Antara Pergi dan Pulang
Cerpen nomor 0067
Selamat Paskah Sahabatku
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS
Di Irlandia Utara ada sebuah Danau namanya Adharta (Lake Adharta atau Danau Doa)
Kisahnya mirip Siloam
Banyak kehidupan disana penuh suasana Damai sejahtera
Ingin hatiku sekali aku mau kesana cuma rentang waktu belum tersambung
Paskah bagi kita
Paskah bagi keluarga
Aku hanya bisa berdoa buat semua sahabat dan terimalah persembahan kisahku
Kisah Cinta keluarga
Yang mungkin anda alami
Setiap pagi, rumah itu selalu sama pintu terbuka, langkah kaki bergegas, dan doa singkat yang terucap sebelum pergi.
Di rumah itu tinggal seorang ayah dan ibu, dengan tiga anak laki-laki yang kini telah dewasa.
Dulu, mereka kecil, berlarian di halaman, berebut perhatian, dan sering pulang dengan lutut terluka.
Kini, mereka pergi dengan tanggung jawab masing-masing pekerjaan, keluarga, dan dunia yang lebih luas.
Ayah sering berkata, mengutip kata seorang Jenderal Amerka Mc Arthur:
“Pergilah untuk mendapatkan, pulanglah membawa hasil.”
Buat Orang Jepang Jenderal Mc Arthur bagaikan dewa penyelamat bangsa dengan semboyan nya
I shall return
Go foth to struggle
Return in Victory
Kata kata yang penuh semangat
Seperti kata Tuhan Yesus Kristus
Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu
Dan kembali menjemputmu dalam suka cita Surgawi
Namun, Ayah selalu menambahkan dalam hati,
“Dan jangan lupa, pulanglah dengan hati yang tetap hidup.”
Anak pertama merantau jauh di Jakarta
Ia bekerja keras, mengejar keberhasilan. Pulangnya jarang, tapi setiap kepulangan membawa cerita
tentang perjuangan, tentang jatuh bangun, tentang doa yang diam-diam ia panjatkan saat tidak ada yang melihat.
Anak kedua memilih tinggal di Surabaya lebih dekat.
Ia sederhana, tidak banyak bicara, tapi setiap hari ia pulang dengan wajah lelah yang penuh ketulusan.
Ia tidak membawa banyak hasil secara materi, tetapi damai selalu menyertainya.
Anak ketiga… berbeda.
Ia pernah “pergi” bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam hati.
Ia sempat tersesat
menjauh dari keluarga, menjauh dari Tuhan.
Rumah terasa asing baginya. Doa terasa jauh.
Ibu hanya bisa menangis diam-diam.
Ayah tetap berdiri di pintu setiap sore.
Menunggu.
Waktu berjalan.
Tahun demi tahun.
Dan rumah itu kini tidak lagi sunyi.
Tujuh cucu perempuan dan dua cucu laki-laki memenuhi setiap sudutnya dengan tawa.
Mereka tidak tahu betapa rumah itu pernah dipenuhi air mata. Mereka hanya tahu bahwa di rumah itu selalu ada pelukan.
Suatu hari Paskah tiba, semua berkumpul.
Langka.
Indah.
Tak terduga.
Anak pertama pulang membawa keberhasilan, tapi juga kerendahan hati.
Anak kedua tetap sama
tenang, setia, damai.
Dan anak ketiga… pulang dengan mata basah.
Ia berdiri di depan ayahnya.
Tidak membawa apa-apa.
Tidak ada kebanggaan.
Hanya satu kalimat:
“Saya pulang.”
Ayah tidak bertanya apa pun.
Ia hanya memeluk.
Seperti Bapa yang menyambut anak yang hilang.
Di meja makan Paskah itu, tidak ada yang sempurna.
Tetapi semuanya utuh.
Mereka sadar
hidup ini memang tentang pergi dan pulang.
Karena diantara pergi dan pulang terbentang nasib sejalan dengan Paskah
Pergi untuk mencari,
Pergi untuk belajar,
Pergi bahkan untuk jatuh.
Tetapi Paskah mengajarkan satu hal yang lebih dalam:
Selalu ada jalan untuk pulang.
Karena Kristus telah lebih dulu “pergi”
melewati salib, penderitaan, dan kematian…
Dan Ia “pulang”
bangkit, membawa harapan bagi semua.
Di tengah tawa cucu-cucu, ayah menutup mata sejenak.
Ia mengerti sekarang bagaimana Tuhan bekerja.
Bukan dengan cara yang selalu mudah dimengerti,
Tetapi dengan cara yang selalu penuh kasih.
Tiga anaknya berbeda jalan,
Tetapi Tuhan menuntun mereka semua kembali.
Bukan sekadar ke rumah…
Tetapi ke hati yang penuh damai.
Malam itu, sebelum semua kembali “pergi” ke kehidupan masing-masing, mereka berdoa bersama.
Tidak panjang.
Tidak rumit.
Hanya satu rasa yang memenuhi:
Sukacita dan damai sejahtera.
Karena mereka tahu
Sejauh apa pun mereka pergi,
Selama masih ada Tuhan…
Mereka selalu punya tempat untuk pulang.
I shall return
www.kris.or.id I www.adharta.com
