PHUBBING:
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS
Akhir Maret 2026
Ketika Teknologi Menggerus Kehangatan Manusia
Sahabatku
Di era digital yang serba cepat ini, kehadiran teknologi
khususnya smartphone
telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi.
Di satu sisi, teknologi memudahkan komunikasi tanpa batas ruang dan waktu.
Namun di sisi lain, ia juga melahirkan fenomena baru yang diam-diam menggerus kualitas hubungan antar manusia.
Fenomena itu dikenal dengan istilah phubbing.
Phubbing merupakan gabungan dari dua kata bahasa Inggris:
phone (telepon) dan snubbing (mengabaikan). Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 2012 oleh Alex Haigh di Australia, dalam sebuah kampanye yang melibatkan para ahli bahasa, sosiolog, dan budayawan.
Phubbing merujuk pada perilaku seseorang yang sibuk dengan ponselnya sehingga mengabaikan orang yang berada di hadapannya.
Hari ini, phubbing bukan lagi sekadar istilah baru, melainkan sudah menjadi fenomena sosial global.
Bahkan, kata ini telah masuk ke dalam berbagai kamus bahasa Inggris sebagai bentuk pengakuan bahwa perilaku tersebut semakin meluas dan nyata terjadi di kehidupan sehari-hari.
Tanpa kita sadari, banyak dari kita telah menjadi pelaku phubbing.
Saat berbicara dengan rekan kerja, kita sesekali melirik layar ponsel. Ketika makan bersama pasangan, perhatian kita terpecah oleh notifikasi media sosial.
Bahkan saat mendampingi anak belajar, tangan kita masih menggenggam gadget, seolah tidak pernah benar-benar hadir sepenuhnya.
Sekilas, hal ini terlihat sepele. Namun dampaknya jauh lebih dalam daripada yang kita bayangkan.
Phubbing secara perlahan merusak kualitas komunikasi. Interaksi yang seharusnya hangat dan penuh perhatian menjadi dangkal dan terputus-putus. Lawan bicara merasa tidak dihargai, diabaikan, bahkan dianggap tidak penting.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat menimbulkan jarak emosional, menurunkan rasa kepercayaan, dan merenggangkan hubungan—baik dalam keluarga, pertemanan, maupun lingkungan kerja.
Lebih dari itu, phubbing juga mencerminkan kualitas diri seseorang. Seseorang yang terus-menerus memprioritaskan ponsel dibanding manusia di hadapannya dapat dipandang sebagai pribadi yang kurang memiliki empati, etika, dan sopan santun. Padahal, salah satu bentuk penghargaan paling sederhana dalam interaksi sosial adalah memberi perhatian penuh.
Kita perlu menyadari bahwa kehadiran fisik saja tidak cukup.
Kehadiran emosional jauh lebih penting. Saat kita bersama orang lain, mereka tidak hanya membutuhkan tubuh kita, tetapi juga perhatian, empati, dan keterlibatan kita secara utuh.
Oleh karena itu, gerakan “Stop Phubbing” menjadi semakin relevan untuk digaungkan. Bukan berarti kita harus menjauhi teknologi atau berhenti menggunakan smartphone. Yang diperlukan adalah kesadaran dan pengendalian diri dalam penggunaannya.
Ada beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan untuk mengurangi phubbing:
Pertama, biasakan untuk menyimpan ponsel saat sedang berbicara dengan orang lain.
Letakkan di tas atau balikkan posisi layar agar tidak mudah tergoda melihat notifikasi.
Kedua, terapkan aturan bebas gadget dalam momen tertentu, seperti saat makan bersama keluarga, rapat penting, atau pertemuan dengan relasi.
Momen-momen ini seharusnya menjadi ruang untuk membangun koneksi, bukan distraksi.
Ketiga, latih diri untuk hadir sepenuhnya (mindful presence).
Dengarkan dengan sungguh-sungguh, tatap lawan bicara, dan respon dengan perhatian. Hal sederhana ini memiliki dampak besar dalam mempererat hubungan.
Keempat, sadari bahwa tidak semua notifikasi harus segera direspon.
Dunia tidak akan runtuh hanya karena kita menunda membalas pesan selama beberapa menit demi menghargai orang di hadapan kita.
Pada akhirnya, kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah teknologi yang kita miliki justru menjauhkan kita dari orang-orang yang kita cintai?
Jangan sampai ponsel yang kita beli dengan kerja keras justru menjadi penghalang dalam hubungan kita dengan keluarga, sahabat, dan rekan kerja.
Jangan sampai kita dikenal sebagai pribadi yang lebih dekat dengan layar daripada dengan manusia.
Mari kita kembalikan nilai dasar dalam berinteraksi: saling menghargai, mendengarkan, dan hadir sepenuhnya.
Karena pada akhirnya, yang paling berharga dalam hidup ini bukanlah seberapa canggih perangkat yang kita miliki, melainkan seberapa dalam hubungan yang kita bangun dengan sesama manusia.
Ulasan dan Nilai Penting
Tulisan ini mengangkat isu yang sangat relevan di zaman modern. Phubbing bukan sekadar kebiasaan kecil, tetapi telah menjadi masalah sosial yang mempengaruhi kualitas hubungan manusia.
Nilai utama yang bisa diambil:
Kesadaran diri (self-awareness)
Banyak orang tidak sadar bahwa mereka melakukan phubbing. Langkah pertama perubahan adalah menyadari kebiasaan tersebut.
Etika sosial
Menghargai lawan bicara adalah bentuk sopan santun yang mendasar.
Phubbing menunjukkan penurunan etika dalam komunikasi.
Keseimbangan teknologi
Teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti interaksi manusia.
Kualitas hubungan
Hubungan yang kuat dibangun dari perhatian dan kehadiran, bukan sekadar komunikasi formal.
Pengendalian diri
Kemampuan mengatur penggunaan gadget adalah bentuk kedewasaan emosional di era digital.
Kesimpulannya, kampanye anti-phubbing bukan sekadar tren, tetapi sebuah kebutuhan untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah arus teknologi yang semakin dominan.
www.kris.or.id I www.adharta.com
