Mereka yang Tinggal di Balik Pintu
Cerpen no 0039
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS
Awal Januari 2026
Di rumah-rumah besar, selalu ada pintu yang jarang dibuka.
Bukan pintu utama dengan lampu kristal dan karpet mahal, melainkan pintu kecil di belakang
menuju dapur, gudang, atau kamar sempit tanpa jendela.
Di sanalah mereka tinggal: para asisten rumah tangga.
Mereka yang setiap hari melihat kehidupan orang lain berjalan rapi, sementara hidupnya sendiri nyaris tak terlihat.
Mengawali tahun baru 2026
Saya bersama sama teman teman menonton sebuah film bagus di Taman Anggrek XXI
Dengan judul film
The Housemaid
Film ini memberikan inspirasi buat Saya menulis kisah pendek Pembantu Rumah Tangga atau ART
Millie adalah salah satunya ART di Jakarta
Ia datang ke rumah Andrew dan Nina dengan harapan sederhana
bekerja dengan jujur, dibayar layak, dan hidup sedikit lebih aman dari masa lalunya yang berantakan.
Ia tidak meminta kemewahan.
Ia hanya ingin dihargai sebagai manusia.
Rumah itu indah. Terlalu indah.
Dinding putih bersih, lukisan mahal, dan aroma kopi yang selalu hangat.
Namun Millie segera belajar satu hal
rumah bisa tampak sempurna dari luar,
tapi retak di dalamnya.
Nina, sang nyonya rumah, adalah perempuan yang rapuh sekaligus menakutkan. Senyumnya bisa berubah menjadi kemarahan dalam hitungan detik. Perintahnya sering tak masuk akal.
Kesalahan kecil dibesar besarkan. Kadang kata-kata tajam dilemparkan seperti pisau.
“ART itu harus tahu posisinya,” kata Nina suatu hari.
Millie tahu kalimat itu. Ia diwariskan dari generasi ke generasi.
Ibunya dulu juga ART.
Neneknya juga ART
Seolah menjadi pembantu adalah takdir yang tak boleh banyak bertanya.
Andrew berbeda.
Ia jarang bicara, tapi sopan.
Ia tahu ada yang salah, namun memilih diam.
Dan diam, Millie pelajari, sering kali adalah bentuk kekuasaan yang paling kejam.
Hari-hari Millie dipenuhi kerja tanpa jam yang jelas.
Bangun paling pagi, tidur paling akhir.
Jika ia sakit, dianggap malas. Jika ia lelah, dianggap tidak bersyukur.
Ia tinggal di kamar kecil di lantai atas
cukup untuk tubuhnya, tapi tidak untuk mimpinya.
Sebagai ART, Millie hidup di wilayah abu-abu bukan keluarga, bukan pula pekerja sepenuhnya.
Ia ada, tapi tidak dihitung.
Sampai suatu malam, pintu kamarnya dikunci dari luar.
Dalam gelap dan sunyi, Millie menangis.
Bukan karena sakit hati semata, melainkan karena sadar: jika ia terus diam, ia akan menghilang.
Seperti ibunya. Seperti ribuan ART lain yang bekerja seumur hidup tanpa perlindungan, tanpa suara, tanpa masa depan.
Di situlah keberanian kecil lahir.
Bukan keberanian untuk melawan dengan amarah, tetapi keberanian untuk mengakui bahwa dirinya berharga.
Millie mulai mencatat. Menyimpan bukti. Mencari bantuan. Ia menemukan komunitas ART
perempuan dan laki-laki yang selama ini dianggap rendah, tapi ternyata memiliki solidaritas tinggi dan pengetahuan tentang hak-hak mereka.
Ia belajar bahwa bekerja di rumah orang lain tidak berarti kehilangan hak sebagai manusia. Ia belajar tentang kontrak kerja, jam istirahat, upah layak, dan pentingnya pendidikan keterampilan.
Ketika akhirnya kebenaran terungkap dan ia meninggalkan rumah itu, Millie tidak pergi dengan kemenangan besar.
Ia pergi dengan luka
namun juga dengan kesadaran baru.
Bahwa nasib ART tidak harus selalu tragis.
Cerita Millie adalah cerita jutaan orang di Indonesia.
Mereka yang menjaga anak-anak kita, membersihkan rumah kita, memasak makanan kita
namun sering tidak mendapat jaminan kesehatan, jam kerja manusiawi, atau rasa aman. Padahal tanpa mereka, banyak rumah tangga kelas menengah dan atas tak akan berjalan.
Meningkatkan standar hidup ART bukanlah soal belas kasihan.
Itu soal keadilan.
Dimulai dari hal-hal sederhana
Kontrak kerja yang jelas dan adil
Jam kerja dan hari libur yang manusiawi
Upah layak dan tepat waktu
Akses pendidikan dan pelatihan keterampilan
Perlindungan hukum dari kekerasan dan eksploitasi
Lebih dari itu, perubahan dimulai dari cara pandang.
Melihat ART bukan sebagai “pembantu”, melainkan pekerja rumah tangga profesional.
Beberapa tahun setelah keluar dari rumah Andrew dan Nina, Millie kini bekerja sebagai pengelola rumah tangga di beberapa rumah. Ia dipercaya, dihargai, dan dilibatkan. Ia menabung. Ia bermimpi. Ia hidup.
Sesekali, ia berbicara di forum kecil. Suaranya tenang, matanya jernih.
“Kami tidak minta diperlakukan istimewa,” katanya.
“Kami hanya ingin diperlakukan setara.”
Di balik pintu-pintu kecil rumah besar, masih banyak Millie lain.
Tapi selama masih ada yang berani membuka pintu itu
dan mengajak kita semua melihat ke dalam
harapan tidak pernah benar-benar padam.
Karena martabat manusia tidak ditentukan oleh di mana ia bekerja,
melainkan oleh bagaimana ia dihargai.
Akhir tahun 2025 menyambut tahun 2026
Kisah inspirasi film
The housemaid
Bisa ditonton bagus narasinya
Tahun 2026
Mungkin kita bisa memberikan perhatian sedikit kepada para ART
Www.kris.or.id
Www.adharta.com
