Cerpen nomor 0069

Oleh : Adhatta
Ketua Umum
KRIS

April 2026

Di meja makan Restoran Wiro Sableng Kelapa Gading

Ada Saya dan kakak saya Ko Ming
Ada Hidayat dan Istri

Kita menikmati makanan laut khas yang sedap

sambil bercerita masa lalu yang penuh suka dan Duka

Bagaimana seorang Hidayat bisa menjadi gubernur
Mimpipun hampir sulit jadi kenyataan dan di percaya

Tetapi Tuhan berkata lain

Aku melihat
Aku menyaksikan
Aku bersamanya

Dari Titik Terendah ke Puncak Harapan

Aku mengenal Hidayat Arsani bukan sebagai pejabat, bukan pula sebagai tokoh besar seperti yang kini banyak diberitakan orang. Bagiku, ia tetap “Hidayat”
Seornag —sahabat karib yang pernah duduk bersamaku di bangku kayu tua, berbagi mimpi tanpa tahu ke mana arah hidup akan membawa kami.

Suatu sore, saat kami masih remaja, Hidayat pernah berkata dengan tatapan jauh, “Hidup ini keras, tapi aku yakin Tuhan tidak pernah salah menulis cerita.”

Waktu itu aku hanya tersenyum, tak benar-benar memahami kedalaman kata-katanya.

Belakangan, aku baru tahu seluruh kisahnya.
Hidayat bukanlah anak yang lahir dalam pelukan hangat keluarga. Hidayat ditemukan sebagai bayi
ditinggalkan oleh Orang tuanya di tempat yang bahkan manusia dewasa pun enggan mendekat tumpukan sampah.

Nasib yang bagi banyak orang adalah akhir, justru menjadi awal bagi dirinya.

Hidayat dibesarkan oleh orang-orang sederhana yang tidak punya banyak harta, tapi memiliki hati yang luas.

Dari mereka, Hidayat belajar arti bertahan, arti syukur, dan arti menjadi manusia.

Namun hidup tak serta-merta menjadi mudah. Kami tumbuh bersama dalam keterbatasan. Pernah suatu hari, kami harus berjalan berkilo-kilometer hanya untuk sampai ke sekolah.

Sepatu kami bolong, buku kami lusuh.
Tapi Hidayat selalu punya cara untuk tersenyum.
Kisah seorang sahabat kami

“Selama kita masih bisa berjalan, kita belum kalah,”
katanya waktu itu.
Hidayat bukan yang paling pintar di kelas, tapi ia yang paling gigih.

Saat yang lain menyerah, Hidayat justru semakin keras berusaha.

Kata seorang sahabat lagi
Aku sering melihatnya belajar di bawah lampu redup, sementara suara malam menemani kesunyiannya.

Tahun-tahun berlalu. Jalan hidup kami mulai berbeda. Aku memilih jalur yang sederhana, sementara Hidayat melangkah lebih jauh jatuh, bangkit, jatuh lagi, lalu bangkit lebih tinggi.

Hidayat pernah mengalami kegagalan dalam usaha. Pernah pula dikhianati orang yang ia percaya. Bahkan ada masa di mana ia hampir kehilangan segalanya.

Tapi satu hal yang tidak pernah hilang darinya: keyakinan bahwa hidupnya punya tujuan.

“Kita tidak dipilih untuk menyerah,” katanya padaku suatu malam, saat kami bertemu kembali setelah sekian lama.

Perjalanan Hidayat membawanya ke dunia yang lebih besar
dunia kepemimpinan, tanggung jawab, dan pengabdian. Ia mulai dikenal sebagai sosok yang peduli, yang bekerja bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk banyak orang.
Dan hari itu pun tiba.

Aku berdiri di antara kerumunan, menyaksikan sahabatku dilantik sebagai Gubernur Kepulauan Bangka Belitung. Tepuk tangan bergema, kamera berkilat, dan banyak orang meneteskan air mata haru.

Namun di tengah semua kemegahan itu, aku melihat hal yang sama seperti dulu

sorot mata seorang Hidayat yang sederhana, yang pernah berjalan tanpa alas kaki, yang pernah bertahan di tengah kerasnya hidup.
Saat acara selesai, Hidayat menghampiriku. Kami saling menatap, lalu bsrpelukan tertawa kecil
seolah kembali menjadi dua anak kampung yang dulu.

“Masih ingat?” tanyanya.
“Tentang apa?”
“Tuhan tidak pernah salah menulis cerita.”
Aku mengangguk, kali ini dengan pemahaman yang utuh.

Kisah hidup Hidayat Arsani bukan sekadar tentang keberhasilan menjadi orang nomor satu di daerah.

Ini tentang harapan
bahwa dari titik paling rendah sekalipun, seseorang bisa bangkit dan memberi arti bagi banyak orang.

Bagiku, Hidayat adalah bukti bahwa masa lalu tidak menentukan masa depan.

Bahwa luka bisa menjadi kekuatan.
Dan bahwa setiap manusia, betapapun kelam awalnya, selalu punya kesempatan untuk menjadi cahaya.
Dan setiap kali aku melihatnya kini
berdiri tegak sebagai pemimpin
aku tahu, cerita ini bukan keajaiban. Ini adalah hasil dari keberanian untuk tidak menyerah.
Sahabatku, Hidayat…
kau tidak hanya mengubah nasibmu sendiri,
kau mengubah cara kami semua memandang hidup.

Kembali ke Restoran Wiro Sableng
Kata Hidayat
” Ko Ming adalah Guru dan panutan saya “
Katanya kepada kakak Saya Ming

” Tapi Hidayat memang Hebat dan Tuhan telah Memilihnya ” Kata Ko Ming

” Tapi sebagai seorang guru
Ko Ming harus bangga
Karena muridnya yang malas kueang pintar sekarang bisa jadi Gubernur dan sebagai Guru Ko Ming yang luar biasa
Bamgga sekali “
Kata Hidayat

Kata aku
Mari kita makan enak

www.kris.or.id I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *