Cinta yang Tidak Selesai
Cerpen no 0061
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS
Medio Maret 2026
Sahabatku
Anton lahir di Medan, di sebuah keluarga Katolik sederhana yang mengajarkan disiplin, kerja keras, dan iman kepada Tuhan. Sejak kecil ia dikenal sebagai anak yang penuh energi.
Teman-temannya sering berkata bahwa Anton seperti api hangat, berani, dan selalu bergerak maju. Ia tumbuh menjadi pemuda yang agresif dalam arti positif
berani mengambil kesempatan, rajin bekerja, dan tidak takut menghadapi tantangan.
Sementara itu di Jakarta, lahirlah Mila. Sejak kecil ia dikenal sebagai gadis yang cerdas dan cantik. Ia memiliki mata yang teduh dan cara berbicara yang lembut. Mila mencintai buku sejak usia dini. Ia percaya bahwa pendidikan adalah cara terbaik untuk mengubah dunia.
Karena itu, ia menekuni studinya dengan sungguh
sungguh hingga akhirnya menjadi seorang akademisi yang mengajar di beberapa universitas.
Pertemuan mereka terjadi secara sederhana.
Suatu hari Anton menghadiri sebuah seminar kepemudaan Katolik di Jakarta. Ia datang sebagai peserta, sedangkan Mila menjadi salah satu pembicara muda yang membawakan topik tentang peran pendidikan dalam membangun karakter generasi muda.
Anton yang biasanya penuh percaya diri, tiba-tiba menjadi pendiam ketika mendengar Mila berbicara. Ada sesuatu dalam suara wanita itu
tenang, cerdas, dan penuh keyakinan
yang membuatnya terpikat.
Setelah seminar selesai, Anton memberanikan diri menghampiri Mila.
“Presentasi Anda luar biasa,” kata Anton dengan senyum yang sedikit canggung.
Mila tersenyum ramah. “Terima kasih. Anda dari mana?”
“Medan.
Tapi hari ini saya merasa Jakarta jadi lebih menarik.”
Mila tertawa kecil. Itulah awal dari percakapan panjang yang tanpa mereka sadari menjadi awal sebuah kisah cinta.
Hubungan mereka tumbuh perlahan namun pasti.
Anton sering terbang dari Medan ke Jakarta hanya untuk bertemu Mila.
Kadang mereka menghadiri misa bersama, duduk berdampingan di bangku gereja, berdoa dalam diam.
Anton selalu menggenggam tangan Mila setelah misa selesai, seolah tidak ingin melepaskan kebahagiaan kecil itu.
Mila sering mengagumi semangat Anton.
“Kenapa kamu selalu terlihat begitu berani?” tanya Mila suatu malam.
Anton tersenyum.
“Hidup terlalu singkat untuk takut.”
Kata-kata itu, yang saat itu terdengar seperti candaan ringan, kelak menjadi kalimat yang selalu teringat di hati Mila.
Tahun-tahun berlalu.
Anton semakin sukses dalam pekerjaannya. Ia dikenal sebagai pria yang pekerja keras dan penuh ide. Sementara Mila semakin dikenal di dunia akademik. Ia mengajar di beberapa universitas dan sering diundang menjadi pembicara tentang pendidikan.
Mereka adalah pasangan yang berbeda namun saling melengkapi. Anton penuh energi dan keberanian,
Mila penuh kebijaksanaan dan ketenangan.
Namun hidup kadang berjalan di luar rencana manusia.
Suatu pagi yang sunyi, kabar itu datang seperti petir di langit cerah.
Anton meninggal dunia.
Tidak ada penyakit sebelumnya. Tidak ada tanda-tanda bahaya.
Ia hanya ditemukan tak bernyawa di rumahnya.
Para dokter tidak menemukan sebab yang jelas.
Ia meninggal di usia 40 tahun.
Dunia Mila seolah berhenti berputar.
Hari pemakaman Anton dihadiri banyak orang. Teman, keluarga, dan sahabat datang dari berbagai kota.
Di dalam gereja, lilin-lilin menyala tenang di depan altar.
Mila duduk di bangku depan, memandang peti kayu itu dengan mata yang basah.
Ia teringat semua hal kecil: senyum Anton, keberaniannya, dan cara ia selalu berkata bahwa hidup terlalu singkat untuk takut.
Pastor yang memimpin misa berkata dengan lembut,
“Cinta tidak berhenti ketika seseorang dipanggil pulang oleh Tuhan.”
Setelah pemakaman itu, Mila kembali ke kehidupannya sebagai pengajar. Ia mengajar lebih tekun dari sebelumnya.
Ia menulis, meneliti, dan membimbing mahasiswa dengan penuh perhatian.
Namun ada satu hal yang selalu ia lakukan setiap kali selesai mengajar.
Ia berhenti sejenak di kapel kampus.
Di sana, dalam keheningan doa, Mila selalu mengingat Anton.
Bagi dunia, kisah cinta mereka mungkin telah selesai.
Tetapi bagi Mila, cinta itu tidak pernah benar-benar berakhir.
Karena cinta yang lahir dalam iman… tidak berhenti di bumi.
www.kris.or.id I www.adharta.com
