Bo Lelebo
Etanusa Lelebo
Bo Lelebo
Tanah Timor Lelebo

Bae tidak bae
Tanah Timor Lebe bae

Cerpen 0050

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Komunitas
Relawan
Indonesia
Sehat

Antara Laut dan Waktu

George lahir di Pulau Timor, propinsi
Nusa Tenggara Timur, di tanah yang keras ber karang dan matahari yang tak pernah ragu membakar
Panas

Di sanalah George
pertama kali belajar bahwa hidup tidak selalu memberi, tetapi selalu menuntut keteguhan.
George adalah anak sulung dari sepuluh bersaudara.

Sejak kecil, George tahu
tanpa pernah diajari
bahwa pundaknya akan memikul beban lebih berat daripada yang lain.

Ketika usianya baru enam belas tahun, George meninggalkan Timor. Perpisahan itu sunyi.
Tak banyak air mata, karena air mata adalah kemewahan bagi keluarga sederhana.
George berangkat ke pulau Flores, ke kota Ende, membawa tas kecil dan doa ibu yang tak terucap panjang. George masuk asrama SMA Katolik Suradikara
sekolah yang namanya harum, tetapi kehidupannya keras.

Tahun 1960-an di asrama Suradikara bukan tahun-tahun yang manis. Makanan adalah cerita kesabaran.

Jagung dan bulgur menjadi teman setia. Hari demi hari perut harus berdamai dengan rasa lapar.
Tak ada lauk istimewa.
Tak ada kenikmatan. Jika suatu hari mereka ingin merasa “hidup”, George dan teman-temannya memancing ikan.
Seekor ikan kecil bisa menjadi pesta.

*Mereka tertawa di sela lapar, seolah ingin menertawakan nasib agar nasib tidak menertawakan mereka.*

Sekolah sangat ketat.
Aturan mengikat seperti simpul yang kuat. Namun di sanalah watak dibentuk.
Bagi sesama alumni bisa memberikan banyak cerita

Suradikara bukan sekadar sekolah, melainkan tempat menempa jiwa.

Banyak tokoh besar lahir dari sana
Akademisi, pemimpin, pejabat nasional.

Nama seperti Almarhum
Thoby Mutis, yang kelak menjadi Rektor Universitas Trisakti, Jakarta hanyalah satu dari sekian bukti.
George mungkin belum tahu siapa ia akan menjadi, tetapi ia tahu satu hal

ia harus bertahan.
Setelah tamat SMA, hidup tidak memberinya jeda.

George mengembara ke Surabaya.
Kota besar itu dingin bagi pendatang tanpa apa-apa.
George datang dengan tangan kosong, tetapi hati penuh tekad.
Di rumah, sembilan adik menunggu masa depan. George adalah anak sulung. Ia adalah harapan.
Ia bekerja dari nol.
Ayahnya seorang pegawai negeri
Ibu nya pandai masak
Makanan selalu menjadi kerinduan bagi anak anak

Pekerjaan kasar, upah kecil, penghinaan yang tak jarang datang.
Ada hari-hari ketika ia pulang dengan tubuh remuk dan hati kosong.
Ada malam-malam ketika George menangis diam-diam, takut gagal, takut tidak cukup kuat.

Namun setiap kali ia hampir menyerah, ia mengingat wajah ibu dan adik-adiknya.
George kembali bangkit.

Suka dan duka datang silih berganti. Ada tawa saat berhasil mengirim uang sekolah.
Ada air mata saat usaha runtuh.
Hidup seolah menguji seberapa jauh George sanggup berjalan tanpa mengeluh.
George jatuh, lalu bangkit. Jatuh lagi, bangkit lagi. Hingga suatu hari, dalam perenungannya, George melihat Jakarta
kota yang katanya tak pernah tidur, kota yang masih menyimpan peluang bagi mereka yang tak berhenti berjuang.
George menikah.

George dikaruniai empat orang anak.

Cinta menambah kebahagiaan, tetapi juga menambah tanggung jawab.

Kini George bukan hanya bekerja untuk orang tua dan adik-adiknya, tetapi juga untuk istri dan anak-anak yang menggantungkan hidup padanya.

Ada masa ketika uang tidak cukup, ketika masa depan terasa samar. Namun George belajar satu hal keluarga adalah alasan terkuat untuk tetap berdiri.

Puluhan tahun ia jalani di Jakarta. Empat puluh tahun penuh kerja keras.
Di situlah George menemukan jalannya di dunia pelayaran.

Laut, kapal, dan pelabuhan menjadi bagian hidupnya.
Dunia yang keras, disiplin, dan penuh risiko
namun justru cocok dengan watak yang telah ditempa sejak di SMA Suradikara.

Dari dek kapal hingga ruang kerja, George membuktikan bahwa ketekunan bisa mengalahkan keterbatasan.
Tidak semua hari adalah kemenangan.

Ada kegagalan. Ada kehilangan. Ada saat-saat ia merasa sangat lelah.

Namun ada pula tawa—tawa anak-anaknya, tawa sederhana di meja makan, tawa puas ketika jerih payahnya mulai berbuah.

Satu per satu, anak-anak tumbuh. Adik-adiknya menemukan jalan hidup.

Rumah yang dulu penuh kekhawatiran perlahan dipenuhi rasa syukur.

Kini George telah memasuki usia pensiun. Rambut memutih, langkah melambat, tetapi tubuhnya tetap sehat dan kuat.
George menatap hidup dengan senyum yang tenang.
George tahu, tidak semua orang beruntung bisa menoleh ke belakang tanpa penyesalan.

George telah berjalan jauh
dari Timor, Ende, Surabaya, hingga Jakarta. Dari jagung dan bulgur, hingga kehidupan yang layak dan bermartabat.

Dalam diamnya, George sering berbisik pada dirinya sendiri: hidup bukan tentang seberapa tinggi kita berdiri, tetapi seberapa lama kita bertahan.
George bersyukur atas segala hal

atas lapar yang mengajarkan sabar, atas lelah yang mengajarkan kuat, atas air mata yang membersihkan hati, dan atas tawa yang membuat hidup layak dijalani.

Pesan George buat generasi muda sederhana, lahir dari perjalanan panjangnya:
apa pun yang kita miliki hari ini
sedikit atau banyak
selalu ada alasan untuk bersyukur. Karena syukur adalah kekuatan yang membuat manusia mampu berjalan sejauh apa pun.

 

www.kris.or.id I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *