seperti menikmati hidup dengan separuh rasa. Masih bisa, tapi tidak utuh.
Setelah makan, kami menuju Hotel Bonnet Manyar untuk check-in.

Dan di sinilah tragedi kecil itu terjadi.
Saya merogoh kantong.
Ternyata
Kosong.
Saya mulai panik.

Saya coba ingat-ingat.
Tadi saya bungkus dengan tissue. Lalu saya masukkan ke kantong. Apakah… saya membuangnya?

Perasaan saya langsung jatuh. Air mata hampir menetes.
Gigi palsu itu bukan sekadar benda.
Ia adalah bagian dari hidup saya. Tanpanya, saya bukan hanya kehilangan alat makan, tetapi juga kehilangan kenyamanan, kepercayaan diri, bahkan sedikit harga diri.

Saya mencari ke mana-mana. Bertanya ke restoran. Tidak ada.
Malam itu, saya benar-benar merasa kehilangan.

Di usia lanjut, kita mulai menyadari bahwa hal-hal kecil justru memiliki arti besar.

Gigi palsu, misalnya.
Bagi anak muda, mungkin itu hanya benda medis.
Namun bagi kami, itu adalah sahabat.
Sahabat dalam penderitaan
ketika gigi asli satu per satu pergi.
Sahabat dalam sukacita
ketika kita masih bisa menikmati makanan favorit.
Tanpa gigi palsu, makan bukan lagi kenikmatan. Ia menjadi perjuangan.
Setiap gigitan terasa seperti ujian.
Setiap suapan mengingatkan keterbatasan.
Benar adanya, tanpa gigi palsu, makanan terenak pun bisa terasa seperti duri.

Malam itu, saya makan di rumah keponakan saya, Sherly dan Brahim.
Mereka menyajikan gulai khas buatan Mbok Tie.
Aromanya luar biasa.
Saya mencoba makan dengan perlahan.
Untung ada boras seperti lontong atau ketupat ala Makasar
alat bantu sederhana
yang sedikit menolong.
Namun tetap saja, rasanya berbeda.
Dalam hati saya berkata,
“Ya Tuhan, ternyata gigi palsu ini begitu berarti.”

Bayangan satu minggu kedepan tanpa gigi terasa berat. Lebih berat dari puasa.
Lebih berat dari pantang.

Namun di tengah semua itu, saya belajar sesuatu.
Bahwa hidup ini adalah tentang menerima.
Tentang bersyukur.
Tentang menemukan makna bahkan dalam kehilangan kecil.
Mungkin ini bagian dari perjalanan iman saya di pekan suci ini.

Belajar merasakan keterbatasan.
Belajar menahan diri.
Belajar menghargai hal-hal kecil.
Dan terutama, belajar bahwa setiap bagian dari hidup
sekecil apa punmemiliki arti.
Termasuk gigi palsu.

Selamat memasuki Pekan Suci.
Semoga kita semua diberi kekuatan, kesabaran, dan hati yang penuh syukur.
Karena terkadang, justru dari kehilangan kecil, kita menemukan makna yang besar.

www.kris.or.id i www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *