Perjalanan Misi Bruder Nasarius Trimuryanto OFM

Cerpen nor 0042

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Medio Januari 2026

Sambil menikmati perjalanan macet menuju kantor dipagi hari
Saya teringat seorang sahabat yang sedang berjuang
Salah satunya
Bruder Trimo yang sedanag
menyelamatkan dunia melalui sebuah cara yang luar biasa

Kadang hati bertanya
Apakah saya bisa merobah dunia?

Tapi kata Gong Fu Tse
Kalau kamu tidak bisa merobah dunia maka robahlah dirimu maka dunia akan berobah mengikurimu mengikutimu

Sahabat saya Bruder Trimi sedang berjuang
Kisah kasih dan Cintanya

“BerTani, Berjuang Tanpa Henti”

Tanggal 15 Januari selalu menjadi penanda istimewa dalam hidup Bruder Nasarius Trimuryanto OFM.

Bukan sekadar angka di kalender, melainkan momen awal perjalanan panjang perutusan
sebuah jalan iman yang ditempuh dengan kesadaran, pengorbanan, dan keberanian untuk berjalan bersama Tuhan dalam suka dan duka.

Dari sebuah desa sederhana bernama Trimodadi, kisah hidupnya bertumbuh menjadi kesaksian tentang kesetiaan yang dijalani tanpa banyak kata.

Nasarius Trimuryanto lahir di Trimodadi, 28 Juli 1981, dari pasangan sederhana: almarhum Petrus Paijo dan Cisilia Purbi Astuti.

Ia tumbuh dalam keluarga yang mengenal kerja keras, kesederhanaan, dan doa sebagai nafas hidup. Sejak kecil, Trimur
sapaan akrabnya—sudah terbiasa dengan kehidupan yang tidak berlebihan. Ia belajar bahwa hidup bukan tentang memiliki banyak, melainkan tentang bertahan, berbagi, dan bersyukur.

Panggilan hidup membiara tidak datang sebagai keputusan instan.
Ia hadir perlahan, melalui perjumpaan dengan Tuhan dalam keheningan, melalui pergulatan batin, dan melalui pengalaman melihat penderitaan sesama.

Saat Trimur memutuskan masuk Seminari St. Paulus Palembang, ia sadar bahwa jalan ini bukan jalan mudah. Menjadi seorang Bruder Fransiskan (OFM) berarti memilih hidup sederhana, taat, miskin, dan setia—jalan yang menuntut seluruh diri.

Masa pembinaan menjadi waktu pengolahan batin.
Ia belajar disiplin, doa, kerja, dan hidup dalam persaudaraan.

Tidak jarang ia mengalami keraguan, kelelahan, bahkan kesepian.
Ada hari-hari ketika ia bertanya dalam hati: “Mampukah aku setia sampai akhir?” Namun di tengah pergulatan itu, spiritualitas Fransiskan menanamkan satu keyakinan: Tuhan hadir justru dalam kesederhanaan dan kerapuhan manusia.
Sebagai seorang Bruder Fransiskan, Trimur memilih hidup melayani, bukan memimpin dari atas, melainkan berjalan bersama. Prinsip hidupnya terangkum dalam kalimat yang kemudian menjadi napas perutusannya:

“BerTani, Berjuang Tanpa Henti.”

BerTani
berakar pada tanah kehidupan nyata.
Berjuang
melawan lelah, putus asa, dan keterbatasan. Tanpa Henti—karena kasih tidak mengenal kata selesai.
Salah satu bab terpenting dalam hidupnya adalah perjalanan misi dari Kalimantan Barat ke Jawa Barat, sebuah perjalanan yang bukan hanya jauh secara geografis, tetapi juga penuh makna batin. Dengan sebuah vespa, Bruder Trimur menempuh jalan panjang menuju Panti Asuhan St. Yusup.
Sindanglaya Cipanas
Jawa Barat

Vespa itu menjadi simbol kesederhanaan, keteguhan dan persaudaraan *”satu vespa sejuta saudara”*: dengan vespa melaju perlahan, namun pasti.
Arti Vespa buatan Piagio tahun 1946 Italy
Vespa artinya perjuangan walaupun arti sebenarnya TAWON
Demikian bentuknya didesign sepeti tawon dan suaranya seperti Tawon Betina membuat Madu

Di jalanan panjang, di tengah panas, hujan, dan kelelahan, ia belajar berserah sepenuhnya pada penyelenggaraan Tuhan.
Setibanya di Panti Asuhan St. Yusup, kehidupan baru dimulai.

Selama enam tahun, Bruder Trimur hidup bersama anak-anak yang datang dengan latar belakang luka, kehilangan, dan harapan yang rapuh.
Ia tidak hanya menjadi pengasuh, tetapi menjadi bapak
hadir, mendengarkan, menegur, dan memeluk ketika kata-kata tak lagi cukup.
Tidak semua hari dipenuhi tawa. Ada tangis, konflik, keterbatasan dana, dan kelelahan fisik maupun batin.

Menjadi bapak bagi anak-anak yang terluka bukan tugas ringan.
Ada malam-malam panjang ketika Bruder Trimur berdoa dalam diam, memohon kekuatan.
Ada hari-hari ketika rasa tidak dihargai dan kesalahpahaman menguji kesabarannya.

Namun ia memilih bertahan.

Baginya, setiap anak adalah amanah Tuhan,
Titipan Tuhan sendiri
bukan beban.

Kepercayaan pun tumbuh. Persaudaraan Fransiskan kembali mempercayakan perutusan itu kepadanya untuk tiga tahun ke depan, tanda bahwa kesetiaannya tidak sia-sia.
Ia tidak melihat kepercayaan itu sebagai kehormatan, melainkan sebagai tanggung jawab yang harus dijalani dengan rendah hati.
Dalam perjalanan panjang itu, ayat Kitab Suci ini menjadi pegangan hidupnya:

“Jalan terus Aku bersamamu.” (Yesaya 41:10)

Ayat ini bukan sekadar penghiburan, melainkan kekuatan.
Saat ia lelah, Tuhan berjalan bersamanya. Saat ia ragu, Tuhan meneguhkan langkahnya.
Kini, ketika menoleh ke belakang,
Bruder Nasarius Trimuryanto OFM tidak membanggakan pencapaian, melainkan mensyukuri proses.

Ia tahu hidupnya penuh kekurangan, tetapi ia percaya Tuhan bekerja melalui kesetiaan kecil yang dijalani setiap hari.
Dari Trimodadi, dari seminari, dari jalanan dengan vespa, hingga panti asuhan
semuanya dirajut dalam satu benang merah:
kasih yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
Perjalanan Bruder Trimur adalah kesaksian bahwa hidup religius bukan pelarian dari dunia, melainkan keberanian untuk masuk lebih dalam ke realitas manusia.

Dalam suka dan duka, ia terus melangkah
berTani, berjuang, tanpa henti—karena ia tahu, di setiap langkahnya, Tuhan tidak pernah meninggalkannya

Panti Asuhan Santo Yusup
Sindanglaya
Cipanas
Jawa barat

Www.kris.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *