Aku Pulang Bertahun tahun di Negeri Orang,

Cerpen No. 0060

Oleh : Adharta
Ketua Umum KRIS

Hidup di perantauan

Angin laut berhembus pelan di pelabuhan Tanjung Priok sore itu.
Burung camar terbang rendah di atas kapal-kapal yang bersandar.

Yussof berdiri di tepi dermaga, memandang laut yang berwarna keperakan diterpa matahari senja.
Dalam hatinya, ia tahu perjalanan hidupnya telah berubah sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di Jakarta.

Tahun itu,
1980.
Bagi Yussof, Jakarta bukan sekadar kota.
Ia adalah pintu menuju masa depan.
Yussof berasal dari Sabah, dari sebuah kampung kecil tidak jauh dari Kota Kinabalu.

Ayahnya seorang petani sederhana yang setiap hari menanam padi dan sayur di ladang kecil milik keluarga. Ibunya seorang guru sekolah dasar yang sangat dihormati di kampung mereka.

Walaupun hidup sederhana, keluarga itu kaya akan pendidikan dan nilai kehidupan.
Yussof adalah anak kedua dari tiga bersaudara.
Kakaknya, Rahman, sudah lebih dahulu merantau ke Indonesia dan menjadi dokter setelah lulus dari Universitas Airlangga di Surabaya.

Adiknya, Azlan, seorang pemuda cerdas yang kelak menjadi insinyur teknik mesin setelah menempuh pendidikan di sebuah universitas di Singapura.

Di antara mereka bertiga, Yussof lah yang paling mencintai laut.
Sejak kecil ia sering berdiri di pantai Sabah, memandang kapal-kapal besar yang berlayar menuju negeri jauh.
Ia selalu bertanya dalam hati: bagaimana rasanya mengarungi samudra yang luas itu?

Kesempatan itu datang ketika pemerintah Malaysia mengirim beberapa pemuda terbaik untuk belajar di Akademi Ilmu Pelayaran di Jakarta.

Yussof termasuk di antara tujuh orang yang terpilih.
Perjalanan pertamanya meninggalkan Sabah terasa seperti mimpi. Ia masih ingat saat ibunya memeluknya erat di pelabuhan.

“Belajarlah sungguh-sungguh, Yussof,” kata ibunya lembut.
“Di negeri orang kita harus menjaga nama baik keluarga.”
Ayahnya hanya menepuk bahunya kuat-kuat.
“Jangan takut ombak,” katanya singkat.

Kata-kata itu tertanam dalam hati Yussof.
Di Jakarta, hidup tidak semudah yang ia bayangkan.
Ia tinggal di asrama Akademi Ilmu Pelayaran bersama para taruna dari berbagai daerah. Disiplin di akademi sangat keras.
Bangun sebelum matahari terbit, latihan fisik, belajar navigasi, meteorologi, mesin kapal, hingga latihan di laut.
Suatu hari Yussof pernah di hukum menghormati bendera merah putih selama 5 jam di terik Matahari
Gara gara ketahuan makan nasi padang pakai tangan

Bagi Yussof, hari-hari itu penuh perjuangan.
Kadang ia merasa sangat rindu rumah.
Malam-malam panjang di asrama sering diisi dengan percakapan dengan teman-teman senegaranya
enam pemuda Malaysia yang sama-sama merantau. Mereka sering duduk di kantin sederhana, minum kopi panas sambil bercerita tentang kampung halaman.

“Kalau sudah lulus, aku ingin menjadi kapten kapal besar,” kata salah seorang temannya.
Yussof hanya tersenyum.
Dalam hatinya, ia juga memiliki mimpi yang sama.
Namun kehidupan di Jakarta tidak hanya memberi kesulitan.
Kota itu juga memberinya sesuatu yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Cinta.

Ia bertemu dengan seorang gadis Indonesia bernama Ratna.

Ratna adalah mahasiswi di sebuah sekolah tinggi ekonomi di Jakarta. Pertemuan mereka terjadi secara tidak sengaja ketika Yussof membantu Ratna yang hampir terjatuh di halte bus saat hujan deras mengguyur kota.
Sejak pertemuan itu, mereka sering bertemu.
Ratna adalah gadis yang lembut namun kuat.
Ia berasal dari keluarga sederhana di Jawa Tengah yang merantau ke Jakarta untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Yussof sering mengajaknya berjalan di sekitar kota tua, atau duduk di warung kecil menikmati nasi goreng sambil berbincang tentang masa depan.
“Suatu hari nanti kamu akan berlayar jauh,” kata Ratna suatu malam.
Yussof memandangnya lama.
“Kalau itu terjadi, apakah kamu akan menunggu?”
Ratna tersenyum.
“Laut tidak akan pernah bisa mengambil orang yang benar-benar ingin pulang.”
Kata-kata itu membuat hati Yussof hangat.
Tahun-tahun di Akademi Ilmu Pelayaran berlalu dengan cepat. Pelajaran semakin sulit, latihan semakin berat, namun Yussof tidak pernah menyerah.
Ia selalu teringat wajah ayah dan ibunya di Sabah.
Ia juga teringat Ratna.
Pada suatu pagi yang cerah, akhirnya hari yang dinantikan tiba.

Yussof resmi lulus dari Akademi Ilmu Pelayaran Jakarta.
Di pundaknya kini tersemat gelar kapten.
Saat upacara kelulusan, Ratna berdiri di antara para tamu yang hadir.
Ketika mata mereka bertemu, keduanya tahu perjalanan baru akan dimulai.
Tidak lama setelah itu, Yussof membuat keputusan besar dalam hidupnya.
Ia menikahi Ratna.
Sebagian teman-temannya terkejut. Tidak mudah bagi seorang pemuda Malaysia menikahi gadis Indonesia pada masa itu. Namun bagi Yussof, cinta tidak mengenal batas negara.
Ia menulis surat panjang kepada orang tuanya di Sabah.
Beberapa minggu kemudian, balasan datang.
Ibunya menulis dengan tulisan tangan yang halus:
“Jika dia membuatmu bahagia, bawalah dia pulang ke rumah.”
Surat itu membuat mata Yussof basah.
Beberapa tahun setelah kelulusan, Yussof mulai bekerja di kapal-kapal perdagangan yang berlayar melintasi Asia Tenggara. Ia mengarungi Laut Jawa, Selat Malaka, hingga Samudra Hindia.
Kadang ia berada jauh dari rumah berbulan-bulan.
Namun setiap kali kapal mendekati pelabuhan, hatinya selalu teringat satu hal.
Rumah.

Rumah bukan hanya Sabah lagi.
Rumah juga Jakarta.
Rumah adalah Ratna yang menunggunya dengan sabar.
Suatu hari, setelah bertahun-tahun berlayar, Yussof berdiri di geladak kapal memandang cakrawala. Laut tampak tenang seperti kaca yang luas.
Ia teringat perjalanan hidupnya.
Dari seorang anak petani di Sabah…
Menjadi taruna di Jakarta…
Menjadi kapten kapal…
Dan menemukan cinta di negeri orang.
Ia tersenyum pelan.
“Negeri orang telah menjadi bagian dari hidupku,” bisiknya.
Namun dalam hatinya, ia tahu satu hal.
Sejauh apa pun kapal berlayar, setiap pelaut selalu memiliki satu tujuan yang sama.
Pulang.
Dan suatu hari nanti, Yussof akan kembali ke Sabah bersama Ratna, membawa kisah panjang tentang tahun-tahun yang ia jalani di negeri orang.
Sebuah kisah tentang perjuangan, cinta, dan keluarga.
Kisah seorang anak petani yang berani menyeberangi lautan demi masa depan.
Dan ketika ia menutup matanya malam itu di atas kapal yang berlayar perlahan, satu kalimat terngiang di dalam pikirannya:

“Aku pulang… setelah bertahun-tahun di negeri orang.”
Oh Malaya.

www.kris.or.id I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *