HUSADA
Hatiku Selalu Ada Damai

Oleh : Adharta
Ketua. umum
KRIS

Mungkin banyak orang telah lama mendengar nama HUSADA,
namun belum tentu mengenal kisah agung yang melekat padanya.
Sebuah rumah sakit legendaris, yang dahulu 101 tahun lalu diberi bernama
Rumah Sakit
Jang Sheng Ie,
berdiri bukan hanya sebagai bangunan kesehatan,
melainkan sebagai rumah damai bagi mereka yang mencari kesembuhan.

Pagi hari,
tepat tujuh hari paska Imlek, 2577 tahun 2026

ingatan saya kembali pada pesan orang tua kami,
terutama Mama saya tercinta:
“Kamu sekeluarga harus makan tujuh macam sayur yang dimasak bersama.”

Tujuh sayur.
Tujuh makna.
Tujuh harapan kehidupan.

Malam itu, secara kebetulan yang indah,
saya bertemu sahabat saya,
Mgr. Rolly Untu MSC,
Uskup Keuskupan Manado,
yang sedang berada di Jakarta untuk menghadiri konser amal
Drama Musikal Lelaki Tanpa Batas Waktu,
di mana saya pun turut hadir.

Malam itu kami berkumpul
bersama Bapak Budi Hidayat dan Ibu Hian,
Ibu Monic dan Bapak Dwi,
serta Ketua Panitia Bapak Fandy.

Dan akhirnya,
kami menikmati tujuh macam sayur,
tentu saja ditemani hidangan lain,
dalam suasana persahabatan yang hangat dan penuh syukur.

Saya pun bercerita tentang makna tujuh sayur itu.
Salah satunya adalah ungkapan luhur yang telah dikenal ribuan tahun lalu:

HATIKU SELALU ADA DAMAI.

Sebuah kalimat sederhana,
namun sarat makna.
Dan sungguh indah,
ungkapan itu melekat pada nama HUSADA.
Karena ketika hati berada dalam damai,
di sanalah kesembuhan bermula.
Damai sejahtera adalah sumber dari segala sumber kesembuhan,
Sumber segala obat manjur
yang kemudian disempurnakan oleh ilmu kedokteran,
oleh para dokter, suster, dan rumah sakit.

Kembali ke HUSADA
Pagi tadi,
usai doa pagi,
saya terbangun dengan sebuah keputusan yang mantap:

menuju Rumah Sakit HUSADA.
Empat bulan lalu,
saya menjalani operasi pemasangan ICD disamping jantung aaya
di Singapura.
Sejak operasi masih terasa di
dada saya kerap terasa nyeri.

Saya menghubungi sahabat karib saya,
Dr. Hans Cahyadi, SpJP,
untuk memohon bantuan beliau melakukan pemeriksaan ulang jantung saya.
Sekaligus, saya juga berkonsultasi dengan rekan-rekan sejawat lainnya:

Dr. Hendrik, SpKK, untuk kelainan kulit yang sedang saya alami hampir 3 bulan lamanya

Dr. Julius Fajar, Spesialis Urologi, untuk gangguan kandung kemih dan prostat

Prof. Dr. Benny, pakar kulit, yang saat itu kebetulan sedang cuti untuk konsultasi terutama masalah Penyakit auto imun
Saat ini HUSADA
Di bawah kepemimpinan Dr. Fu Shen,
saya sungguh meyakini bahwa HUSADA adalah salah satu rumah sakit terbaik di Indonesia,
bukan hanya karena keilmuannya,
tetapi karena jiwa pelayanannya.

Pada usia 101 tahun,
pengalaman HUSADA
yang dahulu bernama Jang Sheng Ie
telah teruji oleh waktu dan sejarah.
(Boleh dicatat sebagai referensi kesehatan keluarga.)

Rumah Sakit yang Bernapas Damai

Seorang kawan pernah bertanya dengan nada bercanda:

“Bukankah Rumah Sakit HUSADA sudah tua dan terlihat sederhana?”

Saya pun menjawab benar sekali
sambil tersenyum:
Mungkin Anda perlu datang dan menyaksikan sendiri.
Bagaimana HUSADA menyajikan
Keindahan tamannya.
Udara yang segar.
Pepohonan dan bunga-bunga yang tertata penuh cinta.

Rumah sakit mana di Jakarta yang memiliki suasana sejuk seperti HUSADA?

Ditambah lagi,
tersedia ruangan VVIP yang bersih, rapi, dan sangat nyaman
membuat pasien merasa dihargai sebagai manusia seutuhnya,
bukan sekadar objek pengobatan.

Akhirnya,
saya memutuskan untuk rawat inap di HUSADA
demi observasi keluhan yang saya rasakan.
Dan aneh tapi nyata

saya merasa sembuh bahkan sebelum dirawat.

Mengapa?
Karena di HUSADA,
Hatiku Selalu Ada Damai.

Kisah Kasih HUSADA di Masa Pandemi
HUSADA tidak hanya hadir di masa tenang,
tetapi menunjukkan jati dirinya di masa paling gelap:
Pandemi Covid-19.
Saat banyak orang takut,
saat tenaga kesehatan kelelahan,
saat ketidakpastian melanda negeri ini
HUSADA berdiri di garis depan.
Dengan penuh dedikasi,
rumah sakit ini merawat pasien Covid-19,
melindungi tenaga medisnya,
dan tetap menyalakan lilin harapan.
Pada masa itu,
HUSADA mendapat dukungan dan perhatian langsung dari negara.
Rumah sakit ini menerima kunjungan
Budi Gunadi Sadikin,
Menteri Kesehatan Republik Indonesia,
yang memberikan semangat dan apresiasi atas perjuangan para dokter dan perawat.

Juga kunjungan
Airlangga Hartarto,
selaku Pembina Komunitas Relawan Indonesia Sehat (KRIS),
yang hadir memberikan dukungan moril dan nyata
dalam penanganan pandemi bersama
KILL COVID-19.
Bahkan,
Ketua Umum KILL COVID-19 sendiri
dua kali terpapar Covid-19
dan menjalani perawatan di HUSADA
sebuah bukti kepercayaan yang lahir dari pengalaman nyata.

Terima Kasih, HUSADA

Terima kasih kepada para suster yang melayani dengan hati dan senyum tulus.

Terima kasih khusus untuk Suster Nunung dan Suster Nurul my best friends

Terima kasih kepada Dokter Candy,
Dokter Kharisa,
dan seluruh sahabat dokter di HUSADA.
Saya percaya sepenuh hati,
suatu hari kelak,
HUSADA akan semakin dikenal
sebagai rumah sakit yang baik, manusiawi, dan penuh damai,
seperti yang pernah disampaikan oleh sahabat saya,
Dr. Hadi Pranoto.

Dan sebagai seorang pemain golf,
izinkan saya bermimpi kecil:

mungkin suatu hari nanti,
HUSADA memiliki putting green di depan Paviliun Anggrek
para golfer bisa check-up sambil putting,
dengan caddie para suster.
(cita-cita.com)

Dengan penuh rasa syukur, saya menutup kisah ini dengan satu kalimat sederhana:

I Love HUSADA.

www.kris.or.id I www.adharta.com I www.husada.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *