Antara Denyut nadi dan Doa

Cerpen no 0058

Oleh : Ad harta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
Awal Maret 2026
Selamat ber puasa

Mengenang seorang sahabat
Kakak dan pejuang KRIS

Cintaku
Rumah sakit itu tidak pernah benar-benar sunyi.
Bahkan pada dini hari, ketika lampu-lampu lorong meredup dan langkah kaki mulai jarang terdengar, masih ada suara monitor jantung yang berdetak pelan
seperti pengingat bahwa kehidupan selalu berjuang untuk tetap ada.

Di rumah sakit itulah
Dr. Arya Pradipta pertama kali bertemu Laras Widyasari, seorang perawat muda dengan mata yang hangat dan senyum yang selalu berhasil menenangkan pasien.

Pertemuan mereka sederhana. Terlalu sederhana bahkan untuk disebut takdir.

Namun dari kesederhanaan itulah kisah besar sering dimulai.

Hari itu hujan turun deras. Arya baru saja menyelesaikan operasi seorang pasien yang sangat melelahkan.
Ia berjalan keluar ruang operasi dengan langkah berat, wajahnya lelah, masker masih menempel.

Di lorong, Laras sedang mendorong troli obat.
“Dokter Arya, Anda belum makan sejak pagi,” katanya lembut.

Arya terkejut. Ia tidak menyangka ada orang yang memperhatikan hal sekecil itu.

“Ah… saya hampir lupa kalau saya juga manusia,” jawabnya sambil tersenyum.

Laras tertawa kecil.
Dan sejak hari itu, sesuatu mulai tumbuh.
Hari-hari mereka di rumah sakit sering penuh kelelahan. Namun di sela-sela tugas, mereka menemukan cara untuk saling menguatkan.
Kadang hanya dengan secangkir kopi di kantin rumah sakit.
Kadang dengan percakapan singkat di lorong.
Kadang dengan tawa kecil psetelah berhasil menyelamatkan pasien yang hampir putus harapan.

Suatu malam, setelah shift panjang, mereka duduk di bangku taman rumah sakit.
Hujan baru saja berhenti. Daun-daun masih basah.
“Apa yang membuatmu memilih menjadi dokter?” tanya Laras.

Arya menatap langit yang masih kelabu.
“Karena aku ingin memperpanjang waktu orang-orang bersama orang yang mereka cintai.”

Laras terdiam.
“Kalau kamu?” Arya bertanya.

“Aku ingin menemani mereka ketika waktu itu hampir habis.”

Mereka saling memandang.
Di antara dua kalimat sederhana itu, mereka tahu mereka berada di jalan yang sama.

Cinta mereka tumbuh perlahan, seperti matahari yang terbit tanpa suara.
Tidak ada drama besar.
Tidak ada pengakuan berlebihan.
Hanya kebiasaan kecil yang berubah menjadi kebutuhan.
Arya selalu menunggu Laras selesai shift malam.

Laras selalu membawa kopi untuk Arya.
Dan suatu sore, di taman yang sama, Arya berkata dengan suara pelan,
“Laras… maukah kamu menua bersamaku?”

Laras tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia hanya mengangguk, sambil menyeka air mata yang tiba-tiba jatuh.

Pernikahan mereka sederhana.
Tidak mewah, tidak besar.
Namun penuh tawa.
Teman-teman dokter dan perawat memenuhi aula kecil rumah sakit.
Bahkan beberapa pasien yang sudah sembuh datang membawa bunga.
Hari itu, rumah sakit yang biasanya dipenuhi kecemasan berubah menjadi tempat yang penuh kebahagiaan.
Dan kehidupan baru mereka dimulai.

Tahun-tahun berlalu.
Tuhan memberi mereka tiga anak.

Raka, yang selalu penasaran dengan segala hal.

Dinda, yang lembut dan penuh empati.
Dan Arga, si bungsu yang selalu membuat rumah dipenuhi tawa.
Di rumah kecil mereka, sering terdengar canda.

“Ayah, kalau aku sakit nanti ayah yang operasi ya?” tanya Arga suatu hari.

Arya tertawa.
“Jangan sampai sakit. Tapi kalau perlu, ayah pasti ada.”

Laras memandang mereka dari dapur dengan mata hangat.
Rumah itu sederhana.
Namun penuh cinta.
Ketika anak-anak mulai besar, mereka sering ikut ke rumah sakit.

Mereka melihat ayah mereka bekerja tanpa lelah.
Mereka melihat ibu mereka menenangkan pasien dengan suara lembut.
Suatu malam, Raka berkata,

“Ayah… aku ingin jadi dokter seperti ayah.”
Arya tersenyum bangga.
“Kalau begitu, jadilah dokter yang lebih baik dari ayah.”
Dinda berkata pelan,
“Aku juga ingin membantu orang seperti ibu.”
Arga mengangkat tangan.
“Aku juga!”
Rumah itu penuh tawa malam itu.
Tidak ada yang tahu betapa berharganya momen sederhana itu.

Lalu tahun 2020 datang.
Dunia berubah.
Virus Corona Covid-19
yang tidak terlihat mulai mengambil banyak nyawa.
Rumah sakit menjadi medan perang.

Dokter dan perawat bekerja siang malam.
Arya termasuk di garis depan.
Laras sebenarnya takut.
Sangat takut.
Namun ia juga tahu siapa suaminya.

“Janji pulang,” kata Laras suatu malam sebelum Arya berangkat.
Arya memegang tangannya.
“Aku akan selalu berusaha.”
Hari-hari menjadi berat.
Pasien terus berdatangan.
Tangis keluarga terdengar hampir setiap hari.

Dan suatu malam, Arya mulai batuk.
Awalnya ia mengabaikan.
Namun beberapa hari kemudian, demam datang.
Tes dilakukan.
Hasilnya positif.
Laras merasa dunia berhenti berputar.
Arya harus dirawat di rumah sakit yang sama tempat ia bekerja.

Tempat ia menyelamatkan begitu banyak nyawa.
Kini ia menjadi pasien.
Anak-anak tidak bisa menjenguk.
Mereka hanya bisa melihat ayah melalui layar video.
“Ayah cepat sembuh ya,” kata Arga sambil menahan tangis.

Arya tersenyum meski wajahnya lemah.
“Tentu. Ayah kuat.”
Namun tubuh manusia punya batas.
Dan suatu pagi yang sunyi, monitor jantung Arya berhenti berdetak.

Dokter yang mencoba menyelamatkannya adalah murid-muridnya sendiri.
Di luar ruangan, Laras menangis tanpa suara.
Air mata yang tidak pernah ia biarkan jatuh selama bertahun-tahun akhirnya mengalir deras.

Pemakaman berlangsung sederhana.
Karena pandemi.
Tidak banyak orang yang bisa datang.
Namun cinta yang ditinggalkan Arya jauh lebih besar dari jumlah orang yang hadir.

Di rumah, Laras harus belajar menjadi kuat.
Untuk tiga anaknya.

Tahun-tahun kembali berjalan.
Raka belajar keras.
Dinda tidak pernah berhenti membantu orang.
Arga tumbuh dengan semangat yang sama seperti ayahnya.
Dan suatu hari, Laras duduk di aula universitas.
Matanya berkaca-kaca.
Di panggung, tiga nama dipanggil.

Dr. Raka Aryaputra.
Dr. Dinda Aryasari.
Dr. Arga Aryaditya.

Ketiganya resmi menjadi dokter.
Seperti ayah mereka.
Seperti mimpi kecil yang dulu pernah mereka ucapkan di meja makan.
Laras menatap langit.
Air mata jatuh lagi.
Namun kali ini bukan hanya karena kehilangan.
Melainkan juga karena kebanggaan.

Di antara air mata itu, ia hampir bisa mendengar suara Arya.
“Lihat, Laras… kita berhasil.”

Dan di antara kenangan, tawa, dan doa yang tidak pernah berhenti, cinta mereka tetap hidup.
Bukan lagi hanya di dua hati.
Tetapi di tiga dokter muda yang kelak akan menyelamatkan banyak kehidupan.
Seperti ayah mereka dulu.

www.kris.or.id I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *